Part 8

1545 Kata
Sia bangun terlebih dahulu. Ia turun dari ranjang dan menuju kamar mandi. Sia mengeluh karena nyeri yang ia rasakan pada bagian bawahnya. Elvano sungguh membuatnya kesulitan untuk berjalan kali ini. "Auh ... mana bisa aku ke klinik kayak gini," gumam Sia. Lima belas menit berlalu, ia baru saja selesai membersihkan diri. Saat kelur dari kamar mandi, Sia melihat Elvano sudah terjaga. "Hei," sapa Elvano. "Mandilah, aku baru saja selesai," ujar Sia yang nampak canggung. Elvano berdiri tanpa mengenakan apapun, hal itu membuat Sia berbalik badan untuk tidak melihat Elvano. Sedangkan Elvano sendiri hanya bisa menahan agar ia tak tertawa melihat tingkah lucu kekasihnya itu. Sia berjalan menuju walk in closet, ia mengenakan setelan atasan tunik dengan celana jeans berwarna navi. Tak lama setelah Sia selesai mengenakan pakaiannya. Elvano keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang menutup tubuh bagian bawah. "Sayang, apa kau akan ke klinik?" tanya Elvano. "Iya, kenapa?" "Akan ku antar." "Tidak perlu, aku bisa sendiri. Lagipula kau pasti sedang sibuk dengan urusan bisnismu." "Ayolah, Sayang. Jangan seperti itu." "Kau yang membuatku kesal, aku hanya ingin waktu untuk sendiri! Apa itu salah?" "Tidak, Sayang. Tapi jangan terlalu lama jika kesal!" "Hah? Mana bisa aku mengatur berapa lama untuk kesal padamu." "Apa kau ingin mengulangi adegan semalam?" Elvano berjalan mendekati Sia. Sadar jika kekasihnya mendekat, Sia berbalik badan dan akan keluar dari sana. Sayangnya, belum sempat ia melangkah, Elvano sudah memeluknya dari belakang. "Stop it!" pekik Sia saat Elvano tengah mencium lehernya. "Kau terlihat cantik jika sedang marah, Sayang," bisik Elvano tepat di telinga Sia. Tangannya sudah berada di dua gundukan kenyal yang masih terbalut kain. Elvano mengeratkan pelukannya, ia tak peduli dengan tubuh Sia yang memberontak. "Akkhh, El ... jangan lagi, Akkhhh." "Kenapa, Sayang ?" "Kau terlalu keras semalam, milikku masih terasa nyeri." "Maafkan aku, kali ini aku akan melakukannya perlahan." Elvano membalikkan tubuh Sia untuk berhadapan dengannya. Ia langsung saja menyambar bibir Sia dengan sedikit kasar. Ciuman itu terbalas, mereka saling melumat dan bertukar saliva. Tangan Elvano menekan tengkuk Sia agar ciumannya semakin dalam. Lidahnya kini menjulur menyusuri rongga mulut milik Sia. Satu tangannya menyusup masuk kedalam pakaian Sia, lalu meremas p******a yang sedikit mengeras itu. Tentu saja hal itu membuat Sia ingin mendesah, tetapi bibirnya tertahan oleh ciuman yang sedang ia lakukan. Cukup lama mereka berciuman dengan posisi berdiri. Sedangkan handuk yang menutup bagian bawah Elvano sudah tak ada. Entah sejak kapan benda itu terlepas, hingga menampakkan kejantanan milik Elvano yang tegak, dan siap memasuki liang senggama wanita di hadapannya. Elvano melepaskan ciumannya,lalu ia membantu Sia untuk melepaskan pakaiannya. Setelah berhasil membuat wanitanya bertelanjang bulat, ia merebahkan tubuhnya dan membuat Sia naik ke atasnya. Perlahan kejantanan Elvano masuk kedalam liang senggama milik Sia. Sedikit sulit karena Elvano tak melakukan foreplay pada Sia. "Akkhhh! " pekik Sia saat kejantanan Elvano sudah memenuhi liang kewanitaannya. Sia menggerakkan pinggulnya perlahan, ia menahan rasa nyeri karena yang sebelumnya. Elvano meremas dua p******a Sia bersamaan, ia memainkan p******a itu seperti mainan squishy. "Akkhh, enak sekali ... aakkhh," desah Sia. Tangan Sia meremas d**a Elvano, matanya terpejam, wajahnya menengadah, ia mendesah menikmati setiap gerakan pinggulnya sendiri. Kejantanan Elvano terasa masuk lebih dalam saat diposisi itu. Membuat Sia semakin b*******h untuk melakukan persetubuhan itu. "Akh, Sayang. Milikmu sangat sempit, membuatku tak ingin melepaskannya dari sana," ujar Elvano ditengah nikmat yang dirasakan kejantanannya. Gerakan Sia sedikit cepat, ia mendesah semakin kencang. Tubuhnya menegang, dan desahan panjang keluar dari bibirnya. Ya, Sia mendapatkan pelepasan pertamanya. " Aakkkhhhh." Meski telah mendapatkan pelepasan, Sia tan berhenti menggerakkan pinggulnya. Sedangkan Elvano yang merasakan kedutan dari bibir v****a Sia hanya tersenyum miring. Tubuh Elvano bangkit dengan Sia yang masih duduk diatasnya. Kini kaki Sia melingkar pada tubuh Elvano, sedangkan lelaki itu menggerakkan tubuhnya agar kejantannanya bergerak sesuai alur yang ia buat. "Akh, akh ... yeah, terus El," desis Sia tepat ditelinga Elvano. Lelaki itu memeluk tubuh wanitanya dengan erat. Kulit mereka saling bersentuhan, peluh yang membasahi tubuhnya kini menjadi satu. Sepuluh menit sudah posisi itu mereka lakukan, Sia akan mendapatkan pelepasannya lagi. Tubuh wanita itu menegang, ia membuat kejantanan Elvano semakin dalam memasukinya. "Aku akan keluar, Aaakkkhhhh." Elvano membaringkan tubuh Sia dengan kejantanan yang masih berada didalamnya. Tubuh Elvano membungkuk, sedangkan kaki Sia melingkar pada pinggang lelaki itu. Pinggul Elvano kembali memompa liang senggama Sia. Kali ini ia telah mencapai k*****s. Gerakannya semakin cepat, lalu tubuhnya menegang dan ia mengeluarkan cairan putih kentalnya didalam rahim kekasihnya. Tubuhnya ambruk disamping Sia, tangannya membelai rambut wanita itu. Mata sayu mereka saling menatap, Sia memilih untuk memejamkan matanya. Tak jauh beda dengan Sia, lelaki itu juga kini memejamkan matanya. *** "Ehm, siapa?" "Dok, apa hari ini kau tak datang ke klinik?" Mata Sia terbuka begitu saja, ia sangat terkejut mendengar suara Tari dari seberang telepon. Sia menatap jam dinding dikamarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. "Maaf, Tar. Aku tak enak badan hari ini, apa kau bisa menggantikanku dulu?" ujar Sia beralasan. "Baiklah, cepat sembuh, dok!" Tut Sia melihat kesamping, Elvano masih memejamkan matanya. Sia turun dari ranjang, lalu melangkah masuk kedalam kamar mandi. Perutnya terasa sangat lapar, wanita itu melupakan sarapannya. Ia mengumpat dalam hati atas erbuatan kekasihnya itu. Meski percintaan itu begitu nikmat untuknya, tetapi hal itu membuat tidak bisa bekerja saat ini. Setelah lima belas menit, Sia keluar darinkamar mandi. Ia melihat Elvano dengan senyum lebar menatap dirinya yang hanya mengenakan handuk penutup tubuh bagian d**a hingga lutut. "Kenapa kau tersenyum seperti itu?" tanya Sia kesal. "Aku hanya senang melihatmu, sayang." "Kau menbuatku kesal, El!" "Maaf, sayang." Elvano beranjak dari temoatnya, kini giliran dirinya yang membersihkan diri. Sebelum masuk kedalam kamar mandi, lelaki itu menyempatkan mencium kening Sia sekilas. Sia hanya menghela napasnya dengan kasar. Wanita itu berjalan menuju walk in closet miliknya untuk mengambil pakaian. Pilihannya jatuh pada kaos tipis berwarna kuning dengan hotpants berwarna biru. Setelah mengenakan pakaian lengkap, Sia berjalan menuju dapur. Berharap bibi Wati memasak sesuatu untuknya. Saat ini bibi Wati sedang berada di minimarket terdekat, ia membeli beberapa camilan dan bahan masak untuk stok didalam lemari pendingin. "Ada makanan, perutku lapar sekali," gumam Sia. Ia mengambil piring untuk digunakan. Saat Sia akan menyuapkan makanan kedalam mulutnya, ia melihat Elvano keluar dari kamar dan menghampirinya. "Kau juga mau makan?" "Tentu, jika tidak merepotkan," jawab Elvano. Lelaki itu menarik kursi untuk ia duduki.  Sia mengambil seporsi makanan untuk Elvano. Lalu mereka makan bersama disatu meja. "Maaf membuatmu tidak bisa bekerja," ujar Elvano menyesal. "Ya." Sia kembali melanjutkan makannya, wanita itu emmilih untuk diam hingga kegiatannya selesai. Begitupun dengan Elvano yang sesekali mencuri pandangan kearah Sia. Ceklek Bibi Wati baru saja datang, ia berjalan menuju dapur. Saat melewati Sia dan Elvano, Bibi hanya tersenyum lalu melanjutkan kegiatannya. "Nona, hari ini Bibi pulang lebih awal ya?" "Hmm? Iya, Bi." Sia menyelesaikan makannya lalu beranjk dari sana. Ia berjalan menuju ruang santainya yang berada didekat kamar. Elvano buru-buru mengikuti Sia, ia langsung duduk disamping Sia tanpa permisi. "Kau tak pulang?" tanya Sia pada Elvano. "Kau mengusirku, sayang?" bukannya menjawab, justru lelaki itu melontarkan pertanyaan pada Sia. "Kau menyebalkan!" "Aku tahu, maafkan aku." "Hmmm." "Kau masih marah?" "Sudahlah, aku malas membahasnya." Elvano memeluk Sia dari samping. Lelaki itu menciumi wajah Sia. "Apaan sih!" seru Sia yang merasa terusik. Elvano terkekeh melihat wajah kesal kekasihnya itu. Ia mencubit pipi Sia hingga membuatnya mendapatkan pukulan tepat dikepala. "Auh! Sakit, sayang." "Sama! Aku juga sakit." "Mau pergi? Kita jalan-jalan!" ajak Elvano. "Ha? Kemana?" "Bali?" "Not bad," jawab Sia yang mulai tertarik dengan ajakan kekasihnya itu. "Baiklah, ayo!" "What? Sekarang?" "Iya, sayang." "Baiklah, tunggu aku kemas barang dulu." "Aku akan membantu," ujar Elvano. Keduanya kembali kekamar Sia. Mereka bersama-sama mengemasi barang yang akan Sia bawa. "Berapa lama?" tanya Sia. "Sepuasmu." "Oke!" Sia nampak senang sekali, mood yang sejak kemarin hancur, dengan mudah kembali hanya dengan ajakan untuk berlibur. Setelah selesai, Sia berpamitan pada Bibi untuk menjga rumah selama ia pergi. Lalu mereka segera pergi menuju bandara Juanda. Tidak perlu membeli tiket atau sebagainya. Elvano memiliki pesawat pribadi yang bisa kapan saja di gunakan. "Nin, titip klinik ya? Aku mau pergi ke Bali, ada urusan." "Kata Tari, dokter sedang sakit." "Iya, tapi udah gapapa kok, Nin. Aku pergi dulu, bye Nin!" Tut. Sia menutup sambungan teleponnya dengan Nindy. Ia tak akan menghubungi Tari karena wanita itu pasti akan mengomel jika tahu dirinya pergi disaat kondisi tubuhnya tidak sehat. "Kau sudah memberi kabar pada temanmu satunya?" tanya Elvano. "Tidak perlu. Nindy akan memberitahu Tari nanti!" "Hmm, baiklah." Mobil Elvano melaju kencang menuju bandara, mereka hanya membutuhkan waktu lima belas menit saja untuk sampai disana. Setelah memasuki pintu masuk bandara, mobil Elvano berhenti di sebuah tempat parkir khusus. Ia kini menghubungi seseorang untuk memastikan pesawat miliknya telah siap. "Halo Ed, apa pesawatku sudah siap?" "Sebentar lagi, pilotmu captain Hito." "Baiklah, terima kasih, Ed." Tut. Sambungan teleponnya terputus. Elvano berjalan membawa barang milik Sia. Sedangkan Sia hanya menenteng tas selempang merk Gucci miliknya. Karena pesawat belum siap sepenuhnya, Elvano dan Sia harus menunggu di sebuah ruangan VIP dengan pintu bertuliskan Kalandra Group. Ya, ruangan itu khusus untuk keluarga Elvano. Kekayaan yang tak main-main. Sayangnya Sia tak mengetahui hal itu. Wanita itu memang terlalu cuek pada sebuah kekayaan. Bahkan sebelum dengan Elvano, Sia juga tak mengetahui seberapa kaya Daniel. Sia memang tak pernah menilai seseorang dari seberapa kaya dirinya. Namun, Sia hanya ingin ornag itu menyayanginya dengan tulus tanpa memandang harta dan masa lalu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN