Kabar Mengejutkan

2289 Kata
Aksara: Lo nggak papa? Gue lihat anak-anak ngisengin meja lo kemarin. Allegra menatap pesan itu. Masih sama bingungnya seperti saat dikirimi martabak manis kemarin lusa. Meski sudah setuju jadi teman, rasanya aneh saja. Aksara yang dulu pernah dia idam-idamkan kini malah ada di dekatnya setelah dia move on. "Le! Turun sini!" pekikan Mama membuat Allegra mau tidak mau harus mengentikan kegiatannya dan bergegas turun ke bawah. Membuatnya lupa membalas pesan Aksara. "Iya, Ma. Ada ap-." Allegra sontak bungkam waktu melihat Samudera dan Bentala duduk manis di ruang tamunya, lengkap dengan dua koper besar di samping mereka. Perasaan Allegra mendadak nggak enak. Gadis itu melempar tatapan 'minta penjelasan' pada Mama. "Sam sama Tala bakal tinggal di sini buat beberapa waktu ke depan," kata Mama excited. Nadanya itu benar-benar excited! Bikin asam lambung Allegra naik rasanya. "Lho? Ngapain?" "Jadi Mamanya Tante Anne meninggal dunia, Le. Jadi Tante Anne, Om Sitra, sama Antariksa harus pergi ke LA, mendadak banget lho. Dan karena Samudera sekolah, dia nggak bisa ikut. Kalau Bentala emang nggak mau ikut aja. Kita bakal tinggal sama-sama mereka buat seminggu ke depan, sampai Antariksa balik karena dia cuma ambil cuti seminggu. Seneng banget kan, Le?" papar Mama. Eh? Ini Allegra nggak salah dengar kan ya? Tinggal sama-sama. Garis bawahi, TINGGAL SAMA-SAMA! Kalau satu sekolah aja bikin udah sukses bikin Allegra susah, gimana kalau satu rumah? Kebayang nggak sih bakal sesusah apa hidup Allegra? Allegra aja sampai bengong, nggak sanggup membayangkan hidupnya untuk seminggu kedepan. Pasti mengerikan. "Ya udah, sekarang kamu anterin Samudera ke kamar tamu ya? Kalau Bentala tidur di kamar kamu. Nggak papa kan ya Bentala tidur di kamarnya Alle?" tanya Mama pada Bentala. Bentala mengangguk. Sedangkan Samudera di ujung sana tersenyum. Licik. *** Menyibukkan diri memang salah satu cara paling ampuh untuk menghindari sesuatu. Kalau kamu ingin menghindari bayangan mantan yang sering kali lewat di pikiran dan bikin gagal move on, kamu boleh coba cara ini. Allegra juga lagi nerapin kok. Perempuan yang rambutnya diikat ekor kuda itu tengah menyibukkan diri dengan setumpuk pekerjaan rumah, bukan untuk menghindari bayangan-bayangan tentang mantan, tapi untuk menghindari Samudera dan niat busuknya. Bukannya berprasangka buruk, tapi Allegra yakin sepenuh jiwa raga kalau laki-laki berambut hitam pekat itu sudah menyiapkan tak-tik untuk menyusahkan hidupnya. Maka dari itu, Allegra memilih meladeni setumpuk baju yang butuh diseterika itu. Dalam sejarah, ini pertama kalinya Allegra bisa bertahan menghadap seterika lebih dari satu jam. Biasanya mah, satu jam aja Allegra udah sibuk balik ke kamar dan nonton drama yang akhirnya berujung dengan omelan Mama karena baju yang belum diseterika masih menggunung. Namun hari ini Allegra merasa nyaman berada di ruang seterika. Terisolasi dari Samudera yang mungkin saja sudah menginvasi seluruh rumah. Ruangan yang biasanya Allegra pakai untuk seterika ini sebenarnya adalah cikal bakal kamar Adagia. Kalau bocah itu sudah besar dan cukup bertanggungjawab nanti, ruangan ini akan diubah menjadi kamar. Untuk sekarang sih masih menjadi ruang multifungsi, nggak jauh beda sama gudang. Banyak barang-barang tidak terpakai yang diletakkan di sini. Untungnya nggak berdebu atau kotor seperti gudang pada umumnya. Klek! Daun pintu berputar, seseorang masuk diiringi pakaian di tangan kanannya. Samudera. "Apaan?" ketus Allegra. Samudera melemparkan pakaian yang dibawanya pada Allegra. "Nih, seterikain baju gue," jawabnya santai. "Heh? Lo kira gue babu?" semprot Allegra diiringi dengusan kesal setelahnya. "It's your Mom's command, Girl. You can ask her if you don't trust me." Allegra tidak jadi meledak. Ini perintah Mamanya, bagaimana mungkin Allegra menolak? Yang ada nanti dia nggak dikasih uang jajan seminggu. "Ya udah, pergi sana!" perintah Allegra. Alih-alih menuruti kata-kata Allegra, Samudera malah melipat tangannya di depan d**a. "Apaan sih? Sana pergi!" "Sore ini temenin gue keluar," katanya. "Ogah! Mama juga nggak bakal bolehin kali. Apalagi sama cowok kayak lo," tolak Allegra tegas. "Nantangin nih ceritanya? Kalo Mama lo ngijinin gimana?" Allegra melemparkan tatapan 'coba aja' pada Samudera. Gadis itu yakin, Samudera tak akan diberi ijin. *** Perempuan itu memang makhluk yang tidak bisa ditebak. Ibaratnya, jam 10 pengin seblak, jam setengah sebelas pengin pizza. Terlalu tiba-tiba dan out of the box. Sama kayak Mama, tiba-tiba dan out of the box. Kalau kata Allegra, Mama itu salah satu dari spesies manusia kuno yang berpegang teguh pada peraturan dan etika. Banyak banget peraturannya sampai-sampai makan aja ada aturannya, nggak boleh bersuara lah, nggak boleh ini lah, nggak boleh itu lah. It's okay sih. Toh peraturan-peraturan itu bagus juga buat Allegra. Satu peraturan yang Allegra 'agak' nggak suka itu tentang keluar rumah. Allegra dibatasi soal keluar rumah. Kalau ada tugas kelompok aja, minta ijinnya susah minta ampun. Jalan sama teman perempuan saja susahnya minta ampun. Apalagi laki-laki. Tapi ... sore ini Mama super nggak terduga. Mama ngijinin Samudera buat bawa pergi Allegra! Samudera itu cowok lho! COWOK! Biasanya Allegra mau jalan sama teman-teman perempuan aja nggak boleh, lah kok sama Samudera boleh? Mama bilang sih dia percaya sama Samudera. Katanya Samudera ini anak yang bertanggungjawab dan nggak mungkin mencelakakan Allegra. Ya, dicelakain sih nggak. Dijadiin babu iya. "Jalannya pelanan dong!" protes Allegra yang membawa botol minum di tangan kirinya dan skateboard di tangan kanannya. Jangan salah, semuanya milik Samudera. Sialnya lagi, manusia berwajah tampan itu jalan mendahului Allegra. Membuat Allegra berlari-lari kecil mengejar Samudera. Persis babu kan? Salahkan Allegra yang terlalu lemah dalam menghadapi ancaman Samudera. Allegra takut kalau-kalau laki-laki itu nekad menyampaikan perasaan Allegra pada Antariksa. Alhasil, apapun yang Samudera minta terturuti. Bug! Jidat Allegra tanpa sengaja menabrak punggung Samudera karena laki-laki itu berhenti tanpa aba-aba. "Jalan yang bener dong!" protes Allegra. Lagi. Bukannya menggubris Allegra, Samudera malah mengambil ponselnya dan menggeser-geser layar bercahaya itu. Setelahnya dia kembali berjalan, membuat Allegra makin menggerutu sebal. Ini kaki Allegra rasanya mau patah, bayangin aja ya, jarak rumah Allegra sampai ke Taman Akcaya--tempat mereka berada--lumayan lho. Sekitar 15 menit kalau pakai motor. Sialnya Samudera keukeuh mau jalan kaki, katanya sih hemat bensin. "Hey!" seru Samudera dengan nada bersahabatnya pada sekumpulan orang yang berjalan dari arah berlawanan. Mata Allegra terbelalak waktu tau kalau segerombolan orang yang kini melambaikan tangannya pada Samudera itu super duper kece! Mungkin lebih tepat lagi kalau disebut sebagai 'segerombolan bule kece'. Karena selain penampilan yang keren, tampang mereka juga jauh dari kata 'pribumi'. Samudera memberikan high five bergantian pada mereka. Sedangkan Allegra cuma bisa nganga. Yeah, they're really-really cool! Gaya-gaya casual ala anak millenials dan tampang yang memang sudah keren dari lahir. Goddess! Sama seperti teman-teman bulenya itu, Samudera juga nggak kalah kece. Jeans belel hitam, sweatshirt panjang hitam, dan topi ala-ala tumblr--entah kenapa extra cool kalau dipakai Samudera--yang berwarna senada, perfect match. Dan ... oh, tolong bawa Allegra lari dari tempat ini sekarang juga! Karena gadis itu benar-benar mirip gembel sekarang. Celana training kebesaran punya Mama, kaus kuning kedodoran yang udah nggak jelas gambarnya, dan sandal jepit. Oke, seriusan kayak babu Samudera. "Who is she, Sam?" tanya salah seorang laki-laki berambut pirang, Allegra yakin kalau laki-laki ini lebih 'bule' dari Samudera. Maksudnya, laki-laki itu mungkin nggak blasteran kayak Samudera. "She is my ... maid?" jawab Samudera dengan nada menggantung. Allegra menginjak kaki Samudera, membuatnya merintih sekaligus tersenyum geli. "No, she is my enemy. No, it's joke. She is my friend, Allegra." Apa? Apa? Apa? Apa katanya tadi? 'She is my friend'? "Maaf ya, tapi gue nggak sudi jadi temen lo," bisik Allegra pada Samudera. Kemudian Samudera tersenyum sarkastik, "Alah, jangankan jadi temen. Lo gue tembak sekarang paling juga langsung mau." Allegra menarik napas sabar, Oke kalem, Le. Inget, what doesn't kill you make you stronger, katanya menguatkan diri. *** Berada di antara manusia-manusia keren itu bisa jadi sangat menguntungkan dan sebaliknya. Untungnya adalah kamu bisa cuci mata sekaligus belajar 'how to be cool' ala mereka. Ruginya, kamu akan merasa--atau mungkin memang--menjadi perusak pemandangan. Kalau dianalogikan dengan sebuah foto, maka mereka adalah objek foto sedangkan kita cuma serangga pengganggu yang tidak diharapkan dan jatuhnya cuma merusak estetika foto. Allegra juga merasa begitu. Kalau berdiri di samping Tata aja Allegra udah ngerasa jadi manusia paling jelek sedunia, apalagi sekarang? Paling jelek dunia-akhirat kayaknya. Daritadi yang Allegra lakukan cuma mengamati bule-bule itu bermain skateboard di area Taman Akcaya ini. Allegra sih cuma duduk manis di bawah pohon rindang, persis kayak kuntilanak penjaga pohon. Sudah tau kan kalau Allegra ini tipe manusia evolusi yang butuh adaptasi lama? Seandainya saja Allegra ini manusia revolusi, maka dia mungkin sudah ikut bermain bersama mereka. Sebenarnya Allegra sudah tau nama-nama mereka, tapi dari pada ngobrol dan berusaha keras mengenal serta bermain bersama bule-bule itu, Allegra lebih memilih duduk di sini mengamati. Allegra baru tau kalau di kotanya ini ada perkumpulan bule-bule kece nan menyejukkan mata begini. Anggotanya nggak terlalu banyak sih, cuma sebelas orang--termasuk Samudera--dan mereka lebih suka menyebut hubungan mereka sebagai 'friendship' daripada 'komunitas' atau sebagainya. James, Arthur, Gray, Tim, Jeremy, Ruby, Prescott, Dion, Beatrice, dan Scarlet. Allegra diam-diam menghapal nama bule-bule yang tersebar dari berbagai negara. Amerika, Mexico, Singapura, Australia, Inggris, atau yang paling menarik--buat Allegra--, Korea. Gray Henry Kim. Si tampan berwajah oriental yang import langsung dari Korea. Usut punya usut, akhir tahun ini si Gray bakal pulang ke negara asalnya. Dia ini murid pertukaran pelajar yang diberi waktu satu tahun untuk belajar di Indonesia. Sayang ya, padahal kalau dia ini emang tinggal di Pontianak, kan bisa Allegra jadiin calon tulang punggung. Gray ini memang tampan dan menawan. Tampilannya sederhana aja kok, celana pendek selutut plus kaus putih polos yang entah kenapa kece aja di badan dia. Belum lagi kalau senyum, perpaduan antara sweet and hot kayak member boygroup favorit Allegra yang kalau senyum bisa bikin terbang sampai ke Planet Jupiter. Yang lain sih Allegra nggak tertarik, muka western gitu soalnya. Allegra doyannya yang oriental. Ya, yang matanya cuma segaris-segaris gitu. Allegra menyandarkan kepalanya di pohon, sejujurnya dia cukup heran pada Samudera. Jalan kaki dari rumah ke taman ini, panas pula, tapi kok masih ada tenaga buat main skateboard gitu? Dan lagi, udah hampir dua jam lho. Kok nggak pegel kakinya? Samudera menaiki skateboard-nya--yang bergerak santai ke arah Allegra--dengan kedua tangan yang dimasukkan ke saku celana. Lho anjir, ini kok Samudera kelihatan keren? Ingin rasanya Allegra menampar dirinya sendiri yang baru saja memuji Samudera. Tapi serius ya, Samudera memang kelihatan keren. Ada aura-aura cogan-nya. Untung Allegra ingat sebusuk apa manusia di depannya ini. Kalau nggak kan bisa-bisa terpesona. "Iya gue tau gue ganteng, tapi nggak usah diliatin segitunya juga dong," ledek Samudera. "Siapa juga yang liatin lo! Rusak yang ada mata gue," bantah Allegra. "Siniin minum gue," ucap Samudera. Tanpa basa-basi lagi, Allegra langsung melemparkan botol minum Samudera yang sedaritadi ada di pangkuannya. "Laper nggak lo?" tanyanya setelah meneguk air putih dari botolnya. "Menurut lo aja ya, gue belum makan dari tadi pagi gara-gara ngebabu." "Mau makan apa?" tanya Samudera. Allegra langsung senang begitu ditanya, otak gratisannya bereaksi. Pasti mau ditraktir, tumben nih bule. "Bakso pinggir jalan aja. Lo pasti nggak pernah makan di pinggir jalan waktu di LA." *** Siapa sih yang bisa menolak sensasi sejuknya hujan ditemani semangkuk bakso hangat? Pas banget kan tuh? Saling melengkapi. Lebih lengkap lagi kalau makannya sama orang yang kamu sayang. Sayangnya sore ini Allegra bersama Samudera, bukannya Antariksa. Allegra menyeruput kuah bakso langsung dari mangkuknya. Kalau di depan doi mah mana berani begini. "Jorok," desis Samudera. "Biarin," kata Allegra lalu minum teh hangat dari gelasnya. Setelahnya Samudera berdiri dan menuju sang penjual. Asik beneran dibayarin, pikir Allegra. Allegra sih masih santai di kursinya sembari menyeruput teh hangat, kan rugi kalau yang gratisan begini nggak habis. Allegra memang tipe orang yang nggak mau rugi dalam hal apapun. Mau itu pelajaran, tentang oppa-oppa Korea, apalagi yang gratisan begini. Begitu gelasnya kosong, Allegra berdiri dan hendak melenggang keluar tenda. Tapi oh tapi ... "Eh? Mau kemana, Mbak? Belum bayar, kan?" "Ah nggak kok, Pak. Kan cowok pakai baju sama topi item tadi temen saya," kata Allegra diiringi senyum sopan. "Oh, Mbak temennya Mas tadi? Maaf, Mbak. Tapi Mas yang tadi cuma bayar satu porsi, katanya bayar sendiri-sendiri," ucapnya. Seketika Allegra mendelik, "What the ... seriusan nih, Pak?" Bapak itu mengangguk. Emang dasar makhluk astral! *** "Yaelah, gitu aja ngambek," sindir Samudera. Allegra tak peduli dan terus berjalan cepat seolah tak mendengar apa-apa. Perempuan itu memang sedang dalam mode 'marah', bahkan dia sudah tidak mau membawakan skateboard Samudera. Apa lagi kalau bukan karena kadar pelit Samudera yang tingkat dewa itu. Bukan marah sih sebenarnya, heran aja kok ada orang sepelit itu? Samudera menyetarakan langkah kakinya dengan Allegra. Sementara gadis itu maih terus mempertahankan raut muka 'sebal'-nya. "Lagian, maunya gratisan mulu, Antariksa nggak suka tuh cewek model gitu," kata Samudera meledek. Allegra makin mendengus kesal. "Nggak peduli gue," ketusnya. "Do you think I care too?" Samudera membalikkan kata-kata Allegra kemudian berjalan cepat, menabrak bahu Allegra. Brak! Samudera menoleh, Allegra sudah terduduk di tanah dengan satu tangan menjadi tumpuan. Bukannya membantu, Samudera malah tertawa kencang. Namun orang yang ditertawakan tidak marah seperti biasanya. Gadis itu malah meringis kesakitan sambil memegangi tangannya, hampir menangis. Samudera menghampiri Allegra dan berjongkok di depan gadis itu, "Lo nggak papa?" Allegra tidak menjawab, tangannya kaku dan sakit sekali. Mungkin lebih sakit daripada rasanya ngelihat Aksara sama yang lain. "Gara-gara lo! Gue aduin Mama lo!" serunya uring-uringan. Lalu Allegra berdiri dengan segenap kekuatannya seraya memegang tangan kanannya yang makin sakit. Memang benar gara-gara Samudera. Kalau saja pemuda itu tidak menabrak bahu Allegra kuat-kuat, pasti Allegra tidak terpeleset dan terluka begitu. Untungnya, dia tidak perlu berjalan jauh karena kediamannya sudah dekat. Allegra membuka pintu dengan tangan kiri dan segera menangis terisak waktu melihat Mamanya. "Lho? Kenapa, Le? Kok nangis?" "Salah saya, Tante." Dalam pelukan Mama, Allegra tersenyum menang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN