Rapat OSIS

686 Kata
Brian menoleh kepada Novri. "Silahkan saja usul, nanti kan dia kita test." jawab Brian ringan. Rima bernafas lega, Brian tidak memperpanjang masalah. "Liburan semester ini, gue mau ngadain bakti sosial. Usulan gue, membersihkan kali ciliwung, biar saat musim hujan nanti, rumah-rumah gak kebanjiran" Beberapa pengurus perempuan gak setuju, karena mereka takut untuk turun ke kali. "Kita bisa kerjasama dengan komunitas dan juga Lembaga Lingkungan Hidup. Gue rasa mereka udah berbusa ngasih tau untuk jaga kebersihan. Setidaknya kita sebagai remaja, peduli dan ikut serta untuk menjaga kebersihan kali ciliwung" jelas Brian lagi. "Sampah rumahan mungkin gak banyak ya, dibanding sampah industri" komentar Novri antara bertanya atau pernyataaan, gak jelas juga. "Sampah rumahan gak banyak,Nov. Tapi kalau rumahnya banyak, bertumpuk, bisa melebihi sampah industri." jelas Rima "Betul sih, dan sampah itu harusnya bisa didaur ulang, bukan dibuang ke kali" celetuk Chacha. "Nah, sekarang, kita tunjuk Panitia Baksos." seru Brian bersemangat. Novri didaulat menjadi ketua panitia, sedangkan Chacha menjadi sekretarisnya. Rosa bertanggungjawab dibagian dana. ***** Keesokan harinya, ruang OSIS penuh. Masing-masing sudah berpasangan tinggal menunggu tugas kelasnya. Sepasang pengurus bertanggung jawab dua kelas, sehingga mereka tidak ketinggalan jam pelajaran. Brian telah meminta izin guru kelas agar pengurus OSIS mendapat dispensasi terlambat masuk kelas, karena bertugas pada razia. Dimulai dari kelas XII, mantan pengurus OSIS yang sekarang kelas XII membantu mereka. Kelas XI dan X tidak ada yang menolak, kecuali kelas X-A. Tiba-tiba semua menolak. Padahal biasanya tidak pernah menolak untuk bertugas di kelas tersebut. Sejak kejadian dilapangan, mereka jadi lebih selektif. Ga kebayang debat dengan Zee. "Selama ini, anak itu ga pernah bikin ulah, kan? Kenapa harus takut?"tanya Brian "Dia sih enggak, tapi temen-temennya yang bikin ulah, dia bakal bela" sahut Rosa bergidik "Yakin?" Tanya Brian. Hampir semua mengangguk "Jangan lebay" sanggah Novri. "Menurut gue, dia bukan orang yang begitu. Dia org logic" sambung Novri disetujui oleh Brian "Ah, tapi waktu di perpustakaan kemarin, anak itu skakmat Delon kan? Karena tau temen sekelas Brian" sanggah Rosa "Lo kemakan issue. Kejadiannya gak gitu. Gue ada disana. Brian juga. Tuh, Chacha juga ada, orang dia juga ikutan berisik" jawab Novri santai tapi membuat Brian terkejut. Chacha mengangguk. "Iya, gue ada disana. Gue sama Delon dan temen-temen sekelas yang lain. Eh, kok gue gak ngeh ada Brian dan elo yah Nov" kata Chacha. "Elo berisik" kata Brian tertawa. "Delon, Chacha dan beberapa temen sekelas gue dan Brian, itu salah, mereka berisik. Gue aja terganggu yang temen sekelasnya, apalagi Zee. Waktu Zee protes, Delon jawab salah. Gue aja males bela Delon, apalagi Brian. Mau taruh dimana mukanya Brian, bela orang yang salah, yang kebetulan sleg sama cewek itu." Jelas Novri. Semua mengangguk. Chacha membenarkan "Emang gitu kejadiannya. Jujur gue gak suka sama anak itu, tapi emang bener kejadiannya, Delon, gue dan temen-temen yang salah" "Nah, jangan suka kemakan hoax. Kalau bukan urusan kita, ga usah kepo" sahut Novri lagi. "Ya udah, untuk kelas X-A biar gue aja" kata Brian. "Mungkin dengan gue nongol dikelas itu meredam gosip yang beredar" jawab Brian "Atau memanas" jawab Novri lagi "Tapi semua harus dihadapi, brad" kata Novri menepuk pundak Brian. "Pesen gue, Zee itu berbeda, jangan lo samain dengan diri elo atau orang lain. Be carreful" Brian menatap Novri. 'Itu anak mau nenangin atau mau nakutin, sih?' tanya Brian dalam hati dengan kesal. ***** Sidak dijalankan, murid yang sering melanggar tentu mengeluh, tidak terkecuali para fans Brian yang hobi menggunakan rok ketat diatas lutut serta membawa alat make up ke sekolah. Brian masuk kelas Zee. Nyaris satu kelas menahan nafas melihat Brian. Semua memandang Zee, menantikan reaksi Zee. Zee sendiri terlihat tenang dan kopertatif ketika diperiksa baik seragam, isi tas dan tato. Seperti yang sudah diduga, Zee tidak pernah terkena Razia. Roknya dibawah lutut, bajunya tidak ketat. Isi tasnya cuma buku sekolah dan alat tulis, Dan tubuhnya bersih tidak ada tato. Beberapa anak kena sangsi, Tristan langganan razia memanggil Zee, memanfaatkan moment pertengkaran Zee dan Brian. "Zee, belain dong" kata Tristan berharap Zee membelanya. Satu kelas mendelik tidak suka pada Tristan. Zee melihat Tristan lalu menatap Brian sejenak. Zee berdiri dan menatap Brian. Seisi kelas menahan nafas melihat Zee perlahan menghampiri Brian. Sedangkan Tristan hampir berteriak girang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN