Dimas mengangkat wajahnya dan tersenyum kecut pada Dara. Dimas meletakkan sendoknya dan mengambil tisue kering yang ada di meja makan tersebut lalu mengusap lembut di area sekitar bibir Dara. Tatapan Dimas begitu tajam dan lekat membuat Dara menjadi salah tingkah sendiri. Dara langsung menundukkan wajahnya karena malu. Pertama Dara malu dengan semua orang yang ada disana, yang pasti melihat apa yang mereka lakukan. Walaupun perlakuan sedehana tetap saja akan menjadi kecemburuan bagi banyak orang. Dimas, sang ketua OSIS, idaman banyak siswi di sekolah itu tentu merasa Dara tak pantas untuk menjadi kekasih Dimas. Kedua, Dara malu karena yang baru saja ia mengucapkan hal yang salah. "Apa kamu teringat sesuatu?" tanya Dimas lembut. Dara menggelengkan kepalanya pelan. Tubuhnya terasa dingin

