"Kau sudah bangun, El"
"Sayang, semalam... Argh!! Apa kita melakukannya?" suara Elvano nampak kalut
"Iya" ucap Sia dengan menundukkan kepalanya
"Listen to me! I'm sorry... Aku akan bertanggung jawab jika sampai kau hamil karena kejadian semalam"
"Aku tau, kau pasti akan bertanggung jawab! Lagi pula sudah terjadi"
"Sayang, apa kau? Ehm.."
"Hmm, aku masih virgin sebelum kau melakukannya, El!"
"Oh s**t!! Damn it!!"
"Aku sudah mencoba menghentikanmu, tetapi aku sendiri juga dalam kondisi mabuk, tenaga ku tak cukup untuk membuatmu berhenti"
"Sungguh aku minta maaf, Sayang!" ujar Elvano menyesal
Elvano memeluk Sia, mulai saat ini ia akan benar-benar menjaga Sia. Tanpa Sia sadar, airmatanya jatuh membasahi pipinya.
"Hei.. Jangan menangis! Aku minta maaf!"
"Tidak.. Ah maaf.. Sudah cukup meminta maafnya, El"
"Baiklah, kau sudah rapi.. Apa kau akan pergi ke klinik?"
"Iya, aku hanya ingin memastikan kondisimu"
"Aku antar ya?"
"Baiklah.. Apa kau tak pergi bekerja?"
"Aku tidak ada kerjaan penting hari ini, aku ingin menemani mu!"
"Oke"
Akhirnya Elvano mengantar Sia ke klinik. Namun di perjalanan mereka berhenti untuk membeli makanan untuk makan pagi. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai di klinik.
"Pagi, Dok! Tumben telat, Dok?" sapa Dina pegawai toko
"Pagi, Din.. Iya nih, tadi mampir beli makan dulu, kamu udah makan, Din? Nih aku beliin buat kamu juga!" sembari memberikan kantong plastik berisi makanan
"Eh, makasih Dok.. Aku makan habis beresin barang ya, Dok"
"Iya, oh ya.. Dokter lain udah dateng?"
"Udah, ada di atas, Dok!"
"Okay, aku ke atas dulu ya!"
Sia menuju kantornya di lantai dua bersama Elvano.
Ceklek
"Aku akan duduk di sofa, jangan hiraukan aku, Sayang! Fokus saja d3ngan pekerjaanmu!" ujar Elvano
"Iya.."
Sia sedang memeriksa beberapa laporan mengenai kesehatan hewan yang di percayakan di klinik miliknya. Ia memilah antara hewan yang memiliki riwayat penyakit menular dan tidak menular. Setelah itu, Sia mengirim laporan itu ke dokter yang menangani.
Di sofa, Elvano sedang berkutat dengan ponselnya. Ia juga sedang memeriksa pekerjaannya. Berharap tidak ada masalah yang serius hari ini.
"El, jika kau bosan..."
"Tidak, Sayang! Aku sedang memeriksa kondisi restoran lewat ponsel ini.."
"Hmm.. Baiklah.. Apa semua baik-baik saja?"
"Ya, Sayang!"
"Oke, aku lanjut kerja dulu ya?"
Elvano hanya tersenyum pada kekasihnya itu. Lalu kembali melihat ke layar ponselnya.
Waktu sudah menunjukkan bahwa jam makan siang telah tiba. Elvano melihat ke arah Sia yang masih memeriksa berkas di hadapannya.
"Sayang, sudah waktunya makan Siang!" ujar Elvano mengajak Sia
"Iya"
"Kita makan di restoranku, bagaiamana?"
"Baiklah!"
Sia merapikan mejanya, laku ia bersiap untuk pergi bersama kekasihnya.
Saat turun dari lantai dua, Sia melihat Dina dan Nindy sedang berbincang. Mereka melihat ke arah Sia yang turun dari tangga. Tatapan menggoda keduanya membuat Sia tersenyum.
" Apa kalian tak ada kerjaan?" tanya Sia
"Tidak! Hari ini sedikit longgar.. Apa kalian akan pergi makan siang?" tanya Nindy
"Iya.. Kau mau ikut?"
"Tidak, terima kasih!, aku tak ingin mengganggu kemesraan kalian!"
"Haha.. Kau ini.. Baiklah, aku pergi dulu!"
"Okay"
Sia dan Elvano pergi menuju restoran. Selama di perjalanan, tak banyak obrolan mereka. Hanya seputar pekerjaan yang tengah Sia kerjakan sejak pagi.
Sampai di restoran, seorang wanita mendekati Elvano. Nampak wajah Elvano yang tagang melihat wanita itu.
"Siapa?" tiba-tiba Sia membuka suara
"Terre, adik angkatku!. Sebentar aku akan menemuinya, kau bisa duduk dan memesan makanan terlebih dahulu, Sayang!"
"Baiklah, aku akan duduk disana"
Sia sedikit kecewa dengan Elvano. Mengapa ia tak mengenalkan adiknya?. Sia hanya duduk dan melihat daftar menu. Setelah memesan, Sia mengirim pesan pada Elvano yang tak kunjung kembali.
Text message
To Elvano
"Kenapa begitu lama? Kau tak ingin mengenalkan adikmu padaku?"
From Elvano
"Percayalah, kau tak ingin mengenalnya. Ia kemari hanya meminta uang untuk berbelanja. Aku akan segera menemuimu, Sayang!"
To Elvano
"Baiklah!"
Sia berdecak kesal membaca oesan dari Elvano. Hingga makanan datang, Elvano tak kunjung kembali. Sia merasa jenuh, ia masih belum menyentuh makanan di hadapannya karena menunggu Elvano. Tak lama kemudian Elvano muncul, ia duduk di seberang Sia.
" Maaf, Sayang!"
"Hmm, untuk apa?"
"Sudahlah, ayo makan!"
Sia tak menjawab ia menyantap makanan di hadapannya hingga tak tersisa.
"Apa kau marah?" Elvano mencoba memastikan
"Hmm sedikit.."
"Maaf, Sayang!"
"Sudahlah.. Aku akan kembali ke klinik sendiri, sebaiknya kau temani adikmu yang sejak tadi melihat ke arah kita!"
"Apa!, astaga! Aku antar kau kembali dulu!"
"Tidak perlu, Tari menjemputku, sebentar lagi ia akan sampai! Kau tak perlu khawatir, El!"
"Baiklah jika itu maumu!"
Sia melihat keluar jendela, ia melihat Tari melambaikan tangan ke arahnya.
"Tari sudah datang! Aku pergi dulu!"
"Ya.. Hati-hati di jalan, Sayang. Aku hubungi jika sudah selesai urusanku!"
"Ya!"
Sia beranjak dari tempatnya dan menghampiri Tari. Wajahnya nampak kesal meliht kekasihnya lebih memilih menemani adik angkatnya. Namun Sia tak bisa memaksa, bagaimanapun wanita itu hanyalah adik untuk Elvano.
"Hei! Kau kenapa?" tanya Tari
"Tidak apa-apa! Sudahlah, kita kembali ke klinik!"
"Okay!"
Tari melajukan mobilnya untuk kembali ke klinik. Si terlihat sedih, sesekali ia melihat ke arah layar ponselnya, berharap ada pesan masuk dari Elvano.
"Kau yakin baik-baik saja?" tanya Tari
"Ya, sedikit kecewa!"
"Ceritalah, Si! Aku tahu kau selalu menyembunyikan semuanya, kali ini rubahlah sifatmu itu, kau akan merasa lega jika berbagi cerita itu!"
"Aku hanya cemburu pada adik angkat Elvano! Ya... Wanita itu mendapat perhatian dari Elvano, aku tau aku salah! Karena sudha cemburu pada adik kekasihku!"
"Hahahahahaha.... Maaf... Kau ini!"
"Kenapa kau tertawa?"
"Tentu aku tertawa... Apalagi kau bilang wanita itu adalah adik kekasihmu!"
"Aku selalu seperti ini!!"
"Tenanglah, Si! Jika memang wanita itu adalah adik Elvano, kau tak perlu khawatir!"
"Ya.. Kau benar!"
Mereka kembali diam, mobil melaju hingga sampai di klinik.
Ceklek
Brak
"Aku ke Cafe, jika kalian mau aku tunggu disana! Selesaikan dulu pekerjaan kalian!" ujar Sia
"Okay.. Kau mau ku antar?"
"Tidak! Aku akan berjalan!"
"Baiklah!"
Sia berjalan menjauh, ia menuju Cafe tempat biasa yang ia datangi jika sedang kesal. Sebelum Sia sampai di cafe, sebuah mobil mendekatinya lalu berhenti di hadapan Sia.
"Sayang!!" Daniel keluar dari dalam mobil
"Hai, Dan! Ada apa?"
"Aku merindukanmu! Kenapa kau berjalan?"
"Aku ingin ke cafe..."
"Baiklah! Ayo masuk, aku temani!. " Daniel mendorong tubuh Sia hingga masuk kedalam mobilnya.
"Cafenya sudah dekat, Dan! Aku cukup berjalan beberapa langkah lagi!" protes Sia
"Sudahlah, kau sedang kesal... Diam dan ikut saja!"
Sia berdecak, Daniel memang sangat hafal dengan karakter Sia. Ia bis amelihat dengan sekali tatap, bagaimana perasaan wanita itu.
"Kau mau cerita?" tawar Daniel
"Tidak!"
"Okay"
Sampai di cafe, Sia masuk bersama Daniel yang masih mengekor. Sia memesan Mocca Latte dengan sedikit gula, sedangkan Daniel memesan Americano. Mereka duduk di satu sudut cafe, sembari menunggu pesanan.
"Hei, kau sudah menjalin hubungan dengan lelaki itu?" tanya Daniel
"Ya"
"Sepertinya memang tidak ada kesemoatan lagi untukku!, aku masih mencintaimu, Sia!"
"Aku tahu, tetapi aku tak bisa menerimamu lagi!, perpisahan yang dulu sudah membuatku cukup tersakiti, Dan! Hingga sekarang kita bisa seperti ini, itu adalah hal yang menakjubkan!"
"Hmm.. Aku hanya ingin bisa terus melihatmu, Sia.. Aku ingin terus melihat senyumanmu!"
"Sayang sekali! Hari ini aku sedang tak ingin tersenyum!"
"Apa kalian bertengkar?"
"Tidak, aku hanya sedikit kecewa!"
"Apa tentang wanita lain?" tanya Daniel memastikan
"Kurang lebih!"
" Jika lelaki itu berani menyakitimu, kupastikan ia akan menyesal!"
"Hei, bagaimana dengan dirimu sendiri? Kau juga menyakitiku, Dan!"
"Ayolah Sia! Itu sudah berlalu.. Kini aku hanya ingin bisa bersamamu lagi!"
"Aku hargai itu, tetapi maaf!"
"Ya, ya.. aku tahu!"
Pesanan mereka datang, Sia meminum Mocca Latte miliknya. Begitupun dengan Daniel.
Cukup lama mereka disana, hingga Nindy dan Tari datang menghampiri keduanya.
"Sia.. Daniel!" sapa Nindy
"Kalian! Duduklah.." ujar Sia
"Sudah berapa lama kau disini, Dan?" Tari bertanya pada Daniel
"Sejak Sia disini, aku juga disini"
"Ahh.. Begitu!"
"Bagaimana klinik?" Sia mengalihkan pembicaraan
"Agak sepi hari ini! Makannya kami bisa kemari" jelas Tari
Mereka berbincang hingga sore hari. Sia merasa lelah dan memutuskan untuk kembali ke apartemen. Daniel memaksa untuk mengantarkan Sia hingga sampai apartemennya.
"Sampai kapan kau akan menggangguku, Dan?"
"Sampai kau kembali padaku, Sia!"
"Aku sudah memiliki Elvano! Kau tahu itu!"
"Ya, aku tahu.. Tapi kau belum menikah bukan dengannya, jadi aku masih memiliki kesempatan untuk merebutmu!"
"Dasar kau ini!"
"Kau tahu sendiri, bahwa aku ini keras kepala! Apalagi jika berhubungan denganmu!"
"Jangan membuatku merasa tak enak, Dan!"
"Sudahlah Sia! Ikuti saja alur kehidupanmu, Jika memang kita tidak bisa bersatu, aku akan menerimanya dengan baik"
"Dan... Maaf!"
"Hei, kenapa kau meminta maaf? Kau tak salah Sia, kau berhak memutuskan!"
Sia terdiam, ia melihat ke ponselnya. Elvano meninggalkan pesan bahwa ia akan pergi untuk urusan bisnis di Singapura. Seketika hati Sia terasa sakit, dan dadanya terasa sesak. Daniel melihat akan ada air mata yang jatuh. Ia menepikan mobilnya, dan berhenti di tepi jalan.
"Dan, kenapa kau berhenti?"
"Kemarilah.."
Daniel menarik tubuh Sia, lalu memeluknya. Tanpa sadar Sia meneteskn air matanya. Daniel dapat merasakan bagaimana perasaan Sia saat ini.
"Hei.. Ada apa?"
Sia hanya menggeleng
"Kau yakin? Akan kubunuh lelaki itu jika ia berani menyakitimu!"
"Tidak, Dan! Aku baik-baik saja.. Elvano tidak salah, perasaanku saja yang sedang tidak baik, sehingga membuat diriku sendiri menjadi sakit"
"Kau mau ke suatu tempat?"
"Tidak, cukup antar aku pulang saja!"
"Baiklah jika itu maumu!"
Daniel kembali mengemudikan mobilnya menuju apartemen Sia. Setelah sampai, Daniel hanya mengantar hingga lobby, karena Sia tak ingin merepotkan lelaki itu lebih dari ini.