Makan Siang Yang Serius

1016 Kata
Helen menolak ajakan Rian untuk makan siang bersama hari ini karna Erin telah lebih dulu mengajaknya. Jam dua belas kurang sepuluh menit, Helen sudah turun dari lantai tiga dan menunggu jemputan Erin di banking hall. Satpam kantor menghampirinya, dan mengatakan kalau Erin sudah datang. Helen keluar dari banking hall, dan berjalan menuju mobil Erin. Di dalam mobil, sudah ada Sandra yang berada di balik kemudi mobil, Erin yang sedang memangku Charlos. Mobil kemudian melaju menuju rumah makan yang letaknya tak begitu jauh dari kantor Helen. Begitu sampai di rumah makan, dan menemukan meja kosong, mereka langsung duduk dan memesan makan siang. "Gimana kerjaan kamu Len?" Erin basa basi sambil menyuapi Charlos makanan pendamping asi yang dibawa dari rumah. "Lancar aja Tante," jawab Helen singkat. "Sini Ma, biar Sandra aja yang nyuapin Charlos." Gantian, sekarang Sandra dengan telaten menyuapi Charlos. Selesai makan, pelayan datang dan membereskan meja, serta mengambil piring-piring yang kosong. "Helen," ucap Erin dengan tampang serius. "Iya Tante," jawab Helen sambil memandang wajah Erin sekilas kemudian lanjut memainkan tangan mungil Charlos. "Kamu sayang gak sama Charlos?" tanya Erin. Helen terdiam. 'Wah bener nih, kayaknya Tante Erin mau aku jadi babysitternya Charlos' guman Helen dalam hati. "Sama anak kecil yang lucu imut kaya Charlos gini, siapa sih yang gak sayang Tante? Menggemaskan begini dia." Helen mencubit lembut pipi Charlos. "Kamu gak mau merawat Charlos?" "Tante mau aku jadi babysisternya Charlos?" spontan ucap Helen. Erin dan Sandra saling berpandangan kemudian tertawa. "Ih, Kak Helen ada-ada aja deh ngomongnya." Sandra memukul pelan pundak Helen. "Pasti kamu bingung dengan perkataan Tante tadi barusan. Semoga Tante gak salah ngomong ya dan Tante harap ini benar. Dari awal Tante liat kamu, dan saat kamu donorin darah buat Charlos, Tante sangat yakin kamu adalah perempuan yang baik. Kemudian, kamu, Tante, Charlos, Charles, kita jadi sering bertemu, entah itu kebetulan atau tidak atau memang pertanda dari Tuhan kalau kamu yang bakal merawat Charlos." Helen terdiam. "Dan semoga saja yang Tante katakan ini, benar ya, sepertinya kamu ada perasaan dengan Papanya Charlos? Karna setiap kali bertemu kamu gak pernah melihat wajahnya secara langsung," wajah Helen sedikit memerah. "Tante harap apa yang Tante ucapkan ini tidak menjadi beban pikiran kamu ya Len? Tante hanya ingin kamu tidak menutupi perasaan kamu," ucap Erin sambil beranjak berdiri menuju kasir. "Yuk Kak. Kakak gak usah terlalu memikirkan ucapan Mama tadi, kalo emang Kak Helen harus bersama dengan Bang Charles, ya pasti akan bersama juga," ucap Sandra sambil menggendong Charlos. Helen memandang Sandra. "mau gendong Charlos?" "Iya." Helen mengangguk dan mengambil Charlos yang sudah terlihat ngantuk. *** Selesai makan malam, Helen dan Mama duduk di ruang tamu sambil menonton tivi. Mama memandang Helen yang dari tadi tangannya memainkan remote tivi. "Kamu lagi mikirin apa sih Len? Dari tadi tangan kamu gak berhenti mainin remote tivi." Helen tampak ragu untuk bicara. Bingung mau mulai dari mana. "Ma," panggil Helen. Mama menjawab dengan deheman. "Mama pasti marah kalo aku bilang ini?” Mama langsung menatap serius pada Helen. "Tadi kan Helen makan siang sama Tante Erin, orang tuanya Charles, Omanya Charlos, bayi yang terima donor darah dari aku, masa dia bilang, kalo dia mau aku yang merawat cucunya Ma?" "Jadi babysister?" tanya Mama balik dengan nada heran. Helen menggelengkan kepala. "terus jadi apa? Ibunya Charlos?" tebak Mama. "Mungkin," jawab Helen tak yakin. Mama menarik nafas dalam. "Gini ya Len, kehidupan pribadi kamu sepenuhnya hak kamu. Keputusan kamu dalam memilih pendamping hidup, itu juga hak kamu. Mama hanya bisa memberikan gambaran untuk kedepannya, nasehat yang bisa membuka pikiran kamu, agar kamu tidak menyesel di kemudian hari. Sekarang Mama tanya, apakah kamu sudah cukup kenal dengan Charles?" "Sebenarnya, gak terlalu kenal sih Ma, cuman tahu aja sama dia, karena beberapa tahun lalu Helen sempat bolak balik kantornya tiap bulan, karna ada kerjasama dengan kantornya. Tapi untuk kenal lebih jauh, tahu tentang sifat dan perilaku dia, Helen belum sampai sana." "Nah, itu kamu sendiri bilang, sifatnya saja kamu gak tahu. Gimana kamu bisa yakin mau menjalani ke jenjang yang lebih serius? Tarohlah dia menyetujui permintaan orang tuanya, dan menerima kamu, tapi apakah kamu siap kalau ternyata kamu dianggap sebagai orang yang hanya merawat anaknya, bukan sebagai pendampingnya? Dia belum lama lo, ditinggal pergi sama istrinya, sedikit banyak pasti dia masih ingat, cinta, dan sayang sama mendiang istrinya." "Bener juga sih apa yang Mama bilang, tapi kenapa rasa dihati jadi mengebu-gebu setiap kali membayangkan bisa berkeluarga dengan Charles ya Ma?" "Kamu sudah suka sama dia sejak lama?" tanya Mama memastikan. Helen menghela nafas dan mengangguk. "Pikirkan matang-matang sebelum kamu mengambil keputusan ya, karna menyesal tiada guna. Karna Mama sangat berharap, anak-anak Mama menikah hanya untuk sekali seumur hidup, tidak ada perpisahan kecuali karna kematian." "Tapi, apakah Mama tidak keberatan kalau Helen mau mencoba menjalaninya?" "Mama akan selalu mendukung apa yang membuat kamu bahagia sayang," ucap Mama sambil tersenyum kemudian memeluk erat Helen, anak bungsunya itu. Di waktu yang bersamaan, di rumah orang tua Charles. "Jadi Mama mau menggantikan Kirana dengan wanita itu?" ucap Charles dengan nada tinggi saat Erin mengutarakan rencananya. "Charles!" Suara Erin tak kalah tinggi. "Mama hanya ingin Charlos ada yang mengurus dan merawat dia, Mama gak mau Charlos kehilangan kasih sayang seorang ibu. Dengar, Kirana tidak akan tergantikan, karna dia tetap ibu kandung Charlos, suatu saat Charlos juga akan tahu itu. Tapi untuk saat ini dan kedepannya apakah kamu akan tetap seperti ini, keras kepala dan membiarkan Charlos tumbuh seorang diri? Mama hanya ingin kamu dan Charlos ada yang mengurus. Mama memilih Helen untuk Charlos, karna Mama yakin dia tulus sayang sama anak kamu." "Mama sebegitu yakin dengan dia?" Charles mulai merendahkan nada suaranya. "Ya, Mama sangat yakin. Dan Mama juga bukannya mau kalian langsung bersama, kalian bisa mengenal satu sama lain terlebih dulu. Kalau memang hati kamu terbuka untuk menerima dia, kalian bisa lanjutkan untuk saling mengenal lebih jauh, sebelum memutuskan untuk menikah. Tapi kalau hati kamu sama sekali tidak terbuka sedikit pun, lebih baik kamu cari sendiri wanita yang kamu yakini bisa menerima kamu dan Charlos," ucap Erin. "Coba pikirkan sedikit apa yang Mama bilang, semua itu untuk kebaikan kamu juga," ucap Frans sambil merangkul Charles.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN