Semalaman, Allegra tak bisa tidur. Bukan karena nyamuk, bukan juga karena kasurnya tidak nyaman, namun karena pemikiran-pemikiran yang melayang di sela-sela sel otaknya. Allegra merenungi kebodohannya semalam suntuk. Menyadari betapa idiotnya dia bisa dijajah di rumah sendiri oleh dua bule tidak berperikemanusiaan itu. Ya, Allegra memang masih dendam perihal mi instan dan cucian piring yang harus dia tanggung sendiri kemarin malam. Pemikiran Allegra berakhir pada suatu kesimpulan, bahwa dia tidak boleh diam saja. Bahwa dia harus melawan, seperti Cut Nyak Dhien ketika tanah Aceh dijajah Belanda. Juga berjuang dengan semangat perjuangan seperti Raden Ajeng Kartini yang memperjuangkan hak-hak wanita dari dalam rumahnya. Allegra juga akan berjuang, merampas kembali hak-haknya sebagai tuan rum

