Helen sedang berbaring di kamarnya. Hari ini dia mengambil jatah cuti tahunannya selama empat hari. Dari bulan lalu mama sudah terus mengajaknya untuk ke rumah Bang Reza di Bandung, kangen mau liat cucu katanya.
"Ayo cepetan kamu mandi Len, biar sarapan lalu kita pergi. Mumpung masih pagi lo," ucap Mama sambil berlalu pergi. Helen beranjak dari tempat tidur kemudian bersiap-siap. Rencananya mereka mau nginap di sana, sekitar dua hari dan pulang di hari Minggu pagi. Selesai sarapan dan memastikan pintu jendela sudah terkunci semua, mereka pergi menuju Bandung. Sekitar dua setengah setengah jam perjalanan akhirnya mereka sampai juga di Bandung. Sebelum ke rumah Bang Reza mereka mampir di SPBU untuk mengisi bahan bakar.
Mereka di sambut oleh si kembar Rafi, Rafa serta Kak Nana istri Bang Reza, begitu sampai di rumah.
"Hayuk masuk dulu," ucap Kak Nana ramah setelah bersalaman dengan Mama. Helen membawa tasnya dan tas Mama ke kamar tamu. Si kembar lalu menarik tangan Helen, minta ditemani bermain. Mama dan Kak Nana duduk santai di ruang tivi sambil bercerita tentang tumbuh kembang si kembar.
***
Sore hari ini, Bang Reza mengajak mereka semua jalan ke Alun Alun kota Bandung. Setelah menyiapkan camilan buat si kembar, mereka berangkat. Begitu sampai di tujuan, si kembar langsung berlarian tak tentu arah, Kak Nana dan Helen langsung mengejar mereka sebelum mereka hilang jejak. Sementara mama dan Bang Reza duduk ngemper di pinggir lapangan.
"Gimana kerjaan di kantor?" tanya Mama.
"Lancar aja Ma."
"Usaha distro kamu?"
"Sejauh ini lancar Ma. Sekarang lagi nyoba jualan online, biar Nana ada kegiatan di rumah," ucap Bang Reza. "Ma, ingat gak sama Wisnu teman Reza waktu kuliah, yang sering nginap di rumah?"
"Ingat. Apakabar dia sekarang Za?"
"Kabar baik dia Ma. Sekarang dia sudah balik ke Jakarta, kerja di kantor pajak." Mama menjawab ucapan Bang Reza dengan anggukan. "Kemarin dia nelepon Reza Ma, minta dikenalin sama Helen. Helen belum punya pacar kan Ma?" tanya Bang Reza lagi.
"Belum punya sih kayaknya."
"Mama kok ngomongnya ragu gitu?"
"Sebenarnya ada yang mau Mama ceritain. Jadi, Helen ini lagi dekat sama seseorang. Eh, bukan deket juga sih."
"Lah, gimana maksudnya Ma? Reza gak paham." Mama kemudian menceritakan awal mula kejadian di rumah sakit sampai keinginan Helen yang mungkin saja ingin mencoba menjalin hubungan dengan Charles.
"Haduh Helen, kenapa harus sama duda sih, anak satu lagi." Reza sedikit gak terima. "Mama sudah kenal sama orangnya?"
"Ketemu secara langsung sih belum, Helen juga belum cerita lebih banyak tentang Charles ini. Mungkin dia masih ragu, makanya belum mau ngenalin ke Mama," ucap Mama lagi. Omongan mereka terhenti saat Helen, Kak Nana dan si kembar datang.
"Pah, lapar,"
"Pah, haus," si kembar merengek.
"Ayuk kita ke rumah makan di depan sana," ajak Bang Reza. Mama dan Kak Nana menggandeng si kembar.
"Len, Abang kasih nomor w******p kamu sama Wisnu ya? Temen kuliah abang yang dulu sering nginap di rumah, kamu ingat kan?" ucap Bang Reza sambil merangkul pundak Helen.
"Ah ..." Helen memasang tampang kaget. "Buat apa Bang? Kan dia temen Abang?"
"Ya siapa tau kalian jodoh, cocok. Katanya dia liat kamu di kantornya bulan kemarin, waktu itu kamu lagi ngurus lupa efin. Mau ditegur, segan, takut kamu lupa sama dia."
"Dikantor pajak?" ulang Helen. Bang Reza mengangguk.
"Abang kasih ya? Lagian kamu sudah cukup umur gini belum kepikiran mau punya hubungan yang serius?"
"Hemm, iya kasih aja Bang." Helen pasrah daripada berdebat gak jelas sama Abangnya.
"Oke deh. Tapi kamu jangan ngasih harapan palsu sama dia ya, soalnya dia maunya serius."
"Abang apaan sih, baru juga mau kenalan udah bilang serius-serius." Helen memukul pelan lengan Abangnya dan mempercepat langkahnya menyusul Mama.
***
Setibanya di rumah, Kak Nana dan Bang Reza menggendong si kembar yang ketiduran di dalam mobil. Mama masuk ke dalam kamar dan berganti baju. Selesai memarkir mobil Bang Reza, Helen mengambil handphone nya dari dalam tas.
'Sudah jam 8 lewat' batinnya.
"Banyak banget w******p,." Helen membuka pesan di handphonenya. "Astaga, sampai Pak Anto juga ikutan nelepon," ucap Helen sedikit kaget saat melihat satu picture w******p dari nomor yang meneleponnya.
"Iya Pak," sahut Helen pada telpon Pak Irwan.
"Bisakan besok ikut nemenin audit jalan? Tadi Pak Anto juga telpon kamu, cuma gak kamu angkat," ucap Pak Irwan. Di kantor Helen ternyata kedatangan audit internal dari kantor pusat bertepatan dengan hari pertama Helen cuti, hari kamis. Dan biasanya kalo yang datang Pak Toni, pasti maunya pas weekend jalan ditemenin sama Helen. Gak Helen sama Pak Toni berdua aja sih, biasa anak HRD ikut juga dan beberapa unit head. Dia pertama kali ketemu sama Pak Toni waktu audit 4 tahun lalu, saat Helen menyerahkan berkas yang diminta audit, Pak Toni berkaca-kaca saat melihat Helen karna sangat mirip dengan anaknya yang baru meninggalkan akibat penyakit kanker, jadi semenjak itu setiap kali Pak Toni berkunjung ke kantor cabang Helen, selalu menyempatkan jalan atau makan bersama, kadang istri Pak Toni juga ikut.
"Saya sih lagi di Bandung Pak. Memang besok mau kemana Pak?" tanya Helen.
"Schedule belum tahu juga mau kemana, ya udah, biar dijemput Indra aja ya."
"Eh, gak usah Pak, kasian Indra jam segini bolak balik Jakarta Bandung. Nanti saya gampang aja Pak."
"Maaf ganggu cuti kamu ya Len."
"Iya Pak gak apa-apa." Helen mematikan sambungan telponnya. Bang Reza dan Mama yang dari tadi mendengarkan percakapan Helen di telepon jadi bingung.
"Gimana sih orang kantor kamu Len? Mana Abang sudah pesan penginapan buat besok kita jalan? Kalo gini kan jadinya terancam batal."
"Ya jangan batal dong Bang, kan masih ada Mama. Mau gimana lagi Bang, audit kantor pusat sih yang datang. Helen berangkat sekarang aja ya?" ucap Helen sambil melirik jam yang menunjukkan pukul delapan malam.
"Sudah malam gini, kamu berani sendirian nyetir, Mama jadi khawatir."
"Makanya, coba kamu sudah kenal dekat sama Wisnu, kan jadi bisa minta jemput," ucap Bang Reza.
"Apaan sih Abang." Helen melengos masuk dalam rumah dan mengambil perlengkapan serta tasnya. Setelah pamit Helen langsung berangkat menuju Jakarta. Sebenarnya sih horor juga jalan malam dari Bandung ke Jakarta sendirian gini. Begitu masuk jalan tol, entah kenapa kantuk mulai melanda, Helen membuka minuman kaleng yang dibelinya tadi berharap bisa mengurangi sedikit rasa kantuknya.
"Gak bener nih," ucap Helen sedikit takut sambil membesarkan volume lagu yang diputar. Barusan dia melihat sosok putih melayang di depan mobilnya. Helen memacu sedikit lebih kencang mobilnya agar segera sampai di rest area depan.
Begitu sampai di rest area, Helen memarkir mobilnya dan menuju kamar mandi mencuci mukanya agar tampak lebih segar. Dia kemudian membeli minuman kopi kemasan. Helen keluar dan duduk di bangku depan minimarket sambil menghubungi Mama ngasih kabar kalau dia lagi istirahat sebentar di rest area. Tak lama sebuah mobil patroli polisi parkir tak jauh dari tempat duduknya. Entah kenapa, dalam hatinya berharap kalau Charles yang keluar dari mobil itu, dan demi apa? Ternyata memang benar Charles yang keluar.
Charles yang sudah meliat Helen dari dalam mobil langsung menghampirinya.
"Ngapain kamu di sini jam segini?" tanya Charles sambil memandang sekitar, mencari seseorang yang mungkin saja sedang menemani Helen. "sendirian?"
"Mau balik ke Jakarta, tadi dari rumah saudara," ucap Helen yang dalam hatinya terus berdoa dan berharap Charles bisa nganterin dia ke Jakarta.
"Jangan kemana-mana, tunggu aku di sini," Charles masuk ke minimarket dan gak lama keluar, lalu pamit dengan rombangan temannya tadi. Sekilas Helen melihat polwan yang tempo lalu ketemu saat razia, melotot menatapnya saat Charles meminta kunci mobilnya. Sepanjang perjalanan Helen memejamkan mata saja mencoba tidur. Tak ada perbincangan sama sekali, hanya Charles sesekali bersenandung mengikuti irama lagu. Satu setengah jam kemudian mereka sudah sampai didepan rumah Helen. Charles menatap Helen yang terlelap sangat pulas.