"Ih! Dasar makhluk astral! Nggak bisa banget lihat orang seneng!" Allegra uring-uringan sambil melempar tasnya ke atas kasur lalu mencuci muka di kamar mandi. Tepat saat wajahnya dibasuh dengan air segar, dia teringat bagaimana Samudera menyunggingkan senyum liciknya itu di depan pagar begitu Allegra dan Antariksa tiba. Seolah Samudera memang sengaja membatalkan acara 'makan bersama' Allegra-Antariksa.
Padahal nih ya, Allegra sudah menyiapkan berbagai skenario di otaknya. Rencananya gadis itu akan sengaja makan belepotan biar dibersihin Antariksa kayak di drama gitu lho. Belum lagi skenario tentang Allegra yang pura-pura tak sengaja memegang tangan Antariksa. Kan asik banget tuh ya. Tapi seperti biasa, skenario di otak Allegra itu tetap menjadi skenario. Tidak pernah terealisasi dan diolah jadi nyata.
Sama, waktu naksir sama Aksara juga gitu. Pernah tuh kan Allegra duduk sama Aksara pas ulangan Matematika. Jadi guru Matematika mereka memang suka mindah-mindahin tempat duduk kalau ulangan harian. Si A sama Si C, Si Z sama si X, dan kebetulannya Allegra duduk di samping Aksara.
Allegra dan skenarionya sudah benar-benar siap. Bahkan urutan topik yang akan mereka bicarakan juga sudah ada di otak Allegra. Tapi ... ya gitu ... ujung-ujungnya Allegra cuma mati kutu. Mingkem kayak orang bisu.
Sekarang, giliran Allegra mau mencoba merealisasikan segala skenario di otaknya, ada aja yang ngeganggu. Ya, Samudera. Kalau Samudera itu kutu, pasti udah dipites sama Allegra. Kalau Samudera itu daging ayam, pasti udah dicincang-cincang sama Allegra. Dan kalau saja Samudera bukan adik dari seorang Antariksa yang tampan dan baik hati, pasti Allegra udah pergi ke dukun buat nyanyet dia.
Allegra menutup matanya. Memang benar kata orang, ekspektasi tidak pernah seindah realitas.
***
Senin pagi adalah momok bagi hampir seluruh penghuni bumi ini. Dimana rutinitas mingguan kembali di mulai. Mahasiswa kembali ke kampus, pekerja kantoran kembali menghadap tugas-tugasnya, dan pelajar kembali ke sekolah plus upacara pengibaran bendera yang menguras tenaga hasil sarapan sebanyak 70 persen.
Panas dan capek. Dua hal yang sangat berkaitan dengan upacara. Ada aja alasan yang bikin malas upacara. Apalagi biasanya guru-guru ngasih amanat sepanjang kereta api tanpa peduli murid-muridnya banyak yang pingsan.
Apapun alasannya, sebenarnya 'malas' upacara itu salah. Upacara itu salah satu bentuk mengisi kemerdekaan. Gampang kok, kita cuma disuruh tertib, tenang, dan khidmat waktu upacara bendera. Walaupun panas, melelahkan, dan menguras banyak energi, tapi itu masih nggak seberapa kan kalau dibanding dengan perjuangan pahlawan bangsa kita dulu?
Itulah sebabnya Allegra nggak pernah ngeluh pas upacara bendera, karena dia tau diri, dia ini penerus bangsa. Kalau bukan dia yang menghargai para pahlawan, terus siapa lagi?
Biasanya sih Allegra nahan-nahan rasa capeknya habis upacara. Tapi sekarang rasanya nggak perlu karena upacara ditiadakan. Bukan tanpa alasan, tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya. Mungkin Tuhan sedang berbaik hati membiarkan hamba-hambanya yang malas upacara untuk beristirahat dengan tenang.
Kendati demikian, Allegra tidak merasa senang. Bukan karena dia ingin upacara, tapi karena tetesan air yang membasahi bumi pagi ini mengingatkannya lagi tentang Aksara dan Tata di belakang kelas sore itu--waktu pelajaran Kimia.
Belakangan ini, tiap hujan turun Allegra akan mengingat hal ini terus menerus. Menyebalkan. Rasa-rasanya sih Allegra udah move on ke Antariksa, tapi kok masih aja sebal ya kalau ingat bagaimana mereka ngobrol asik? Allegra jadi benci sekali waktu hujan turun. Padahal hujan tidak salah apa-apa, yang salah itu kenangan yang ada di dalamnya.
Kalau saja ada jin yang lewat tiba-tiba dan bilang 'kuberi kau satu permintaan' kayak di iklan TV, maka Allegra akan melakukan empat hal. Pertama, menggandakan satu permintaan menjadi dua. Dua, minta kenangan tentang Aksara-Tata waktu hujan digantikan dengan kenangan lain. Ketiga, minta dipertemukan dengan laki-laki tampan yang bisa menjelaskan 'apa itu cantik' padanya.
Poin terakhir itu cukup serius, Allegra memang ingin sekali bertemu dengan seorang laki-laki yang bisa menjelaskan makna cantik padanya. Definisi cantik yang terdengar masuk akal, tidak berlebihan, bukan bualan, dan klop di hatinya. Allegra mungkin akan benar-benar jatuh cinta dengan laki-laki seperti itu. Tapi dimana Allegra bisa menemukan laki-laki seperti itu?
"Hoi, Le! Ngelamun aja lo!" gertak Endah.
Allegra yang sedang bertopang dagu di mejanya cuma mengerlingkan mata malas.
"Tau nggak? Katanya IPA 3 ada anak baru," seru Endah dengan semangat.
Endah memang paling semangat kalau urusan 'anak baru'. Dia ini tipe-tipe penggemar novel Teenlit yang temanya tentang 'anak-baru-ganteng-dan-kasar' gitu lho. Masalahnya, sepanjang dia bersekolah di SMA 33 ini, murid barunya selalu cewek. Kalau cowok pun biasanya aneh, nggak seganteng ekspektasi Endah.
"Halah, paling juga cewek lagi," desis Allegra.
"Ih, nggak! Firasat gue kali ini cowok! Serius deh!" Endah keukeuh.
"Iya deh terserah."
Setelahnya, murid-murid kelas XII IPA 2 berhamburan duduk ke bangku masing-masing. Bu Nina--guru Matematika yang killer-nya amit-amit--memasuki kelas, lengkap dengan kertas hasil ulangan harian minggu lalu di tangannya.
***
"Gila sih lo, Le, katanya nggak suka matematika tapi dapet 100!" decak Bianda sebal.
"Au ah si Alle!" tambah Gendis.
"Ih kalian tuh ya, siapa suruh nggak belajar?" kata Garnet santai. Garnet emang gini, baik. Suka belain Allegra. Beda sama Allegra yang suka bully dia. Bukan bully ekstrem kayak di pikiran kalian lho ya, cuma suka ngeskakmat pakai kata-kata.
Yang lain cuma mendengus kesal. Kata-kata Garnet itu memang benar, kunci utama dari semua nilai akademis ya cuma belajar. Beda lagi soal cinta, mau berjuang jungkir balik juga kalau nggak suka ya nggak bisa. Apalagi yang seleranya tinggi kayak Aksara. Duh kan ya, Allegra jadi ingat Aksara lagi. Mana hujan nggak berhenti dari tadi pagi.
Bicara soal Aksara, perasaan Allegra tidak terdefinisikan. Dia sudah tidak gila mengenai Aksara seperti sebelum-sebelumnya. Tapi tidak juga lupa begitu saja. Fifty-fifty lah.
"Eh yuk ke IPA 3, kita lihat anak baru," ajak Endah.
"Apaan sih? Nggak guna, tiap ada anak baru lo pasti paling sibuk," tolak Gendis.
"Ih biarin."
"Toh dia nggak mau kenal lo juga, Ndah." Skakmat. Kata-kata Allegra bikin Endah manyun sebel.
Sehabis bikin Endah mati kutu, Allegra kembali tenggelam dalam pikirannya. Ya Allah, tolong dong kenangan waktu lihat hujan begini diganti sama kenangan yang lain, jangan tentang Aksara.
"Le! Le! Allegra!" Garnet menepuk bahunya. Membuat Allegra tersentak.
"Apaan?" tanya Allegra.
Garnet menunjuk ke arah pintu. Allegra menganga, seorang laki-laki berdiri di depan pintu kelasnya. Seragam putih abu-abu yang rapi, dan senyum mengejek yang terasa menyebalkan. Dia ... Samudera.
Di antara derai hujan yang makin deras, kenangan tentang 'Aksara-Tata' di belakang kelas telah tergantikan. Sebegini cepatnya Tuhan mengabulkan doa Allegra?
"Anjir! Lo ngapain coba di sini?" ketus Allegra.
Laki-laki itu tertawa sarkastik, "Ya elah, lo kira ini sekolah punya nenek moyang lo apa?"
Allegra berdecih. Mukanya seriusan nggak santai, lecek kayak baju belum diseterika. Suara hujan yang makin keras bikin Allegra makin keruh.
Bayangin aja ya, di tengah Allegra yang ingin menghapuskan kenangan buruk saat hujan, tiba-tiba hal lain yang tidak kalah buruk juga muncul saat hujan. Coba tebak apa?
Samudera, Sist. Samudera si tetangga menyebalkan yang followers-nya berjibun itu tiba-tiba mejeng di depan kelas Allegra. Bikin seisi kelas shock. Sialnya lagi, ternyata dia ini anak baru kelas XII IPA 3 yang Endah bilang itu. Tapi tau apa yang lebih-lebih s**l? Samudera yang mejeng depan kelas tadi masang senyum sok manis--memang manis sih--sambil manggil Allegra seolah mereka ini teman dekat. Teman-teman Allegra bisa salah paham!
Lalu sekarang mereka di sini, di salah satu ujung koridor yang sepi dan letaknya agak tersembunyi. Sengaja, Allegra tidak mau jadi pusat perhatian.
"Lo kan bisa sekolah di tempat lain, ngapain sih harus di sini?!" protes Allegra.
"Terserah gue dong. Lo seharusnya bersikap baik sama gue. Atau lo mau gue sebarin ke satu sekolah kalau lo itu tukang ngintipin orang? Mereka pasti percaya sama gue," sindir Samudera.
Allegra naik pitam, "Udah gue bilang berulang kali, gue itu nggak ngintipin lo! Gue itu maunya ngintip Kakak lo!"
Eh?
Apa barusan?
Oops, Allegra keceplosan. Sontak gadis itu menutup mulutnya. Sadar bahwa yang dikatakannya tadi salah besar. Sedangkan Samudera tersenyum miring, "Oh, jadi gitu ya? Bilang ke Anta ah."
"Eh, eh, jangan! Bukan gitu maksud gue!" Allegra berusaha meralat perkataannya.
Tapi, Samudera bukanlah si bodoh yang alan percaya dengan seluruh perkataan Allegra. Samudera cerdas. Dan poin lainnya, dia licik.
"Udah ah ya, gue mau masuk kelas." Samudera memutar badannya lalu melambaikan tangan. Allegra berdecak menyesal. Gadis itu tau, bahwa kehidupannya akan jauh lebih susah mulai sekarang.
Allegra teringat soal imajinasinya tentang 'bertemu jin' tadi pagi. Ia masih menginginkan hal yang sedikit berbeda kalau saja ada jin yang lewat tiba-tiba. Menggandakan permintaan jadi tiga, minta kenangan saat hujan tentang Aksara dan Tata tergantikan--yang sialnya sudah terkabul dengan kedatangan Samudera--, bertemu sengan laki-laki yang bisa menjelaskan definisi cantik padanya, dan terakhir ... dia ingin Samudera lenyap dari hidupnya.
***
Baru hari pertama Samudera masuk ke sekolah, Allegra sudah dibuat repot. Teman-teman sekelasnya lagi-lagi bertanya soal Samudera padanya. Pusing!
Memang ya, saat 'hari hujan' nggak pernah jadi hari keberuntungan buat Allegra. Ada aja yang bikin kesal.
"Ya ampun, Le! Kenalin dong sama Samudera!" paksa Bianda. Allegra muak, serius. Ini sudah ke-16 kalinya Bianda dan teman-teman meminta Allegra untuk mengenalkannya dengan Samudera.
Kenapa juga sih Allegra harus punya tetangga seterkenal itu? Nyebelin pula! Bikin repot aja!
"Ih kenalan aja sendiri. Lagian nih ya, gue nggak mau deket-deket dia," tolak Allegra untuk kesekian kali.
"Ah, pelit banget deh lo. Punya tetangga dan teman seganteng itu nggak bagi-bagi," rutuk Endah.
"Iya ah, payah!" tambah Garnet.
Allegra memutar bola matanya sebal. Tolong deh ya, nggak ada apa yang ngerti keadaan Allegra?
"Mending lo ralat kata-kata lo deh, Ndah. Dia itu bukan temen gue," ujar Allegra.
Endah tertawa sarkastik, "Gila ya lo, emang lo nggak mau punya temen seganteng dan seterkenal dia? Oceandera lho, Le! Begitu lo jadi temen deket dia pasti banyak banget manfaatnya!"
"Serius ya, ganteng sama terkenal itu nggak guna kalau bisanya cuma bikin susah," tandas Allegra lalu menyambar tasnya.
"Ih Allegra nggak asik dah," gerutu Gendis.
Allegra tak peduli, yang dia mau cuma cepat sampai di rumah dan berbaring di kasur kesayangannya. Menghilangkan penat dan kesalnya hari ini.
Allegra mengecek ponselnya, pukul 3 lebih dua puluh menit dan Papa masih juga belum muncul. Aroma sehabis hujan menyeruak memenuhi hidung Allegra. Menenangkan.
Allegra memainkan genangan air yang ada di bawahnya dengan kaki. Mengalihkan perhatiannya dari betapa lamanya menunggu Papa. Allegra bisa melihat refleksi wajahnya dari genangan air itu. Coba gue secantik Tata.
"Hoi!" gertakan dari arah belakang mengejutkan Allegra. Itu Samudera. Si tetangga tampan nan terkenal yang punya sifat suka merepotkan.
"Apaan sih lo? Jangan deket-deket deh, nanti orang kira kita akrab lagi," decak Allegra. Tangannya mengibas-ngibas, mengusir Allegra.
"Harusnya lo seneng dong deket sama gue? Ganteng gini." Narsis. Asli narsis. Walaupun emang benar sih.
Secara objektif, Samudera ini memang ganteng. Meskipun mukanya nggak ada mirip-miripnya sama Antariksa, tetap saja ganteng. Mukanya bule-bule gitu dengan kulit super pucat mirip Edward Cullen di film Twilight dan rambutnya yang hitam pekat, perfect match. Belum lagi perawakannya yang tinggi menjulang, hidungnya yang mancung kayak perosotan anak TK dan senyumnya yang memang udah manis alami. Kurangnya satu, kurus banget. Kayak kurang gizi gitu, nggak segitunya juga sih.
"Idih!" protes Allegra.
"Bareng balik nggak?" tanya Samudera.
Allegra diam. Dia lelah menunggu Papanya di sini, tapi rasanya akan lebih melelahkan kalau pulang bersama Samudera. Samudera kan tipikal manusia yang suka bikin repot.
"Ya udah kalau nggak mau, jangan nyesel lho ya," potong Samudera cepat. Dia lalu berteriak, "Anta! Si Alle nggak mau pulang bareng kita."
Sontak Allegra membulatkan matanya. Dia baru sadar, kalau ada Antariksa di depan mobil SUV-nya di seberang sana. Aduh, ada Bang Riksa ternyata! "Eh, gue bareng lo aja!" Ya kali mau nolak pulang bareng cogan.
Samudera tersenyum miring.
***
Selama ini, cuma ada satu hal yang Allegra benci. Yaitu, cewek-cewek kecentilan yang suka cari perhatian. Siapa juga sih yang nggak benci sama model begituan? Suara sok diimutin, d**a dibusungin, sok nggak bisa ini itu biar dimanjain. Ngelihatnya aja udah sukses bikin mata Allegra gatel-gatel. Cowok-cowok sih suka aja sama yang model begitu.
Tapi mulai detik ini rasanya ada satu hal lagi yang resmi masuk ke dalam list hal paling dibenci Allegra. Bukan barang, bukan juga kecoa terbang, melainkan Samudera. Laki-laki bernama lengkap Samudera Aidil Sitradivari itu benar-benar bertopeng banyak! Tau sendiri kan seberapa menyebalkannya dia pada Allegra selama ini? Sekarang, lebih menyebalkan lagi, karena makhluk astral itu mendadak jadi anak manis nan sopan di hadapan Kakaknya.
"Ta, i'm pretty hungry," ajak Samudera.
Samudera ini memang nggak manggil Kak atau Bang ke Antariksa. Ya gitu manggilnya, 'Anta'.
Dan ya ... sepanjang perjalanan, dua makhluk tampan itu berbincang-bincang full english. Kalau Allegra super sebal waktu lihat Samudera ngomong inggris, beda lagi pada Antariksa. Allegra malah lumer. Suaranya itu lho, seksi abis!
"Makan dulu ya, Le?" tanya Antariksa.
Allegra tidak mengangguk, tidak juga menggeleng. Bukannya Allegra nggak mau makan sama Antariksa, yang Allegra nggak mau itu makan sama Samudera. Allegra udah enek banget lihat muka Samudera. Gimana dong nih?
"How if we eat ayam geprek? Sounds good right?" usul Samudera.
Allegra mengernyit. Ayam geprek nggak terlalu asing di telinganya, booming banget di Pontianak beberapa waktu lalu. Tapi masalahnya, yang namanya ayam geprek itu dimana-mana pedas. Biarpun cuma level 1, buat ukuran orang yang nggak begitu tahan pedas kayak Allegra sih pasti udah cukup buat bikin lidah kebakar.
Antariksa menepikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah makan yang menjual ayam geprek. Ramai. Padahal ini sudah sore, bukan lagi jam makan siang.
"Kamu nggak papa Le rame-rame begini? Pasti gerah banget, kalau kamu keberatan kita bisa cari tempat makan lain kok," tutur Antariksa. Ehm, kata-kata barusan rupanya sukses membuat sendi-sendi lutut Allegra melemas.
"Nggak papa kok, Bang," ucap Allegra.
Setelahnya, mereka keluar dari mobil dan memasuki rumah makan itu. Samudera bertugas memesan makanan, sedangkan Antariksa dan Allegra langsung duduk di salah satu pojok tempat bernuansa kayu ini. Ah, enaknya mojok sama cogan. Lebih enak lagi kalau Samudera s****n itu nggak ada.
Tak lama kemudian manusia yang namanya Allegra sebut dalam batinnya tadi muncul. Dia baru saja mendudukan pantatnya di samping Antariksa ketika pelayan datang membawa pesanan mereka. Tiga porsi ayam geprek lengkap dengan nasi dan tiga gelas es teh manis.
"Actually you should order warm tea, Sam. Pontianak raining for a day, the weather so cold. Allegra might be catch a cold," kata Antariksa.
"Sorry, i don't know."
"Eh, nggak papa kok es teh," ucap Allegra menengahi. Jangan salah ya, Allegra paham kok mereka ngomong apa.
Sang pelayan pergi meninggalkan Allegra yang sekarang melotot menatap piring di depannya. Ini cabe apa cabe?
Seingat Allegra, tadi dia sudah bilang pada Samudera untuk memesankannya level 1, tapi kok yang datang malah begini? Creepy.
Satu suap, oke, nggak terlalu pedes kok.
Dua suap, yakin yang begini ini level 1?
Tiga suap, Allegra sudah tidak mampu berkata-kata walau cuma dalam hati. Yang dia lakukan sekarang mangap-mangap kepedasan sambil berkali-kali menyeruput es tehnya. Wajahnya merah dan dibanjiri keringat. Yang dia pikirkan cuma satu, Ya Allah ini muka gue udah kayak apa bentuknya? Kan harusnya makan cantik di depan Bang Riksa!
Antariksa menyodorkan tisu pada Allegra, "Pedes banget ya, Le?"
Allegra ngangguk, ditatapnya Samudera. Pemuda itu memiringkan bibirnya, tersenyum licik.