Helen terbangun karna alarm handphonenya berdering dengan sangat nyaring. Sambil memejamkan mata ia mencoba mencari handphonenya tapi tak juga ketemu, tangannya malah meraba tangan seseorang, sontak dia melonjak kaget.
"Loh, ini Sandra?" Helen menatap sekelilingnya dan menyadari ini bukan kamarnya dan bukan rumahnya. Helen bangun dan meraih tasnya guna mematikan alarm. Jam masih menunjukkan pukul setengah enam dan Sandra masih tidur dengan sangat pulasnya padahal bunyi alarm tadi luar biasa nyaringnya. Dia keluar kamar dan mendapati ruang tamu masih gelap, namun dari arah belakang terdengar suara agak berisik. Ternyata Erin sedang memasak.
"Pagi Len."
"Pagi Tante."
"Kemarin kalian sampai di rumah hampir jam dua belas malam. Kata Charles kamu tidurnya terlalu nyenyak jadi dia gak tega mau bangunin kamu, jadi kamu dibawa kesini sama dia."
"Iya Tante, maaf banget jadi ngerepotin," ucap Helen yang disambut senyum Erin. "maaf Tante, kamar mandinya di mana ya?"
"Itu, di situ." Erin menunjuk ruangan di samping mesin cuci. "kunci mobil kamu ada di buffet dekat pintu masuk ya.”
"Iya Tante. Maaf banget ya Helen gak bisa bantuin Tante yang lagi sibuk di dapur sekarang."
"Ah, gak apa-apa," ucap Erin sambil meneruskan masaknya. Begitu selesai mengambil tasnya di mobil, Helen segera bersiap-siap karna jam tujuh sudah harus pergi nyamperin Pak Toni di hotel bareng sama Pak Irwan dan yang lainnya.
"Kak, tadi handphonenya bunyi pas Sandra mau ngangkat keburu mati," ucap Sandra saat melihat Helen berjalan ke arah kamarnya. Helen segera masuk ke kamar Sandra dan bergegas mengecek handphonenya. Sandra berjalan menuju kamar Charles, membuka gorden kamar dan mengangkat Charlos dari box bayinya yang ternyata sudah bangun.
"Aduh sayang sayang onty sudah bangun rupanya." Sandra menciumi Charlos. "Ayo kita bangunin Papa dulu yuk." Sandra menggoyang-goyangkan tubuh Charles. "Bangun Bang, udah siang. Kak Helen sudah mau pulang tuh," ucap Sandra lagi sambil berjalan keluar kamar. Sebenarnya Charles masih ngantuk banget, tapi entah kenapa saat Sandra bilang Helen mau pulang, ada keinginan untuk melihat Helen pagi ini. Buru-buru dia mencuci mukanya dan mengganti bajunya.
"Len, ayok sarapan dulu," ucap Erin saat melihat Helen keluar dari kamar Sandra sambil menenteng tasnya.
"Iya Tante." Helen duduk disamping Sandra yang lagi main sama Charlos di baby chair. Charlos terlihat girang saat Helen mencubit gemas pipi Charlos. Erin tersenyum melihat pemandangan Charlos dan Helen.
‘Tak salah aku memilih Helen. Semoga saja Charles berjodoh dengannya’ doa Erin dalam hati.
"Oh iya, ini Tante ada buat brownies kukus, nanti dikasih ya buat Mama di rumah." Erin menyodorkan sekotak tupperware berisikan brownies.
"Iya Tante, nanti Helen kasih pas Mama sudah pulang."
"Memangnya Mama lagi di mana Len?"
"Di Bandung Tante, di rumah saudara Helen."
"Trus Kak Helen ngapain pulang pagi-pagi ke rumah? Lebih baik main di sini dulu sama Charlos, iya kan Ma?" ucap Sandra yang dibarengi dengan anggukan kepala Erin.
"Maunya sih gitu Tante, tapi lagi ada kerjaan di kantor, makanya saya bela-belain pulang dari Bandung," ucap Helen. Helen beranjak dari meja makan dan mencium pipi Charlos yang sedang digendong Sandra.
"Sudah rapi, kamu mau kemana?" tanya Erin pada Charles yang dari tadi ternyata berdiri tak jauh dari ruang makan memperhatikan mereka.
"Ehm, mau ikut nebeng Helen ke depan,” ucapnya santai. Mereka bertiga saling berpandangan bingung.
"Ya sudah hati-hati ya," ucap Erin sambil merangkul pundak Helen. Charles pamit, tak lupa mencium pipi anaknya, Charlos.
Di dalam mobil, Helen jadi grogi sendiri karna Charles menatapnya tajam.
"Ini kamu mau turun di mana?" tanya Helen ketika sudah keluar dari komplek rumah Charles.
"Kamu kan mau ke kantor, nanti turunin aja aku di pos polisi depan sana," ucap Charles. Handphone Helen berdering. Panggilan masuk dari Pak Irwan, belum sempat Helen mengucapkan selamat pagi, orang di seberang sana sudah terlebih dulu berbicara.
"Ayo Len, kita semua sudah siap tinggal nungguin kamu doang, gak enak sama Pak Toni."
"Iya Pak ini cus ngebut." Helen memutus sambungan telponnya.
"Pagi ini aku gak ke kantor. Jadi beda arah kalo mau antar kamu ke pos polisi itu."
"Trus sekarang mau kemana?"
"Ke Hotel Mulia."
"Kamu bilang ada kerjaan di kantor, sekarang malah mau ke hotel? Kamu ngapain di sana?" tanya Charles dengan nada suara agak tinggi.
"Apaan sih kamu, kok jadi sewot? Di sana mau nyamperin tamu dari kantor pusat, mau nemenin mereka jalan sama anak-anak kantor yang lain," jawab Helen agak kesal. Dia agak kaget dengan sikap Charles, entah ini possesif atau overprotektif, ia tak tau.
"Kamu ini ya, sudah unit kerjanya sama laki-laki semua, kemarin nyetir malam-malam dari Bandung sendirian, sekarang mau ke hotel buat nemenin tamu, ckck." Charles geleng-geleng kepala. "Kalau gini kayaknya harus dipercepat, aku gak mau kalau nanti kita jadi, kamu gak fokus sama Charlos," ucap Charles. Mobil sudah sampai di parkiran Hotel Mulia. Helen memandang bingung pada Charles, bingung dengan perkataannya tadi dan bingung kenapa tadi dia tidak menurunkan Charles di pinggir jalan tapi malah membawanya kesini.
"Ya sudah, aku anterin kamu ke lobby, nanti kalo acaranya sudah selesai, aku jemput kamu," ucap Charles. Daripada omongan ini gak selesai-selesai Helen mengiyakan saja apa yang dikatakan Charles.
***
Ternyata Pak Toni hanya ingin jalan ke pantai, kali ini tujuannya Pantai Sambolo Anyer.
'Lumayan lah udah lama juga gak mantai' batin Helen. Beberapa rekannya terlihat membawa tas besar, mereka sepertinya sudah persiapan sebelum datang ke sini. Setelah selesai melakukan pembayaran untuk dua saung yang mereka sewa, beberapa orang dari rombongan langsung berganti baju dan berlarian menuju pantai, sedang Helen hanya duduk di saung bersama dengan Pak Toni, Pak Irwan, dan Weni bagian personalia.
"Gak main kepantai Len?" tanya Weni.
"Panas Wen, lagian aku gak bawa baju ganti. Mendadak gini sih jadi gak ada persiapan," jawab Helen. Pak Irwan pamit sebentar mau ke kamar kecil.
"Saya ke warung depan sana dulu ya Pak, mau pesen es kelapa." Weni meninggalkan Pak Toni dan Helen. Tampak wajah Pak Toni sedikit murung, matanya menatap ke laut lepas di depannya.
"Lagi ingat anak Bapak ya?" tebak Helen.
"Iya, dulu dia paling suka ke pantai. Tapi dia sama kaya kamu, gak suka panasnya pantai, dia hanya suka angin segar pantai sambil menatap langit biru," jawab Pak Toni sendu. "Hari ini dia berulang tahun," lanjut Pak Toni.
"Udah Pak, jangan sedih-sedih terus. Anak Bapak pasti di sana sudah tenang," hibur Helen yang disambut dengan senyum sendu Pak Toni. Weni datang dengan mba penjual es kelapa.
"Silahkan Pak diminum,." ucap Weni sambil meletakan delapan batok kelapa berisikan air kelapa murni. Melihat di saung ada minuman, mereka yang lagi main di pantai langsung berlarian.
Krukk krukkkk
Entah perut siapa yang berbunyi.
"Wah ada yang lapar nih, baru juga jam setengah sebelas," ucap Pak Irwan.
"Ish itu kan perut Bapak," ucap Weni yang duduk di samping Pak Irwan, yang lain cuma mesem-mesem.
"Len mau kemana lagi nih?" tanya Pak Toni.
"Ehm, kita makan siang aja deh Pak, kayaknya sudah pada lapar." Yang lain mengiyakan ucapan Helen. Setelah mereka selesai beres-beres mereka lanjut mencari makan siang. Pilihan jatuh ke tempat makan di salah satu mall.
***
Sekitar jam delapan malam mereka semua sampai di hotel Mulia. Setelah mendrop Pak Toni dan dua tamu lainnya, mereka meluncur menuju kantor. Sebuah pesaat di w******p Helen masuk, ternyata dari Erin yang bilang kalau Helen harus mampir dulu ke rumah untuk mengambil mobil karna Charles tak bisa jemputnya.
"Eh, Ndra aku antar ke perumahan Bumi Asri aja ya."
"Ke rumah siapa Len?" tanya Weni.
"Ke rumah temen," jawab Helen asal. Bingung juga mau bilang itu rumah siapa, di bilang temen bukan, di bilang calon suami juga belum jelas. Helen langsung turun dari mobil saat sudah sampai di depan rumah Charles. Bener saja mobilnya terparkir manis di halaman dan tampak kinclong. Helen membuka pagar dan mengetuk pintu.
"Ayo masuk dulu Len," sapa Erin ramah. Mereka lagi ngumpul di ruang tamu. Tampak Charlos masih asyik bermain.
"Nginap lagi aja di sini Kak? Daripada di rumah sendirian?" ucap Sandra.
"Ehm, mau nya sih, tapi rencananya mau jemput Mama di Bandung pagi-pagi," jawab Helen ngasal. Padahal sih besok mau bangun siang, habisnya hari ini lumayan capek seharian nemenin Pak Toni jalan.
"Jam brapa Len paginya?" tanya Erin lebih lanjut.
"Mungkin jam setengah tujuh an Tante." Helen asal jawab lagi. Charlos merangkak menuju ke arahnya. Dengan cepat Helen mengangkat dan memangkunya. Anteng banget Charlos di pangkuannya. "Tante pulang dulu ya Charlos, nanti kapan-kapan Tante kesini lagi main sama Charlos." Sandra langsung mengambil Charlos dari pangkuan Helen. Setelah pamit dengan orang rumah Charles, Helen pulang ke rumah.
***
Demi apa coba, jam enam pagi ada yang mengetuk-ngetuk pintu rumah Helen. Lama Helen mendengarkan ketukan pintu itu, berharap itu cuma halusinasinya saja, tapi makin lama malah tambah cepat irama ketukan pintunya. Dengan sedikit rasa kesal Helen bangun dari tidurnya dan membuka pintu dengan sedikit ganas.
"Kamu masih tidur?" ucap Charles saat melihat Helen dengan baju tidur dan rambut yang sedikit berantakan.
"Kamu ngapain pagi-pagi buta kesini?" rutuk Helen dengan muka kesal.
"Bukannya kamu sendiri yang bilang mau ke Bandung jam setengah tujuh pagi ini?" tanya Charles.
"Trus apa hubungannya sama kamu?" Helen balik nanya. Sudah pasti Erin yang bilang ini sama Charles. Mungkin maksudnya baik, supaya Helen gak sendirian ke Bandung, tapi kan itu cuma ucapan ngasal aja.
"Ya masa kamu ke Bandung nyetir sendiri lagi? Cepet deh kamu siap-siap sana, mandi, iler di mana-mana."
"Gak ada ileran," Helen menyapu sudut bibirnya. "Kamu pulang aja ya? Sebenarnya aku gak ke Bandung hari ini, cuma mau bangun siang aja tapi kamu malah datang sepagi ini," ucap Helen sambil menguap.
"Jadi kamu bohong sama Omanya Charlos? Belum jadi apa-apa aja kamu udah bohong, gimana kalo kita sampai jadi?" ucap Charles dengan nada sedikit meninggi.
"Apaan sih, bohong sedikit doang." Helen tak kalah sewot. "Kamu pulang aja deh sekarang. Aku mau tidur." Helen menghela nafas. "Untung kamu Charles yang aku suka," ucap Helen dengan suara kecil saat Charles berbalik pulang. Padahal Charles jelas mendengar ucapan Helen tadi.