"Woi Tetangga! Nggak denger ya? Gue bilang turunin di sini!" ujar Allegra. Gadis yang sedang duduk di jok belakang itu berulang kali minta diturunkan. Tapi si pengemudi acuh tak acuh. Seolah telinganya tidak mendengar apa-apa.
"Gue punya nama kali. Lo manggilnya aja nggak bener," sahut Samudera.
Pagi ini mau nggak mau Allegra berangkat bareng Samudera. Dari pada s**l seharian akibat otak licik Samudera kayak kemarin kan?
Tapi Allegra tetap nggak mau kalau harus 'benar-benar' bareng Samudera. Dia nggak mau orang-orang sesekolahan nanti nanya-nanya nggak penting begitu tau Allegra bareng Samudera. Tau sendiri kan Samudera itu fans-nya nyebar dimana-mana?
Tiap ke kantin aja Samudera selalu dikelilingi perempuan-perempuan cantik nan manja yang rata-rata terkenal di sekolah. Kapten cheerleaders lah, ketua modern dance lah, bahkan anak kepala sekolah juga. Semuanya berlomba-lomba buat nemenin Samudera, pengin dekat gitu. Allegra sih nggak sudi ya.
Dan kalau para perempuan cantik nan manja itu tau Allegra goncengan sama Samudera begini, bisa tewas Allegra. Karena selain cantik-manja-dan-terkenal, mereka juga ganas. Bisa-bisa Allegra diserang sama komplotan mereka. Mana Allegra nggak ada apa-apanya kalau dibanding mereka. Kan Allegra sendiri yang repot.
"Ih iya, iya! Tolong turunin gue, Samudera," kata Allegra panik waktu gerbang sekolah sudah tinggal beberapa meter lagi. "Turunin gue ya, Samudera?"
Mungkin laki-laki berseragam putih abu bernama Samudera Aidil Sitradivari itu sudah benar-benar tuli. Dari tadi Allegra minta diturunkan jauh dari sekolah. Tapi apa hasilnya? Samudera baru menghentikan motornya di parkiran sekolah. Dan tau apa? Berpuluh-puluh pasang mata yang ada di tempat itu kini menatap Allegra tajam! s****n.
"Turun dong, tadi minta diturunin," kata Samudera santai.
Ingin sekali Allegra memukul Samudera dengan helm yang masih terpasang di kepalanya. Tapi rasanya ini bukan tempat yang tepat, bisa-bisa malah Allegra dikeroyok fans Oceandera alias Samudera s****n itu.
"s****n, gue minta diturunin jauh dari sekolah!" bisik Allegra geram.
"Lo ngotot banget sih minta diturunin jauh dari sekolah, harusnya lo bangga bisa barengan sama selebgram seganteng gue."
Allegra berdecak lalu segera turun dari motor Samudera. Dia menutup kaca helm-nya dan berjalan lurus menuju kelas. Gadis itu yakin, hari ini hidupnya tidak akan kalah s**l dari hari kemarin.
***
"Oh my ... jadi lo beneran berangkat bareng Samudera?"
"Ya ampun apa rasanya digonceng cowok seganteng itu, Le?"
"Sstt! Diem deh kalian! Gue juga terpaksa kali!" ujar Allegra. Daritadi kupingnya panas ditanya-tanya mulu sama teman-teman syaiton-nya. Allegra heran kenapa teman-temannya ini selalu excited kalau udah bahas Samudera. Padahal Allegra aja super enek kalau dengar namanya.
"Heran deh sama lo, Le. Digonceng cowok seganteng itu harusnya seneng. Lo malah merengut," protes Endah.
"Lo nggak tau ya fans manusia s****n itu ada dimana-mana?" cicit Allegra.
"Tau kok. Bahkan cewek sekelas Inge si ketua cheerleaders aja kepincut sama Samudera. Kemarin gue lihat dia di kantin sama temen-temennya yang sama genitnya itu lagi deketin Samudera. Dih! Genit banget," omel Bianda.
"Maklum kali mereka deketin Samudera. Ganteng, suaranya bagus, bisa main alat musik, followers i********:-nya banyak, duh ... gue kalau dikasih cowok kayak gitu juga mau! Alle aja tuh yang aneh nggak suka sama dia," ucap Gendis. Meninggikan Samudera dan memojokkan Allegra.
Allegra nggak mau ambil pusing. Dia memilih diam dan menggeleng-geleng kesal. Kalian aja yang nggak tau sebusuk apa Samudera.
"Allegra!" Allegra mengarahkan tatapannya ke depan pintu begitu merasa namanya dipanggil dari arah sana.
Sialan, entah sudah keberapa kali Allegra memaki hari ini. Spontan, Sis. Gimana nggak berkata kotor? Itu si Samudera tiba-tiba nongol di depan kelas sambil senyum 'sok' manis--emang manis sih--terus manggil-manggil Allegra, apa tujuannya coba? Perasaan Allegra nggak enak, pasalnya terakhir kali Samudera mejeng di depan kelas Allegra, berakhir dengan Allegra yang repot dapat pertanyaan dari sana-sini. Kali ini apa lagi?
Samudera masuk tanpa perintah dan duduk tepat di depan bangku Allegra, "Le, temenin gue ke kantin yuk?"
Itu muka Garnet, Gendis, Endah, dan Bianda--tinggal mereka yang tersisa di kelas--udah super mupeng. Sedangkan Allegra malah kesal setengah mati.
"Nggak! Ke kantin aja sendiri!" tolak Allegra ketus.
"Ayo dong." Samudera tersenyum manis dan Allegra masih nggak peduli. Setelahnya Allegra merasakan getaran di saku celananya. Ponselnya.
Sebuah notifikasi dari aplikasi i********:. Direct message lebih tepatnya.
oceandera_
Temenin gue atau Anta tau lo suka sam dia?
"Anjir," lirih Allegra spontan. Setelahnya dia menatap Samudera yang masih senyum di depannya. Allegra balas memberikan senyuman sarkastik, "Iya, ayo ke kantin temanku tersayang."
***
Di dunia ini ada dua tipe manusia. Tipe revolusi dan evolusi. No, bukan berarti mereka berubah bentuk dari dinosaurus atau gimana.
Manusia evolusi itu manusia-manusia yang butuh waktu lama buat beradaptasi. Agar bisa bernapas dengan nyaman di tempat yang baru aja butuh penyesuaian. Apalagi buat ngobrol. Istilahnya sih nggak terlalu suka keluar dari zona nyaman mereka. Biasanya manusia tipe evolusi ini susah banget buat move on.
Kebalikannya, tipe revolusi. Si revolusi ini nggak butuh waktu lama buat adaptasi. Sepertinya orang-orang dengan tipe ini memang diberi kekuatan khusus oleh Sang Pencipta dalam hal beradaptasi. Dan dari pengamatan Allegra, cowok ganteng berinisial S di hadapannya ini termasuk dalam tipe kedua, manusia revolusi.
Lihat aja, Samudera sudah bisa klop dan ngobrol asik dengan teman-teman Allegra dalam waktu kurang dari setengah jam. Banyak banget yang diobrolin! Mulai dari Samudera yang cerita tentang sekolah di Los Angeles, sampai Garnet yang cerita kalau dia kadang-kadang masih ngompol di celana kalau musim hujan. Bahkan Allegra yang jadi teman sebangku Garnet hampir 2 tahun lamanya aja nggak tau cerita itu. Ya, Allegra sendiri memang tipe evolusi. Tapi dia nggak susah move on lho ya.
Dan kalau yang lain sibuk ngobrol asik, Allegra malah sibuk memerhatikan tatapan orang-orang yang tertuju kepadanya. Apalagi perempuan-perempuan cantik nan manja di ujung sana yang biasanya menemani Samudera. Tatapan mereka seolah berkata 'enyah lo!'. Allegra bukannya takut, risih iya. Toh bukan kemauan Allegra juga buat duduk di sini bersama Samudera.
"Terus gimana lo bisa kenal Allegra, Sam?" Allegra yang sedang menyeruput es tehnya itu hampir tersedak.
Mengahadapi pertanyaan sedemikian rupa, bukannya menjawab, Samudera malah menatap Allegra. Jangan lupakan senyuman licik yang terurai di bibirnya itu. Allegra membalasnya dengan pelototan galak. Seolah telepati, Allegra berkata lewat tatapannya, 'mampus-lo-kalau-ngomong-aneh-aneh'.
Kan bisa rusak image Allegra--walaupun selama ini nggak pernah bagus sih--di depan teman-temannya kalau tau gimana Allegra dan Samudera pertama kali bertemu. Iya, insiden ngintip lewat teleskop itu lho. Insiden yang bikin hidup Allegra repot sampai sekarang.
"Gue kenal Allegra karena kita tetangga. Pertama kali tau Allegra itu gara-gara ...." Samudera menggantung kalimatnya, sengaja untuk membuat Allegra kesal. Allegra melotot makin lebar lalu Samudera menyambung kalimatnya, "Gara-gara malem setelah gue pindah, keluarga kita makan sama-sama. Terus kita ngobrol dan klop. Ya kan, Le?"
Ya, akhir kalimat Samudera memang pembodohan. Karena pada kenyataannya, Allegra nggak sudi tuh klop sama Samudera.
Kringggg. Untungnya bel segera berbunyi, Allegra udah nggak betah duduk di sini lama-lama sama Samudera yang dari tadi dipanggil Sam-Sam (dibaca Sem) mulu. Sok bule.
"Yuk, Le," ajak teman-temannya.
"Eh kalian duluan aja. Gue mau ngobrolin sesuatu sama Allegra bentar. Boleh ya?" ucap Samudera.
Garnet, Gendis, Endah, dan Bianda sepakat meninggalkan Allegra dan Samudera. Setelahnya Allegra berkata ketus, "Apaan sih lo pake bilang kita akrab segala?"
"Bangga dong harusnya akrab sama gue. Yang lain aja mati-matian berusaha biar akrab sama gue," ucap Samudera sombong.
"Maaf ya, tapi gue nggak sudi tuh akrab sama lo. Dan darimana lo tau kalo gue suka sama Bang Riksa?"
"Lupa ya lo? Kan lo sendiri pernah bilang kalau lo itu niatnya ngintipin Anta. Bukan gue. Lagian gue nggak buta kali," kata Samudera.
"Terserah deh ya. Gue mau masuk ke kelas. Lo boleh deh usilin gue tentang hal apa aja. Tapi jangan sok akrab kayak tadi. Karena yang repot itu gue, bukan lo," ucap Allegra lalu berlalu.
Gadis itu bernapas lega waktu tau ternyata di kelasnya belum ada guru. Begitu dia memasuki kelas, Garnet dengan wajah paniknya menunjuk kolong meja Allegra, "Le, lihat!"
Allegra membeku, tulisan di atas kertas itu menyayat-nyayat dadanya.
***
Pernah dengar pepatah 'What doesn't kill you make you stronger'? Lebih tepatnya sih sepenggal lirik dari lagu Kelly Clarkson yang berjudul Stronger dan dipopulerkan sekitar tahun 2012. Pepatah yang sesungguhnya mengajarkan kita kalau sesuatu yang berusaha menyakiti kita malah membuat kita semakin kuat.
Rasa-rasanya pepatah itu cocok sekali untuk Allegra terapkan di hidupnya. Kemarin adalah pertama kalinya dia menemani Samudera ke kantin dan kolong mejanya penuh dengan sampah-sampah kertas yang diremas-remas. Sampah kertas itu bukan sembarang sampah, ada banyak hujatan tertulis di atas sana. Seperti 'Go away, b***h!' atau yang lebih bikin kesal 'Jangan kegenitan deh. Cantik aja enggak.'.
Allegra tidak tau siapa yang meletakkan kertas-kertas itu. Waktu dia tanya ke teman-teman sekelasnya, nggak ada yang tau. Rada sebel sih bacanya. Kebanyakan nge-judge Allegra 'gatel' dan sejenisnya. Tapi yang paling nggak Allegra suka itu kalau dibilang 'jelek'. Pikir aja lah, kenapa semua hal di dunia ini harus dinilai pakai fisik sih? Memangnya cewek muka standard nggak boleh dekat sama cowok ganteng? Meskipun Allegra terpaksa sih ada di dekat Samudera, dan lagi Samudera itu nggak masuk kriteria ganteng menurut Allegra.
Itu baru penghinaan tidak langsung lho, belum lagi tatapan-tatapan sarkastik nan tajam dari cewek-cewek cantik penggemar Oceandera--mungkin orang yang meletakkan kertas-kertas di kolong meja--yang Allegra dapatkan waktu berjalan bersama Samudera ke parkiran kemarin sepulang sekolah. Nusuk sampai ke jantung, Sis. Kemarin sih Allegra langsung 'down' gitu, tapi sekarang kalau dipikir lagi, tatapan-tatapan kayak gitu yang harusnya bikin Allegra makin kuat.
Tapi tetap aja ya, hal-hal merepotkan itu terjadi gara-gara Samudera. Seandainya bule itu nggak ada, Allegra yakin hidupnya tenang-tenang aja. Untungnya hari ini dan besok libur. Allegra jadi nggak perlu repot-repot menghadapi Samudera dan penggemar-pengemarnya yang sama-sama bikin susah itu.
"Lo nggak papa?" sebuah suara membuat Allegra yang sedang duduk merenung di korididor itu mendongak. Teman-teman syaiton-nya berdiri di hadapannya.
"Nggak papa," jawab Allegra.
Endah menggapai bahu Allegra, membawanya mendekat. Begitupula dengan yang lain, langsung duduk di samping Allegra.
"Nggak bisa! Pokoknya hari ini, kita harus have fun!" ujar Bianda berapi-api.
***
"Iya, Tante. Pokoknya sebelum Maghrib Allegra udah pulang kok, Tante."
"Ya udah. Jangan jauh-jauh, ya, mainnya."
"Siap, Tante!"
Begitu Gendis memutus sambungan telepon, mereka semua bersorak girang. Mama Allegra yang memang ketat soal perijinan gini mempannya cuma sama telepon dari teman. Jadi tiap mereka mau hang out, teman-teman Allegra harus khusus menelepon Mama agar perijinan mudah. Coba Allegra sendiri yang nelepon, pasti Mama masih curiga A-B-C-D-E.
Allegra langsung naik ke atas motor Garnet. Buru-buru pergi setelah jam sekolah berakhir.
Allegra dan teman-teman langsung melaju ke salah satu pusat perbelanjaan. Atau bisa dibilang satu dari tiga mall yang ada di Pontianak. Ya, Kota Pontianak memang tidak punya banyak tempat yang bisa dikunjungi. Mall saja cuma tiga. Itupun tidak sebesar yang ada di Jakarta atau kota-kota metropolitan lainnya.
Ketika sampai, sekumpulan remaja itu langsung menyerbu counter make up. Sekadar coba-coba tester sambil cekikikan, tanpa niat beli. Setelahnya, ke department store. Coba-coba baju sambil mirror selfie di ruang ganti. Tidak mewah memang tapi kok ya bahagia sekali rasanya?
Perhentian mereka di mall tak terlalu lama, selanjutnya langsung tancap gas ke sebuah rumah makan yang letaknya sebenarnya cukup jauh. Makan di mall memang terlalu mahal, tidak cocok untuk kantong pelajar SMA. Mereka makan di tempat yang jauh lebih murah bergaya saprahan. Meski murah, kualitasnya juara. Dengan uang tidak sampai 100 ribu, Allegra dan kawan-kawan sudah bisa makan nasi, ayam, tahu, tempe, telur, sayur daun singkong, sambal, dan kerupuk udang. Lengkap pokoknya.
Saprahan adalah gaya makan khas Melayu. Dimana nasi dan lauk-pauknya tidak dihidangkan di piring, melainkan di atas selembar daun pisang panjang. Tanpa sendok dan garpu, hanya berbekalkan tangan serta air kobokan.
"Gue seneng banget," kata Allegra. "Makasih ya, Teman-temanku yang tidak berakhlak. Kalau nggak ada kalian, gue udah nangis bombay nih di rumah."
"Dih ... Super cheesy!" sahut Bianda meledek Allegra.
"Iya, nih! Menjijikkan banget kata-kata lo!" tambah Gendis. Allegra hanya bisa cengengesan.
"Santai aja kali!"
Meski tidak sempurna, tapi Allegra sadar bahwa teman-temannya punya makna besar. Tidak bisa tergantikan.