BAB. 1
Kamu pernah tidak jatuh cinta pada seseorang tapi kamu ragu untuk mengakuinya, kamu tidak berani untuk mengatakannya dan kamu terlalu takut bila dia tau tentang perasaanmu yang sebenarnya bahwa kamu memang benar-benar mencintainya?
Semuanya akan berubah.
Semuanya, termasuk hubunganku dengannya.
Ada banyak alasan yang membuatku untuk menghentikan kisah ini di tengah jalan.
Ya, ada banyak sampai sulit bagiku untuk menceritakannya.
Aku mencintai dia tapi aku pun harus mengalah pada sesuatu yang menjadi penghalang antara diriku dengannya.
Bagaimana bila aku mencintai lelaki seperti dirinya dan sahabatku pun mencintai lelmenceritakanny
Sungguh, ini akan terlalu menyakitkan ...
Sangat
Apa yang harus kulakukan?
. . . .
Untukmu, dariku,
Aku yang pernah hadir di dalam hidupmu dan kamu yang pernah ada di sampingku
Ada bagian dari cerita kita yang sempat terhentikan dan aku menuliskannya dari beberapa kalimat yang semoga kamu mengerti maksudnya
Andai kita kembali dipertemukan
Apakah aku boleh meminta padamu untuk kembali melanjut kisah yang sempat terhentikan?
Bab 1
Kita hidup di dunia pasti memiliki banyak tujuan yang diinginkan. Pasti. Ada banyak yang ingin kita capai seperti mimpi kita yang ingin menjadi apa nantinya. Semua itu pun tidak akan pernah luput dari harapan, doa dan dukungan dari orang terdekat kita yang pasti sangat kita butuhkan.
Seperti diriku, ada banyak keinginan yang ingin ku raih dalam hidup ini salah satunya mimpiku yang ingin menjadi seorang penyanyi. Memiliki nama besar yang di kenal oleh banyak orang.
Setiap malamnya aku terus berlatih dan berlatih karena aku yakin dengan terus belajar apapun bisa kita lalui, meskipun itu sulit.
Tidak semua mimpi kita langsung terwujud, ada masanya kita akan merasakan jatuh dan bangunnya. Oleh itu, jangan pernah menyerah. Yakin saja bila kita pasti akan mewujudkan mimpi itu. Mimpi yang terkadang akan selalu di remehkan oleh banyak orang tapi bila kita memiliki percaya diri dan keyakinan, aku yakin Tuhan akan mengabulkan keinginan kita.
-
-
-
Hari senin itu bagi gue adalah hari yang paling menyenangkan seumur hidup gue, di sekian banyaknya orang yang menganggap hari senin adalah hari tersial buat mereka karena yang pertama; Males berdiri karena upacara dan rela harus panas-panasan. Yang kedua, kita harus siap mendengarkan amanat yang begitu panjanggggg sekali dan pembahasannya itu gak jauh-jauh dari soal kebersihan lingkungan, belajar yang rajin, jadi anak yang baik dan turuti peraturan sekolah terutama jangan terlambat masuk dan jangan membuang sampah di laci meja.
Gue yakin di sekolah baru kalian pasti pembinanya bakal bahas soal itu.
Bagi gue hal itu sangat bagus banget, kenapa? Soalnya banyak dari kita yang gak suka sadar tentang peraturan dan kebersihan. Bukankah sebagai anak pelajar kita harus menerapi sikap disiplin dan rasa peduli kita pada kebersihan?
Tahun ini adalah tahun ajaran baru buat gue yang baru aja masuk kelas 1 SMA.
Gue begitu semangat dan gak sabar buat bisa bergabung dengan teman-teman baru gue. Tapi sayang di tengah kebahagiaan itu sahabat gue gak satu sekolah sama gue. Tapi yaudahlah kita masih bisa sering ketemu kok.
"KATTTTTTE!!!! AYO BURUAN TURUN! SARAPAN DULU! JANGAN LAMA-LAMA DI KAMAR NANTI TELAT!"
Ah, gue baru sadar kalo gue masih di kamar dan masih memandangi diri gue di depan cermin. Karena ini adalah hari pertama gue, citra gue sebagai anak baru gak mau rusak. Termasuk penampilan yang selalu gue kedepankan.
"IYAAA MAA! BENTAR!!" Teriak gue langsung melempar sisir ke atas ranjang.
Terakhir, gue tersenyum manis di depan cermin.
Semangat Katrina!!!
-
-
-
"Pagi Ma! Pa! Jane!" Sapa gue kepada mereka bertiga dan menciumi pipi mereka masing-masing kecuali Jane.
"Sekali aja nyentuh pipi gue," Jane mengacungkan garpu di depan muka gue. "Gue tusuk lo," ancamnya.
"Hahaha!" Gue tertawa. Kakak gue ini gak kalah galaknya sama gue. Kakak gue yang satu ini orangnya emang cuek banget dan gayanya apalagi tomboy banget. Dia paling gak suka di cium-cium. Tapi gue seneng aja kalo ngejahilin kakak gue yang beda setahun ini. Apalagi kalo gue ngambil topi dia yang warnanya hitam ini terus sekarang gue diuber-uber ngelilingin papa yang lagi makan.
"Kate! Balikin gak topi gue!!! Siniiiii!!! Katrinaaaaa!!!" Jane berteriak dan gue ketawa habis liat ekspresinya yang kalo cemberut itu kayak nenek - nenek tua.
"Katrina! Jane! Udah-udah berenti becandaanya." Mama mengintrupsi kami. Gue balikin lagi topinya ke Jane dan langsung di terima dengan kasar dan kembali di pakai ke kepalanya sampai matanya tuh ketutupan.
"Ayo, sayang sarapan dulu, makan yang cepat biar kamu gak telat. Inget ini hari pertama kamu sekolah lho." Mama memberikan nasi goreng ke piring gue lalu dia melepaskan celemek dan ikut makan bersama kami.
"Duh, mah aku gak bisa makan cepet-cepet. Nanti keselek lagi." Keluh gue.
"Manja lo k*****t!" Jane melempar timun ke seragamku.
"Jane! Mah liat tuh dia!" Adu gue ke mama.
"Jane, jangan gitu kasian adek kamu nanti seragamnya kotor lagi." Tegur mama lalu gue dengan senangnya memeletkan lidah gue ke dia. Dia masang tampang cuek sambil memutar bola matanya.
"Nanti kamu mau ambil kegiatan apa Kate di sekolah baru kamu?" Tanya Papa setelah membersihkan bekas makanan di bibirnya.
"Mungkin eskul vocal 'kan aku mau jadi penyanyi." Jawabku dengan cengiran khasku.
"Kayak bakal jadi aja." Celetuk Jane sambil menyeringai sinis. Aku memberenggut.
"Jadi dong. Lo jangan ngeremehin gue Jane, kalo udah jadi penyanyi yang terkenal gue yakin pasti lo bakal minta poto bareng gue terus mamerin ke temen-temen lo kalo lo punya adek seorang penyanyi yang sangat mendunia," ucap gue begitu percaya diri. Semua itu harus di mulai dengan percaya diri dulu. Kalo gak percaya diri sama mimpi sendiri ya gimana mau jadi penyanyi ? Semua itu gak ada yang mustahil kalah Tuhan sudah berkehendak. Gimana nasibnya ke depan yang penting usaha dulu aja. Katrina kan pantang yang namanya menyerah.
"Najis," cibirnya.
Satu kata membuatku gantian melempar dia pake tisu. Bukan timun.
"Jane, kamu jangan ngeremehin adek kamu ini. Harusnya kamu kasih dia motivasi dong kalo dia itu bisa jadi seorang penyanyi yang terkenal kayak Raisa- Kat mau kayak Raisa, Isyana, Agnes 'kan ya?"
"Ya dong Pah," kataku, sambil tersenyum kemenangan kepada Jane. Lihatlah dia kalah lagi.
"Kamu punya bakat Kate, yang penting kamu perlu belajar dan terus berusaha, oke?" Kata Papa menyemangati. Orang tua gue jelas sangat mendukung keputusan gue. Mimpi gue dan apapun yang berhubungan dengan gue.
"Bener Kate apa kata papa kamu itu, tapi kalo kamu udah jadi penyanyi kamu harus tetep rendah hati, ya. Jangan sombong," nasihat mamah.
"Siap Ma!" Jawabku sangat semangat sambil bergerak hormat. Aku merasa sangat senang karena sudah di beri dukungan oleh kedua orangtuaku yang sangat baik dan sangat sayang sekali kepadaku.
Ini yang gue maksud, dukungan dari orang terdekat sangatlah berperan penting untuk kita yang mau memulai perjalanan untuk meraih impian itu.
[]