Bab 5 Ada apa?

1343 Kata
"Assalamu'alaikum....Ayu oh Ayu" teriak Ika semabri menggedor pintu kamar kos Ayu. Kemana nih anak ya.....setelah lima belas menit Ika mengetok pintu dan tidak ada yang membukanya. Tiba-tiba....Klik... Lho ...terbuka, kenapa tidak dikunci Ika mendorong pintu kamar kos Ayu semakin lebar dan terlihatlah disana bahwasanya kamar Ayu kosong. Sepertinya Ayu belum kembali. Ikapun kembali kedepan untuk menyampaikan kabar bahwasanya Ayu belum kembali. "Bagaimana?" Tanya Angga penasaran. "Dia belum pulang. Kamarnya kosong dan masih bersih" terang Ika kebingungan lalu dikeluarkannya smartphone nya dan mulai menekan nomer telpon Ayu. "DDDDDRRRRTTTTT" "DDDDDRRRRTTTTT" "DDDDDRRRRTTTTT" Tiga kali di cobanya untuk menghubungi Ayu namun nihil. Ayu tidak menjawabnya sama sekali. Rasa khawatir mulai hinggap di benak Ika. Entah mengapa Ika merasa Ayu dalam bencana. “Ada apa” tanya Aditya penasaran setelah mengamati sikap Ika yang mulai kalut. “Ada yang salah dengan Ayu” terang Ika dengan tetap berusaha menghubungi Ayu. “Berikan nomer Ayu kepadaku” pinta Satriya seraya menyerahkan smartphonenya kepada Ika. Ika menuliskan nomer hp telpon Ayu dan menyerahkan kembali pada Satriya. Setelah mendapatkan nomer Ayu, Satriya mulai mengetikkan banyak hal yang sesuai informasi tentang Ayu. “f**k” Satriya tiba-tiba berteriak sekencang mungkin sambil melompat berdiri. “Ada apa” Tanya Aditya panik dan merebut telpon genggam Satriya. Di bacanya seluruh informasi yang ada. Setelah selesai Aditya hanya melirik Ika seraya menatap tak percaya dengan apa yang telah dibacanya. “Apa” tanya Ika ragu. “Bacalah” Jawab Satriya dengan menyerahkan telpon genggamnya kepada Ika. “Apa ini?” tanya Ika bingung namun setelah beberapa lama Ika hanya terdiam dengan tangan mengepal marah. “Kita pulang. SEKARANG” perintah Ika pergi dan menuju salah satu mobil yang terparkir dan mulai mengendarainya secepat mungkin. ******** “Siapa kalian sebenarnya? Apa juga salahku?” tanya Ayu dengan mengusap sudut bibirnya yang mulai membengkak dan mengeluarkan darah. “DIAM. Dasar wanita GILA” bentak salah satu laki-laki disana. “Aku tidak pernah mengenal kalian, siapa sebenarnya kalian?” “Aku adalah Dewa Kematianmu b***h” jawab seorang laki-laki yang baru masuk ke dalam ruangan. Ayu melihat laki-laki tersebut dan terdiam seribu bahasa. Sepengetahuannya laki-laki itu adalah saudara kandungnya sendiri. Tapi mengapa dia mengatai dirinya b***h. Apa maksud semua ini? Kenapa kak Didit menculik dan memanggilku b***h? Monolog Ayu dalam hati. Hatinya sungguh terluka. Kebingungan dengan semua yang terjadi membuatnya terdiam. “KLEK” Suara pintu terbuka dan masuklah sepasang manusia yang sekali lagi membuat Ayu menganga tidak percaya. “Kalian....” tanya Ayu ragu. “Hahahahaha halo Ayu....Bagaimana kabarmu?” tanya seorang wanita yang dikenal Ayu sebagai sepasang suami istri yang selalu di bantu oleh keluarganya. “Apa maksud semua ini? Bukankah kalian teman baik keluargaku?” tanya Ayu ragu. “Lalu kenapa? Kamu itu hanya b***h di keluarga itu. Dasar anak tidak berguna sama sekali” jawab wanita setengah baya itu dengan senyum smirk menjengkelkan. “Sudahlah....Kita kerjakan saja sekarang!” sambar Didit gusar. “AAAARRRGGGHHHH” teriakan Ayu memenuhi seluruh ruangan. Darah bercucuran dari jari jemarinya, jatuh ke tanah. “Dasar Bitch...kenapa juga mereka masih saja memeliharamu. Dasar anak tidak berguna” seru Didit memaki Ayu dengan kata-kata menyakitkan. “AAARRRGGGHHHH APA SALAHKU KAK” teriak Ayu kepada Didit menuntut jawaban. “Karena kamu merebut semua yang sudah Bapak berikan kepadaku” jawab Didit marah. “Apa...apa yang sudah Bapak janjikan kepadamu dan di berikan kepadaku?” tanya Ayu terbata-bata. “SEMUANYA” teriak Didit kepada Ayu. Semuanya....Apa...Tidak ada yang mereka berikan lebih dari yang selama ini mereka berikan. Bahkan lebih sedikit. “STOP ! Habisi aja dia DIT. SEGERA!!!” perintah seorang laki-laki yang sejak tadi diam saja. Didit mulai mengeluarkan sepucuk senjata dan mulai mengarahkan ke kepala Ayu. “DOR...DOR...DOR” suara tembakan memecahkan suasana. Ayu yang meresa tertembak, meraba seluruh badannya dengan sisa-sisa tenaga tersisa. Namun tidak ada satupun anggota badannya yang berlubang. Lalu siapa yang .... “Aaarrrkkkhhh kenapa kau menembakku?” jerit laki-laki itu membelah gudang penyimpanan Beton. Mendengar jeritan itu Ayu membelak ngeri. Di lihatnya Aditya menembak laki-laki itu dengan wajah mengerikan. “Kenapa...” tanya Ika ragu. “HAHAHAHAHA biar saja Ayu mati Ka. Kami sungguh tidak sudi memiliki menantu seperti Ayu” terang laki-laki yang pada akhirnya di yakini Ika sebagai kakeknya. "Apa salah Ayu? Kenapa Ayu harus mati?" tanya Ika beruntun kepada kakeknya. "Ayu yang membuat kita seperti ini. Sengsara tiada akhir hingga nanti. Biarkan aku membunuhnya. Jangan ada yang menghalangi atau kalianpun akan ikut menjadi mayat di tanganku" ancam kakek Surya kepada keluarga besarnya. Iya. Dialah kakek Surya. Kepala keluarga tertua di keluarga Ika. Kematian anak tunggalnya dan kebangkrutan membuatnya menyalahkan Ayu, walau sebenarnya kematian itu di sebabkan bunuh diri. Bunuh diri karena penyesalan akan kegagalan dalam mengelola Perusahaan keluarga. Kakek Surya menganggap Ayu bertanggung jawab di karenakan ayah Ayu yang menjadi pengacara lawan saat itu. Jadi Ayu pun ikut bertanggung jawab. Mendengar semua itu Ayu hanya bisa menghela nafas panjang. Apalagi ini? kenapa aku lagi yang terkena imbasnya? hhhhhhhhh. Ayu hanya bisa menghela nafas panjang sembari menatap tajam kepada kakek Surya. "Hai Kakek tua...Bukankah istrimu bernama Dewi Rahanum?" tanya Ayu memecah keheningan di tempat itu. "Iya. Istriku bernama Dewi Rahanum. Kenapa?" "Dan kau adalah Surya Durganama?" tanya Ayu lagi. Ekspresi kaget kakek Surya terlihat sangat jelas. Dari mana Ayu mengenal nama asli dirinya?. Pertanyaan demi pertanyaan berkeliaran di kepala kakek Surya. "Belum mengingatku kakek Bangka?" tanya Ayu tajam. Semua orang di sana terkejut dengan pertanyaan Ayu kepada sesepuh mereka. "Siapa kamu?" bentak Kakek Surya menggema di gudang tua itu. "Dan kau nenek tua, engkaupun belum mengenaliku?" pertanyaan Ayu seakan menyadarkan mereka bilasanya sang nenek sudah memasuki gudang tua tempat mereka berdiri saat ini. "Sedang apa kamu disini?" tanya kakek Surya sambil menoleh melihat wanita parih baya namun masih saja cantik di usianya. "Memperbaiki kesalahan kita. Bukan salahnya jika anak kita bunuh diri. Anak kita saja yang tidak kuat berdiri untuk mempertanggung jawabkan semua yang telah dia lakukan kepada kita. Dan bukan salah keluarga Ayu karena putusan pengadilan saat itu. Dan yang terpenting Ayu tidak bersalah. Saat semua ini terjadi, tentunya Ayu belum lahir Surya, yang aku tidak mengerti mengapa kamu ikut campur dengan urusan jodoh cucumu hmmm?" penjelasan nenek Dewi, istri Surya sedikit mengurangi rasa penasaran mereka akan sikap sang kakek. "Ayu...tentu saja nenek mengingatmu dengan jelas. Bagaimanapun kamu adalah cucuku" Jawaban yang di lontarkan Nenek Dewi sekali lagi membuat mereka terdiam. Dilihatnya mereka berdua, Ayu dan Nenek Dewi. "Hah Nenek katamu? Nenek dari mana? Nenek yang membuang anak cucunya sendiri? " cerca Ayu dengan senyum mengejek dan jelas mencerminkan kemarahan tertahan. Ika yang mengenal sifat Ayu hanya bisa membuka dan menutup mulutnya. Sadis nih cewek kalau lagi marah. Mampus loe dit. Monolog Erlangga dalam hati. Ika yang mendengar apa yang Erlangga pikirkan menoleh kaget dan memberikan kata tanya, beneran Ayu bisa seperti itu? yang akhirnya di jawab dengan anggukan oleh Erlangga. "Aku harus melakukan itu jika ingin kalian selamat" jawab Nenek Dewi dengan kalimat pembelaannya. "Selamat ya......Selamat dari mana? Selamat dari apa? Aku yakin kamu pasti tahu apa yang akan terjadi padaku di kehidupan ini kan? Dari mana kata-kata selamat yang kamu ucapkan itu?. Bilang saja kamu tidak sudi kami bahagia karena nenekku, kakakmu, meninggalkanmu dengan kemiskinan sehingga membuatmu di jual oleh kakak angkat kalian. Benar bukan?" "Tidak bukan begitu Ayu, nenek tidak pernah menyetujui ini semua" Nenek Dewi mulai menangis merasa menyesal akan semua kesalah pahaman selama puluhan tahun ini. "Sudahlah....tidak usah bicara lagi dengan wanita kurang ajar itu" Seru kakek Surya sambil merangkul nenek Dewi ke dalam pelukannya. "Iya benar nyonya, jangan hiraukan wanita ini bicara" sahut Ayu dengan melangkah menjauh, membuang rantai yang mengikatnya. Semua orang yang berada di sana terkejut dengan apa yang Ayu kerjakan, karena setahu mereka tidak ada yang bisa lepas dari rantai kakek Surya, lalu bagaimana Ayu bisa terlepas begitu mudah?. "Siapa kamu?" tanpa sadar Kakek Surya bertanya dengan lantang. "Aku Ayu. Memangnya siapa aku hey kakek tua?" jawab Ayu mencemooh. Lapar....gumam Ayu perlahan tapi masih bisa terdengar oleh mereka yang disana. Ayu berjalan keluar, menatap dunia luar yang baru empat jam yang lalu dia tinggalkan. Welcome to my dark live..........World. I hate them so much.      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN