Part 5

1553 Kata
"Masa laluku tidak begitu menarik, sayang.. Hanya masa kecil yang biasa saja, karena aku terlahir dari keluarga yang berada. Orang tuaku memulai bisnis ini sejak mereka belum menikah. Mama dulu adalah pegawai di salah satu restoran yang dimiliki papa. Namun setelah melahirkanku, mama tiada... " ucapan Elvano terhenti "Ah.. Maaf El... Sudah jangan lanjutkan.. Maaf sudah membuatmu mengingat masa itu.." "Tidak sayang, aku tidak apa-apa", Sia tersenyum pada Elvano. Seakan ingin memeluk lelaki itu agar ia bisa mencurahkan rasanya. *** Lima bulan kemudian Sia sudah benar-benar pulih saat ini, ia mengerjakan semua sendiri. Hubungannya dengan Elvano juga baik-baik saja. Mereka pergi berkencan beberapa kali dan tak jarang juga mereka saling bertemu di tempat kerja masing-masing. Sia sedang didalam ruang operasi bersama dokter Nindy, mereka sedang mengoperasi seekor anjing yang melahirkan. "Dok, periksa detak jantungnya! " ujar Sia yang sedikit panik karena kondisi anjing itu melemah "Stabil, dok!" Setelah selesai mereka seperti orang yang bekerja rodi. Peluh membasahi tubuh mereka, padahal ruangan itu berAC. "Ke cafe yuk, Si?! Capek nih.." ajak Nindy "Oke.. Din, pantau terus ya anjingnya.." "Siap dok.." Mereka meminjam motor milik pegawainya untuk ke cafe yang letaknya memang tak jauh dari sana. "Gimana hubunganmu dengan El?" tanya Nindy tiba-tiba "Baik kok, ya akhir-akhir ini kita jarang ketemu, orangnya luar kota mulu" "Hmm.. Kesepian dong.. Eh masih ada Daniel kan ya?" "Ihh apaan sih! Daniel udah masa lalu! Aku ga mau terjebak sama Daniel lagi, udah ampun... Cakep tapi playboynya minta ampun!" "Hahahaha..." Perbincangan mereka berlangsung cukup lama, hingga Tari juga datang menemui mereka. "Kirain kemana! Ternyata disini! Pantes klinik sepi" "Capek tau! Kita habis tolongin anjing yang lahiran" "Owh, yang punya orang komplek sini itu ya?" "iya..." Seorang pramusaji datang membawakan pesanan mereka. Cukup lama mereka b*********a saling bertukar cerita tentang hari ini. Ddrrtt... Dddrrtt El is Calling... "Halo, El" "Sayang, kau dimana?" "Aku di cafe, ada apa?" "Aku ingin makan malam bersamamu!" "Baiklah.." "Aku jemput pukul tujuh di apartemenmu!" "Okay" Tut tut tut Nindy dan Tari kini bersidekap menunggu penjelasan dari Sia. Sia hanya tersenyum melihat keduanya. "Elvano?" tanya Nindy "Iya, ngajakin makan malam" "Hmm.. Pantesan udah ga mau sama Daniel!" "Hehehe.." Sekarang mereka sudah berada di petshop. Sia pulang lebih awal, ia ingin bersiap untuk makan malam bersama kekasihnya. *** Sia mengenakan mini dress berwarna hitam yang menunjukkan lekuk tubuhnya, dengan bahu yang terbuka. Hanya saja ia tidak bisa mengenakan high hells, karena kakinya yang beberapa bulan lalu terluka. Tok Tok Tok Ceklek "Kau sudah siap, Sayang?" tanya Elvano "Iya" Sia terpana dengan tampilan Elvano yang mengenakan setelan jas berwarna hitam, dengan kemeja putih. "Kau terlihat cantik malam ini" ujar Elvano memuji Sia "Hmm.. Sepertinya hanya malam ini saja aku cantik!" "Bukan itu maksudku, setiap hari kau sudah cantik, hanya saja malam ini berbeda" "Aku hanya ingin tampil beda saja.." Mereka menuju restoran yang sudah Elvano pesan. Sebuah restoran bergaya barat, dengan menu yang sudah terjadwal setiap hari. "Romantic dinner?" ucap Sia "Ya, Sayang.. Apa kau tidak nyaman?" "Tidak.. Aku hanya.. Sudah lama tak makan malam disini" "Kau pernah kemari?" "Ya... Masa lalu! Sudah.. Ayo masuk!" "Baiklah" Mereka duduk di dekat jendela, suasana sungguh tenang. Di meja terdapat lilin dan hiasan bunga mawar. "Sayang, aku ingin memberikan sesuatu padamu" Elvano memberikan sebuah kotak perhiasan berisi kalung dengan liontin hati. Sia membulatkan matanya, ia sungguh bahagia malam ini. Elvano berdiri dan mengenakan kalung itu di leher Sia. "El... Terima kasih.." "Untukmu... Kekasihku" "Kau membuatku tersipu, El.." "Kau pantas mendapatkannya, Sayang!" Seorang waittress membawa hidangan mereka. Makan malam itu berjalan dengan sempurna. Setelah mereka selesai, Elvano mengantarkan Sia kembali ke Apartemennya. "Kau mau mampir?" tanya Sia sembari membuka pintu apartemennya "Baiklah.." Mereka melangkah masuk kedalam apartemen. Hari sudah malam, bibi bisa dipastikan sudah pulang sejak tadi. "Kau mau coba koleksiku?" Sia menawarkan minuman beralkohol miliknya pada Elvano "Hmm.. Aku tak terlalu jago minum, tetapi aku akan mencobanya" "Apa kau kira aku bisa tahan dengan minuman ini? Aku hanya meneguk aling banyak tiga sloki dan itu sudah membuatku pusing!" "Benarkah?" Sia hanya mengangguk, ia mengambil sebotol soju dan yogurth di dalam lemari pendinginnya. "Sepertinya kau ahli dalam hal itu, Sayang!" "Tidak, El. Aku hanya melihatnya di internet. Aku hanya ahli dalam membedah hewan" "Hahahaha... Dasar kau ini!" Sia memberikan satu sloki minuman untuk Elvano dan untuk dirinya. Mereka meneguk secara bersamaan. "Ahh.." "Bagaimana?" tanya Sia yang tersenyum melihat wajah Elvano "Hmm.. Lumayan.." "Mau lagi?" "Boleh" Tanpa sadar mereka telah menghabiskan tiga botol Soju. Wajah Elvano dan Sia sudah memerah karena mabuk. Elvano sudah tak sadarkan diri, sedangkan Sia masih bisa menahan diri meski kepalanya sudah pusing. "Ehm.. El.. Wake up.." "Hmm.." "Aku antar pulang.. Okay?" "Bisakah aku memilikimu?" "Kau sudah memilikiku, El" "Ehmm belum! Aku ingin kau seutuhnya!" "Apa maksudmu?" "Sudahlah.." "Hei.. Hmm.. Kepalaku pusing.. El.. Come on!" Sia meninggalkan Elvano di sofa ruang tamu, ia masuk kedalam kamar karena tak tahan dengan sakit di kepalanya. Namun baru beberapa menit Sia memejamkan mata, seseorang sudah memeluk tubuhnya dari samping. Membuat Sia membuka mata kembali dan melihat siapa yang berada di sebelahnya. "El.." pekik Sia "Ehm.." "Baiklah.. Selama hanya-.." Ucapan Sia tertahan karena Elvano melumat bibirnya. "Ehm" desahan Sia tertahan Sia mencoba mendorong tubuh Elvano, tetapi tenaganya tak cukup kuat. Entah kenapa, tubuh Sia terasa panas. Ia seperti menginginkan lebih dari sekedar berciuman. Tangan Elvano dengan lihai melepaskan dress yang Sia kenakan dengan sekali tarikan. Membuat dress itu robek dan tak terlihat lagi bentuknya. Sia yang sadar dengan apa yang dilakukan Elvano hanya bisa membulatkan matanya. Elvano melepaskan ciumannya , ia memandang iris Sia yang berwarna cokelat. Beberapa detik mereka saling menatap, lalu Elvano menenggelamkan wajahnya pada leher Sia. Elvano memberikan kecupan yang membuat tanda kemerahan di sekitar leher, perlahan hingga turun di p******a kekasihnya. Sia hanya bisa mendesah sembari memejamkan matanya. "Akh.. El.. Ehm.." Elvano tak membalas, ia masih tetap memberikan kecupan di p******a wanita itu. Nampak p****g merah muda milik Sia yang mulai mengeras karena terangsang. Elvano melanjutkan kegiatannya dengan mengulum p****g Sia. "Akh.. El.. Kau terlalu keras disana.." "Nikmati saja, Sayang..." "Akh..." Tangan Elvano sampai di bagian intim kewanitaannya, ia menggesekkan jarinya disana . "Akh... El.. Stop it.." "Kenapa, Sayang?" "Please.. Akh.." Bukannya berhenti, justru Elvano memasukkan dua jari kedalam liang kewanitaannya. Tubuh Sia menggeliang merasakan gerakan dari jari Elvano. "Ehm.. s**t! El.. Stop" Elvano membungkam bibir kekasihnya, dengan lidah yang menjulur kedalam rongga mulut Sia. Sedangkan jari yang masih bergerak keluar - masuk di dalam intim kewanitaan nya, membuat tubuh Sia menegang. "Akh.." desah Sia saat Elvano melepaskan ciumannya Elvano mempercepat tempo gerakan jarinya. "Akh.. El.. Aku tidak tahan lagi... Aaaakkhhh" Kewanitaan Sia berkedut dan mengeluarkan cairan o*****e. Elvano tersenyum puas melihat kekasihnya, kini ia menurunkan posisi kepalanya hingga didepan liang senggama milik Sia. Elvano menjulurkan lidahnya hingga masuk kedalam sana. Bibirnya mengulum kewanitaan itu. Sia hanya bisa menikmati dengan apa yang dilakukan oleh Elvano. "Akh.. El.. Please.." "Say it sayang!" "Akh.. No.. El.. Stop it... Akh.." Elvano melepaskan pakaiannya hingga ia tak mengenakan sehelai benangpun. Kini ia berada di atas tubuh Sia, Elvano kembali mencium Sia dengan lembut. Meski ingin sekali menolak, tetapi tubuhnya seperti menginginkan lebih dari itu. Kejantanannya kini menggesek dipintu kewanitaan Sia. Awalnya, Elvano kesulitan untuk menembus pintu kewanitaannya. Hingga Elvano mengarahkan kejantanan miliknya dengan perlahan. Desahan Sia masih tertahan oleh ciuman yang dilakukan Elvano. Kepala kejantanan milik Elvano sudah masuk didalam liang senggama itu, dan dengan sekali sentakan, Elvano menembus liang penuh nikmat itu, dan membuat selaput darahnya robek. Air mata Sia menetes, ia merasakan sakit di bagian bawah. Namun sayangnya, Elvano tak melihatnya, karena kondisi saat itu di bawah pengaruh alkohol. Elvano memompa tubuh Sia, hingga gerakannya membuat tubuh Sia mengikuti alur. "Akh.. Sayang.. Kau sangat nikmat" desah Elvano "Akh.. Sakit.. Ehm.." "Akh.. Sayang.. Aku akan sampai.." Elvano mempercepat gerakannya, hingga tubuhnya menegang dan ia mengeluarkan cairan putih kental di dalam rahim Sia. Elvano mengecup kening Sia, lalu melepaskan tautannya. "Akkh..." pekik Sia Sia hanya bisa menahan agar ia tak menangis. Sedangkan Elvano sudah memejamkan mata dan tertidur. *** Paginya, Sia bangun terlebih dahulu. Ia turun dari ranjang dengan gerakan yang hati-hati, itu karena ia merasakn nyeri di bagian bawahnya. Nampak bercak darah di atas selimut. Sia hanya bisa menghel napasnya, lalu melangkah masuk kedalam kamar mandi. Setelah selesai, Sia memakai pakaiannya dan bersiap ke klinik hewan miliknya. Sia bahkan membiarkan Elvano tetap tidur di ranjangnya. "Pagi, Non" sapa Bibi saat Sia keluar kamar "Pagi, Bi! Ehm.. Jangan masuk kamar dulu ya, Bi! Ada Elvano masih tidur.. Nanti kalau udah bangun, terus nyariin aku, bilang aja udah berangkat kerja." jelas Sia "Baik, Non!" "Ya udah, Bi . Aku berangkat dulu!" pamit Sia "Loh, gak sarapan, Non?" "Aku makan di luar aja, nanti siapin sarapan buat Elvano ya, Bi? Makasih.. Aku berangkat dulu" Ceklek Brak Sia menuju tempat kerjanya dengan perasaan yang campur aduk. "Gimana kalo aku hamil ya?" gumam Sia "Aargghh... Kenapa juga aku berangkat ke klinik! Seharusnya kan aku meminta pertanggungjawaban dari El!" tambahnya Pada akhirnya Sia memutar kemudinya dan kembali ke apartemennya. Ia berlari sekencang mungkin, agar saat tiba di kamarnya Elvano belum bangun dari tidurnya. " Astaga... Hah.. Hah.. Haduh.. Napasku! " Ceklek "Non,kok balik?" tanya Bibi yang terkejut melihat Sia kembali "Gapapa, Bi. Ada yang ketinggalan! Elvano udah bangun belum?" "Belum, Non" "Ya udah.. Bi.. Hah.. Hah.. Hah.." "Minum dulu, Non! Nona Sia lari dari parkiran tadi?" "Iya Bi..." Setelah mengatur napasnya, Sia memberanikan diri untuk masuk ke kamarnya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN