Terserah....

660 Kata
Brian melewati gerbang sekolah. Beberapa cewek-cewek memberikan cokelat dan permen kepadanya. "Spesial buat elo. Lupain yang kemarin, masih banyak yang mau jadi pacar elo" kata Nancy sambil memberikan cokelat kepada Brian "Cokelat dari gue lebih enak, karena gue mau ngasih yang terbaik untuk orang paling spesial" Rhaina menepis tangan Nancy dan memberikan kepada Brian Brian tidak memperdulikan gadis-gadis yang berusaha mendekatinya. Tidak satupun cokelat-cokelat itu diterimanya. Sampai dikelas, Brian disambut teman-teman sekelas yang sudah datang lebih pagi "Tumben pada dateng pagi" kata Brian datar "Kita mau buat perhitungan sama Zee, enak aja dia bikin malu elo" jelas David Brian menghela nafas panjang. Gara-gara keisengannya, mereka semua kena imbasnya. Ada rasa ingin balas dendam. Namun Zee bukan rival ringan. Namanya akan tambah jelek jika dia balas dendam. "Gimana, brad?" Tanya Delon penasaran "Serah lo deh" sahut Brian disambut sorak-sorai teman sekelasnya. 'Tuit' sebuah pesan masuk kedalam HP Brian. Dari pak Sarwo, guru BPnya 'keruangan saya' 'Huft... Pasti gara-gara kemarin' keluh Brian meninggalkan kelas dan menuju ruang BP. Brian sama sekali tidak menyangka akan dipermalukan oleh Zee. Selama ini, banyak gadis yang ingin jadi pacarnya. ***** "Masuk" seru pak Sarwo ketika Brian mengetuk pintu ruang BP Brian masuk dan duduk dihadapan guru BP "Ceritakan yang sebenarnya" pak Sarwo ingin mendengar dari Brian langsung. Brian menceritakan kejadian dari awal. "Ide kamu, awalnya ingin mempermalukan Zee, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Ironisnya, kamu adalah ketua OSIS. Perbuatan kamu seharusnya dipikirkan dahulu" sesal pak Sarwo melihat Brian yang menunduk. "Bapak tidak mengira, kamu akan se-iseng itu. Kamu bukan orang yang suka iseng seperti itu." Pak Sarwo heran dengan tingkah Brian. Perasaan Brian kini makin bercampur aduk, antara nyesel udah berbuat konyol, tapi kesel, karena dipermalukan. "Kalau itu terjadi pada anak lain, yang memang suka iseng dan bukan ketua OSIS, bapak tidak perlu turun tangan. Kamu itu contoh, Brian. Berpikirlah sebelum bertindak" Brian terdiam membenarkan perkataan pak Sarwo. "Dunia bukan berada dalam genggamanmu" nasihat pak Sarwo sebelum Brian izin pamit karena bel sudah berbunyi. Brian merenung, disatu sisi dirinya merasa harga dirinya dipermalukan, di sisi lain, dia harus berhati-hati jika ingin balas dendam. ***** Brian masuk kelas bersamaan dengan Bu Ghia guru bahasa Inggris masuk kedalam kelasnya. Pelajaran bu Ghia menguras pikiran Brian, sehingga dirinya tidak sempat melanjutkan memikirkan ide balas dendam pada Zee. "Tugas untuk minggu depan, buat syair dalam bahasa Inggris, dengan tema persahabatan" bu Ghia memberikan pengumuman. "Syair lagu atau puisi, bu?" Tanya Chacha "Boleh puisi, boleh lagu. Hanya jika lagu, harus ada nadanya." Jawab bu Ghia disambut riuh satu kelas. "Selesai kalian bikin, kalian harus presentasikan didepan kelas" lanjut bu Ghia sebelum meninggalkan kelas. Satu kelas bereaksi, ada yang senang, tapi lebih banyak yang mengeluh. ***** Zee berjalan menuju toilet, sedangkan Cindy berjalan ke kantin. Awalnya Cindy mau menemani, namun ditolak Zee. Alasannya agar Cindy bisa memesan makanan dahulu, biar Zee bisa langsung makan. Cindy duduk ditempat biasa, setelah memesan makanannya dan Zee. Brian masuk ke kantin bersama teman-temannya. Cindy mengamati Brian, tidak ada yang berubah. Tetap dingin. Rasa tidak percaya, Brian melakukam hal konyol kemarin. Brian duduk tidak jauh dari tempat Cindy. Tiba-tiba Cindy gelisah, bagaimana jika Zee datang dan melihat Brian. ***** Zee masuk kedalam toilet.  Didalam toilet ada beberapa kakak kelasnya. Zee tersenyum sedikit dan masuk ke salah satu wc. Setelah selesai, Zee keluar wc dan cuci tangan di wastafel. Vina, salah satu primadona kampus mendekati Zee. "Lo apain Brian, sampe dia bisa nembak lo" tanya Vina sinis "Gak tau diri, malah ditolak" sambung Ambar kesel "Di rumah, lo gak punya kaca ya?" tanya Cecil mengecek "Cantik, enggak, seksi juga enggak" celetuk Rhaina terkekeh. "Jangan sok cantik lo disini" seru Dhea sambil mendorong Zee. Zee berusaha sabar. Dia tidak pernah memukul perempuan. "Lo pelet Brian ya?" Tanya Vina lagi. Zee mengangguk. Tiba-tiba ada ide iseng melintas. Anggukan Zee membuat semua kakak kelasnya yang berada di toilet berteriak. "Mau tau?" Tanya Zee membuka suara dengan nada dingin Kakak kelasnya terdiam. "Saya memang memelet kak Brian" jelas Zee datar sambil menunduk.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN