Harus Sabar

1495 Kata
Di dalam ruangan Raka, Nindy menatap maket di depannya dengan kagum. Maket itu baru saja datang dan dia yang menerimanya karena Raka tidak berada di kantor saat ini. Dia sedang pergi bersama Ilham ke lokasi proyek pembangunan. Tangan Nindy terulur untuk menyentuh kaca yang melindungi maket tersebut. Dia kembali terperangah dan menggeleng tidak percaya. Saat maket yang berukuran cukup besar itu datang, Nindy tidak bisa berhenti untuk terpesona. Maket concert hall itu dirancang dengan desain yang rumit dan unik, khas dari Adhitama Design. Apakah ini proyek Raka? Jika iya, maka Nindy tidak bisa mengelak jika pria itu memang memiliki otak yang jenius. Raka melakukan hal yang tidak pernah Nindy pikirkan sebelumnya dengan detail. "Jenius sih, tapi sayang nyebelin. Jadi banyak minus-nya." Nindy mendengkus. Dia berjalan berputar sambil melihat maket itu dengan teliti. Meskipun hanya asisten, tapi Nindy banyak belajar di tempat ini. Berbaur dengan orang-orang yang ahli pada bidangnya membuat Nindy mengerti akan banyak hal mengenai dunia arsitektur yang tidak ia temukan saat masih kuliah. Pintu ruangan terbuka dan Nindy langsung berdiri tegap. Raka masuk dan melihat maket yang berada di tengah ruangan. Perlahan dia berjalan mendekat. "Udah dateng maketnya?" tanyanya. Nindy mengangguk, "Ini desain siapa, Pak?" "Menurut kamu?" Raka menaikkan sebelah alisnya dan duduk ke meja kerjanya. "Iya.. iya.. Pak Raka yang bikin." Nindy berjalan mendekat dan memberikan map yang sedari tadi ia bawa, "Dari Mas Dodit." Raka mengangguk dan mulai membuka map itu. Wajahnya yang serius tampak jauh lebih baik dari wajah angkuhnya. Andai saja Raka tidak menyebalkan, mungkin Nindy akan jatuh hati. Nindy menggelengkan kepalanya untuk mengenyahkan pikiran aneh itu. Meskipun tampan, tapi dia tidak akan jatuh hati. Nindy tidak akan lupa dengan semua tingkah Raka yang membuatnya kesal selama ini. Nindy berdehem dan mulai duduk di depan meja kerja Raka. Dia memperhatikan pria itu dan mulai berbicara, "Itu Concert Hall-nya mau dibangun di mana, Pak?" "Bangkok," jawab Raka singkat. Nindy membulatkan bibirnya tidak percaya. Pantas saja desain itu terlihat sangat megah, ternyata memang proyek luar negeri. "Ajarin dong, Pak." Nindy melipat kedua tangannya di atas meja. Raka melirik Nindy sebentar, "Emang kamu nggak belajar pas kuliah?" "Ya belajar lah, Pak. Tapi nggak kayak gini. Dulu saya bikin maket mentok ya gedung mall. Itupun udah pusing banget." "Mana? Saya mau liat." Raka menutup mapnya dan mulai menatap Nindy sepenuhnya. Nindy meraih ponselnya dan menunjukkan foto maket yang ia buat semasa kuliah. Dia harap-harap cemas menanti respon yang akan Raka berikan. Apa dia akan mendapatkan pujian? Atau bahkan hujatan? Raka tampak mengangguk sambil memperhatikan karya Nindy. Sesekali alisnya bertaut membuat jantung Nindy berdebar tidak tenang. "Untung saya bukan dosen kamu," ucap Raka tiba-tiba. "Kenapa, Pak?" Raka mengembalikan ponsel Nindy dan bersandar dengan santai, "Bisa habis kamu sama saya." Nindy mendengkus dan memasukkan ponselnya kesal. Dia menyesal memperlihatkan maket yang ia buat. Seharusnya dia tahu jika Raka akan selalu mengejeknya. "Makanya ajarin saya." Raka tampak berpikir. Tangannya memainkan pensil dengan pelan, "Oke, kalau gitu saya akan kasih kamu tugas." Bukannya sedih, Nindy malah senang. Jika