Kejadian Brian menembaknya kemarin siang dengan segera menjadi trending topic.
Zee sampai heran melihat timeline line dan instastories penuh dengan peristiwa itu. Padahal yang jadi bikin trending pasti kekepoan orang terhadap Brian, bukan terhadapnya.
Cindy yang sudah tiba di rumah Zee menatap khawatir wajah sahabatnya. Zee bukanlah orang yang mudah ditebak, kadang terlihat santai tapi tidak jarang terlihat emosional.
Zee tertawa melihat wajah Cindy yang aneh.
"Kenapa lo? Kayak orang banyak utang" Katanya sambil naik ke mobil ojeg online yang dipesannya untuk berangkat ke sekolah.
"Pagi, pak" sapa Zee ramah kepada supir ojol
"Pagi, dek" jawab supir ramah.
Cindy mengikuti Zee untuk naik ke mobil
"Peristiwa di lapangan kemarin, jadi trending topic Zee" Cindy memulai percakapan
"Trus?" Tanya Zee cuek sambil melihat HPnya
"Emosi lo susah ditebak" jawab Cindy resah
"Gue lagi ga bikin kuis, jadi lo gak perlu nebak" Zee menanggapi sambil terkekeh. Cindy menghela nafas
"Walau bukan elo yang salah, tapi mukul orang itu mengerikan Zee" jelas Cindy
Zee teringat ketika SMP entah berapa cowok yang dia hajar, cuma karena mereka usil menggoda Cindy atau mengejeknya.
"Gue sadar lo lakuin ini semua, karena lo mau lindungin gue atau karena lo mau buat efek jera. Cuma, cara lo mengerikan" jelas Cindy lagi. Zee memilih diam, membiarkan Cindy melepas uneg-unegnya.
"Gue rada khawatir, semua cowok bakal lo tonjokin hari ini, karena mereka ngatain elo" Cindy bergidik ngeri.
Zee meletakkan HP kedalam tasnya.
"Iya, gue coba nahan diri ya, untuk ga hajar mereka" jawab Zee biar Cindy gak ngoceh lagi. Cindy memang perhatian, tapi semua masalah dipikirin sama Cindy. Sedangkan Zee bukan orang yang mau ambil pusing terhadap semua masalah.
Sampai di sekolah. Sindiran dan cibiran dilontarkan dari murid kelas XI dan XII. Tidak hanya dari perempuan, tapi dari laki-laki.
Zee sampai heran, kenapa laki-laki usil amat. Sambil berjalan santai, Zee memasuki kelasnya.
Teman-teman sekelas Zee tidak ada yang berani berkomentar, hanya memandangi Zee dengan pandangan bingung.
"Zee" Pandu sang ketua kelas mendekatinya. ketika Zee baru berjalan menuju bangkunya.
Zee mendongak dan tersenyum
"Bukan mau campur urusan elo, hanya saja....." Pandu agak ragu melanjutkan
"Kelas kita diejek, Zee" teriak Mona setengah menangis
"Kita sih mau belain elo, tapi jumlah mereka banyak" sahut Damar.
Zee mengedarkan pandangan keseluruh kelas lalu melangkah ke depan kelas. "Maaf, kalau tingkah gue kemarin, berimbas pada kalian." Zee menundukkan wajahnya.
Semua terdiam menantikan kelanjutan kalimat Zee. Cindy melirik Zee, jika sahabatnya sudah menggunakan bahasa resmi, dia benar-benar serius.
"Terima kasih kalian sudah peduli sama gue" lanjut Zee lagi sambil memandang lembut kepada teman-temannya.
"Bukan bermaksud tidak menghargai perasaan dan pikiran kalian." Zee mencoba merangkai kata agar kalimatnya tidak membuat tersinggung
"Kejadian kemarin, salah gue. Dan gue berharap kalian ga terkena imbasnya" Sesaat Zee bingung mau ngomong apa.
"Tapi kenyataannya, kena Zee" sahut Mona.
"Iya, gue minta maaf ya, cantik" jawab Zee cepat
'Kalau boleh gue minta tolong..." Zee melanjutkan dengan ragu. Semua teman-temannya menunggu
"Cuekkin aja, ya.... Cuekin semua yang mereka omongin tentang kejadian kemarin. Biar gue aja yang nanggung" akhirnya Zee bisa melepas semua uneg-unegnya
"Gak Zee... Lo temen kita.. Lo gak bisa nanggung semua sendiri." Sahut Damar ga setuju
"Gue ga suka mereka bilang kelas kita kumpulan orang-orang ga tau diri" celetuk Mona. "Pengen gue bejek itu mulutnya" lanjut Mona sedikit emosi.
Zee tersenyum kecut "Urusan bejek, biar gue aja, ya. Tangan mungil lo jangan dibuat bejek mulut orang. Gue ga rela" jawab Zee.
"Huft.. untung Zee cewek. Kalau dia cowok, gue klepek-klepek" kata Mona sambil tersenyum
Zee sebenarnya siswa biasa, bukan gadis cantik dan seksi. Zee bukan orang yang usil, bahkan bagi teman-temannya Zee orang yang bisa menyatukan semua orang-orang aneh.
Dan kini Zee ada masalah, teman-teman sekelasnya ingin membantunya.
"Permintaan Zee kita turutin aja" seru Bimo yang sejak tadi diam. "Kita cuekin semua yang ngatain Zee" lanjutnya
"Gak bisa" sergah Damar. "Zee gak boleh ngadepin ini sendirian" lanjut Damar setengah marah.
"Siapa bilang kita ninggalin Zee? Justru kita cuekin itu sebagai bentuk perlawanan kita terhadap mereka. Dan kita bantu Zee supaya masalah ini ga makin rumit" jelas Bimo lagi
"Gue setuju" kata Pandu. "Jangan sampai kelas kita nanti, jadi tawuran. Zee akan merasa bersalah lagi" lanjut Pandu diiringi riuh tanda setuju. Zee tersenyum senang.
"Kelas X-A..." Teriak Pandu
"Bahayaaaaaa....." Seru teman-temannya menyebutkan yel-yel kelas mereka.
Zee dan Cindy berjalan ketempat duduknya. Cindy menatap Zee masih dengan khawatir. Khawatir peperangan antara Zee dan Brian yang akan terus berlanjut.