“Hei......ambilkan aku minum”
Ayu hanya melihat Nawang sejenak dan kemudian pergi keluar menuju halaman dengan membawa novel novel terbarunya.
“Heiiiiiii......AMBILKAN AKU MINUM” Nawang berteriak marah sambil menghentak hentakkan kakinya.
Tidak lama kemudian Aditya datang dan langsung menghampiri Nawang khawatir.
“Ada apa? Kenapa berteriak seperti itu? Jangan lupa apa yang di katakana dokter semalam”
“Habisnya wanita itu lho kurang ajar banget kaaaakkkk”
“Wanita.....wanita siapa?”
“Wanita yang katanya istrimu itu”
“Ayu memang istriku dan dia kakak iparmu. Kenapa kamu tidak bisa memanggil Ayu dengan baik hmmm”
“Cih wanita begituan mau jadi kakak iparku? Miskin, kumal, tidak berpendidikan, dan kakak tahu? Dia tidak pernah mencintaimu. Kemarin aku lihat dia bersendagurau dengan Satria mesraj sekali. Mungkin mereka berdua berpacaran di belakangmu kak”
Nawang bicara pangjang lebar untuk memperngaruhi Aditya agar membenci Ayu.
“Ngawur kamu itu. Mereka memang dekat dan tidak hanya pada Satriya kakak iparmu itu dekat, kepada siapapun dia dekat. Kakak iparmu itu orang yang ramah dan peduli kepada siapa saja”
“Halah....mungkin memang begitu saat kakak ada di sini, tapi tidak saat kakak pergi”
“Sudahlah jangan bicara ngawur. Kasihan bayimu hmmm”
“Hhhhhh ya sudahlah......kakak.....Haus”
Nawang memasang wajah puppy eye dan melingkarkan tangannya ke lengan Aditya. Di taruhnya kepalanya ke bahu Aditya manja.
Melihat hal itu Aditya hanya terkekeh dan mengelus rambut Nawang dengan sayang.
Jangan di pikir Ayu tidak melihat itu semua. Salah. Ayu melihat itu semua dan mulai mengingat ingat kapan terakhir kali Aditya mengelus kepalanya seperti itu. Sejak kedatangan Nawang, kelakuan Aditya sangat berbeda. Seluruh waktunya hanya untuk Nawang Nawang dan Nawang.
Bahkan pernah suatu ketika Aditya meminta Ayu untuk meladeni Nawang apapun permintaannya. Dengan alasan kehamilannya. Seakan Aditya lupa jikalau Ayu juga hamil besar. Dan sebenarnya yang harus lebih di ladeni itu dirinya bukan Nawang. Kehamilan Nawang memang masih muda, baru tiga bulan sedangkan Ayu sudah enam bulan. Kembar pula.
Terkadang dirinya bingung, ada apa dengan Nawang dan Aditya. Ayu beberapa kali memergoki Nawang melihat Aditya mesra. Tatapan wanita yang sangat memuja laki laki. Namun jika di lihat dari penjelasan Aditya, Nawang itu hanya sepupu lalu......Bingung juga lama lama.
“Sayang....kamu kok nggak masak? Aku lapar nih”
Ayu terkejut melihat Aditya sudah berada di sampingya.
“Masak kok. Ayu taruh di lemari makan”
“Kenapa nggak di taruh di meja aja sih sayang?”
“Nggak apa apa”
“Kenapa hmmmm”
“Mau yang jujur atau bohong?”
“Jujur dong”
“Makanan kalau di taruh meja makan cepat banget habis. Aku capek masak lagi masak lagi. Anak anak di dalam sini bertambah berat kak” Ayu mengelus perutnya yang membuncit, membesar karena hamil tua.
Aditya tersenyum kecut mendengar jawaban Ayu.
“Siapa sih sayang mau menghabiskan masakanmu? Bukannya kalau habis berarti masakanmu enak ya?”
“Tauk ya....siapa ya yang menghabiskan? Kalau mas mas sih kayaknya nggak mungkin, anak anakku juga nggak mungkin wong mereka masih di perut, menurut kakak siapa?”
“Sudahlah Ayu.....berhenti berfikir jelek tentang Nawang dan suaminya Ok?”
Waw....aku di panggil Ayu. Hebat sekali pengaruh Nawang ya. Kemana suamiku yang dulu? Hhhhh.
“Ayolah ambilkan Kakak makan.....kakak lapar sekali”
“Ok” Ayu berlalu tanpa melihat Aditya lagi. Jujur saja dirinya kecewa dengan tingkah laku suaminya itu. Dia anggap apa dirinya ini.
“Silahkan”
Semua masakan sudah tersaji di meja. Nasi dan lauk di piring Aditya juga sudah siap. Ayu memberikannya pada Aditya dan bersiap siap duduk di sebelahnya. Namun Aditya menarik kursi tersebut untuk Nawang. Untung saja Ayu belum menduduki kursi tersebut, kalau tidak bisa jatuh dia. Entah sejak kapan Nawang datang, Ayu tidak tahu.
“Nah ayo makanlah.....makan yang banyak ya biar bayimu sehat”
Aditya memberikan piringnya kepada Nawang. Ayu yang melihat itu, rasanya ingin marah dan memukul kepala Aditya saat itu juga.
Seluruh makanan yang tersaji di meja seakan akan semuanya di tujukan pada Nawang.
Sesuap demi sesuap hingga tandas tak bersisa dan kalian tahu? Aditya tidak menyisakan satu laukpun untuk Ayu.
“Bereskan ya.....Kakak antar Nawang tidur dulu” Perintah Aditya sambil menggandeng Nawang perlahan.
WHAT.....Dia pikir aku mbok Sum?
“Biarkan saja Yu. Jangan di bersihkan. Biar nanti Mbok Sum atau pelayan lain yang bersihkan. Aditya memang minta di beri pelajaran. Tata bajumu sekoper, kita Hang Out”
Entah sejak kapan Ike sudah ada di sebelahnya dan memandang arah kepergian Aditya dengan mata nyalang merah.
“Kapan datang loe?”
“Sangat cukup untuk membuat kakakku satu itu babak belur”
“Wuuuuiiiihhhh serem”
“Berisik loe Yu....sana rapikan bajumu. Bawa sekoper besar. Kita HOLIDAY”
“Siap”
Ayu melenggang pergi menuju kamarnya di ikuti oleh Ika. Dan apa yang di lihat keduanya semakin membuat Ika marah.
“Sudah tidak usah bawa baju. Kita beli saja”
“Hhhhhhh ya sudahlah....Let’s GO”
Di lantai satu mereka sudah di tunggu oleh 4 laki laki tampan dengan koper di masing masing badannya. Mereka siap melayani kedua wanita cantik yang akan mereka kawal.
“Lalu bagaimana dengan Aditya dan Nawang?” tanya Vicky kepada semua yang ada di sana.
“BYE” jawab mereka serempak lalu beranjak meninggalkan rumah. Di rumah itu hanya tinggal Aditya, Nawang, dan Pak Min saja.
Oh ya Pak Min itu suaminya mbok Sum ya hehehe (Author sableng hehehehe).
Pak Min memutuskan tidak ikut dengan tujuan memata matai keduanya dan biar keduanya tidak kebabasan. Begitu katanya.
Sedangkan Mbok Sum memilih untuk ikut, karena Mbok Sum takut Ayu mengambil alih tugas memasak. Pernah sekali Mbok Sum kesiangan bangun, dan begitu sampai di dapur dilihatnya Ayu sudah memasak banyak jenis makanan. Dan pada akhirnya Ayu harus bedrest selama seminggu karena kelelahan. Sejak saat itu Mbok Sum tidak pernah membiarkan Ayu masuk dapur sendirian.
Selang dua jam kemudian Aditya terbangun dan melihat di kanannya Nawang tertidur dengan nyenyaknya. Beralaskan lengan kanan Aditya tentunya.
Di angkatnya kepala Nawang perlahan dan di letakkan di atas bantal dan dilangkahkan kakinya untuk mencari Ayu.
Setelah sampai di lantai satu, Aditya merasa aneh. Rumah terasa sepi sekali. Berbeda dengan hari hari biasanya.
Kemana semua orang ini?.
“Sampun wungu Nden Ageng? (Sudah bangun Raden Ageng?)”
“Iya tapi kemana mereka semua? Dan kemana bojoku (Istriku) Pak Min?”
Pak Min memberikan segelas kopi kepada Aditya yang masih saja memutarkan kepalanya ke kanan dan kiri.
“Semuanya pergi berlibur. Baru dua jam yang lalu berangkat Nden”
“Lha kok Ayu nggak pamit to Pak Min?”
“Nyai Ayu tadi mau pamit tapi aden sudah tidur ngeloni Mbak Nawang”
“Tapi ya kudune pamit to”
“Ini suratnya Nden. Nden....Pak Min tidak mau ikut campur tapi Aden niki kok aneh, istri sendiri hamil besar kok malah ngurusi Mbak Nawang yang baru hamil. Nyai itu kan sudah mendekati waktu kelahiran mana boleh kerja berat berat terus kecapekan. Sekarang Aden ingat ingat kapan terakhir kalinya Nyai minta ini itu sama Aden? Terus Aden tau nggak hasil USG yang bulan ini?. Pak Min bukan melarang Aden memperhatikan Mbak Nawang tapi Aden itu punya istri, mestinya Istri dulu yang di perhatikan baru saudara. Lha Aden nggak, malah Istri di suruh suruh kayak babu. Aden Aden.....Kasihan Nyai”
Aditya yang mendengarkan penjelasan Pak Min hanya bisa terdiam. Seolah olah dirinya baru tersadar dari tidur yang panjang.
Benarkah aku melakukan itu semua? Apa Nawang masih saja menggunakan ilmu k*****t itu lagi.....Lalu kemana sekarang Ayu? Kenapa tiba tiba pusing ya kepalaku.
BRAK
“Astaghfirullah Aden.....” teriak Pak Min khawatir melihat Aditya yang terjatuh dari kursinya dan pingsan.
“Gimana Pak Min sudah pingsan manusia b***t satu ini?”
“Astaghfirullah Den Iwan....jangan ngageti Pak Min gitu. Bisa copot ini jantung”
“Halah lebay Pak Min”
“Lebay lebay.....jantungen ini Pak Min”
“Iya wes iya....maafkan ya Pak Min. Sekarang gimana sama Aditya?”
“Ya telponken Den Vicky. Lha yang bisa nangani cuman Aden Vicky”
“Untung aku hantu.....Hhhhhhh menyusahkan ae Di Di”
WUUSSSHHH
“Dasar hantu sableng....ureppe ndablek lha wes dadi hantu yo panggah ndablek ( Dasar hantu nakal....semasa hidupnya sudah nakal sudah jadi hantu juga masih saja nakal)”
Pak Min menatap kepergian Iwan yang menghilang begitu saja di hadapannya.
*******
“Mikir apa sih Yu” tanya Satria yang duduk di sebelah Ayu. Satria melihat Ayu yang semakin hari semakin murung dan semakin mudah marah. Jika begini terus kasihan bayi yang masih berada di kandungannya.
“Who am I actually Sat?”
“What”
“Tega sekali dia Sat....Kenapa wanita itu lebih penting dariku?”
Keduanya terdiam sendu. Satria tidak tahu bagaimana harus bersikap bagaimana dengan pertanyaan yang Ayu ajukan.
NB:
Ada yang mau jawab?