Kita Harus Bicara

1044 Kata
Seminggu setelah acara makan siang itu, hari ini Helen bertemu tak sengaja dengan Charles di kantor. Helen yang baru saja selesai menyetorkan tagihan kolektif, terkejut saat membalikkan badannya dan melihat Charles yang sudah berdiri di belakangnya. "Eh, kamu,” ucap Helen canggung. Charles meletakan tas besar di loket teller, yang sudah pasti berisi uang. Dari depan pintu masuk, satpam melambaikan tangan kepada Helen. "sebentar ya ...." Helen meninggalkan Charles dan menghampiri satpam. Rupanya ada bendahara dinas yang mau membayar tagihan kantornya. Setelah Helen selesai mengarahkan pengisian formulir setoran, kemudian satpam memberikan nomor antrian. "Bapak silahkan duduk dan tunggu saja, nanti petugas teller akan memanggil sesuai nomor antrian," ucap Helen. "Wah, panggil Mas aja. Ketuaan saya di panggil bapak, "ucapnya sambil merapikan rambut dan berlalu pergi. Helen dan satpam saling berpandangan lucu dan tertawa kecil. Ternyata Charles masih duduk di kursi nasabah, walau sedikit ragu Helen tetap berjalan menghampiri Charles dan duduk disampingnya. "Kita perlu bicara," ucap Charles datar. Belum sempat Charles meneruskan ucapannya, teller di loket tiga tempat dia menyetor tadi memanggilnya. Tak berapa lama Charles kembali dan duduk disamping Helen. "Kamu pasti sudah tau arah perbincangan ini kemana, karna Omanya Charlos sudah lebih dulu ngomong sama kamu." "Iya," jawab Helen sambil memainkan kuku jari tangannya. "Jadi, aku mau mencoba dulu, ini semua demi Charlos." "Iya," sahut Helen lagi. Dia seperti terhipnotis, dengan ucapan Charles, sehingga terus menjawab iya atas setiap pertanyaan Charles. "Oke, aku pergi dulu." Charles beranjak dan pergi meninggalkan Helen. ‘Mencoba dulu? Mencoba seperti apa maksudnya? Demi Charlos' batin Helen. Seseorang menepuk pundak Helen. "Eh, kamu kenal sama dia?" tanya Reni, petugas layanan prioritas. "Siapa? Charles?" "Iya, Charles. Dia kan anak Tante Erin, nasabah prioritas kita." "Oh." "Kamu ada hubungan apa sama dia?" selidik Reni. "Sejauh ini sih gak ada. Kenapa emangnya?" Helen balik nanya. Reni menggeleng. "yo wes, aku keatas dulu ya ..." Helen pamit meninggalkan Reni. *** Sore sepulang kantor, Helen dan teman-teman satu ruangan kantornya berencana hendak pergi makan-makan di restoran pizza, karna awal bulan mereka jadi bisa pulang ontime. Dan karna Helen cewek satu-satunya, jadi dia duduk di depan disamping supir. Sepuluh menit perjalanan yang sebenarnya hampir sampai di tujuan, mendadak terhenti karna di depan ada razia kelengkapan surat kendaran bermotor. Mobil berjalan melambat menunggu giliran pemeriksaan. Helen bersandar di kaca jendela sambil menatap lurus ke depan, saat ada seorang polisi mengetuk kaca jendelanya. Dia membuka kaca jendelanya dan melihat nama di baju seragamnya. 'Ealah ini orang mau ngapain ya' batin Helen. Bener aja begitu Helen mengangkat wajahnya dan melihat orang di depannya. Indra langsung mengeluarkan sim dan stnk mobil untuk diperiksa. Charles mengambilnya, melihat kelengkapan sim dan stnk itu sebentar kemudian mengembalikannya. "Kita perlu bicara," ucap Charles datar sambil melirik ke dalam mobil yang isinya laki-laki semua. Helen menghela nafas, mengambil tasnya dan pamit. "Pak Irwan, bentar ya. Langsung cus aja ke pizza nya, nanti aku nyusul." Helen keluar dari mobil. "Dijemput gak Len, biar kami didrop aja di depan?" tanya Pak Irwan unit head Helen. "Gak usah Pak, nanti jalan aja kan dekat, lagian kalau dijemput putar baliknya jauh," ucap Helen lagi. Mobil yang dikendarai Indra melaju meninggalkannya. "Kenapa isi mobilnya laki-laki semua?" tanya Charles dengan tangan menyilang. "Unit kerja aku sekarang di bagian collection yang isinya laki-laki semua. Kenapa, kamu ada masalah?" tanya Helen. 'Kenapa dia tiba-tiba sikapnya jadi kaya gini? Seolah-olah aku gak boleh bergaul sama lawan jenis' batin Helen. "Ada masalah ya?" tanya Tere, polwan yang memandang jutek pada Helen pada saat dia mau ambil setoran tempo lalu di kantor Charles. "Sudah selesai kan, aku permisi dulu." Helen berjalan meninggalkan dua orang itu menuju restoran pizza di depan. Helen sedikit masih bingung dengan sikap Charles barusan. Tapi di dalam hatinya, ada sedikit rasa senang, karna sudah lama Helen tidak mendapati sikap perhatian dari laki-laki. "Siapa sih dia Bang?" tanya Tere lagi. "Gak apa-apa," jawab Charles tak nyambung sambil berlalu meninggalkan Tere. Ternyata Charles menunggu Helen di parkiran restoran pizza itu. Begitu dia melihat Helen keluar restoran Pizza, Charles langsung menghubungi Erin minta tolong disampaikan bahwa ia yang akan mengantarnya pulang. Baru saja Helen membuka pintu mobil, handphonenya berdering. "Oh gitu ya Tante. Ya sudah, saya tunggu di sini aja," jawab Helen sambil mematikan teleponnya. "Pak saya gak ikut ya pulang, mau jalan sebentar sama temen," pamit Helen pada Pak Irwan. "Oke deh Len, hati-hati ya. Kami duluan," sahut Pak Irwan sambil melambaikan tangan. Begitu mobil kantor meninggalkan Helen. Charles langsung maju dan memberhentikan mobilnya tepat di depan Helen. Dia segera masuk saat kaca jendela mobil terbuka memperlihatkan Charles yang memandang lurus ke depan. Sepanjang jalan yang gak tau mau kemana ini, mereka hanya diam. "Ini sudah terlalu jauh kalau kamu memang berniat mau mengantar aku pulang kerumah," ucap Helen yang tak ada respon dari Charles. "Kalo gitu, tolong kamu turunin aku di depan sana, biar aku pulang sendiri saja," ucap Helen lagi yang tetap gak ada respon dari Charles. 'Ya ampun, ini beneran? Aku memang masih suka sama dia, tapi apakah aku sanggup dengan sikap dia yang seperti ini' batin Helen. Charles menepikan mobilnya. 'Wah, tega juga nih orang, ternyata beneran aku di turunin di sini' Helen melepas seatbeltnya dan hendak membuka pintu mobil. "Mau kemana kamu?" Charles menoleh heran pada Helen. "Pulang lah. Dari tadi jalan, tapi tujuannya gak jelas gini. Mana sepi lagi tempat ini," ucap Helen kesal sambil keluar dari mobil. "Eh, cepet masuk lagi gak kamu," ucap Charles dengan tatapan mata sedikit melotot. Helen kembali masuk ke dalam mobil. "Kamu maunya apa?" ucap mereka berdua bersamaan. "Harusnya aku yang bertanya seperti itu. Kamu maunya apa? Bilang mau nganter pulang tapi sudah jauh gini, arah tujuannya juga gak jelas. Kamu ada niat jahat sama aku ya?" ucap Helen sedikit emosi. Charles menyalakan mesin mobil dan melajukan mobil menuju arah rumah Helen. Sepanjang jalan tetap tak ada percakapan apapun. "Terimakasih," ucap Helen sambil melepas seatbeltnya dan hendak membuka pintu mobil. "Pikirkan berulang-ulang sebelum kamu siap dan menyanggupi permintaan Omanya Charlos, karna aku sekarang legowo mengikuti apa yang akan terjadi ke depannya. Kalau kamu sudah maju, jangan pernah berpikir akan mundur lagi, aku tidak akan membiarkan itu sampai terjadi," ucap Charles. Helen tertegun sesaat mendengar ucapan Charles, kemudian turun dari mobil. Dia berjalan lurus masuk kedalam rumah tanpa memandang ke belakang, padahal Charles belum beranjak dari depannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN