Allegra terbangun karena cahaya matahari yang menyelinap masuk lewat celah-celah jendela kamarnya. Dia meregangkan seluruh tubuhnya. Mengusir pusing di kepalanya yang timbul akibat terlalu banyak menangis semalam. Meski demikian, tubuhnya terasa ringan. Rasa-rasanya ini adalah tidur paling nyenyak yang pernah dia rasakan selama 12 tahun belakangan. Mau bagaimanapun, rumah tetaplah rumah. Sejauh apapun melangkah, nyatanya tak ada tempat yang lebih nyaman dari rumah. Allegra sedang terduduk di kasurnya sambil mengumpulkan kesadaran ketika Adagia menggedor-gedor pintu kamarnya dengan tidak sopan. Tok! Tok! Tok! Tok! Tok! "Iya, sabar!" ujar Allegra agak kesal. Dia membuka pintu kamarnya. Mendapati Adagia sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Melihat adik satu-satunya tampak polos dengan se

