Bab 6 Keputusan Berat

1407 Kata
"Kenyang?" tanya Winda ragu. "Belum" jawab Ayu pelan sembari menghabiskan piring ketiga lalapan Ayam madu bakar. Kesukaan Ayu. "Lihat kamu makan bikin aku sakit perut Yu huft" "Diamlah...Aku lapar" Winda hanya menonton Ayu yang makan seperti orang kesetanan. "Kenapa?" tanya Ayu heran karena Winda hanya diam sambil menonton Ayu makan. Winda adalah nama beken yang di berikan Ayu kepada luis. "No. Nothing" Winda menjawab dengan wajah yang hampir pingsan. "Ooooooo" jawaban Ayu membuat Winda menghela nafas panjang. Winda adalah satu-satunya dari semua yang pernah menemui Ayu yang berhasil mendekati Ayu setelah Ayu pergi meninggalkan semua orang di gudang tua. Ada rasa senang tapi juga rasa ketakutan juga karena bagi Winda jika Ayu berlaku demikian itu artinya Ayu lagi mode preman. Tomboi kok nggak hilang-hilang huft. Batin Winda heran. "Huft kenyaaaaaannggggg" Akhirnya Ayu mengakhiri proses makan yang sangat panjang dan banyaaaakkk. hehehehe. “Loe makan, doyan apa kesetanen?” tanya Winda keheranan. “Mau apa laki-laki itu kesini Win?” Ayu tidak menjawab pertanyaan Winda. Ayu melihat Aditya memasuki warung pojok tempat dirinya dan Winda makan. Aduh...mau ngapain juga orang itu kesini. Batin Winda kesal. “Hai Ayu....” Sapa Aditya dengan senyum yang biasanya langsung membuat cewek lain terkintil-kintil. “Wa’alaikumsalam” jawab Ayu  tanpa melihat Aditya. “Hahaha Assalamu’alaikum cewek cantik” Salam Aditya mengulang sapaannya. “Hmmmm” jawab Ayu asal. “Dingin amat Yu” sindir Aditya dengan terkekeh. “Mau apa Bos Dit kesini?” tanya Winda penasaran. “Mau nemenin Ayu makan aja disini. Sekalian mau ikut makan juga” lalu di panggilnya pelayan untuk memesan makanan. Nyari musuh loe Raja Naga sungut Winda melalui fikiran. Diamlah. PDKT nih. Jawab Aditya sambil tersenyum dan menatap Ayu mesrah. Yakin?. Sergah Winda kesal. Absolutly. I love her like died. Aditya menatap Winda dengan tatapan tajam. Meyakinkan. “Win...aku pulang” Ayu tiba-tiba berdiri dan meninggalkan dua laki-laki yang terbengong melihat Ayu berlalu begitu saja. “HHHHHHHH” helaan nafas terdengar dari keduanya. Winda mencomot Tahu di piring sisa Ayu. “Nggak Loe kejar tuh bos Raja?” tanya Winda sambil mengunyah tahu terakhir di piring depannya. Aditya tidak langsung menjawab namun kemudian berdiri mengejar Ayu. “Ayuuuuu.....yuuu” Teriak Aditya memanggil Ayu. **************   Hhhhh ngapain lagi orang itu. Ayu berhenti dan melihat Aditya berjalan menuju ke arahnya. “Boleh aku mengantarmu?” tanya Aditya sambil tersenyum “Fungsinya?” jawab Ayu sinis. Gila nih cewek, dingin banget. Kata Aditya dalam hati. “Fungsinya....Biar kamu aman dan nggak di culik lagi” jawab Aditya dengan senyum seribu Watt nya. “Modus...toh yang nyulik juga keluargamu” “Iya sih....tapi sumpah kalau sama aku, kamu di jamin aman deh” “Pembohong. Pergi. Jauh-jauh dari aku dan keluargaku. Cari saja wanita lain. Aku tidak mau hidup seperti dulu lagi”. Usir Ayu ketus tanpa senyum. Kemudian masuk ke dalam taksi yang berhenti di depannya. “Hhhhh sebenarnya ada apa dengan Ayu hingga membenciku seperti ini?” Helaan nafas panjang Aditya membuat Winda merasa kasihan, namun apa daya, karena bukan hak nya untuk bercerita semua yang terjadi ataupun yang akan terjadi. ******** Harus! Aku harus pergi sejauh mungkin dari keluarga mereka. Hhhhhh kenapa harus bertemu secepat ini?. Tanpa sadar air mata menetes ke pipinya dan tanpa di sadarinya air mata itu berubah menjadi Mutiara. “Maaf nona, kita sudah sampai” Perkataan sopir taksi menyentak bangun Ayu dari lamunan sedihnya. “Oh ya....ini uangnya Pak. Terima kasih” ujar Ayu sambil menyerahkan uang lima puluh ribuan dan keluar dari taksi, kemudian masuk ke dalam kos dan langusung menuju kamarnya. Sebenarnya aku ini siapa? Kenapa harus bertemu lagi dengan nenek gila itu dan...Aditya. Kenapa harus bertemu sekarang? Seakan semua ini di percepat saja. Bodo ah...Apa yang harus terjadi maka terjadilah. Semoga Allah selalu membantuku dan...keluargaku tidak membunuhku setelah ini. Banyak kekecewaan yang akan aku berikan kepada mereka setelah ini. Mereka pasti membenciku. Amat sangat. Tanpa terasa Ayu pun tertidur. Bergelung dalam mimpi indahnya. *************** Bottom of Form Padamu pemilik hati yang tak pernah ku miliki Yang hadir sebagai bagian dari kisah hidupku Engkau aku cinta dengan segenap rasa di hati Slalu ku mencoba menjadi seperti yang engkau minta Aku tahu engkau, sebenarnya tahu Tapi kau memilih seolah engkau tak tahu Kau sembunyikan rasa cintaku Di balik topeng persahabatanmu yang palsu Kau jadikan aku kekasih bayangan Untuk menemani saat kau merasa sepi Bertahun lamanya kujalani kisah cinta sendiri Mungkin memang benar Cinta itu tak lagi berharga Semua percuma bila engkau tak punya ikatan Aku tahu engkau sebenarnya tahu Tapi kau memilih seolah engkau tak tahuKau sembunyikan rasa cintaku Di balik topeng persahabatanmu yang palsu Kau jadikan aku kekasih bayangan Untuk menemani saat kau merasa sepi Bertahun lamanya ku jalani kisah Cinta sendiri Ku tahu engkau sebenarnya tahu Tapi kau memilih seolah engkau tak tahu Kau sembunyikan rasa cintaku Di balik topeng persahabatanmu yang palsu Kau jadikan aku kekasih bayangan Untuk menemani saat kau merasa sepi Bertahun lamanya kujalani kisah cinta sendiri Cinta sendiri   Satriya menyanyikan lagu Kekasih Bayangan yang di bawakan oleh Cakra Khan dengan sengaja di depan Aditya yang sejak pagi memasang wajah tak bersahabat. “Diamlah”  sungut Aditya kesal. “Apa” “Tolong diamlah Sat...jangan nyanyikan lagu itu. Membuatku muak lahir di keluarga ini” kata Aditya dengan wajah datar. “Stop it dude. Hidup ini Allah yang mengatur. Kalian terutama kamu. Sebagai laki-laki harus bisa member kenyamanan dan kepastian kepada Ayu, walaupun kalian tahu bagaimana akhirnya namun berusalah untuk melindunginya, karena Ayulah yang akan lebih menderita. Kurangi kadar kecemburuanmu itu apalagi sikap protektif mu dan satu lagi sifat tidak mau percaya padanya. Semua itu yang akan menghancurkan kalian terutama Ayu pada akhirnya” jelas Satriya panjang lebar. “Apa maksudmu? Aku selalu mempercayai Ayu walaupun kita belum berstatus pasangan hingga saat ini. Kenapa bisa kau berkata demikian?” “Karena sifatmu yang akan membuatmu kehilangan Ayu dan segalanya. Bahkan kau akan terobsesi padanya hingga membuat anak bungsumu memusi ibunya sendiri” Aditya terdiam mendengar penuturan Satriya yang tidak biasanya berbicara sedetil itu tentang suatu hal yag belum tentu terjadi. “Maksudmu Ayu tahu akan ini semua?” tanya Aditya ragu. Berharap mendapat jawaban yang berbeda dari Satriya dan bukan Iya” “Iya. Ayu tahu semua ini. Melihat caranya menghindarimu setiap waktu. Ya Ayu tahu lebih detil daripada kami”. “Kami?” “Ya kami” jawab 4 orang di belakang Aditya yang memang sejak tadi mendengarkan semua percakapan mereka berdua. “Kalian semua tahu dan hanya aku yang tidak tahu?” tanya Aditya kecewa. “Karena kamu selalu menganggap semua akan baik-baik saja jika kita mendengarkan apa kata kakek. Betul?” jelas Erlangga gamblang. “Lha....memang begitu to kebenarannya?” Bela Aditya kekeh dengan pendapatnya. “Ya jika begitu....menjaulah dari Ayu” sergah Daniel jengkel. “WHAT!!!” jawab Aditya jengkel. “Perkataan Daniel ada benarnya. Jika kau tak bisa janjikan itu kepada Ayu, Menjaulah Dit. Jangan pernah masuk ke hidupnya sama sekali, sekalipun kau mencintainya. Karena itu akan membuatnya menderita sepanjang hidupnya” jelas Vicky dengan halus dan sabar. Dirinya tahu Aditya tidak bisa di beritahu jika di lakukan dengan kekerasan atau ancaman. “Jika aku bisa menjamin kebahagiaannya? Bolehkah aku menikahinya saat ini juga?” tanya Aditya kepada mereka berempat. “Jika kau memang bisa kak, maka nikahilah. Tapi ingat jika ujungnya kau menceraikan Ayu dan membuat Ayu menderita, jangan pernah lagi menemuiku dan memakai nama keluarga kita. Setuju?” kali ini Ika berbicara sebagai wakil dari semuanya. Ayu adalah sahabatnya dan Aditya adalah kakak sepupu kesayangannya. Sebenarnya Ika tidak suka dengan pilihan ini namun Ika berfikir biarlah mereka bersama dulu, mungkin dengan begitu Aditya bisa merubah segalanya. Walaupun sebenarnya dia pun tidak percaya Aditya bisa berubah. ******** Mereka membuat keputusan dengan seakan aku adalah barang huh. Seandainya mereka tahu, apapun pilihan mereka untuk kami akhirnya sama saja. Aku yang akan menderita dan kecewa serta terhina. Menjauhlah Yu sejauh mungkin. Jangan dekati keluarga itu. Ayu akhirnya mengambil keputusan untuk pergi menjauh dari Aditya. Namun tanpa disadarinya Kakek Surya tertawa di kegelapan malam mendengar keputusan Ayu. Sebenci apapun Kakek Surya kepada Ayu, tapi kebahagiaan Aditya adalah priyoritasnya yang utama. Walaupun hal itu akan menyakiti orang lain. Ayu tersenyum tipis melihat Kakek Surya yang berjalan meninggalkan persembunyiannya. Kakek b*****t tua itu HAAAIIIIZZZZ....Kenapa tidak mati saja. Seru Ayu jengkel dan menahan marah. Sejatinya Ayu menyukai Aditya namun apa yang terlihat kedepannya, dimana Aditya menghinanya dan menghianatinya. Beranikah dia mengambil resiko itu? Beranikah seorang Ayu untuk merasakan penderitaan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN