“Ayu.....Ayu sayaaanggg” teriak Aditya dari lantai 2, memanggil Ayu yang sedang menyapu di dapur.
“Ada apa Kak.....Ayu di Dapur” balas Ayu berteriak.
“Kesini deh sayang.....sebentar saja”
Hhhhhhh apa lagi sih suamiku sayang ini....setiap pagi pasti kayak tarzan kota.
Ayu melangkahkan kakinya untuk menghampiri Aditya di lantai 2 dengan mulut yang tetap berkomat kamit. Jengkel.
“Ada apa kak” tanya Ayu setelah berada di depan Aditya.
“Tolong dong sayang........pasangkan dasi kakak”
“Manja”
“Biarin wong sama istri sendiri”
“Idiiiihhh”
Aditya menowel pucuk hidung Ayu untuk menggodanya.
“Terusin.....Ayu cekek nih” ancam Ayu.
“Hahahaha” bukannya ketakutan Aditya malah tertawa terbahak-bahak mendengar ancaman Ayu yang lucu. Menurutnya. Tapi nggak bagi Ayu (kalau mau hehehehe).
“Sudah. Apa lagi yang harus Ayu bantu. Mumpung Ayu belum kebawah. Berat tahu kak....gembol perut segini sama naik turun tangga begini”
“Maaf sayang......tapi kakak nggak bisa masang dasi ini sendirian”
“Alasan”
“Hehehehehe”
“Sudah cepetan kakak turun. Sarapan terus berangkat kerja sana”
“Ooooo jadinya kakak di usir nih”
“Iya” jawab Ayu sewot dan kemudian pergi meninggalkan Aditya yang masih cengengesan. Dalam hati Ayu jengkel, kenapa coba suaminya kok nggak punya rasa kasihan kepadanya. Padahal dia hamil 5 bulan tapi masih saja di suruh naik turun tangga. Apa suaminya itu sudah mati ya.......hiiiiiii takut ah.
“Gerutuin apa sih sayang.......serius amat”
Hmmmm emangnya kedengeran ya....padahal kan sudah Ayu off kan tuh jalur spesialnya.
“Nggak....siapa juga yang menggerutu. Nggak ada tuh”
“Sayang nanti ada sepupuku yang mau nginep, boleh ya?”
“Sepupu yang mana?” tanya Ayu heran. Ayu merasa mengenal semua sepupu dan keluarga dari Aditya, suaminya. Ini sepupu yang mana ya?.....
“Sepupu dari mami sayang. Kemarin dia memang nggak datang waktu kita nikahan, nah sekarang dia mau datang berkunjung dan kamu tahu sayang....dia hamil tiga bulan”
“Alhamdulillah kalau memang begitu. Tapi duluan aku dong Kak bulan kehamilannya”
“Aku seneng deh sayang dia mau nginep disini. Pasti asik tuh ngurusin dia waktu hamil begini” celoteh Aditya bersemangat, seakan dirinya tidak mendengar apa yang Ayu ucapkan barusan.
“.....terus sayang kita ajakin dia ke dokter kandungan untuk periksa kesehatan kandungannya. Biar ponakanku sehat”
“Kebetulan kak kalau begitu. Hari ini aku juga waktunya periksa kandungan biar ANAK KITA sehat juga kan?” Ayu sengaja menekankan kata anak kita kepada Aditya namun entah mengapa seakan Aditya tidak peduli apapun yang Ayu katakana. Ayu yang jengkel pergi meninggalkan Aditya yang masih sibuk dengan rencana rencana yang akan dia kerjakan bersama sepupunya itu.
“Benar benar takdir itu akan di mulai Panglima hmmmm.... Bagaimana dengan semua persiapan, baik baik saja Panglima?” Ayu bertanya tanpa menoleh kepada siapapun disana. Ayu tahu jika Panglima pasti ada di sekitarnya.
“Persiapan sudah 30% selesai Nyai. 20% masih dalam tahap penyelesaian dan sisanya masih dalam tahap penyusunan sesuai permintaan dan arahan Nyai kemarin”
“Jangan sampai bocor apalagi salah Panglima. Tidak ada yang boleh tahu tentang rencana ini”
“Sendiko ndawuh Nyai (Baik Nyai)”
“Panglima mau mencoba kue ini? Ini enak sekali”
“Inggih Nyai.....sejak tadi sudah pengen nyoba. Kok baunya harum sekali”
Keduanya mengalihkan pembicaraan pada makanan yang sedang Ayu buat. Keduanya sadar Satria mencoba menguping pembicaraan sejak tadi, namun jangan panggil Ayu jika dirinya tidak bisa menutup koneksi Satria untuk menguping.
“Hmmmmm boleh minta lagi Nyai?” dengan tersipu Panglima putih mengulurkan piring yang di pakainya kembali pada Ayu untuk meminta kue sekali lagi.
“Hehehehe enak ya Panglima.....Berhasil aku membuatnya berarti”
“Inggih enak sekali.........Sayang sudah kenyang hehehehe”
“Kenapa aku nggak di panggil sih pendek? Baunya enak nih.....eh ada Panglima”
“Uhuk....Ealah Raja Api purun kue juga. Tadi dipikirnya nggak ada yang mau makan kue buatan Nyai Ayu”
“Sopo seng ngomong........Kue enak begini kok nggak mau makan. Ngomong ngomong ada acara apa kok ngumpul di dapur?”
“Kalau saya memang di panggil Nyai buat icip icip kue, tapi kalau Panglima Garuda saya kurang faham Raja”
“Sama aja. Aku ya penasaran dengan bau yang semerbak. Harum dan menggoda sekali” ujar Satria dengan mencomot kue langsung empat buah.
Ayu yang melihat itu langsung melotot.
“SATRIA KAMANDANUTAN”
“Apa sih pendek....Berisik you know”
“Yuna yuno.....jorok loe”
“Kagak weeeekkkk”
“Pergi hush hush hush”
“Sialan pendek.....kamu piker aku Ayam?”
“Emang. Jorok bin kemproh kayak Ayam si Jaya Jaya itu”
“Jaya? Jaya itu siapa?” tanya Angga bingung.
“Jaya jaya e e Jaya e e e” Ayu pun mulai bernyanyi ala Shakira.
“ADUH PENDEKKKKKK......Itu Shakira” teriak keduanya serempak.
“Aduh....napa teriak sih....fuh fuh fuh” Ayu menangkupkan kelima jarinya dan mulai meniup sisi yang lobang lalu di taruhnya ke lubang telinga. Hal ini dia lakukan berulang kali.
“Hahahahaha” Panglima hanya tertawa melihat kelucuan mereka semua.
Mereka terkadang heran bagaimana bisa seorang Ayu bisa menjadi petinggi kerajaan kedua. Dari semua yang ada Ayu sendirilah yang masuk kategori sangat lugu yaaaa tapi juga yang paling kejam dari semuanya.
“Assalamu’alaikum semuaaaa
Tiba tiba suara salam terdengar dari arah depan. Suara wanita yang sangat cantik. Satria yang menoleh dan melihat wanita itu langsung berubah raut wajahnya begitu pula dengan ketiga lainnya. Ayu yang melihat perubahan dari kelima laki-laki itu hanya bisa bingung dan melangkahkan kakinya menyambut wanita itu.
“Wa’alaikumsalam”
“Sukurlah ada pembantu yang sadar juga untuk buka ini pintu. Harusnya ada dong yang standby gitu disini. Nih bawain.....maklum ya ibu hamil nggak boleh tuh bawa bawa barang yang berat”
“Aduh sayang....kenapa nggak mau nungguin aku sih....oh untung sudah ada pelayan datang bantuin kamu. Lagian kakak kemana sih” Toni menolehkan kepalanya kesana kemari.
“Sudah teriak teriaknya? Kalau sudah mari saya antar menemui siapa saja yang ingin kalian temui dan silahkan taruh barang kalian berdua disana. Nanti biar diangkat oleh teman teman”
“Sok juga kamu ya.....sudah jadi bos hmmmm disini?” si wanita mulai mendorong dorong Ayu.
Sengaja Ayu tidak melawan karena entah kenapa dia malas melawan wanita itu hari ini.
“Akh....sakit”
Ayu menoleh dan mendapati Satria memegang tangan si Wanita dengan keras dan sedikit memelintirnya.
“Siapa yang kamu panggil pembantu hah?” bentak Satria dengan mata yang mulai memerah.
“Wanita ini bukannya hanya pembantu disini?” tanya wanita tersebut sedikit takut karena melihat mata Satria yang sudah memerah.
“Wanita ini memiliki nama. Dan namanya adalah Ayu. Dia istri kak Adi, faham?” terang Satria pelan tapi penuh ancaman.
“Istri kak Adi? Hahahahaha tidak mungkin Sat sat....secara lihat saja wanita ini. Mirip sekali dengan pembantu”
“Nawang.....kapan datang? Kok nggak ada yang bilang kalau Nawang datang?” tiba tiba Aditya datang dan memeluk Nawang dengan erat.
Ayu yang melihat hal itu hanya tersenyum faham.
Oh ini sepupu yang di bicarakan kak Aditya sejak pagi tadi? Cantik sih tapi kayaknya enak nih kalau di makan sama bumbu rujak hmmmmm Delicioco eh Delicius hehehehe.
“Sayang.....Ini dia sepupu yang aku bilang tadi. Jangan lupa lho sayang nanti sore kita periksa ke dokter”
“Lho Di....Ayu kan periksa ke aku. Lha ini aku sudah disini. Apa mau sekarang ta periksanya dek?”
“Kok Ayu sih Ga, bukan. Ini lho Nawang kan hamil. Jadi harus di periksa dengan baik”
“Lho Ayu kan juga hamil dan hari ini waktu dia juga untuk periksa ADITYA”
“Ooooo iya juga” Aditya menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Dirinya lupa jikalau Ayu hari ini memiliki jadwal untuk periksa kandungan.
“Kenapa nggak ngingetin kakak sih Sayang”
“Hmmmm sudah kok tadi. Hanya saja kakak kan lagi gembira karena kedatangan si Nawang sepupu tercinta kakak yang lagi hamil itu to......terus Ayu harus apa? “
“Ingetin lagi dong sayang”
“Sudah juga. Bahkan sekarang yang ngingetin nggak cuman Ayu lho kak. Ah ya kak boleh Ayu tanya?”
“Boleh dong sayang. Mau tanya apa sih sayang?”
“Siapa sih istri kakak itu sebenarnya? Aku atau Wanita itu?”
“Kok tanyanya begitu?”
“Siapa hmmm?”
Ayu menatap Aditya dengan mata tajam menusuk. Namun sepertinya Aditya memang sudah gila, dia tetap saja memeluk Nawang seakan tidak menyadari kekesalan Ayu lewat kata katanya.
“Sudah nggak mau menjawab ya..... Ya sudah kalau bergitu aku pergi saja. Satria besok tolong urus surat suratnya ya”
“AYU. Apa apaan sih....jangan kayak anak kecil begitu” Aditya membentak Ayu.
Note:
Jawaban Ayu bagaimana ya?.....
Ada yang bisa menebak?
Di tunggu ya jawabannya........