Satu hal yang membuat Allegra kesal setengah mati adalah fakta bahwa dia menyetujui perkataan Tata. Allegra setuju bahwa dia memang tidak ada apa-apanya dibandingkan Tata. Allegra benci pada dirinya sendiri yang tak bisa mencintai kekurangannya sepenuh hati. Benci pada dirinya sendiri yang tidak tau kelebihannya apa dan hanya fokus pada kecantikan selama ini. Cantik yang bahkan tak punya definisi pasti.
Allegra tau bahwa insecurity yang dia punya ini hanya akan menggerogotinya. Menghisap value dirinya dari dalam. Membunuhnya perlahan-lahan.
Allegra juga tau bahwa dia tidak seharusnya merasa begini. Dia tau bahwa seharusnya tidak ada orang yang boleh membuatnya merasa seperti ini. Allegra tau, tapi merasa tak berdaya.
Bahkan tanpa kata-kata dari Tata pun, Allegra sudah merasa buruk selama ini. Perkataan Tata jadi seperti taburan garam pada luka yang sudah lama ada dalam hati. Perih.
Perasaan buruk itu bahkan tak hilang dengan tidur, tak hilang dengan mandi, tak hilang dengan aktivitas ini dan itu. Sampai Allegra pergi ke sekolah lagi pun, rasanya tetap buruk.
"Le, lo kenapa? Ada masalah?" tanya Garnet.
"Iya, Le. Lihat lo lemes gitu, gue takut lo kenapa-napa. Entar kalau lo kesambet, yang ribet sekelas," sambung Endah.
Allegra tak menjawab, hanya menatap kosong ke sudut meja belajarnya. Allegra memang belum bercerita apa-apa pada teman-temannya. Dia terlalu malu. Terlalu malu untuk mengakui bahwa dia juga benci diri sendiri.
"Gue nggak papa," kata Allegra. Tak lama kemudian, si ketua kelas datang menghampiri Allegra.
"Allegra, dipanggil Miss Olive ke kantornya."
Sial.
***
Miss Olive tampaknya punya ingatan yang sangat bagus. Sebelas dua belas mungkin dengan Albert Einstein. Dia masih saja ingat dengan insiden 'acungan jari tengah' yang dilakukan oleh Allegra kemarin. Akibatnya, Allegra dipanggil dan diberi hukuman mengepel lantai koridor sepulang sekolah.
Kalau ada yang tau dimana tempat jual boneka voodoo, tolong beritahu Allegra. Perempuan yang sedang mengepel lantai koridor itu ingin membelinya, satu lusin kalau perlu. Apa lagi kalau bukan untuk menghabisi Samudera?
Rasanya Tuhan juga ikut-ikutan memalingkan diri dari Allegra dan berpihak pada Samudera. Rasanya kesialan yang kemarin sama sekali belum cukup, sekarang malah Allegra dihukum.
Gara-gara jari tengahnya yang nakal mengacung pada Samudera ketika pelajaran Miss Olive berlangsung, dia harus menerima semua hukuman ini. Ya, tentunya bukan cuma ini. Tadi Allegra juga dimarahi habis-habisan oleh Miss Olive. Dicap tidak sopan, dan pasti namanya jadi trending topic di kantor guru untuk seminggu ke depan. Kalau saja Allegra nggak masuk rangking 15 besar paralel semester ini, maka dia benar-benar akan mencekik Samudera dengan kedua tangan mungilnya.
"Sumpah ya, Alle beneran udah bosen idup," komentar Garnet.
"Eh udah deh. Kalian bukannya bantuin malah komentar mulu. Sana balik deh," decak Allegra kesal. Ingat, teman-temannya saat ini pro Samudera. Jadi tak ada gunanya Allegra menceritakan kejadian sebenarnya. Toh tidak ada yang percaya.
"Oke sip, kita balik ya. Ati-ati aja kalo tiba-tiba ada kepala nggelundung-nggelundung," kata Bianda menakuti.
"Gue nggak takut! Udah sana!" perintah Allegra. Teman-temannya pun pulang meninggalkan Allegra sendirian.
Gadis itu menyalakan ponselnya, jam setengah 5. Setelahnya dia kembali mengepel lantai, dia harus cepat kalau mau pulang sebelum adzan maghrib berkumandang.
Krietttt. Allegra mendengar suara derit pintu, dia menoleh ke belakang sebentar lalu kembali melanjutkan aktivitasnya. Waktu rasanya begitu cepat bagi Allegra, sedangkan koridor ini belum juga tuntas dibersihkan, dan langit makin menggelap. Matahari hampir tenggelam dari tahtanya.
Tap, tap, tap. Terdengar suara langkah kaki bergerak seperti seseorang menuruni tangga, kali ini bulu kuduk Allegra meremang jelas. Dia teringat cerita Bianda tentang penunggu sekolah. Jadi Bianda yang merupakan anggota Paskibra sekolah pernah menginap di sekolah, tepatnya di kelas XII IPA 5--tempat Allegra berdiri sekarang--dan salah satu anggota kesurupan. Katanya sih kerasukan hantu laki-laki yang kehilangan kepalanya.
Perasaan Allegra makin nggak enak waktu pohon beringin di tepi koridor melambai-lambai diterpa angin. Ya Allah, cobaan macam apa ini!
Allegra segera membuka aplikasi Go-Jek di ponselnya. Ya, si Samudera s****n itu pasti sudah pulang. Kalau belum pulang pun Allegra nggak sudi sih pulang bareng dia.
Entah ini perasaan Allegra aja, atau memang suara langkah kaki tadi memang terdengar makin jelas dengan ritme yang makin cepat? Allegra berdebar, bahkan dia sudah menyiapkan rencana kalau tiba-tiba hantu muncul di depannya. Rencananya Allegra akan melemparkan pengepel dan berlari sekencang-kencangnya ke depan. Tas Allegra masih di dalam kelas, dia berencana untuk meninggalkannya. Lagi pula nggak ada barang berharga di dalam sana.
"Dor!" Allegra melonjak kaget, melempar pengepel, lalu berjongkok memeluk dengkulnya sambil memejamkan mata ketika sebuah tepukan mendarat di bahunya. Rencananya tidak terlaksana dengan sempurna. Bukannya berlari, gadis itu malah gemetar ketakutan.
"Ampun! Ampun! Saya pulang kok bentar lagi, jangan ganggu saya!" ucap Allegra ketakutan. Allegra menangkupkan kedua tangannya seolah memohon ampun.
Selanjutnya, terdengar suara tawa mengejek yang cukup keras. Allegra mendongak, wajahnya merengut sebal. Samudera rupanya. "s****n, ngapain sih lo ngagetin aja!"
"Ya elah! Lo aja yang penakut! Udah yuk balik!" ujar Samudera.
"Nggak sudi gue balik bareng lo!"
"Oh ... yakin? Inget aja kejadian tadi pagi. Lo nggak mau bareng gue ke sekolah dan tau sendiri kan apa yang terjadi?" kata Samudera memamerkan senyum miringnya. "Ya gue nggak maksa sih, tapi kalo tiba-tiba penunggu sekolah marah, baru tau rasa."
"Ish! Iya, iya! Tunggu di sini, gue ambil tas dulu!"
Allegra melesat secepat kilat dan kembali dengan napas terengah-engah, "Ayo ... hh ... hh."
Klik. Lampu koridor serempak menyala, menunjukkan bahwa hari sudah makin sore. Allegra menyadari itu dan perasaannya makin tidak tenang. Rasanya ingin cepat-cepat keluar dari bangunan berlantai 2 ini.
Duk. Duk. Duk. Seperti bunyi bola basket yang di-dribble dari lantai atas.
"Lo denger itu nggak, Tetangga?" tanya Allegra. Samudera mengangguk dengan wajah santainya.
Greb. Allegra mencengkram erat ujung lengan seragam Samudera. Dia takut. Pasalnya tadi Fakhri--si Ketua Kelas--yang notabene Ketua OSIS memberitahukan pada seluruh anggota kelas kalau hari ini tidak boleh ada ekstrakurikuler apapun. Katanya sekolah harus steril karena besok beberapa ruangan akan dipakai guru-guru untuk mengikuti workshop yang diadakan Dinas Pendidikan Provinsi.
Lalu, siapa yang main basket di atas sana? Nggak mungkin anak basket kan?
"Apaan sih lo? Modus ya?" ejek Samudera.
"Diem deh lo. Udah cepet jalannya!"
Allegra baru melepaskan cengkramannya saat mereka sampai di parkiran.
***
"So, you scared of ghost, right?"
"Bacot! Jangan ngomong sama gue seolah kita akrab!" kata Allegra mengeraskan suaranya, melawan deru bising kendaraan-kendaraan yang melintas.
Posisinya Allegra sedang dibonceng Samudera sekarang. Perasaan lega menyeruak dalam dadanya, ya setidaknya dibonceng Samudera lebih baik daripada harus berlama-lama di sekolah.
"Nggak boleh galak-galak sama tetangga," katanya ringan.
"Galak sama tetangga kayak lo sih harus! Bisanya bikin gue susah aja! Baju gue kotor, gue nggak boleh ikut ulangan, dan dihukum suruh bersihin sepanjang koridor. Menurut lo itu semua gara-gara siapa kalau bukan lo?! " seru Allegra.
Samudera tertawa, "Ya, gue kan emang udah bertekad buat bikin lo susah. I've said before, Neighbour. Dan masih sama, lo cuma perlu minta maaf kok biar gue berhenti bikin hidup lo susah."
Allegra berdecak, "Maaf ya, Tetangga. Tapi gue sama sekali nggak salah sama lo. Gue udah bilang kalau gue nggak ni-."
"Nggak niat ngintipin gue dan maunya ngintip Antariksa. Gitu kan?" potong Samudera.
Allegra mendengus, "Anjir, nggak usah diperjelas."
"Tetep aja kan tindakan lo itu nggak pantes? Ngintipin orang gitu."
"Nggak! Pokoknya gue nggak mau minta maaf!"
"Tapi gue jadi penasaran ya sama lo, orang macam apa lo sebenarnya. Di rumah, kayak anak baik-baik, tapi suka ngintip juga. Terus di sekolah, lo diusir dari kelas. Bahkan nggak ngerjain tugas dengan baik. What kind of person you are?"
Allegra terdiam. Dia sendiri juga mau tau, orang seperti apa dirinya.
Mereka sampai tepat di depan rumah Allegra. Diakhiri Allegra yang mengucapkan terima kasih dengan nada 'antara-ikhlas-dan-tidak'.
Mama tampak menunggu Allegra di teras rumah dengan wajah tidak senang. Tangan kanannya memegang kemeja seragam putih yang Allegra pakai kemarin.
"Lihat ini, Le! Kok baju kamu bisa kotor sampai kayak begini? Kamu habis guling-guling dimana?" cecar Mama heboh.
"Gara-gara tetangga, Ma! Kemarin dia sengaja nyipratin genangan air hujan biar kena Alle!" lapornya pada Mama.
"Ah, ngada-ngada aja kamu! Samudera nggak mungkin gitu! Kalau bikin kesalahan mbok ya diakui, jangan nyalahin orang gitu."
Ya, Allegra kicep. Mungkin memang sudah ditakdirkan begini, semua orang tidak percaya padanya. Bahkan Mama.
Allegra mengkerut lalu masuk ke kamarnya. Gue harus bikin orang-orang tau betapa busuknya tetangga sebelah!
***
"s****n banget itu perempuan! Kenapa Lo nggak bilang sama kita sih? Orang kayak gitu tuh harus dilawan tau nggak! Emang dia sebagus apa sampai berani ngatain temen gue?" ujar Bianda berapi-api dari balik video call.
"Iya anjir! Dia yang salah malah dia yang lebih galak!" tambah Endah.
Allegra tersenyum melihat teman-teman syaiton-nya emosi. Memang bercerita pada teman adalah jalan paling manjur untuk melepas emosi. Setelah menceritakan tentang kejadian debatnya dengan Tata kemarin, perasaan Allegra jadi jauh lebih baik.
"Ya udah, gue mau belajar dulu deh. Ngobrol sama lo semua nggak bakal ada habisnya. Dah!" pamit Allegra. Setelah melambaikan tangan ke kamera beberapa kali, Allegra mematikan sambungan video call-nya.
Allegra mulai mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Meski dunia memporak-porandakan perasaannya, Allegra harus bangkit. Dia mengerjakan tugas matematika. Pusing sendiri sambil mendengarkan alunan lagu klasik yang sengaja dia putar di ponselnya. Niatnya sih biar makin fokus.
Baru juga setengah jam lamanya, punggung Allegra terasa sudah mau patah. Dia membaringkan diri di kasur, rehat sejenak biar tidak gila.
Tok! Tok! Tok! Pintu kamar Allegra diketuk heboh dari luar.
"Le, martabak kamu udah dateng nih!" pekik Mama.
"Hah? Martabak?" Allegra kebingungan lalu membuka pintu kamarnya secepat kilat.
"Martabaknya di bawah, jangan makan di kamar! Jorok!" kata Mama.
"Martabak apa, Ma?" tanya Allegra.
"Ojek online tadi yang nganter. Emang kamu nggak beli?" tanya Mama balik.
Allegra menggeleng. Ia tak merasa membeli martabak.
"Dari temen kamu kali," ucap Mama.
Allegra turun ke bawah. Masih berpikir keras, kenapa tiba-tiba ada ojek online mengantar martabak ke tempatnya. Beli? Jelas tidak mungkin, dompet Allegra saja kering kerontang.
Allegra mendapati satu kotak penuh martabak manis rasa cokelat-kacang-keju-s**u di atas meja makan.
"Papa minta ya, Le?" kata Papa sambil menjejalkan sepotong martabak ke mulutnya.
"Apa orangnya salah kirim?" desis Allegra. "Atau ... temen gue?"
Hanya saja Allegra skeptis. Teman-teman syaiton-nya tidak pernah sebaik mungkin. Kena sambet apa kirim-kirim martabak manis begini? Mau tanya tukang ojeknya tapi udah keburu pergi duluan.
"Dari siapa, Le? Beneran kamu nggak beli?" tanya Mama sekali lagi.
"Enggak, Ma."
Di tengah-tengah kebingungan yang membuat kepalanya makin sakit, Allegra mendapatkan pesan di ponselnya.
Aksara:
Le, martabaknya udah sampai?
Allegra yang memang seorang amatir itu langung merasakan debaran keras di jantungnya. Sekeras tabuhan genderang perang. Dia tak pernah terkoneksi langsung dengan seorang laki-laki selain papanya sendiri. Juga tidak punya pengalaman seperti remaja-remaja putri lainnya. Jadi dikirimi martabak manis begini membuat Allegra cukup bingung dan tak tau harus berbuat apa.
Pesan Aksara dia baca berkali-kali hanya untuk memastikan matanya tidak salah. Tapi tak dibalasnya. Allegra terlalu takut. Entah takut apa.
Kakinya bergerak gelisah. Mengitari seluruh kamarnya seperti sebuah mesin penyedot debu. Otaknya berpikir keras, balasan apa yang harus dia beri pada Aksara.
Seperti tau bahwa Allegra kebingungan, Aksara tiba-tiba menelepon. Aksara yang dulu sangat dieluh-eluhkan Allegra, Aksara yang rasanya tidak bisa digapai itu menelepon! Menelepon Allegra! Mimpi apa ini sebenarnya?
Allegra mengangkat telepon itu. Suara lembut Aksara menyapa dari seberang sana, "Halo, Le?"
"H-halo."
"Martabaknya udah sampai?"
"I-i-iya u-udah," jawab Allegra tergagap.
"Oh oke."
Setelahnya senyap. Allegra akhirnya mengumpulkan keberanian, menanyakan apa maksud Aksara sebenarnya.
"L-lo ngapain beliin gue martabak?"
"Mmh ... gue mau minta maaf."
"Minta maaf?"
"Iya, maaf karena gue nggak bisa belain walaupun Tata udah jahat banget sama lo. Gue tau martabak nggak bisa balikin rasa sakit hati lo. Maaf."
Allegra mengangguk-anggukkan kepala meski Aksara tak bisa melihatnya.
"Oke. Gue maafin. Lagian lo nggak salah, yang salah Tata."
"Semua yang Tata bilang nggak bener kok, Le. Lo sama sekali nggak lebih buruk dari Tata. Lo ya elo. Tata ya Tata. Nggak ada yang harus dibandingkan."
Allegra merasa lega mendengar penjelasan Aksara. Meski Aksara mungkin hanya berniat menghiburnya, Allegra merasa cukup. Setidaknya ada orang lain yang cukup peduli pada masalah ini.
"Iya, gue tau. Tapi lain kali jangan martabak dong, gue maunya apartemen hahaha," canda Allegra.
Aksara di seberang sana tertawa, "Gue nggak tau kalau lo ternyata punya selera humor juga."
Sebelum menutup teleponnya, Aksara bertanya, "Le, gue boleh jadi teman lo kan?"