Hello, Nasib s**l!

2191 Kata
Ayolah, manusia gila mana yang nggak mau kelihatan sempurna di depan gebetan? Mulai dari pakaian, tampilan wajah, sampai sikap, semua memang harus sempurna di depan orang yang menurut kita berpotensi buat jadi pacar. Jaga image intinya. Tapi rasanya terlalu telat buat yang namanya 'jaga image', Allegra udah keburu nunjukkin gimana jeleknya muka dia waktu makan pedas di depan Antariksa tadi sore. Allegra menerka-nerka, mungkin nggak sih Bang Riksa ilfeel waktu lihat gue kepedesan? Bukannya berlebihan, wajar Allegra merasa sedemikin rupa. Pasalnya dulu Bianda pernah mem-video-kan Allegra waktu kepedasan, sekali. Dan di situ muka Allegra jelek abis, Sis! Mulutnya mangap-mangap gitu, wajahnya merah kebakar, dan keringatan kayak habis lari 10 kilo. Kalau Antariksa ilfeel, satu-satunya orang yang akan Allegra salahkan adalah Samudera. Manusia--yang kata Allegra--k*****t itu pasti mengerjainya. Pasti ayam tadi sore itu bukan level 1 dan Samudera sengaja memesannya agar Allegra kepedasan. Allegra membuka pintu kamarnya lalu menuju ruang tamu. Duduk di sana dan berniat nonton televisi. Ada Mama dan Adagia di sana, lengkap dengan cemilannya, "Jangan diganti, Mama lagi nonton Rumah Uya." Allegra mendengus. Ya begini selera Mama. Mulai dari habis maghrib, TV udah nggak bisa diganggu gugat. Untungnya Allegra nggak begitu suka nonton TV. Habisnya acara TV Indonesia ini suka nggak mendidik sih, kan mending Allegra nonton drama Korea. "Ma, tau nggak sih? Tetangga sebelah sekolah di sekolahnya Allegra!" kata Allegra menginformasikan. "Tau kok." Mama terus memasukkan camilan ke mulutnya. "Ih! Aku nggak suka dia sekolah di situ! Kayak nggak ada sekolahan lain aja!" sungut Allegra. Mama menautkan kedua alisnya, "Apaan sih kamu? Samudera itu anaknya baik, Le. Mama kan jadi lega kalau kamu bisa berteman baik juga sama dia. Aneh ah kamu orangnya." Allegra merengut, sekarang sepertinya satu per satu orang terdekat Allegra berpihak pada Samudera. Mulai dari teman-teman, sekarang Mama juga. "Baik apanya sih, Ma?" "Baik banget. Tau apa? Tadi sore dia ke sini, dia bilang ke Papa kamu 'Om, mulai besok Allegra berangkat sama saya aja ya? Saya baru dibeliin motor'," Mama memeragakan kata-kata Samudera. "Nggak! Allegra nggak mau, pasti Papa juga nggak bolehin kan?" Allegra yakin seribu persen kalau Papanya nggak bakal boleh anak gadisnya berangkat sekolah sama orang lain. Apalagi cowok nggak jelas kayak Samudera itu. Papa memang protektif, itulah salah satu alasan kenapa sampai sekarang Allegra masih diantar jemput dan bukannya naik motor sendiri kayak anak-anak lain seumurannya. Allegra juga nggak pernah diantar atau dijemput teman laki-lakinya, apapun alasannya. Nggak berani sih Allegra. "Boleh kok. Jadi mulai besok kamu berangkatnya sama Samudera ya. Nggak usah bantah, Papa kan sekalian hemat bensin. Udah sana, Mama mau lanjut nonton. Kamu ganggu aja," usir Mama. Allegra nganga, like ... what the f*ck. Sepertinya semua orang memang sudah berpihak pada Samudera. *** Setiap perempuan adalah pengimajinasi yang luar biasa. Ada berjuta khayalan serta pemikiran di dalam sel-sel otak mereka. Apalagi yang masih belum punya pasangan. Apa kamu salah satunya? Allegra ini pengimajinasi yang 'sangat' luar biasa. Salah satu hal yang sering dia bayangin di otaknya sebelum tidur adalah dibonceng cowok ganteng nan gagah pakai motor. Terus waktu di lampu merah, Allegra akan menyandarkan dagunya di pundak laki-laki itu dan mereka membicarakan hal-hal ringan yang membuat lupa berapa lama lampu merah itu menyala. Opsi lain, tangan mungil Allegra akan digenggam dengan jemari-jemari yang begitu menghangatkan. Lalu Allegra bisa mencium aroma parfum si laki-laki yang sukses membuatnya semangat seharian. Cheesy imagination-nya itu sekarang sudah terwujud jika saja yang ada di depannya ini Antariksa, bukannya Samudera. Tapi kenyataan itu memang pahit, Sis! Apa yang tidak diharapkan malah biasanya kita dapatkan. Bukannya menikmati lampu merah dengan obrolan-obrolan manis, Allegra daritadi malah mengoceh minta diturunkan. Katanya sih nggak sudi boncengan sama Samudera ke sekolah. "Ih, turunin! Denger nggak sih lo!" seru Allegra yang entah sudah keberapa kali dan tidak direspon sama sekali. Samudera geram, "Lo kira gue mau apa gonceng lo begini? Kalau Mama nggak nyuruh, gue juga nggak mau!" "Ya makanya turunin! Gue bisa mesen gojek kok!" pekik Allegra. Allegra rasanya punya penyakit 'alergi' pada Samudera. Menurutnya, mending digonceng abang tukang ojek daripada harus dibonceng Samudera. "Oke, gue turunin! Tapi jangan nyesel!" Samudera mengingatkan. Dia lalu menghentikan motor bebeknya di sebuah trotoar. Dari sini, masih sekitar 10 menit untuk sampai ke sekolah. Allegra cepat-cepat turun dari motor Samudera seolah takut tertular penyakit mematikan. Ya, Allegra sebegitu alerginya pada Samudera. Setelahnya, Samudera memutarbalikan motornya. Allegra berkerut, Kok dia puter balik sih? Sekolah kan ke arah sana. g****k apa? Ah biarin deh! Allegra lalu sibuk dengan ponselnya, membuka aplikasi, dan berniat memesan layanan ojek online. Oh ya, asal kamu tau, Pontianak ini beda dari kota-kota besar di Pulau Jawa sana. Angkutan umum nyaris nggak ada. Paling ada juga bemo, itupun jarang. Bus umum? Nggak ada juga. Untungnya sih, jaman sekarang udah tersebar ojek online dimana-mana. Tiba-tiba .... Byurrr! Allegra kaget lalu melotot melihat bajunya yang sudah kotor kena cipratan bekas air hujan. Dia lalu mendapati bagian belakang Samudera dan motornya yang terus melaju. "Dasar s****n! Gue doain nabrak terus mampus lo ya!" pekiknya menyumpah. *** Allegra sudah lelah dengan keadaan ini. Keadaan dimana teman-temannya berbalik tidak percaya padanya dan malah percaya pada orang lain yang bahkan tidak begitu mereka kenal. Alhasil, yang gadis itu lakukan cuma diam. "Gila kali, ya nggak mungkin lah Samudera sejahat itu," desis Endah. "Ya, ya, terserah ya, gue capek debat," pasrah Allegra. Dia hanya ingin mengunci mulutnya saat ini. Percuma juga kan ngomong panjang lebar kalau ujung-ujungnya syaiton itu nggak percaya? Allegra menenggelamkan wajahnya ke atas meja. Serius, mood-nya berantakan pagi ini. Bayangin aja, datang ke sekolah dengan baju kotor kena cipratan air lumpur bekas hujan. Harusnya Allegra langsung pulang, tapi sialnya dia ingat hari ini ada ulangan biologi. "Eh, duduk! Nek Wan dateng tuh," kata Fakhri--si Ketua kelas--memperingatkan. Nek Wan itu bukan nama sebenarnya ya. Itu cuma panggilan 'sayang' dari anak-anak kelas XII IPA 2 untuk guru Biologi mereka--Bu Aminah. Kalau kamu mau tau, guru ini cerewetnya minta ampun! Kayak nenek-nenek baru menopouse. Apapun tugas yang dikerjakan, kalau nggak sesuai sama maunya guru ini, bakal disuruh ulang dari awal. Bahkan kalau lagi s**l, bisa-bisa diberi nilai seenak hati. Ini nih sebabnya Bu Aminah dipanggil Nek Wan. Nggak tau juga siapa yang mencetuskan, tapi rasanya memang cocok walau terasa kurang ajar. Allegra segera menegakkan duduknya. Datang-datang, Bu Aminah sudah menunjukkan wajah yang sepertinya 'bad mood'. Pertanda buruk. "Selamat pagi, ulangan kan?" katanya ketus. "Iya, Bu," jawab seisi kelas serempak. "Keluarkan kertas selembar," perintah Bu Aminah sambil membagikan selebaran soal ulangan yang sepertinya baru saja di-print. Allegra yang duduk di baris kedua tersentak waktu Bu Aminah menatapnya tajam, "Kenapa baju kamu kotor begitu?" Tegang dong ya Allegra. Dimarahi nenek-nenek tercerewet sejagat raya, Sis. Sedangkan Garnet--dengan kurang ajarnya--melemparkan tatapan 'mampus lo dimarahin nenek'. "A-anu Bu, tadi k-kena cipratan air di j-jalan," gagapnya. "Kamu ini ya, mau sekolah tapi kotor begitu. Ngeganggu aja! Kalau saya punya menantu kayak kamu mungkin saya darah tinggi! Hih, amit-amit! Udah muka pas-pasan, jorok lagi!" seru Bu Aminah. Membuat seisi kelas menahan tawa geli. Allegra mengerutkan dahinya. Baru saja, dia merasa terhina. Bukan mau Allegra dia jadi kotor seperti ini. Dan yang terpenting, bukan mau Allegra terlahir dengan wajah pas-pasan atau apalah itu. "Siapa juga yang mau jadi menantu Ibu," bisik Allegra sebal. "Apa kamu bilang?" Bu Aminah meninggikan suaranya yang memang daritadi sudah tinggi. "Keluar kamu dari kelas saya! Nggak usah ikut ulangan!" Allegra berdiri dan keluar kelas, sesuai perintah Bu Aminah dengan d**a yang memanas. *** Satu hal yang paling Allegra tidak suka di dunia ini adalah mengait-ngaitkan fisik seseorang dengan hal apapun. Rasanya terlalu tidak adil jika semua hal dikaitkan dengan fisik. Padahal masih banyak aspek lain yang bisa dibahas. Dan ya, Allegra cukup sakit hati dengan perkataan Bu Aminah tadi. Allegra meredakan emosinya. Dia tau, kalau nenek-nenek memang cerewet dan asal bicara. Allegra memakluminya. Sakit hatinya pada Bu Aminah dia buang jauh-jauh. Tapi yang dia sesali cuma satu, emosi sesaatnya tadi membuatnya diusir dari kelas dan tidak mengikuti ulangan. Padahal ini semester kelima, dimana nilainya menjadi begitu penting. Ah, balik sekolah gue harus minta maaf sama Bu Aminah. Ini semua gara-gara Samudera s****n itu! Allegra lalu berdiri dan melewati kelas XII IPA 3, Samudera duduk tenang di sana mengikuti pelajaran Bahasa Inggris. Kalau saja perdukunan itu halal, maka Allegra sudah menyantet Samudera sejak lama. Samudera menyadari kehadiran Allegra, dia melihat ke arah pintu. Allegra tersenyum sarkastik dan mengacungkan jari tengahnya untuk Samudera. "Ngapain kamu di situ? Dan kenapa tangan kamu begitu?" Mungkin beginilah pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga. Mampus. *** Allegra kira, stok nasib sialnya hari ini sudah habis. Nyatanya belum. Malapetaka lain hadir ketika jam pelajaran Bahasa Mandarin. Sesuai janji Laoshi, kelas Mandarin kali ini adalah kelas gabungan. IPA 1 sampai IPS 3 berkumpul dalam satu aula besar. Khusus untuk mempresentasikan hasil kerja kelompok berupa kaligrafi. Ada dua hal yang membuat Allegra melabeli hal ini sebagai kesialan. Pertama, Samudera. Perkumpulan di aula semacam ini membuat Allegra mau tak mau bertemu Samudera. Meski banyak manusia-manusia lainnya, Samudera tetap tampak menonjol karena sedari tadi siswa-siswi lain sibuk berinteraksi dengannya. Alasan kedua adalah karena kelompok Allegra dipilih untuk maju mempresentasikan hasil kerjanya. Allegra, Aksara, dan Tata maju ke depan sementara Leon memang sedang absen karena mewakili sekolah dalam pertandingan basket hari ini. Allegra membantu Aksara merentangkan sebuah kain gulungan besar warna putih dengan pegangan kayu di kedua ujungnya. Kain itu telah ditulis apik oleh Aksara. Sedangkan Tata sendiri sedang bersiap-siap untuk mempresentasikan salindia yang telah Allegra buat. "Baik, selamat siang, Teman-teman. Selamat siang, Laoshi. Perkenalkan saya Raden Roro Thalitahira atau biasa dipanggil Tata. Saya adalah perwakilan dari kelompok 3 kelas XII IPA 2. Di sebelah kanan ada rekan kelompok saya yang sedang memegang hasil kerja kelompok kami, yaitu Aksara dan Allegra," papar Tata. Hasil kerja kelompok kami? Bukannya Lo cuma gegoleran di UKS? batin Allegra sinis. "Kami mengambil tema berupa karya klasik yaitu Romance of Three Kingdoms atau dalam bahasa Mandarin-nya adalah San Guo Yan Yi yang bermakna langsung Three Kingdoms Performing Yi. Dikenal sebagai Samkok di kalangan suku Tionghoa berbahasa Hokkien Indonesia. Ditulis oleh Luo Guangzhong." Tata lancar menjelaskan materi sampai ke titik itu. Semuanya memburuk pada slide-slide selanjutnya. Tata tak bisa menjelaskan poin-poin yang sengaja Allegra buat singkat agar orang tidak mengantuk ketika membaca salindia mereka. "Cerita ini mengisahkan tentang ...." Tata terdiam cukup lama sambil tampak kebingungan. Diamnya Tata jelas mengundang ricuh kecil. Siswa-siswi lain mulai berbisik-bisik entah apa. "Psst!" desis Allegra memberi isyarat pada Tata untuk menoleh. Begitu Tata menoleh, Allegra berbisik dari kejauhan, "Tentang tiga pemimpin yang berebut kekuasaan Dinasti Han yang udah runtuh!" Tata mengangguk mengerti. Allegra merasa sedikit lega tapi nampaknya komunikasi gagal terlaksana. "Menceritakan tentang tiga pemimpin kerajaan yang jatuh cinta," kata Tata. Sinyal yang Allegra kirim rupanya diterjemahkan dengan salah. Allegra mengusap wajahnya lalu menunduk. Habis sudah. "Berhenti dulu," kata Laoshi. "Kamu yakin Romance of Three Kingdoms menceritakan tentang itu?" Tata ikut menunduk. "Kalian kurang riset apa gimana? Nggak dicari bener-bener ya? Kalian anggap pelajaran saya main-main?" hardik Laoshi Sian di hadapan seluruh siswa. "Keluar kalian! Saya nggak mau lihat kerja kelompok asal-asalan begini!" Seisi aula terdiam. Samudera di belakang sana memberi senyuman sinis yang membuat Allegra makin kesal. Dengan berat hati, Allegra melangkahkan kakinya keluar aula, diikuti Aksara dan Tata. Sesampainya di luar aula, Allegra langsung terduduk di tangga, menempel tembok, meratapi nasibnya. Sungguh s**l ia hari ini. Percuma saja dia habiskan waktu berjam-jam untuk riset materi dan membuat salindia. Malah berakhir begini. "Allegra!" panggil Tata. Wajahnya tampak tidak suka. "Lo kalau bikin slide presentasi yang bener dong! Poin-poin gitu doang mana gue ngerti!" Nadanya yang tinggi membuat Allegra makin emosi. Bukankah dia yang berhak marah karena insiden ini? "Apa? Kok lo malah nyalahin gue? Lo tau nggak yang namanya power point itu ya emang seharusnya cuma poin doang! Gue juga udah kasih slide-nya dari tiga hari yang lalu ya, Ta! Materi lengkapnya juga udah gue kasih ke elo! Lo nya aja yang gimana? Lo nggak baca materinya, kan?" balas Allegra, mengeluarkan seluruh unek-unek yang dia pendam sedari tadi. "Lo nggak tau ya gue sibuk? Banyak hal yang harus gue urus, makanya gue nggak sempet! Lo harusnya bikin slide nya lebih mudah dipahami dong!" ujar Tata. "Eh, udah-udah! Nggak ada gunanya berantem!" seru Aksara, mencoba menengahi. Tata malah melemparkan tatapan sinis yang membuat Allegra makin panas. Ditambah dengan kata-kata dari mulutnya yang meloncat masuk ke jantung Allegra bagai api neraka, "Apa ini kesengajaan lo? Lo sengaja mau buat gue malu? Lo mau bales dendam karena Aksara suka sama gue, bukannya sama elo?" "Tata! Lo ngomong apaan sih!" ujar Aksara kaget. Allegra terdiam. Sesuatu dalam rongga dadanya terasa teralu nyeri untuk bicara. "Kenapa diam? Mau ngelak? Satu sekolah juga tau kali, kalau lo suka sama Aksara! Sadar diri lah! Lo nggak akan pernah bisa ngalahin gue, apalagi masalah cowok. Alasannya? Ngaca aja deh pokoknya!" "Tata!" Aksara langsung menarik Tata, membawanya pergi menjauhi Allegra yang berdiri kaku di atas kedua kakinya. Air matanya terjatuh. Nyeri, sungguh nyeri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN