Brian tercekat melihat Zee. Tatapan Zee tajam dan sulit untuk ditebak. Cindy melihat Zee sedikit was-was. Semakin Zee mendekat, Brian semakin dan bersiap mengeluarkan dalil-dalil pelanggaran yang dilakukan Tristan.
Sampai di depan Brian, Zee tersenyum. Wajahnya menoleh kepada Tristan yang cengar-cengir. Zee kembali memandang Brian dengan tajam "Kak, kalau lo mau hukum dia, hukum aja. Biar jera" kata Zee disambut tawa satu kelas
"Zee, my maaaannnn. Keren abiz lo" teriak Damar, ngakak. Sedangkan Brian hanya tersenyum kecil. Sebenarnya dia mau tertawa, tapi dia harus menjaga sikap.
"Rese' lo Zee" umpat Tristan kesel kearah Zee.
"Lo lupa, gue itu gimana orangnya?" Tanya Zee ngakak
"Zee tuh orang yang logic, Tris... Dia akan bela yang harus dibela, bukan bela yang salah" jelas Bimo
"Toss" kata Zee ngakak sambil mengarahkan tangannya ke arah Bimo, mereka melakukan toss dari jarak jauh.
Mendengar kalimat Bimo, lagi-lagi Brian merasa seperti ditampar. Kemarin, Brian malah bersembunyi ketika Zee menegur teman-temannya yang jelas salah.
Zee perempuan, lebih muda, tapi dia lebih dewasa dalam bersikap. Brian merasa dirinya tiba-tiba menjadi seorang pengecut.
Rima mencolek lengan Brian untuk pergi dari kelas X-A. Setelah mengucapkan terima kasih, Brian dan Rima menuju ruang OSIS.
Mereka mendata, yang sudah lebih dari tiga kali terkena razia, maka akan dilaporkan ke guru piket.
Rosa sedang mengetik laporan, sedang Novri membaca buku. Brian menggamit tangan Novri untuk keluar ruang OSIS dan duduk dibangku taman.
"Ada kejadian penting?" Tanya Novri
"Bener kata lo, anak itu ga bela temennya. Padahal temennya berharap akan dibela. Temennya manfaatin masalah gue dan dia" jelas Brian
"Sebenernya lo bisa tau kok, karakter anak itu. Hanya saja, lo ada dalam lingkaran itu, sehingga ego lo yang sering menang. Lo masih dendam sama dia, kan?" Novri menjelaskan panjang lebar.
"Iya, gue masih dendam. Tapi juga harus hati-hati untuk ngebalesnya" Brian berkata lirih.
"Ego lo tuh brad, yang ngomong. Sori, dalam hal ini, lo salah. Emang sih, awalnya dia yang salah, tapi kejadian dilapangan, elu yang salah. Kalau lo suruh dia push up, atau lari dilapangan, mungkin masalahnya kelar." Jelas Novri
"Kok lo bisa mikir kesana?" Tanya Brian heran.
Novri ketawa "Lo juga bisa mikir kesana, kalau otak lo ga ketutup sama ego lo" kata Novri sambil berdiri.
"Tunggu" tangan Brian menarik Novri agar duduk kembali.
"Lo ada dimana saat di perpus"
"Gue ada ga jauh dari Delon and the gank. Gue sebenernya mau bela Zee saat itu, tapi gue yakin, anak itu bisa skakmat Delon. Lo aja di skakmat, apalagi Delon yang jelas-jelas salah. Dan lihatkan? Makanya gue usulin dia untuk jadi pengurus OSIS"
Brian sedikit gugup, apakah Novri memperhatikan tingkah dia, yang memperhatikan Zee. Tapi tampaknya Novri tidak mau membahas itu.
Novri bangkit dan masuk ke dalam ruang OSIS.
Rosa sudah selesai membuat laporan. Brian membaca dan mengecek ulang. Kemudian menandatangani surat tersebut.
Setelah itu, semua pengurus OSIS kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran.
*****
Pulang sekolah, murid-murid yang namanya sudah masuk dalam daftar pelanggaran versi OSIS berkumpul diruang BP.
Zee terkekeh melihat Tristan yang memonyongkan bibirnya.
"Gak setia kawan lo" celetuk Tristan kesel
Zee cuma ketawa sambil berjalan menuju gerbang sekolah.
Dinda mencegat langkah Zee tiba-tiba. Cindy dan Zee hampir bertabrakan karena Dinda berada dihadapan mereka.
"Lo tuh hobi banget cari perkara sama senior" kata Dinda kesal menunjuk wajah Zee.
Cindy mengelus lengan Zee, untuk bersabar dan tidak ikut emosi Dinda.
"Apa sih salah Delon, Vina, Ambar, Cecil dan lain-lain sampe lo skakmat mereka?' tanya Alyssai.
Cindy menggamit tangan Zee, dia bingung apa yang dibicarakan oleh Dinda.
"Ada apaan sih?" bisik Cindy
"Ada cokelat, vanila, strawberry" bisik Zee terkekeh. Cindy mencubit Zee. Zee tertawa
"Eh, malah ketawa, lagi. Lo denger ga?" bentak Dinda. Cindy memutuskan untuk diam, sedangkan Zee tersenyum santai.
"Mentang-mentang mereka temen Brian, lo mau habisin ya?" Tuduh Alyssa.
Zee males banget menanggapi. 'Gak penting banget. Receh' batin Zee 'masalah gini aja, jadi heboh' lanjutnya lagi
"Ngomong lo, jangan diem aja" kata Dinda sambil mendorong bahu Zee. Cindy melihat Zee mulai emosi.
Walaupun Zee gak pernah memukul perempuan, tapi bahasa Zee bisa menyakitkan. Cindy mengelus lengan Zee menyabarkan Zee.