Sidang skripsi sudah selesai dilaksanakan dan dinyatakan lulus. Hanya perlu melakukan perbaikan-perbaikan yang tidak berarti.
Sukurlah akhirnya aku lulus juga. Ayu tersenyum sepanjang jalan. Hingga tanpa sadar Ayu menyerempet seorang laki-laki yang berjalan kaki.
“Maaf…maafkan saya” Ayu menghentikan sepeda motornya dan menghampiri laki-laki tersebut. Dan betapa kagetnya Ayu, laki-laki itu ternyata adalah Dia.
Dua tahun sudah berlalu sejak kejadian terakhir. Kejadian saat Dia menyatakan rasa cintanya. Dan Ayu menolaknya.
Tahun ini saat kami bertemu hari ini, dimulailah takdir aneh Ayu dimulai. Ayu benar-benar hanya bisa menarik nafas. Kenapa neneknya sendiri tega melakukan hal ini terhadapnya. Sebenarnya kenapa harus dirinya yang mengalami ini semua? Sebenci itukah neneknya pada Ayu?. Bukankah Ayu adalah darah dagingnya sendiri.
Sungguh kejam.
************
“Hai Ayu...Bagaimana kabarmu?” Aditya menyapa wanita di depannya dengan senyum lebar. Tidak menutup kemungkinan dia sangat merindukan wanita berhijab yang saat ini berdiri di depannya.
“Alhamdulillah baik. Kamu?” Balas Ayu singkat dan tanpa senyum.
“Baik juga. Oh ya selamat ya...Kamu hebat”
“Terimakasih”.
Cintaku ini bener-bener ya...nggak tahu apa kalau aku ini kangen banget sama kamu. Kenapa juga tetap seperti balok es. Monolognya dalam hati.
“Boleh aku traktir kamu makan sebagai hadiah kelulusanmu?” pintanya kepada Ayu dengan senyum yang masih belum hilang.
“Terimakasih. Aku masih ada acara lain dengan teman-teman. Permisi” elak Ayu sambil berjalan meninggalkan Aditya yang hanya bisa menatap Ayu berlalu pergi. Menjauh darinya.
Jika boleh jujur baru sekarang ada seorang wanita yang meninggalkannya saat dirinya mengajak pergi berdua. Mengingat ketampanannya sungguh tidak mungkin wanita-wanita itu akan pergi begitu saja.
Aditya memutuskan pergi untuk menghadiri rapat yang seharusnya di lakukan pagi tadi. Tapi demi Ayu dia rela mengundurkan rapat itu.
Ya. Aditya sudah merencanakan pertemuan hari ini. Berbekal informasi dari Ika, saudara sepupu yang satu angkatan dengan Ayu, Aditya yang sudah tidak dapat membendung rasa rindunya kepada Ayu memutuskan datang dan sekaligus di dapuk untuk berpidato mewakili Alm Ayahnya.
Lima belas menit menyetir mobilnya secara gila-gilaan, Adityapun sampai di dalam kantornya.
“Darimana saja Bro....Ini sudah waktunya rapat” sembur Satriya sambil mengikuti Aditya menuju ruang tempat rapat akan diadakan.
“Berisik lu” jawab Aditya ketus.
“Waw sang Naga mengeluarkan apinya hahaha” dengan gelak tawa berderai Satriya meninggalkan Aditya menuju tempatnya persentasi.
Aditya mendengus sebagai jawaban dari sindiran dari teman sekaligus saudara sepupunya itu. Ingin rasanya tangannya menjitak kepala Satriya hingga ampun.
Aditya merasakan elusan dari sebuah tangan, memegang jemarinya sembari mengelus-elus dengan mesrah.
“Lepaskan!” perintahnya kepada wanita genit disebelahnya yang tidak lain adalah sekertaris sekaligus teman ONS nya (tahukan apa itu ONS hehehe).
Wanita itu hanya menatapnya tak percaya.
“Melepaskan? Mengapa?” jawabnya dengan senyum menggoda yang biasanya mampu membuat Aditya luluh dan menuruti semua keinginannya.
“Lepaskan!” geram Aditya dengan menarik tangannya dari genggaman tangan sekertarisnya itu.
Lina. Ya itu namanya. Sekertaris centil yang suka menggoda. Merasa tidak mendapatkan apa yang diinginkan, Lina menggeser kursinya lebih dekat kearah Aditya.
GUBRAK
“AAAKKKHHH” jeritan Lina membuat Satriya dan seluruh peserta rapat menoleh.
“Maaf....Silahkan di lanjutkan” kata Aditya dengan nada santai, kemudian menatap Satriya seraya memintanya melanjutkan persentasinya tanpa mempedulikan Lina yang masih duduk di lantai tertimpa kursinya.
Dengan geram Lina berdiri dan membenahi pakaiannya. Kembali mengikuti jalannya rapat.
Awas kamu Aditya....Rasakan pembalasanku. Monolog Lina geram.
Cih....sundel. Dikiranya aku tidak tahu isi otakmu hahahaha. Batin Aditya sambil tersenyum sinis.
Satriya yang melihat semua adegan antara Lina dan Aditya hanya bisa menghela nafas panjang.
Dasar Naga sableng...gila...tapi aneh juga ya...tumben disodori p******a bahenol nolak, biasanya gercep aja. Beginilah isi pikiran Satriya.
“Mau mampus lu?” tanya Aditya melalui pikiran dan tatapan tajamnya.
“Apa” jawab Satriya dengan smirk menantang.
“Ok. Gua tunggu di lapangan sebelah rumah lu” tantang Aditya.
Tuh bener...Si Naga ngamuk. Jadi penasaran gua sama cewek namanya Dewi itu. Kok bisa si Naga insyaf mendadak begini.
“Ayo deh...Jam berapa?” Satriya menjawab tantangan Aditya dengan smirk yang masih bertengger di mulutnya.
“Seperti biasa” Balas Aditya singkat dan mulai serius memimpin rapat penting hari ini.
*************
Hhhhhhhh cari kerjaan saja.....anak kecil berumur 35 tahun. Bayi besar kurang kerjaan. Omel Ika dalam hati setelah mendengar percakapan Aditya dan Satriya.Kebetulan Ika melihat Ayu berjalan tidak jauh dari tempatnya berdiri.
“Ayu...Yu...Tunggu aku” teriak Ika berlari mendekati Ayu saat melintas di depannya.
“Hai...kenapa kusut sekali mukamu?” jawab Ayu tersenyum.
“Kosong nggak? Ikut aku yuk...” Sembur Ika sambil menarik tangan Ayu tanpa menunggu jawaban Ayu.
“Mau kemana sih Ka...Aku mau pulang. Lapar” teriak Ayu kesal.
“Nanti aku traktir. Makan enak pokoknya. Sekarang ikut aku dulu. Penting” Jawab Ika seenaknya.
Mau kemana sih anak satu ini. Nggak tahu apa kalau aku lapar banget. Gerutu Ayu dalam hati.
********
“Jam berapa sekarang?” Aditya menunjukkan jam tangannya kepada Satriya.
“Hahahahaha” Satriya hanya tertawa menanggapi kekesalan Aditya.
“Bocah sialan....Darimana aje lu. Hampir kering gua nungguin lu” Bentak Aditya jengkel.
“Hahahahahahaha dasar bandot tua. Nafsu sekali mau bunuh orang. Emang tuh Ayu Ayu itu nolak lu...si Bandot tua yang katanya paling ganteng sedunia?” sindir Satriya dengan smirk andalannya.
Aditya semakin murka dengan apa yang Satriya lakukan. Aditya mulai melangkah mendekati Satriya dengan kepalan tangan terkepal, berniat meninju muka menjengkelkan Satriya.
Satriya menghindar dan bersiap membalas hingga sebuah suara menghentikan aktivitas mereka.
“STOP”
Keduanya menoleh dan seketika menegang mendengar suara wanita bernada fals tapi....menakutkan bagi mereka.
“WAIT”
“Berhentiiiiii”
“Stop”
Suara suara menghentikan semakin ramai berdatangan, semakin membuat keduanya termangu. Kenapa mereka bisa datang juga ya.... Batin keduanya keheranan.
“Mau berhenti atau.......” tanya Ika di depan keduanya dengan Ayu tetap ditariknya kemana-mana.
Ayu hanya bisa mendengus jengkel dengan kelakuan Ika.
“Siapa cewek ini sist?” tanya Dani kepada Ika.
“Oh ya...ini Ayu. Teman aku di kampus” terang Ika.
Ayu?....Jangan-jangan cewek Desa itu? Monolog Dani dalam hati. Matanya mengikuti gerak gerik Ayu yang tampak jutek dan kesal luar biasa.
“Ika...Mau ngapain sih disini. Aku pulang saja” Ayu menghentak tangan Ika dan mulai berjalan meninggalkan Ika yang bengong sejenak dan kemudian....
“AYUUUUUUUU.....Tungguin aku” teriak Ika jengkel.
“Ogah. Aku mau pulang. Lapar” Balas Ayu yang juga berteriak.
“Nanti aku traktir Yu...Sekarang tolongin aku dulu. Please...” Ika mulai merayu berharap Ayu mengurungkan kepergiannya.
“No. Bye” Jawab Ayu singkat dan melambaikan tangan tanpa membalik badannya.
Ika mempercepat langkahnya, menarik tangan Ayu dengan keras namun disentak Ayu berulang kali.
“Yu bentar deh...dengerin aku dulu”
“Ogah”
“Ayolah Yu...”
“Ogah”
Ayu naik dalam taksi yang berhasil dia hentikan. Tidak dihiraukannya teriakan Ika.
“Aaaarrrggghhhh” teriak Ika jengkel.
Ika berlari mendekati Aditya dan Satriya yang masih berdiri melongo melihat adegan di depan mereka. Selama ini tidak ada yang berhasil menolak keinginan Ika, tapi Ayu berhasil menolak dengan keras.
“BUK......BUK....PLAK”
Suara pukulan dan tamparan terdengar berkali-kali. Tampak Ika tidak lagi bisa menahan emosinya.
“Mau lagi? Ayo kalau mau lagi?” tantang Ika geram.
Tidak ada yang bersuara maupun bergerak. Dia yang termuda tapi juga yang tergarang di antara ketujuh bersaudara. Aditya, Angga, Deni, Viki, Satriya, Sato, dan Ika.
“Dek...sudah yuk. Sekarang kita keumah Ayu minta maaf. Kasihan dia ya” Viki menenangkan Ika dan mengingatkan akan Ayu yang pulang dengan marah.
Ika menoleh menatap Viki dan tak berapa lama menganggukkan kepalanya. Menyetujui keinginan Viki untuk mengunjungi Ayu yang sedang marah.
Aditya hanya bisa menghela nafas panjang. Merasa bersyukur Ika sudah bisa ditenangkan.
“Awas macam-macam di rumah Ayu. Kubunuh kamu kak” Ancam Ika di depan mata Aditya.
Aditya hanya bisa menahan nafas di depan adek perempuan satu-satunya itu.