memang untuk mengembangkan diri, maka dia tidak masalah. Namun yang membuatnya takut adalah tugas apa yang akan Raka berikan? Nindy berharap jika pria itu tidak mengerjainya lagi kali ini. "Tugas apa, Pak?" tanya Nindy penasaran. "Saya tantang kamu untuk buat desain pusat perbelanjaan. Nanti saya kasih tema dan kriteria yang saya inginkan." Nindy mengerjapkan matanya berulang kali. Dia tidak salah dengar bukan? Hanya itu tugas yang Raka berikan. Ternyata tidak begitu sulit. "Waktunya berapa lama, Pak?" "Berhubung kamu juga kerja, jadi saya kasih waktu sampai bulan depan. Cukup lama, jadi saya mau yang terbaik." Nindy berdiri dan mengangguk senang, "Oke, Bos!" ucapnya berlari kecil keluar ruangan. Melihat punggung Nindy yang menjauh, Raka tersenyum tipis. Tidak ada salahnya memberi tantangan untuk gadis itu. Raka tahu jika tidak selamanya Nindy ingin menjadi seorang asisten. Oleh karena itu Raka akan memberikan pelajaran singkat untuknya. *** Akhir pekan menjadi hari paling istimewa bagi Nindy. Hanya di hari ini dia bisa tidur tenang tanpa memikirkan apa yang akan terjadi esok hari. Sama seperti kehidupannya sebelum bekerja, Nindy akan terbangun saat teriakan tukang sayur mulai terdengar. Dengan mata yang masih terpejam, Nindy mendorong selimut yang menutupi tubuhnya dengan kaki. Hawa panas mulai terasa di tubuhnya. Dia mengerang dan mulai mengipasi wajahnya. Apa daya hanya ada kipas angin kecil di kamar ini. Karena tidak betah dengan rasa panas, akhirnya Nindy memilih untuk bangkit. Dia menatap kamarnya dengan mata yang setengah terbuka. Perlahan senyum manis merekah di wajahnya. "Damai banget nggak liat wajah Pak Raka hari ini," gumamnya sambil merenggangkan tubuhnya. Nindy menggulung rambut panjangnya asal dan mulai merapikan tempat tidur. Setelah selesai, dia membuka jendela kamar dan menghirup udara dalam, sedetik kemudian dia terbatuk dan kembali menutup jendela. "Masih pagi udah bau knalpot. Hari libur nih, santai di rumah napa sih?" gerutunya. Dia meraih ponselnya dan terkejut melihat ada banyak panggilan tak terjawab dari seseorang. Dia menghela napas kasar saat melihat ada nama Lord Raka di sana. "Apa lagi sih, Pak? Weekend nih." Nindy merengek dan kembali merebahkan diri di kasur. Dia kembali bangkit saat ponselnya bergetar. Nama Lord Raka kembali muncul di ponselnya. Nindy menggeram dan mulai mengangkat panggilan itu. "Iya, Pak? "Kamu di mana?" "Di kost, Pak." "Kirim lokasi kamu sekarang," ucap Raka. "Buat apa, Pak?" Nindy mulai panik. "Jangan banyak tanya, cepet kirim sekarang. Saya udah di jalan." Nindy berjalan ke sana-ke mari dengan gelisah, "Kan ini weekend, Pak. Saya nggak harus kerja kan?" tanya Nindy hati-hati. "Saya minta waktu kamu sebentar." Nindy meraih bantal dan menggigitnya kesal. Dia berteriak tanpa suara untuk menyalurkan rasa kesalnya. Baru saja dia senang karena terbebas dari Raka tapi sekarang pria itu sendiri yang mendatanginya. "Saya belum mandi, Pak." "Ya mandi sana!" Panggilan langsung terputus dan satu pesan masuk ke ponsel Nindy. "Shareloc sekarang." Dengan malas, Nindy mengirimkan alamatnya pada Raka. Dia kembali menggigit bantal dengan kesal. Jam baru menujukkan pukul lima pagi, tapi pria itu sudah berkeliaran di jalan. Pantas saja banyak polusi, ternyata Lord Raka sudah mulai beraksi. *** Nindy membuka pagar kost dengan cepat. Di luar ada Arif yang tengah mencuci motornya. "Mau ke mana pagi-pagi, Nind?" "Kerja, Mas." Nindy tersenyum masam. "Weekend loh ini, jangan lupa minta bonus nanti." Nindy tersenyum dan mengangguk, "Kalau gitu aku berangkat dulu ya, Mas." "Iya, semangat kerjanya. Habis ini tanggal keramat tiba." Nindy terkekeh mendengar itu. Yang dimaksud Arif adalah tanggal di mana mereka semua harus membayar kost. Nindy berjalan ke arah mobil yang sudah terparkir di depan kost. Dia tahu jika mobil itu adalah mobil Raka, mobil yang sempat ia kotori dengan kumpulan brosur impoten dulu. Belum sempat naik, kaca jendela mobil terbuka dan memperlihatkan orang yang berada di dalam mobil. "Nenek Farah!" teriak Nindy dan tersenyum senang. "Kamu duduk belakang," perintah Raka. Nindy mengangguk dan mulai masuk ke dalam mobil. Dia pikir hanya ada Raka di dalam, ternyata ada Nenek Farah juga. "Gimana kabarnya, Nek?" tanya Nindy sambil mencium tangan wanita tua itu. "Baik, Nak. Nindy sendiri gimana?" "Baik kok, Nek." Raka hanya melirik sebentar dan mulai menjalankan mobilnya. Nindy masih tidak tahu ke mana pria itu akan membawanya pergi. Jika ke kantor pun sepertinya tidak karena Raka hanya mengenakan kaos dan celana olahraga. "Kita mau ke mana, Pak?" "Olahraga," jawabnya singkat. Nindy mendengkus mendengar itu. Dia paling malas untuk olahraga. Nindy lebih memilih untuk tidur dan bersantai di kasurnya. Selain itu, dia juga salah kostum saat ini. Dia hanya memakai celana jeans dengan kemeja berwarna army-nya. "Kok ajak saya?" tanya Nindy tidak terima. "Karena kamu asisten saya." "Saya salah kostum, Pak. Kenapa nggak bilang?" Raka tersenyum miring, "Sengaja." Nindy mendengkus dan beralih pada Nenek Farah, "Cucu Nenek nyebelin," bisiknya cukup keras. "Saya denger." Nindy tersenyum miring, "Sengaja." Raka mendesis dan melirik Nindy tajam. Dia bisa saja membalas ucapan gadis itu jika tidak ada neneknya. "Nenek nanti ikut olahraga?" tanya Nindy. "Enggak, saya minta kamu buat temenin Nenek nanti. Saya takut ilang kalau ditinggal sendiri." Nindy mengangguk mengerti. Jadi ini alasan pria itu mengajaknya. Sepertinya ada benarnya juga. Bisa-bisa Nenek Farah kembali hilang jika ditinggal cucunya olahraga nanti. "Oke, nanti kita makan bubur ayam ya, Nek." Nindy tersenyum senang. "Boleh." Raka tersenyum tipis mendengar itu. Dia membelokkan mobilnya memasuki khawasan tempat olahraga yang sejuk dengan banyaknya pohon yang mengelilingi. "Gimana tugas yang saya kasih?" tanya Raka melepas sabuk pengamannya. "Tugas apa, Pak?" Raka berdecak, "Desain, Nindy." Nindy mulai paham, "Oh, saya kira tugas apaan." "Sudah sampai mana?" Nindy terkekeh, "Orang saya baru beli kertasnya semalem." Raka menoleh dan menatap Nindy tidak percaya. Dia tidak menyangka jika gadis itu akan bersikap santai mengingat deadline yang ia berikan cukup singkat. "Duh, Pak. Jangan melotot. Jangan bahas kerjaan juga. Hari libur loh ini." "Kamu!" "Ampun! Ayo beli jajan, Nek!" Nindy bergegas keluar dari mobil dan berlari menjauh. Raka menghela napas kasar dan menggeleng tidak percaya. Dia keluar dari mobil dan mulai bersiap untuk lari pagi. Dari kejauhan dia bisa melihat Nindy dan neneknya tampak senang melihat banyaknya gerobak makanan yang berjajar. "Pak saya mau ketoprak, bayarin ya!" teriak Nindy dari jauh. "Dasar anak badung," gumam Raka. *** TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN