"Dia bales apa?" tanya Cindy penasaran ketika Zee masuk kelas. Dilihatnya Zee cuma senyum dan tidak ada memar-memar.
"Gak bales apa-apa, cuma bilang tunggu dia dilapangan, pas pulang sekolah"
"Cuma itu?" tanya Cindy heran
Zee mengangguk. "Mungkin gue disuruh push up, lari keliling lapangan, bersihin wc" jelas Zee. Cindy mengangguk setuju, karena Brian ketua OSIS bisa saja hukuman itu yang didapat oleh Zee.
Siska, guru Bahasa Indonesia, memberikan kesimpulan dari materi yang diterangkan. Zee melirik jam tangannya. Sebentar lagi, dia akan menerima hukuman dari Brian. Ekspresi santai Zee tidak ada yang mengira bahwa dia akan menerima hukuman berat dari ketua OSIS, cowok idola satu SMA.
'Teng.... teng... teng....' bel pulang berbunyi. Siska membereskan buku dimejanya, lalu Pandu menyiapkan untuk memberi hormat. Setelah Siska keluar, Zee pun segera mengambil ranselnya dan berjalan kelapangan menemui Brian.
Brian sengaja naik ke lantai atas untuk mengamati Zee. Dirinya cukup penasaran dengan sosok. Zee. Melihat Zee keluar kelas dan berjalan ke lapangan, Brian segera turun mendekati Zee.
'Mumpung masih rame' pikir Brian. 'Dia gak bakal berkutik menerima hukuman ini.' lanjut pikiran Brian.
Brian melangkah hati-hati mendekati Zee. Tangan kanannya memegang mic yang akan membuat hukuman pada Zee.
"Hi" sapa Brian. Zee kaget mendengar suara Brian lalu badannya berbalik. Keningnya berkerut melihat Brian memengang mic. Tapi belum digunakan Brian. Zee merasa ada yang aneh dengan sikap Brian.
"Nama lo siapa?" tanya Brian.
"Zee" jawab Zee dengan tegas sambil matanya mengawasi Brian.
Tangan Brian yang memegang mic, mulai menyalakan mic. "Perhatian." suara Brian terdengar diseluruh sekolah. Zee sontak merasa tidak suka dengan sikap Brian. Menurutnya Brian terlalu lebay. Ratusan siswa yang belum pulang, seketika memusatkan perhatian kelapangan.
"Tadi pagi ada insiden kecil. Sebuah bola basket tepat mengenai kepala Zee, gadis yang berada di depan saya. Namun karena ada salah paham, Zee malah memukul wajah saya" lanjut Brian. Seketika cewek-cewek berteriak dan mulai menyalahkan Zee.
Wajah Zee memanas, bukan karena malu, tetapi karena marah melihat sikap Brian yang dianggap kekanak-kanakan. Namun Zee masih berusaha tenang dan tersenyum tipis. Bagaimanapun, ini adalah salahnya.
"Menyadari kesalahannya, Zee mendatangi saya dan meminta maaf, lalu mengatakan siap menerima hukuman dari saya" Lanjut Brian sambil mengedarkan pandangan. Ratusan siswa menunggu hukuman apa yang akan dilakukan Brian.
"Terus terang, saya terkejut. Zee berani datang ke kelas saya, dan meminta maaf. Zee gadis yang jujur dan berani. Saya salut." Puji Brian sambil tersenyum memandang Zee.
Yang dipandang, membalas dengan mengawasi Brian. Otaknya mencoba menelaah tujuan Brian melakukan ini semua. Apakah hanya ini hukumannya atau ada bentuk lain.
"Dari semua perempuan yang pernah saya kenal, maaf, saya ralat. Dari semua orang yang saya kenal, baik laki-laki dan perempuan, baru kali ini saya menemukan orang seperti Zee, dan itu membuat saya......" Brian menatap Zee. Kalimatnya digantung, menunggu reaksi kawan-kawan satu sekolahnya.
Zee menatap Brian yang sedang tersenyum. Zee membalas senyum Brian secara sopan. Namun dirinya bingung melihat Brian, apakah hukuman yang akan diterimanya
"Membuat saya menyukai Zee" kata Brian yang langsung diberi sambutan tidak setuju dari para gadis sekolahnya.
Zee terkejut melihat Brian. 'Anak ini sudah gila' batinnya. Zee memasang wajah datar, tidak lagi tersenyum.
"Untuk menebus kesalahan Zee, maka Zee akan menjadi pacar saya" lanjut Brian sambil tersenyum kepada Zee