Melet Brian?..... Hmmm......

850 Kata
"Melet Brian, kayak apa?" tanya Ambar sedikit emosi "Maaf jika kakak-kakak merasa tersaingi" kata Zee menatap Ambar yang seksi dan Vina sang primadona yang cantik. "Saya ga cantik kan? Cenderung jelek. Banget malah" lanjut Zee sambil tertawa sedikit.  Perlahan Zee berjalan kearah pintu. Agar mereka tidak menyadari, Zee menggunakan taktik dengan terus berbicara. "Iya, lo gak cantik. Jauh banget sama gue" kata Vina mengejek. "Apalagi bodi-lo, gak ada apa-apanya" samber Ambar "Ibarat kutil, ya? ganggu pemandangan?" seloroh Zee, dan diserujui kakak kelasnya. "Iya, lo tuh kutil yang ganggu pemandangan" kata Cecil. Zee tertawa sedikit. Kakak kelasnya gak ada yang menyadari gerakan Zee. Mereka terbius dengan kalimat Zee, Zee memainkan emosi mereka. "Nah, bagaimana supaya kak Brian suka sama saya, yang jelek maksimal ini, dan bukan kategori cewek favorit, malah cenderung kelompok hina dina. Maka, saya harus memeletnya" tambah Zee lagi. Sekarang posisi Zee sudah didepan pintu dan siap membuka pintu toilet. "Serius, lo pelet dia?" Tanya Ambar pengen tau "Iya" Zee mengangguk. "Saya akan beritahu caranya. Kakak-kakak tapi janji, setelah saya kasih tau. Kakak-kakak harus menjauhi saya dan teman-teman saya" pancing Zee. Dirinya sudah berusaha menahan tawa. "Ok" kata Vina. "Gue ama temen-temen ga ganggu lo dan temen-temenlo lagi" lanjut Vina. "Janji?" Tanya Zee sambil mengacungkan jarinya, simbol janji. "Janji" seru kakak-kakak kelasnya. "Begini caranya, memelet kak Brian" Zee membuka mulut dan mengeluarkan lidahnya. Tangan kirinya membuka pintu dan kakinya segera berlari ke arah kantin. "Zee" teriak kakak kelasnya dari dalam toilet histeris, kesal karena dipermainkan Zee. Zee terkekeh riang. Langkahnya ringan berlari kearah kantin. Sampai di kantin, Zee langsung mendatangi Cindy. Cindy sengaja duduk menghadap Brian, agar Zee duduk didepannya dan membelakangi Brian. "Kok lama?" Tanya Cindy setelah Zee duduk secara sempurna dihadapannya. Zee memakan mie ayam tidak mempedulikan pertanyaan Cindy "Lo ada masalah?" Tanya Cindy sangsi. Karena lihat Zee segar bugar "Gak ada. Cuma baru kelar ngerjain kakak kelas" jawab Zee sambil terkekeh. "Maksudnya?" Tanya Cindy penasaran "Gue dituduh melet kak Brian" jawan Zee enteng. Brian yang berada persis dibelakang Zee, spontan menoleh. 'Dia lagi' gumam Brian ketika mengetahui siapa gadis didekatnya. Cindy menatap Brian canggung. Sedangkan Zee masih asik dengan mie ayamnya. "Trus gue kerjain aja mereka, gue bilang gue melet kak Brian" Zee terkekeh. Cindy makin canggung, karena Brian benar-benar balik badan dan memperhatikan Zee. Cindy pura-pura gak lihat ekspresi Brian yang kepo abis sama cerita Zee. "Cin, itu kakak kelas gue suruh janji, ga ganggu gue lagi, kalau gue kasih tau caranya" kata Zee sambil mengunyah mie ayam. Cindy tergagap. Zee menatap Cindy. "Tenang, beb.. everythings is okay" lanjut Zee menenangkan. "Gue kasih tau caranya, begini" Zee mengeluarkan lidah. "Trus gue kabur kesini" Zee melanjutkan tawanya.  Cindy tersenyum. Brian hampir tertawa, tapi rasa gengsinya begitu besar, Brian kembali membalikkan badan dan fokus kepada makanannya. "Gue heran, Cin.. kak Brian tuh apa bagusnya ya? Kok baru peristiwa gitu doang, kayaknya gue udah jadi yang terlaknat di dunia" kata Zee tanpa dosa. Cindy nyaris tersedak. Matanya melotot kearah Zee. Brian membalikkan badan kembali. Cindy menatap Zee rada panik dan berusaha mengalihkan perhatian Zee. Karena jika Zee terus ngoceh, Cindy yakin Brian yang berada di belakang Zee, akan kembali membuat ulah. "Zee, di pesta Mona, lo mau pake baju warna apa? Biar gw matchingin" Cindy mengalihkan perhatian Zee tertawa. "Tumben nanya, bukannya selama ini lo tau gue ga suka party, kalaupun dateng, baju gue cuma satu warna. Hitam" Zee paham, pasti ada Brian dekat Zee makanya Cindy mengalihkan pembicaraan. "Yaaa.. kali aja.. lo berubah pikiran, mau dateng pake costum warna pink" jelas Cindy Zee tertawa. "Pink" Zee ngakak. Cindy tersenyum. Brian berdiri dan meninggalkan kantin. Zee tersenyum ketika Brian melewati mereka. "I know you, Cindy. Lo alihin pembicaraan karena mahluk itu ada dibelakang gue kan?" bisik Zee terkikih. Wajah Cindy langsung berubah malu. Brian makin penasaran sama Zee, dia berusaha mencari tau, siapa cewek yang gak punya otak ini. Jika bukan dia sebagai salah sasaran tonjokan gadis ini, mungkin Brian akan tetawa terbahak-bahak atas kekonyolannya. ***** Jam pelajaran berikutnya, bu Siska guru bahasa Indonesia sakit, sehingga Brian memutuskan untuk ke perpustakaan. Rencananya mencari referensi untuk tugas bu Ghia. Brian berencana membuat syair lagu. Menurutnya lebih mudah dibanding dengan puisi. Pak Bono petugas perpustakaan tersenyum ketika ketua OSIS itu masuk ruangan. "Mas Brian mau cari buku apa toh?" Tanya pak Bono "Mau bikin tugas bahasa Inggris pak, tentang persahabatan" jelas Brian, dia bingung juga mau cari buku apa. "Oo... Coba buku-buku psikologi, mas. Ada di rak A3." Jelas pak Bono. Brian mengangguk lalu berjalan ke rak yang ditunjuk pak Bono. Beberapa buku psikologi menarik untuk dibacanya. "Wah, mbak Zee.. gurunya ga masuk lagi? Sapa pak Bono ketika melihat Zee masuk ruang perpustakaan. Zee mengangguk. "Iya pak, guru seni budaya" "Trus, mbak Zee mau cari buku apa? Seni Budaya?" "Gak, pak. Saya mau cari buku filsafat." "Wah, mbak Zee ini, suka bikin bapak kaget. Nyari buku yang gak ada hubungan sama pelajaran" Zee tertawa. "Hiburan pak" Pak Bono tertawa menanggapi Zee. "Di rak A4 ya"  Zee tersenyum. "Jangan bilang mau bikin puisi, dari buku filsafat." Goda pak Bono, disambut tawa kecil Zee. Zee berjalan menuju rak yang ditunjuk pak Bono.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN