Part 7

1494 Kata
Satu minggu kemudian, Sia sedang berada di Pusvetma. Ia tengah memeriksa beberapa hewan yang berada disana. Sudah satu minggu juga Sia tak bertemu kekasihnya, terkadang mereka hanya saling membalas pesan. Dan jika Elvano tak sibuk, ia akan menghubungi Sia. "Dok, ada yang mencarimu," ujar seorang karyawan disana "Siapa?" tanya Sia "Daniel" "Hmm" Beberapa hari ini memang Daniel sedang berusaha untuk mendekati Sia lagi. Meski Sia sudah menolaknya, tetapi Daniel tak pernah menyerah. "Sayang..." panggil Daniel "Cukup, Dan!, ini tempat kerjaku! Orang-orang disini bisa salah paham jika kau terus seperti ini!," ujar Sia kesal "Ayolah, Sia.." Daniel mendekati Sia, melihat apa yang Sia lakukan. Merasa terganggu Sia berhenti dari aktivitasnya, ia berjalan keluar dari ruangan itu. "Ayo, kita makan siang!" ajak Daniel "Tidak, aku sudah ada janji!" "Dengan kekasihmu?" "Ya!" "Baiklah, aku akan pergi kalau begitu!" Daniel melangkah menjauhi Sia. Ia benar-benar pergi dari hadapan Sia saat ini. "Maafkan aku, Dan!" gumam Sia Sia membereskan perlengkapannya, ia bersiap pergi ke klinik. Namun sebelum itu ia akan pergi makan siang terlebih dahulu. "Dok, mau pergi?" tanya seseorang "Iya, aku sudah selesai dengan pekerjaanku disini!" "Baiklah, hati-hati dijalan, Dok!" Sia hanya tersenyum dan mengangguk. Ia berjakan menuju mobilnya, lalu melaju ke sebuah rumah makan. Selama di perjalanan, Sia hanya mendengarkan music dari radio. Tanpa sengaja saat sia melihat ke arah sampingnya, ia melihat mobil milik Elvano. Terlihat dari bayangan kaca, didalam mobil itu Elvano sedang bersama seorang wanita. Air mata Sia jatuh begitu saja, lalu mata mereka saling bertemu. Sadr dengan tatapan dari Elvano, Sia menginjak pedal gas lalu melaju kencang. Sia sampai di apartemennya, ia terus meneteskan air mata selama berlari menuju kamarnya. Bibi yang melihat Sia masuk kedalam kamar ikut cemas. Ia mencoba mengetuk pintu kamar, karena jam itu Bibi akan pulang ke rumahnya. "Nona!" panggil Bibi "Bibi bisa pulang!, Sia baik-baik saja!" teriak Sia dari dalam kamar Bibi langsung melangkah pergi meninggalkan Sia. Sia menangis hingga  terlelap, bahkan di dalam tidurnya ia juga masih meneteskan air mata. *** Tepat pukul sembilan malam, Sia terbangun. Ia berjalan menuju minibarnya. " Ehm.." Sia mengambil tiga botol soju dan dua botol besar arak Bali. Sia meminum semua itu hingga habis. "Akh.. Aku mabuk.. Hik.. Hehehe.. Iya mabuk nih!" gumam Sia tak jelas Ddrrtt... Dddrrrttt... Elvano is Calling... "Sayang, kau dimana?" "Hik, ini siapa?" jawab Sia asal "Sayang, kau mabuk?" "Hik, enak aja! Aku ga mabuk! Cuma kebanyakan minum" "Aku akan kesana sekarang!" "Hmm" BRUK... Sia tersungkur di minibar, ia mencoba untuk bangun tetapi sia-sia. Tubuhnya terasa melayang, seperti ada yang sedang menggendongnya. "Siapa?" gumam Sia Sia sudah berada di atas ranjangnya, ia memejamkan matanya. Namun tak lama kemudian Sia membuka mata, ia mencoba untuk memfokuskan pandangannya. Seseorang tengah mengawasi Sia dari sudut kamar. Sia membulatkan matanya, ia terkejut melihat siap yang sedang mengawasinya. "Ehm, ahh.. Kepalaku.. Kau! " rintih Sia "Kau sudah bangun, Sayang?" Sia kembali membulatkan matanya melihat Elvano berada didalam kamarnya. "B-bagaimana bisa kau ada disini?" tanya Sia kebingungan "Sayang, aku mencoba menghubungi mu, tapi kau sangat sulit untuk di telepon! Apa terjadi sesuatu?" "Menjauhlah! Aku tak ingin melihatmu! Sebaiknya kau pergi!" "Apa!? Kau mengusirku? Memang apa yang terjadi?" "Kau... Sudahlah.. Pergi saja! Aku sedang tidak ingin di ganggu!" Elvano semakin mendekat, sedangkan Sia sendiri masih merasa pusing kepalanya. "Aku akan menjelaskan semuanya, semua yang kau tanyakan!" ujar Elvano "Siapa wanita itu?" "Bukan siapa-siapa, sudah ku jelaskan bahwa ia adik angkatku!" "Bohong! Kalian begitu mesra!" "Ayolah, Sayang! Aku tidak sedang berbohong!" "Sebaiknya kau mundur! Benar kata Daniel! Tak seharusnya aku mempercayai ucapanmu!" "Apa? Kau lebih percaya lelaki itu dari pada aku yang kekasihmu?" "Aku melihat dengan mata... Bukan dengan apa kata orang!" "Lalu aku harus bagaimana lagi agar kau percaya?" "Kau hanya perlu pergi! Aku harap kita tak pernah ber-" Ucapan Sia tertahan oleh ciuman yang Elvanok berikan. Ia melumat bibir Sia, tetapi tak ada balasan. Elvano menggigit kecil bibir bawah Sia, ia memasukkan lidahnya kedalam rongga mulut Sia. Tangan Sia meronta berusaha melepaskan diri, ia mendorong tubuh Elvano, tetapi sia-sia. Justru Elvano semakin memperdalam ciuman itu dan mempererat pelukannya. Cukup lama Elvano melumat bibir Sia, hingga Sia hampir kehabisan napas. Merasa Sia lebih tenang, Elvano melepaskan ciumannya. "Sayang, maafkan aku!" ujar Elvano lirih Elvano menyesal karena sudah membuat Sia salah paham. Tak menjawab ucapan Elvano, Sia hanya meneteskan air matanya. Mereka saling menatap, Elvano mengusap air mata yang membasahi pipi Sia. Ia mencium kening Sia, lalu turun ke hidung, dan berhenti di bibir Sia. Elvano kembali mencium Sia, melumat bibir manis itu dengan perlahan. Tangan Elvano mengeratkan pelukannya. Cukup lama Elvano melumat bibir Sia, hingga mereka saling bertukar saliva. Elvano melepaskan ciumannya, ia menatap mata Sia yang sayu. "Aku mencintaimu, Sia!" ujar Elvano "A-ku juga.. mencintaimu" Elvano kembali mencium bibir Sia. Perlahan ia melumat bibir yang beraroma soju dengan arak bali. Elvano menjulurkan lidahnya, lalu Sia mengulumnya dengan gairah yang mulai memuncak. "Ehm" desah keduanya yang tertahan oleh ciuman mereka. Tangan Elvano meremas dua gundukan kenyal yang kini mulai mengeras, sedangkan sang pemilik memejamkan mata merasakan kenikmatan yang sedang dilakukan oleh Elvano. Cukup lama ciuman itu berlangsung, akhirnya Elvano melepaskannya. Kini ia tengah melepaskan pakaian yang dikenakan Sia. Setelah itu, Elvano juga melepaskan seluruh kain yang menutup tubuh atletisnya. Terlihat kejantanan milik Elvano yang sudah siap masuk kedalam liang nikmat milik Sia. Tangan Elvano kembali meremas d**a Sia dengan memainkan putingnya. Elvano juga mengulum p****g payidara lainnya. "Akhh.. yeah... ehmm, itu sangat nikmat..." desah Sia saat Elvano bermain lembut dibagian dadanya. Elvano juga menggesekkan kejantanannya ada bibir kewanitaan Sia. Tentu hal itu membuat Sia semakin ingin merasakan hal yang lebih. "Akkhh... El, cepat masukkan..." ujar Sia yang tak tahan dengan permainan Elvano. "Tunggu, Sayang. Kau terlalu terburu-buru, nikmati apa yang kulakukan.." "Akh, kau membuatku tak tahan... akhh.." Tangan Elvano berhenti memainkan p******a Sia, kini tangan itu semakin turun hingga sampai dibagian bawah. Perlahan Elvano memasukkan dua jarinya, ia membuat gerakan keluar - masuk. "Kau sudah basah, Sayang." ujar Elvano saat jarinya sedang mengocok bagian dalam. "Akkhh.. yeah.. sssttt.. Itu... enak sekali.." Jarinya semakin cepat bergerak, membuat tubuh Sia merasakan geli dan nikmat dalam satu waktu. Tak lama kemudian, Sia mendesah panjang, ia mendapatkan pelepasan pertamanya. "Aaakkhhh..." Napas Sia terengah-engah, baru satu kali mendapatkan pelepasan sudah membuatnya lelah. Sayangnya, Elvano tak membiarkan wanita itu beristirahat. Tubuh Elvano sudah berada dibagian bawah Sia, ia menaikkan kaki Sia hingga terlihat jelas bibir kewanitaan yang merah dan berkedut itu. "Aakkhhh... s**t! Akkhhh... El,te-.. russ.. aakkhhh," Desahan demi desahan keluar dari mulut Sia, hingga ia lupa akan sakit yang dirasakan tadi siang. Lidah Elvano masuk kedalam liang senggama Sia, ia membersihkan cairan bening milik wanitanya hingga tak tersisa. Setelah puas, Elvano mengulum k******s yang berwarna merah muda dan mengeras. "Akh!"pekik Sia yang terkejut dengan kegiatan Elvano. Tangan Sia mencengkeram selimut disampingnya, ia merasa geli dengan apa yang dilakukan Elvano. " El, Ehm.. ge-.. li... " Elvano mengehentikan kegiatannya, ia menatap wajah Sia yang terlihat sayu. Sia mengeryitkan dahinya, ia juga menatap wajah Elvano. "Aku mencintaimu, Sayang," ujar Elvano sembari menarik tubuh Sia agar turun dari atas ranjang. Elvano membuat tubuh Sia membungkuk menghadap ranjang. Perlahan Elvano memasukkan kejantanannya, saat itu juga desah panjang keluar dari mulut Sia. "Akkkkkhhhh..." Elvano menggerakkan pinggulnya, tangannya menangkup satu p******a Sia. "Ouh, milikmu sangat sempit, Sayang.." "Akh.. Sstt.. Ehmm.." Sia sangat menikmati kejantanan milik Elvano yang kini bersarang didalam liang senggamanya. Hentakan yang Elvano berikan membuat Sia sedikit terpekik. Puas dengan posisinya itu, Elvano menghentikan kegiatannya. Ia mengeluarkan kejantanannya dari liang kewanitaan Sia. Peluh kini membasahi tubuh keduanya. Kegiatan persetubuhan panas itu terus mereka lakukan. Kini Elvano berbaring diatas ranjang, ia mengarahkan Sia untuk naik keatas tubuhnya. Perlahan, Elvano kembali memasukkan kejantanannya. "Akkhh.... milikmu terasa masuk terlalu dalam, El." ujar Sia yang merasakan kejantanan Elvano menyentuh rahimnya. Kini Sia memegang kendali, ia menggerakkan pinggulnya. Sensasi pergerakan itu membuatnya hampir mendapatkan pelepasan lagi. Elvano menarik tangan Sia hingga wajah mereka berhadapan tanpa ada jarak, ia melumat bibir wanita itu dengan rakus. Pinggul Sia tetap bergerak, beberapa menit kemudian. Di tengah ciumannya, Sia memejamkan mata merasakan pelepasannya. "Ehm..." Elvano menegakkan posisinya, hingga tubuhnya setengah duduk dengan Sia yang masih berada dalam pangkuannya. Kaki Sia melingkar pada tubuh Elvano, ia masih terus menggerakkan pinggulnya. Mereka saling berpelukan dengan masih terus bergerak untuk merasakan kenikmatan. Peluh membasahi tubuh keduanya hingga napas mereka terengah engah. Elvano membaringkan tubuh Sia tanpa melepaskan tautannya. Tubuhnya setengah berdiri, tak lupa ia menaikkan kaki Sia keatas bahunya. Elvano kembali memompa tubuh wanita dihadapannya dengan tempo cepat. "Akkhh... Aku akan keluar, El.." desah Sia yang akan mendapatkan pelepasannya lagi. "Aku juga, Sayang.. bersama.." Elvano semakin mempercepat temponya, tubuhnya menegang, ia mengehntakkan pinggulnya hingga tiga kali, dan cairan puyih kentalnya keluar didalam rahim Sia. "Aakkhhhhh...." desah keduanya Elvano membungkuk, ia mencium bibir Sia sekilas, lalu melepaskan tautannya. Terlihat sisa cairan percintaan mereka yang keluar dari kewanitaan Sia. Elvano membenarkan posisi Sia, mereka menutup diri dengan selimut dan terlelap karena kelelahan. Elvano memeluk Sia erat, seakan tak ingin kehilangan wanita yang ia cintai. "Aku mencintaimu, Sia," bisik Elvano dengan matanya yang terpejam. "Aku juga mencintaimu, El."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN