Manusia itu memang tidak luput dari kesalahan. Apapun yang dilakukan bisa saja adalah sebuah kesalahan. No one's perfect, Dude. Allegra paham benar konsep itu. Namun dia tidak suka waktu Mama berkata, "Oh nggak papa, Samudera. Samudera nggak sengaja kan ya?"
Sudah jelas Samudera salah, harusnya Mama marah atau seenggaknya ngomel! Lah Mama kok malah ngerespon begitu baik sambil senyum begini? Padahal tangan anaknya keseleo lho! Dan lagi, Allegra sudah akting 'lebay' banget tadi. Jangan kaget, tangisan tadi cuma sebuah sandiwara yang dilebih-lebihkan. Bukan berarti tangan Allegra baik-baik saja, tangannya benar-benar keseleo. Buktinya, sekarang perempuan berambut hitam kelam itu jejeritan di ruang tamu begitu Mbok Narti--tukang urut langganan--menyentuh tangannya.
Adagia yang sekarang ada di pangkuan Samudera menatap Kakaknya melas dan berbisik lugu, "Kakak jangan nangis."
Kalau kata Mama, pijatan Mbok Narti ini memang yang paling top se-Pontianak. Segala salah urat, kram, keseleo, semuanya langsung musnah kalau udah ditangani Mbok Narti.
Allegra yakin mukanya sekarang udah nggak karuan. Selamatnya, nggak ada Antariksa di sini. Tapi kalau ada Antariksa lucu juga sih. Bayangin deh, Allegra lagi jejeritan nahan sakit terus di sebelahnya ada Antariksa yang lagi megang tangannya sambil ngomong, "Tahan ya, Le. Aku di sini kok." Manis!
Setelah Bi Narti selesai mengurut, Allegra memegang tangan kanannya yang bau minyak urut. Sudah tidak sesakit tadi.
"Enakan, Le?" tanya Mama.
Allegra mengangguk, "Tapi masih agak sakit, Ma."
Kemudian Allegra menatap tajam Samudera. Sorot matanya begitu mencerminkan perasaan bersalah. Gue bakal bikin perhitungan, Samudera.
***
Hal yang Allegra lihat begitu masuk kamar adalah Bentala dengan mata tertuju pada buku dan earphone yang menyumpal telinganya. Allegra kagum, karena Bentala yang cuma pakai baju seadanya--kaus hitam kedodoran dan celana pendek rumahan--tetap terlihat cantik. Adiknya aja super cantik gini, gimana tipenya Bang Riksa?
Untuk range penilaian dari 1-10, maka Bentala mendapat nilai 9. Biarpun tanpa make up dan penampilan yang biasa-biasa saja. Meski Bentala dan Samudera bukan 'kembar identik'. Tapi beberapa fitur wajah gadis itu mirip kembarannya. Hidungnya yang mancung, matanya yang lebar dan berwarna cokelat jernih persis Samudera.
Kalau Samudera bisa dibilang 'bacot', maka Bentala kebalikannya. Perempuan itu cenderung lebih diam. Bahkan kalau diingat lagi, Allegra belum pernah mendengar Bentala berbicara.
Bentala melepas earphone dari telinganya dan beranjak dari kasur--tempat dia duduk sebelumnya. "Eh, nggak papa kok. Kan kita bisa bagi tempat tidur."
Tak ingin punya kesan pertama yang buruk--seperti pada Samudera--, Allegra tersenyum seramah mungkin pada Bentala. Berharap direspon dengan baik juga dan mereka bisa memiliki hubungan pertetanggaan yang baik.
"Gue yang nggak mau," katanya. Dingin. Lebih dingin dari nyentuh batu es, Sis. Mukanya datar pula!
Apa katanya tadi? Nggak mau sekasur sama gue? Emang gue punya penyakit mematikan apa?! Allegra ngedumel, tapi berusaha sebisa mugkin tersenyum manis.
Setali tiga uang. Ternyata Bentala dan Samudera sama-sama menyebalkan, hanya saja caranya berbeda. Samudera dengan ancaman-ancaman serta sifat bossy-nya, dan Bentala dengan wajah datar serta nada dinginnya.
"Oh haha ... gitu ya? Oh iya deh, gue tidur di bawah hehe," sahut Allegra sembari tersenyum getir. Kemudian Bentala kembali memasang earphone-nya dan fokus pada bukunya. Bahkan gadis berhidung mancung itu sama sekali tidak mengucapkan terima kasih atau basa-basi lainnya. Akhirnya, Allegra cuma bisa tabah.
Allegra menarik kasur bagian bawah dengan tangan kirinya. Cukup berat rupanya kalau harus pakai satu tangan begini. Dan ya, asal kamu tau, si Bentala itu sama sekali tak berkutik. Jangankan membantu, timbul rasa prihatin saja sepertinya tidak.
Allegra membaringkan tubuhnya, kemudian timbul rasa penasaran yang sepantasnya dia tanyakan pada Bentala daripada tidak bisa tidur nyenyak malam ini. Gadis itu kemudian mengetuk kaki Bentala dengan telunjuk kirinya. Bentala melepaskan earphone-nya.
"Mau nanya, t-tapi ... diem a-ja ya ... rahasia gitu," kata Allegra.
Bentala mengangguk. Allegra sebenarnya ragu harus menanyakan ini atau tidak.
"Tipe cewek Bang Riksa, maksud gue Antariksa, kayak gimana?" tanya Allegra ragu.
Ini mungkin pertanyaan paling memalukan yang pernah Allegra utarakan. Bentala itu adiknya Antariksa lho! Gimana kalau Bentala ngadu? Tapi daripada penasaran kan? Mana tau juga kalau ternyata Allegra itu tipenya. Istilahnya, coba-coba berhadiah.
"Yang jelas lo bukan tipenya. Jangan mimpi," tembak Bentala dengan nada dinginnya lalu kembali ke aktivitas sebelumnya. Ucapan Bentala bagaikan peluru beku yang menembus rongga d**a Allegra sampai ke jantung.
Allegra menganga. Mau berubah jadi semangka aja rasanya.
***
"Samudera, tolong ambilin minum."
"Samudera, tolong puterin kaset."
"Samudera tolong ini."
"Samudera tolong itu."
Allegra berhasil membuat Samudera sibuk seharian ini. Minta tolong ini lah, minta tolong itu lah, banyak banget perintahnya! Samudera sih nurut-nurut aja. Wajar, laki-laki itu merasa bersalah sekaligus bertanggungjawab, Sis. Tentunya hal sedemikian rupa nggak mungkin Allegra lewatkan. Ini saat yang tepat untuk balas dendam. And the happiest thing in the world is when you can take a revenge in the right time.
Dengan dalih 'tangan sakit', Allegra hampir tidak memberikan ruang untuk Samudera beristirahat. Padahal mah tangan Allegra sudah mendingan. Kalau sekadar ngambil minum sendiri sih oke lah. Satu hal yang Allegra nggak mau Samudera lakuin. Yaitu nyuapin Allegra. Nggak sudi Allegra, mending makan pakai tangan kiri.
Untung Mama ada acara seharian dan nggak tau kalau Allegra bertindak bossy begini. Kalau tau, kelar hidup Allegra. Untungnya lagi, Bentala itu tipe manusia 'I-dont-care-of-your-bussieness-just-leave-me-alone'. Lalu yang Allegra khawatirkan ya cuma satu, khawatir manusia bernama lengkap Samudera Aidil Sitradivati itu mengadu pada Mama nanti. Awas aja kalau dia ngadu.
"Aduh mampus, belum kerjain PR Kimia lagi," desis Allegra.
Gadis berkulit kuning langsat itu tersenyum licik. Apa gunanya babu kalau nggak digunain? Lagian balas dendam nggak boleh setengah-setengah ya kan?
Allegra bergegas mengambil buku kimia dan meluncur ke ruang tamu. Dia lalu berteriak, "Samudera! Samudera!"
Persis kayak lagi manggil pembantu. Kalau di film-film sih, biasanya si pembantu akan datang secepat kilat dan menjawab, "Iya, Nyonya." Samudera lain, pemuda itu datang dengan wajahnya yang kuyu dan tidak bertenaga.
"Samudera, tolong kerjain PR gue dong. Besok kumpul tapi tangan gue masih sakit," katanya memelas.
Samudera mengangguk. "Tapi gue mandi dulu ya."
"Oke! Gue tunggu di sini," tutur Allegra.
Asik, PR ada yang kerjain, bisiknya dalam hati lalu mengambil ponsel dari kocek celananya.
***
"What the ...." Allegra kehabisan kata-kata begitu melihat tanda merah di bukunya bertuliskan nol. Dia menganga.
Baru saja tadi pagi gadis itu merasa senang karena PR-nya sudah selesai tanpa perlu dia kerjakan sendiri, tapi sekarang dia speechless karena mendapat nilai terburuk sepanjang hidupnya.
Tepat ketika bel istirahat berbunyi, Allegra membawa bukunya dan berjalan kasar. Apa lagi kalau bukan minta pertanggungjawaban?
"Woi Samudera!" pekik Allegra pada Samudera yang sedang berjalan begerombol menuju kelas dengan teman-temannya, habis olahraga.
Samudera sudah jelas paham maksud Allegra. Laki-laki itu mengukir senyum miring di bibirnya waktu Allegra menarik tangannya kasar, membawanya ke suatu tempat. Rooftop tepatnya. Allegra mengempaskan tangan Samudera begitu mereka sampai.
"Lo ngerjain gue ya Samudera?!" seru Allegra.
"Maksud lo apa sih?" tanya Samudera. Percayalah, itu cuma pertanyaan pura-pura tidak tau.
"Alah, jangan pura-pura nggak tau deh. Nih! PR yang lo kerjain semalem dapet 0!" semprot Allegra.
"Itu doang?" Samudera mengakhiri kalimatnya dengan tawa pelan. Kemudian Samudera melepaskan kaus olahraga yang melekat di tubuhnya. Allegra mendelik. Gimana nggak mendelik? Samudera tuh ya walaupun nyebelin tapi punya wajah ganteng dan body yang super goddess. Bukan kekar kayak Ade Rai gitu sih. Badan Samudera agak kurus--tapi kurusnya pas--kulitnya putih mulus, dan otot perutnya itu seksi. Ini namanya godaan iman, Sis.
"Lo kali yang ngerjain gue," ucap Samudera lagi yang tidak direspon oleh Allegra. Gimana mau ngerespon kalau seluruh perbendaharaan kata di otaknya hilang begitu saja? Duh, Allegra nggak bisa diginiin! "m***m ah lo liatin perut gue mulu."
Dang! Tertangkap basah, Pemirsa. "What the ... pake baju lo anjir! Aurat!" elak Allegra.
"Ah padahal lo suka," ejek Samudera sembari memakai kembali bajunya.
Bukan m***m sebenarnya. Allegra cuma shock aja. Seumur-umur dia nggak pernah lihat laki-laki topless live gini kecuali Papanya.
"Nilai 0 lo itu setara karena lo udah ngerjain gue seharian."
"Hah?"
"Nggak inget ya? Lo nyuruh gue ini itu kayak babu," sindir Samudera.
"Kan gara-gara tangan gue sakit," bela Allegra.
"Ah yang bener? Semalem aja lo bisa main HP pake dua tangan sambil ketawa-ketiwi kok. Lo kira gue b**o ya?" Samudera menyeringai. Allegra bungkam, karena memang benar apa yang dikatakan Samudera.
Sial, gue emang nggak bakat ngerjain orang. Bakatnya dikerjain.
***
Allegra masih shock dengan nilai nol di buku PR-nya. Sebodoh-bodohnya Allegra, dia tidak pernah dapat nol. Paling lima puluh, tiga puluh, atau dua puluh lima lah paling mentok. Nol itu ... agak keterlaluan.
Manusia--atau titisan Dajjal--bernama Samudera itu memang tidak bisa dipercaya. Salah Allegra sendiri, sih.
Gara-gara terlalu shock, Allegra memilih untuk diam di kelas hari ini. Meski sudah diiming-imingi traktiran makan oleh Bianda pun, Allegra tetap tak tertarik dan memilih berdiam diri sendirian di kelas sambil merutuki nasibnya.
Ketika Allegra sedang sibuk merutuki diri dalam hati, sensasi dingin menyengat, menyentuh kulitnya. Allegra terlonjak.
"Aksara?"
Aksara tertawa. Kemudian menjauhkan sekaleng minuman ber-ion dingin yang dia tempelkan di pipi Allegra.
"Ngelamun mulu, kesambet lo nanti," katanya lalu meletakkan satu kaleng minuman ber-ion itu di meja Allegra. "Buat lo."
"M-makasih," kata Allegra, canggung.
"Kenapa lo diem di kelas begini? Terlalu shock dapat nol?"
Rasanya cukup aneh ketika Aksara bicara dengannya begini. Kalau dulu Allegra cuma bisa mengandai-andai, sekarang sebagian kecil dari mimpi di siang bolongnya itu jadi kenyataan.
"Iya," jawab Allegra. Ia berusaha menetralkan rasa canggungnya. Lagipula Aksara juga manusia, rasa suka kepadanya juga sudah lama sirna. Ya, sejak insiden hujan di pelajaran kimia itu.
"Meskipun gue nggak pinter-pinter amat, tapi dapat nol rasanya keterlaluan. Telor!" lanjutnya.
"Nggak papa. Bisa lo goreng tuh entar di rumah," canda Aksara lalu tertawa kecil.
Allegra lalu menyipitkan matanya. Menatap Aksara dengan penuh hati-hati.
"Heh, gue nggak mau ya bertengkar sama Tata lagi gara-gara gue ngobrol sama pacarnya begini!" ujar Allegra.
"Gue? Pacarnya Tata?" tanya Aksara. "Hahaha, lo salah paham deh kayaknya. Gue sama Tata nggak pacaran. Ya ... gue suka sih sama dia. Tapi ada alasannya kenapa kita nggak pacaran. Gue ceritain nanti deh kalau kita udah deket."
Walaupun ada seribu pertanyaan di kepala Allegra mengenai hubungan Aksara dan Tata, tapi Allegra memilih untuk tak mengutarakannya. Berpura-pura tidak tertarik agar Aksara tak merasa dipaksa.
Allegra dan Aksara kemudian berbincang-bincang untuk waktu yang cukup lama. Mulai dari obrolan tentang cerewetnya Nek Wan--si guru Biologi--sampai tentang teori konspirasi Rostchild Family yang konon katanya menguasai dunia dengan kekuatan finansial yang mereka punya.
"Gue nggak nyangka lo juga suka teori konspirasi," kata Aksara.
Tepat setelah itu, bel masuk berbunyi. Murid-murid lain berhamburan masuk ke kelas. Begitu pula sekumpulan teman-teman syaiton Allegra.
"Gue balik dulu," pamit Aksara lalu kembali ke bangkunya.
Interaksi antara Aksara dan Allegra jelas menarik perhatian geng syaiton. Mereka sudah sibuk memasang tampang curiga. Siap menginterogasi Allegra sekarang juga.
"Sejak kapan lo dekat sama Aksara?" tanya Gendis.
"Dekat apanya? Cuma ngobrol biasa nggak berarti dekat," bantah Allegra.
"I mean ... lo sama Aksara nggak pernah ngobrol sama sekali sebelumnya," sambung Endah.
"Apa jangan-jangan ... gara-gara kerja kelompok Mandarin?" sergap Garnet.
"Ecie ... kalau dibikin FTV, ini sih judulnya Cintaku Bersemi Karena Tugas Bahasa Mandarin," ledek Bianda.
"Apaan sih kalian," decak Allegra. "Gue sama Aksara temen doang. Lagian gue udah nggak punya perasaan sama tuh manusia."
Teman-teman syaiton Allegra memberi tatapan tak percaya.
"Oh ya? Let's see. Sekarang aja bilang enggak, nanti kalau ditembak mau juga lo pasti!" ujar Endah.
"Iya, malu-malu anjing aja sekarang," sahut Bianda.
"Terserah, deh, terserah! Capek senidir gue. Jelasin ke kalian tuh sama aja kayak jelasin ke patung." Allegra pasrah.
Untung saja Pak Harto--guru PKN--masuk kelas tak lama kemudian. Interogasi pada Allegra diakhiri sementara. Iya, sementara. Allegra yakin kalau ada kesempatan lagi, interogasi itu akan dilanjutkan. Kumpulan syaiton itu tak akan berhenti sampai dengar jawaban yang mereka mau. Risiko punya teman-teman yang terlalu kepo ya begini.
"Baik, anak-anak. Mari mulai pelajarannya. Buka halaman empat puluh tiga! Silakan dibaca terlebih dahulu, Bapak kasih waktu lima belas menit. Nanti setelah waktunya habis, kita diskusikan," papar Pak Harto.
"Baik, Pak!" jawab kelas XII IPA 2, serempak.