BAB. 2

1311 Kata
Gue tersenyum lebar menatap papan yang bertuliskan SMA NUSANTARA. Sejak dulu gue memang berharap ingin masuk di sekolah ini dan ya dengan usaha dan kerja keras gue selama berhari-hari belajar dan muter otak setiap mengerjakan soal dan bersaing diri dengan ratusan orang yang ingin masuk ke sekolah ini. Akhirnya gue menjadi salah satu dari mereka. Sampai di dalam sekolah, mata gue menjelajah ke seluruh tempat. Banyaknya orang yang seliweran ke sana kemari membuat gue kesulitan untuk mencari seseorang yang sejak pagi susah gue hubungin nomornya. "Dia ini nyebelin banget sih, sok ngartis pula. Udah di wa bukannya di bales juga Ngeselin!" gerutu gue sambil berjalan mencari satu atau dua orang yang seenggaknya pernah satu kelas sama gue saat di masa MOS beberapa hari yang lalu. Ah! Seandainya aja Chyntya satu sekolah sama gue, mungkin gue udah punya kawan yang gue kenal. Gak kayak gini. Chyntya ini adalah salah satu sahabat gue yang sudah mencomblangkan gue sama pacar gue yang sekarang ini. Udah ah. Gue gak mau merusak suasana euforia gue yang bahagia banget akhirnya gue bisa memakai seragam putih abu-abu, membuat gue merasa sudah seperti anak remaja yang memang anak remaja banget gitu. Pokoknya gitulah susah gue jelasin. Lebih kayak dewasa saja dari pada saat-saat dahulu meskipun umur gue masih tujuh belas tahun sekarang ini. Tapi dengan suasana baru ini membuat gue merasa sangat asing. Terlebih gue sendirian dan pacar pun gue wa-in malah gak di bales-bales. Serasa jomblo banget gue. "Aw!" Gue mengaduh kesakitan ketika bahu gue di tabrak gitu aja sama orang yang pas bahunya bersentuhan sama gue itu kayak batu tau gak. Eh, lebay ya? Gak segitu juga sih sebenarnya. Tapi sumpah itu bahu keras banget. "Eh, sori-sori lo gapapa?" tanya ia. Kepala gue masih menunduk sedikit. Drama banget, sih, dalam hati gue. Tapi gak lama dari itu..... Gue berhenti menggerutu. Pas gue mendongak. Sumpah serasa ini bumi kayak berhenti berputar. Dan mata cowok yang selama ini membuat gue terbayang-bayang nggak bisa tidur berhasil menghentak gue jauh ke alam sadar gue. Gue terbengong kayak orang b**o. "Hey? Lo gapapa 'kan? Apa perlu kita ke UKS?" "Dek?" Gue tersentak halus. Ketika bahu gue di sentuh oleh cewek yang berdiri di samping cowok yang sudah sering banget menghipnotis gue. Salsa. Dia kakak kelas gue dan yang di sampingnya. "Eh, gak perlu kak Krisna, maaf ya tadi gue jalan gak liat-liat," ucap gue sangat malu. Dia tersenyum tersipis saja kemudian dia pergi bersama temannya setelah mengucapkan kata maaf sekali lagi. Krisna Adhyastha Prasaja adalah ketua osis di sekolah ini yang sayang banget dia udah kelas 12 dan beberapa bulan ke depan dia udah gak akan lagi aktif di organisasi itu. Sebenarnya gue agak rela kalo dia bakal lulus nantinya sedangkan gue nantinya gak akan bisa lagi ketemu sama dia. Seandainya aja gue bisa deketin dia tapi itu mana mungkin sementara gue aja udah punya pacar. Ya, pacar yang sangat menyebalkan. Kadang suka menghilang tiba-tiba dan selalu tebar pesona kemana-mana. Namanya itu Chandra Adelio Cetta.Yang sudah pacaran sama gue dari waktu kelas 3 SMP. Dan akhir bulan nanti gue bakalan satu tahun pacaran sama dia. "Sayang sori ya, ponsel aku tadi matiin pas ngecas eh di jalan aku lupa ngidupinnya. Maaf ya sayang! Hey, sayang!" Bodo amat! Bodo amat! Bodo amat!! Mulut gue terus ngomong kayak gitu tapi gak bersuara. Gue udah males banget sama alasan-alasan dia yang udah basi banget. Pas tadi gue harus terpaksa berpisah sama kak Krisna yang buru-buru pergi buat ngurusin urusan organisasinya hari ini. Gue terpaksa harus ketemu sama cowok yang lagi-lagi membuat gue sebal. Tadi sih iya gue mau ketemu sama dia tapi untuk sekarang. No! Gue benci banget pas dia itu selalu minta maaf setelah melakukan kesalahan tapi kesalahan yang lalu di ulangi terus. Berulang kali kayak gak ada perubahannya sama sekali. Gue orangnya memang mudah memaafkan tapi gue juga orangnya susah melupakan. "Sayang," dia menahan tangan gue. Sekarang gue harus cari barisan gue karena sebentar lagi bakalan upacara. "Apa sih!" ketus gue. "Kamu yang kenapa?" Aku melotot ke dia. "Aku ini lagi ngomong sama kamu bukan sama angin. Jadi tolong kamu ini jangan pura-pura gak denger. Kamu gak peduli sama aku yang lagi ngomong nanti giliran aku abaikan kamu mau?" tukasnya bernada tinggi, membuat beberapa orang di sekitaran gue melihat ke arah gue. Gue yakin banget pasti mereka ada yang mendengar pertengkaran kami. Jelas. Suara dia kalo udah ngomong itu cempreng banget kayak kaleng rombeng. "Kamu bisa gak sih kecilin suara kamu?" cicit aku sembari mencubit punggung tangannya yang menahan tanganku. "Malu di denger orang," dumelku kepadanya. "Jadi kamu malu punya pacar kayak aku?" Jantungku mencelos gitu aja. Tampang wajahku pasti sudah di foto terus di pasakun sosmed masuk ke akun lambe turah senusantara atau ada lagi yang parahnya snapgramin pertengkaran kami dengan capsnya bocah kencur masih pagi udah adu bacok atau gak pacaran jaman now sekarang ributnya gak liat-liat tempat dulu. "Kok jadi kamu yang marah?" tanyaku balik, sewot gitu nadaku. "Halah, sudahlah, Kat. Capek aku sama kamu. Aku terus yang di salahin," cetusnya, lalu pergi. Meninggalkan aku dengan seeibu sumpah serapah yang ingin aku lontarkan. Rasanya. Pagi ini. Aku pengen. Bunuh. Orang!!! * * * * Selepas upacara semua siswa nggak ada yang boleh pergi dari barisannya karena nanti para siswa harus menonton eskul yang akan di tampilkan, sebab bagi siswa kelas sepuluh harus atau bisa di bilang wajib untuk mengikuti satu eskul di SMA ini. Gue mengibaskan tangan gue karena cuaca lagi panas banget dan parahnya lagi kita di jemur di lapangan untungnya kita di bolehkan duduk tapi tetap pada barisannya. Gue mengambil air minum dalam tas dan gue lupa pas gue mau minum ternyata minumnya abis sedangkan kami gak boleh pergi ke kantin sebelum pertunjukan ini selesai. "Buat kamu." Gue mendongak dengan mata yang menyipit kala gue melihat Chandra menyodorkan s**u rasa coklat kepada gue. Gue menerimanya itu dengan ragu, sebenarnya gue gak mau nerima, gengsi aja gitu walau sama pacar tapi ya gimana dia ngeliatin gue terus. Kelemahan gue 'kan paling gak bisa kalo di tatap sama cowok terus-menerus. Eh? Tiba-tiba dia malah duduk di samping gue, gue beri dia ruang untuk dia agar leluasa bergerak. "Ngapain ke sini? Barisan lo 'kan bukan di sini?" Ketus gue. Kalo lagi kesel ya gue suka gitu. Gak suka ngomong pake aku-kamuan sama pacar. "Nemenin kamu aja, lagian dari tadi di perhatiin manyunnn terus, ilang loh nanti cantiknya." Kekehnya seraya menjawil hidung gue. "Masih marah ya?" tanya ia  "Pikir aja sendiri," ketusku sambil buang muka. "Aneh," gumamnya. Gue mengerutkan kening. "Kenapa?" "Kamu, kan yang seharusnya marah itu aku bukan kamu." Sekarang dia mulai drama. Dia sekarang yang malah menyalahkan diriku. "Apaan sih, harusnya itu aku yang marah. Kamu yang susah di kabarinnya." Elak gue gak terima, masa gue lagi sih yang salah. Dia mengangkat kedua alisnya, "aku 'kan udah jelasin tapi kamu yang malah gak ngehargain aku," dia membuang pandangannya. "Gitu aja marah, dikit-dikit ngambek, apa-apa pengennya dingertiin terus tapi kamu mana pernah ngertiin aku." Gue menahan amarah untuk gak meledak. Apaan, sih, nyebelin banget ini cowok. Bisanya menyalahkan orang saja kerjaannya padahal dia yang buat orang pagi-pagi jadi kesel. "Kalo kamu niatnya ke sini mau ngajak aku berantem mending kamu pergi." Desis gue dengan menekan intonasi gue. Gue sengaja mengakhiri perdebatan ini karena percuma saja bagaimana pun gue di mata dia akan selalu salah dan dia bakalan selalu menyalahkan diri gue. Dia egois dan dia gak mau mengalah. "Jadi kamu ngusir aku? Gini ya balasan kamu ke pacar sendiri?" Seharusnya gue meminta Tuhan untuk memberikan gue muka tebal supaya gue bisa menahan malu dari suara Chandra yang kian meninggi dan mengalihkan perhatian beberapa pasang yang tadinya sedang fokus menonton. "Tau gitu aku gak perlu ke kantin buat beliin beginian. Karna kamu aku rela di marah-marahin sama BK gara-gara ketauan ke kantin," ujar dia lalu melengos pergi. Karena gue? Memangnya gue nyuruh dia ke kantin? Kaum adam hari ini pada kenapa, sih?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN