"Untuk menebus kesalahan Zee, maka Zee akan menjadi pacar saya" lanjut Brian sambil tersenyum kepada Zee.
Kalimat yang membuat Zee merinding. 'Gila nih cowok, kenal juga enggak, maen nembak aja.' sungut Zee dalam hati. Sebenarnya Zee udah bete banget sama Brian, tapi Zee berusaha untuk tenang. Kalau gak inget ini di sekolah dan kondisi dia yang memang salah, ingin rasanya, Zee nonjok wajah cowok didepannya. 'Sok idola' batin Zee.
Zee tersenyum meminta mic dari tangan Brian. Brian memberikannya, karena yakin Zee akan menerimanya. Siapa yang tidak ingin menjadi pacar Brian? Apalagi Brian termasuk selektif memilih cewek. Menjadi pacar Brian adalah impian semua cewek di SMU tersebut.
'Nama saya Zee, kelas X." Zee memperkenalkan diri, berusaha tenang. Gemuruh terdengar di seantero sekolah.
"Saya yakin kak Brian gak tau saya kelas X berapa. Karena nama saya saja, kak Brian baru aja tahu" lanjut Zee tersenyum.
Brian mulai salah tingkah dan tiba-tiba mulai menyesali tingkah konyolnya. Seharusnya dia tidak melakukan ini. Bagaimana kalau Zee tiba-tiba menolaknya? Tiba-tiba Brian menjadi kalut dengan sikap tenang Zee namun seolah ingin menerkamnya.
"Sungguh saya tersanjung jika kak Brian benar-benar suka pada saya, walau kita bertemu tidak sampai lima menit. Mungkin tiga menit terlalu lama" lanjut Zee kembali dan tersenyum misterius ke arah Brian.
Zee mengedarkan pandangan kearah sekolah. Semua mata memandang kearahnya. Sekarang dirinya menjadi pusat perhatian.
"Saya butuh bantuan dari teman-teman., apakah saya harus menerima kak Brian atau menolaknya?" tanya Zee dan kalimat ini merupakan kalimat yang ditakuti Brian. Brian mengutuk dalam hati, idenya menjadi bumerang terhadap dirinya. s*****a makan tuan.
"Terima... terima.... terima.. terima" beberapa siswa berseru
"Ditolak... ditolak... ditolak..." teriak cewek-cewek histeris. Mereka gak rela, Brian ganteng mereka harus berada di sisi Zee yang menurut mereka, gadis biasa.
Zee tersenyum. "Itu yang teriak terima, pasti teman-teman saya dari kelas X-A. Ya kan?" tanya Zee terkekeh. Teman-temannya bersorak. Kecuali Cindy. Cindy cukup mengenal Zee. Zee anak yang pintar, dan saat ini, dengan kepintarannya Zee mencoba mempermalukan Brian. Padahal, Zee yang salah. Karena Brian salah langkah, Zee kembali berang.
"Yang teriak tolak, pasti dari fans kak Brian yang ribuan.. eh, jutaan... waaawww" seru Zee satire. Brian sudah salah tingkah, sedangkan cewek-cewek berseru meneriakkan "I love you, Brian"
Zee tersenyum memandang Brian yang berusaha tenang. Brian melihat ada binar marah di mata Zee. Bibir Zee tersenyum, namun matanya marah. Tiba-tiba Brian merasa dirinya sangat t***l.
"Jadiii......." teriak Zee "diterima atau ditolaaaaaK?" tanya Zee serasa penyanyi dangdut diatas panggung.
"Terimaa.. terimaaa.. terimaaa... "
"Tolak... tolak... tolaaaak..."
Selama beberapa menit keadaan sekolah menjadi riuh. Zee tersenyum menikmati wajah Brian yang mulai pucat.
'Ok, saya ucapkan terima kasih atas dukungan semuanya, baik dukungan untuk menerima dan dukungan untuk menolak" kata Zee tenang. Suasana kembali riuh
"Saya akan menjawabnya, jika semua tenang" kata Zee
"sssttt.... psssttt" suasana mulai hening.
"Kak Brian" kata Zee tenang, sambil memandang Brian. Cewek-cewek satu sekolah menahan nafas. Ekspresi Zee yang tersenyum, susah ditebak.
"Seandainya, kak Brian nyuruh saya bersihin WC selama seminggu, saya akan terima hukuman ini kak" jawab Zee lalu memberikan mic kepada Brian dan meninggalkan Brian menuju gerbang sekolah.
Brian termangu melihat Zee. Sama sekali cewek itu tidak bergeming, tidak terlihat bahagia. Malah sebaliknya. Cewek itu, menghinanya dengan membandingkan membersihkan WC selama seminggu masih lebih baik daripada menerima tawaran pacarannya.
'Huuuuuuu......" beberapa cewek berseru melihat Zee pergi
"Cewek t***l, bukannya diterima aja" sahut Cecil kesal
"Sok kecakepan" Dinda melecehkan Zee
"Jual mahal" tambah Alyssa
"Bagus deh gak jadian sama Brian, kan gue bisa masuk" seru Via bahagia
Zee tidak menggubris celotehan itu. Cindy mengejar Zee yang berjalan cepat untuk pulang.
Randy mendekati Brian yang masih bengong menatap kepergian Zee. Tangan Randy menepuk bahunya.
"Zee gak bisa digituin, brad. Zee gadis yang unik dan berbeda. Caralo sama aja ngajak dia perang." Randy menjelaskan.
Brian menoleh dan menatap Randy
"Gue tetanggaan sama Zee, satu sekolah juga dari SD sampai SMA" jelas Randy menatap Brian. "Dia bukan orang yang suka cari masalah dan bukan orang yang suka diperhatiin. Sepertinya sekarang elo harus minta maaf sama dia." lanjut Randy lagi sambil pergi meninggalkan Brian.
Brian tercenung, 'minta maaf pada Zee?'tanya Brian dalam hati. Brian tidak berani membayangkannya.
Perasaannya sekarang ini antara malu, kesel, nyesel, marah dan makin sebel sama Zee. Semua bercampur aduk. Brian mengakui kini dia juga salah, namun untuk minta maaf pada Zee, Brian belum setegar Zee. Rasanya saat ini Brian ingin tidak masuk sekolah selama setahun.