Gercep

1143 Kata
Charles memandangi Charlos yang tertidur disampingnya setelah diberi sufor olehnya. Wajahnya yang teduh sangat menenangkan hati Charles yang tengah gusar tanpa tahu apa sebabnya. Dibelainya rambut Charlos secara lembut, air matanya jatuh saat menyadari bahwa selama ini dia belum bisa menjadi orang tua yang baik, ditambah lagi Charlos yang belum pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Walau sebenarnya dia berlimpah kasih sayang dari Oma, Opa, dan auntynya, namun pastilah berbeda kasih sayang yang diberikan seorang ibu. Itu lah sebabnya Charles masih ragu untuk menjalin hubungan yang serius, dia takut kalau nanti orang yang akan menjadi ibu sambung Charlos tidak bisa menyanyangi anaknya dengan sepenuh hati. Namun, waktu terus berjalan, usia Charlos sekarang sudah sepuluh bulan, sudah mulai lincah kesana kemari walau masih merangkak, tak mungkin Charles membiarkan anaknya tumbuh tanpa sentuhan kasih sayang dari seorang ibu. "Charlos sudah tidur?" tanya Erin mengagetkan Charles. Buru-buru dia menghapus air matanya dan berdehem menjawab pertanyan Erin. "Ya sudah pindahin dia ke box nya." Erin duduk di tepi ranjang Charles, yang sedang memindahkan Charlos ke box bayinya. "Mama bukannya ingin memaksa kamu untuk segera menikah lagi," ucap Erin yang seolah tahu apa yang sedang dipikirkan Charles. "Mama juga bukannya ingin menyuruh kamu melupakan Kirana secepat ini. Kadang Mama masih suka dengar kamu memanggil-manggil nama Kirana saat tidur. Mama tahu kamu masih mencintai Kirana sampai saat ini, tapi kamu gak boleh egois hanya memikirkan perasaan kamu saja tanpa memikirkan bagaimana Charlos di masa depan. Dari kemarin-kemarin Mama nyuruh kamu untuk mencoba dengan Helen bukan tanpa alasan. Mama gak mungkin serta merta menyuruh kamu menikah dengan Helen tanpa ada pengenalan lebih dulu ‘kan? Makanya mama ngotot nyuruh kamu kenalan sama Helen dulu, karna kalau memang ternyata kamu merasa gak cocok sama dia, walaupun Mama sangat ingin dia menjadi ibu sambung Charlos, Mama gak mungkin memaksa kamu meneruskan hubungan itu. Semua keputusan tetap ada di tangan kamu Charles, Mama hanya memberikan jalan untuk kamu. Bagaimanapun Mama gak mungkin menjerumuskan kamu ke hal yang gak baik," ucap Erin panjang lebar. Charles terdiam meresapi setiap perkataan Erin yang ada benarnya juga. Erin menghampiri Charles, menepuk-nepuk pundaknya kemudian berjalan keluar kamar. *** Tampak Kirana berjalan menjauh dari Charles sambil terseyum, lambat laun lalu menghilang dari pandangan Charles. Sekuat tenaga Charles mengejar dan berteriak memanggil Kirana namun Kirana tak kembali. "Ya ampun Charles, kamu kesiangan. Bukannya kamu ada apel pagi?" Erin datang membangunkan Charles yang basah kuyup karna keringatan. "Ber AC gini kamu bisa sekeringatan ini? Kamu mimpi di kejar harimau?" tanya Erin lagi sambil membuka gorden kamar. "Mimpi Kirana Ma," jawab Charles. "Kamu kirim doa buat Kirana semoga di sana dia tenang dan bahagia," ucap Erin. "Jangan terlalu dipikirkan, yang ada kamu malah gak fokus kerja. Sekarang cepat mandi sana." Erin merapikan tempat tidur Charles. Rasanya seperti mengurusi anak kecil yang mau berangkat sekolah, harus dibangunkan terlebih dulu baru siap-siap. Setelah sarapan, Charles pamit pergi kerja. Setibanya di kantor, ia melihat Helen baru saja keluar dari ruangan bendahara. Buru-buru dia absen hendak mengejar Helen, tapi telat Helen sudah keburu pergi. "Buru-buru mau kemana Bang? Baru juga datang." Tere, polwan yang memasang tampang jutek saat ketemu dengan Helen tempo lalu. "Ada yang mau dikejar tadi, tapi keburu pergi," ucap Charles sambil duduk disamping Tere. "Cewe yang dari bank itu? Yang tiap bulan datang ke sini?" Charles berdehem. "Emang dia siapa sih Bang? Kok kayaknya Abang peduli banget sama dia," tanya Tere kepo. "Ehm,, siapa ya? Belom jelas sih, nanti kalo sudah jelas pasti Abang ceritain." "Lebih baik Abang memperjelas aku aja, ade asuh Abang." Tere memasang tampang sok cantik. "Kamu ada-ada saja, masih muda gini mau nya sama duda kayak Abang anak satu lagi. Masih banyak laki-laki lain yang lebih baik." "Gak apa-apa lagi Bang." "Udah ah, Abang ke ruangan Pak Andri dulu ya." Bergegas Charles meninggalkan Tere sebelum Tere mulai ngomong ngalor ngidul gak jelas. Dari awal ketemu, jelas banget kalo Tere suka sama Charles. Apalagi setelah kepergian Kirana dan mereka ditempatkan di satu kantor, makin bertambahlah kesempatan Tere untuk mendekati kakak asuhnya itu, Charles. *** Sepulang kerja, Helen tak menyadari bahwa Charles mengikutinya. Niat Charles sebenarnya ingin mengejutkan Helen dengan menjemputnya di kantor, tapi menurut info dari Erin, Helen membawa mobil sendiri. Sore ini Helen janji ketemuan dengan Wisnu di salah satu cafe dekat kantor Wisnu. Jalan yang dilalui Helen bukan jalan menuju arah rumahnya, membuat Charles jadi makin penasaran kemana tujuan Helen. "Mau ketemu siapa dia di cafe?" Charles memperlambat laju mobilnya dan membiarkan Helen masuk terlebih dahulu ke dalam cafe. Setelah lima menit, Charles parkir dan langsung masuk ke dalam cafe. Sejenak dia melayangkan pandangannya mencari di mana Helen berada, saat melihat Helen duduk bersama seorang pria dan mereka tampak ceria tertawa lepas, entah kenapa nafas Charles menjadi sesak. Charles menarik nafas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdegup cepat, kemudian berjalan ke arah di mana Helen duduk. Sontak Helen tersedak saat melihat Charles datang. "Bisa dibantu Mas?" tanya Wisnu saat melihat Charles berdiri disamping Helen. "Dia ini calon istri saya. Jadi tolong jaga jarak dan jaga sikapnya ya," ucap Charles yang membuat Helen melongo. "Wah jangan bercanda Mas," ucap Wisnu setengah tertawa. Wajah Charles tampak serius. 'Gak beres nih orang' batin Helen. "Bang, maaf banget ya, Helen duluan." Pamitnya. Dia bener-bener gak enak sama Wisnu dengan sikap aneh Charles hari ini. Dia langsung masuk ke dalam mobil tanpa menghiraukan Charles yang mengetuk-ngetuk kaca mobilnya. Charles tetap mengikuti kemana perginya Helen, yang akhirnya Helen berhenti di rumahnya. Dia langsung masuk dan menutup pintu. Mama yang melihat wajah bete Helen begitu masuk rumah jadi bingung. Buru-buru dia mengikuti Helen masuk ke kamar. "Pulang-pulang kok cemberut sih?" tanya Mama. Helen sibuk membersihkan make up di wajahnya. "Ma, kalau ada yang nyari Helen bilang aja sudah tidur ya. Helen mau mandi dulu.” Helen langsung masuk kamar mandi tanpa menjawab pertanyaan Mama. Bener aja baru sebentar Helen masuk kamar mandi, pintu rumah diketuk oleh seseorang. Mama bergegas membuka pintu. "Cari siapa ya?" tanya Mama pada laki-laki yang berdiri di depannya. "Maaf Tante malam-malam saya bertamu. Saya Charles," ucapnya sambil mengulurkan tanggannya. 'Oh ini yang namanya Charles, good looking' batin Mama. "Silahkan masuk. Tapi tadi Helen bilang dia mau tidur, gak mau ketemu siapa-siapa," ucap Mama. "Saya mau ketemu sama Tante kok," ucap Charles ramah. "Oh gitu, ada apa? Ada yang bisa Tante bantu?" tanya Mama sambil menyodorkan minuman kemasan dan kue kering yang ada di meja tamu. Charles mengutarakan maksud dan tujuan kedatangannya ke rumah Helen, untuk meminta izin dan restu agar diperbolehkan mengenal dan menjalin hubungan serius dengan Helen. Charles juga menceritakan latar belakang kehidupannya sekarang yang berstatus seorang duda dengan satu orang anak balita. Mama tampak welcome dengan Charles. Sikap sopan dan apa adanya membuat Mama dengan mudah memberikan izin pada Charles utuk mendekati Helen. Helen yang dari awal mendengarkan semua perbincangan Charles dan Mama dari balik lemari, gak tahu meski bersikap apa. Perasaannya campur aduk gak jelas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN