Skakmat !

648 Kata
Brian masih mencari buku yang sesuai di rak A3. Ketika telinganya mendengar nama Zee, dia terdiam. 'Kenapa selalu kebetulan bertemu anak itu, dulu-dulu ga pernah kebetulan.' rutuk Brian dalam hati.  'Atau, dulu dia tidak memperhatikan karena belum kenal?' Brian mencoba berpikir jernih. Zee serius memperhatikan judul buku-buku di rak A4 yang kebetulan berhadapan dengan rak A3 dimana Brian berdiri. Brian menatap dahi Zee dari sela-sela buku. Zee tidak menyadari ada sepasang mata mengawasi dengan sembunyi-sembunyi. Zee tersenyum ketika menemukan buku yang dicarinya. Langkahnya mencari tempat duduk yang kosong. Dan mulai membaca buku filsafat. Brian memperhatikan tingkah Zee dari jauh. Gadis itu makin membuatnya penasaran. Tiba-tiba beberapa kawan kelas Brian datang ke perpustakaan. Riuh dan heboh, sehingga membuat pak Bono berulangkali memperingatkan. Mereka mencari buku sastra Inggris, dan mulai membuka-nya. Beberapa mengobrol berdiskusi, lalu tertawa. Brian sengaja duduk menjauhi mereka. Pandangannya mengawasi Zee dan teman-temannya. Sesekali Zee melirik kepada kakak kelasnya yang ribut. Namun, peringatan pak Bono tidak ampuh. Zee yang sedang butuh konsentrasi, merasa terganggu. Baginya membaca buku filsafat jauh lebih sulit daripada mengerjakan pr matematika. Zee berdiri dan mendatangi kakak kelasnya. Brian menahan nafas, mengira Zee akan memukul salah seorang dari mereka. "Kakak-kakak yang ganteng dan cantik. Selain kakak-kakak, di perpustakaan ini, ada kaum jelata seperti saya, yang butuh konsentrasi. Otak minim ini, gak bisa mencerna buku jika pada ribut. Kalau mau diskusi, dikantin saja, enak sambil minum juice" kata Zee sambil tersenyum. Satire. Brian merasakan bahwa Zee sedang meledek kawan-kawan kelasnya. Delon, David dan Chacha menoleh kepada Zee tidak suka. Sedangkan yang lainnya hanya terdiam menunggu reaksi selanjutnya. Delon mendekati Zee dan menatap gak suka "Gue sekolah disini bayar, ga gratis, jadi suka-suka gue dong, mau ngapain" Brian menunduk, 'Delon' desisnya. 'Gak konteks!  ketauan bodohnya" Brian rada kesal, namun ga bisa menolongnya. Saat ini, Zee benar, namun tidak mungkin Brian membelanya.  Sedangkan membela Delon, sama saja bunuh diri. Reputasinya bakal hancur. Cukup sudah yang kemarin itu. Dia tidak akan mengulanginya lagi. Zee tersenyum "Saya baru tahu ada kakak kelas yang sangat bodoh. Mungkin waktu ujian dulu nyontek." Kata Zee tertawa kecil. "Dimana-mana perpustakaan itu hening, yang rame itu di kantin. Kalau masalah bayar membayar, semua disini bayar. Kecuali yang beasiwa." Kata Zee sambil tersenyum meninggalkan kakak kelasnya. "Oh, ya ampuuuunnn... Kakak anggap saya murid beasiswa ya? Terima kasih" tiba-tiba Zee membalikkan badan.  'Skakmat' keluh Brian. 'Huft, harus hati-hati berhadapan dengan anak ini. David menaikkan tangannya tanda ingin memukul Zee, namun tangannya ditarik oleh Chacha. Chacha mengajak David, Delon dan teman lainnya keluar perpustakaan, daripada terus berhadaan dengan Zee. Zee sendiri malah asik dengan bukunya dan tidak memperhatikan kakak kelasnya keluar. Pak Bono melihat kearah Brian. Kasihan melihat Brian yang tidak berkutik. Posisi Brian pasti bingung. Pak Bono tentu sudah tau tentang kejadian kemarin. ***** Pulang sekolah, Brian ke ruang OSIS. Ada rapat rutin. Rencananya mereka akan melakukan sidak kedisiplinan, baik pakaian maupun barang bawaan. Brian mengambil buku besar, buku catatan nama-nama anak yang melanggar. Brian mencari kelas X-A, namun tidak ada nama Zee sebagai pelanggar aturan.  'Benar-benar siswi yang biasa, bukan yang suka mencari onar' batin Brian. Rencanananya, mereka akan melakukan besok. Serentak, sehingga tidak ada alasan kabur, bagi yang melanggar. Masing-masing kelas diwakili du pengurus OSIS. Laki-laki dan perempuan. Pembagian kelas, akan dilakukan besok pagi. "Kita melakukan sidak dua minggu sekali, apa gak kecepetan ya?" tanya Rosa, dari kelas XI IPS 2. "Enggak." Jawab Brian. "Biar kita bisa menjaring calon pengurus OSIS dari kelas X, yang namanya masuk buku ini, tentu tidak kita rekomendasi jadi pengurus OSIS." jelas Brian "Walaupun nilai testnya bagus" kata Brian cepat, sebelum diprotes Rosa. "Ngomong-ngomong, kapan kita akan melakukan test?" tanya Rima. "Satu bulan lagi, sambil kita amati, adik kelas potensi. Selain mereka juga mendaftar, kita juga bisa mengajukan calon" jelas Brian. "Cewek yang kemarin nolak Brian, oke loh, kalau menurut gue" kata Novri langsung mendapat sikutan dari Rima. Karena gak mau suasana meeting jadi bete karena mengingat kejadian kemarin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN