Usai mengurus semua keperluan, Firman kembali ke Surabaya. Firman berdiri di samping ranjang tempat Rani di rawat. istri mudanya itu terbaring lemah. Rani masih enggan membuka mulut nya untuk makan. Termasuk untuk berbicara. Dia hanya mau berbicara dengan ibunya. Itupun hanya sesekali. “Kalau kamu mau kembali untuk bersama Rani, maka lepaskan istrimu,” ujar Ayah Rani. “Saya tidak menginginkan anak saya tersakiti. Cukup sekarang kamu sakiti dia dengan kebohonganmu. Tapi, tidak untuk nanti. Saya tidak mengijinkan kamu berbagi,” lanjut Ayah Rani. Firman diam membisu. Hatinya kalut. Di satu sisi, Citra benar-benar sudah memintanya berpisah. Wanita yang dicintainya itu sama sekali tidak mau bertahan. Firman sadar, sebenarnya cintanya untuk Citra tak berkurang sekdikit pun. Malah, be

