Rey memilih menyetir mobil barunya sendiri sampai di rumah. Tidak perlu jasa pengantar yang malah membuat ricuh di sekitar kompleks. Radit pun menyetujui keinginan Papah mertuanya itu. Ponsel Radit berdering nyaring di jok sebelah. Radit hanya melirik dan menekan tombol menerima panggilan itu. Earphone blotoothnya sudah terpasang di telinga. Kalau Radit tidak cepat -cepat mengangkat, istri labilnya bisa ngambek tujuh hari tujuh malem sambil ngoceh seperti dalang. "Ya, Sayang? Udah kangen ya? Kangen sama siapa? Kakak apa keris Kakak?" goda Radit pada sitrinya yang terdengar serak suaranya di seberang sana. "Ihh ... Ngomong apa sih Kak? Lia mau es krim," ucap Lia pada suaminya. "Es krim? Yang batang apa yang cobe?" tanay Radit kemudian. "Campur Kak, rasa pisang cokelat yang ada kacangny

