Hari ketiga sudah tiba. Seperti hari sebelumnya, Nindy berangkat dengan Raka lagi hari ini. Ini semua terjadi karena dengan liciknya pria itu membuatnya menjadi asisten di kantor sekaligus pribadi. Mau tidak mau, Nindy harus berada di rumah Raka di pagi buta dan pulang hingga larut malam.
Nindy menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya. Setelah seharian bekerja di ruangan Raka kemarin, akhirnya dia memiliki mejanya sendiri. Tepat di sebelah Tomi dan berbaur dengan karyawan lainnya.
"Masih pagi udah kusut wajahnya, Nind?" Tomi yang baru saja datang mulai duduk di kursinya.
Nindy meletakkan kepalanya di atas dan bergumam, "Ngantuk, Mas."
Tomi terkekeh, "Semalem pulang jam berapa?"
"Jam delapan." Nindy mulai memejamkan matanya.
"Nanti jangan lupa minta bonus sama Pak Bos."
Nindy membuka matanya dan duduk dengan tegap, "Ya pasti dong! Baru tiga hari tapi rasanya udah kayak kerja rodi," ucapnya mencibir.
"Lagian kamu tanda tangan nggak baca isi kontrak dulu." Memang hanya Tomi yang tahu kisah aneh Nindy dan Raka.
Nindy mendengkus, "Aku takut dipelototin Pak Raka, makanya pingin cepet selesai."
"Seenggaknya dapet makan dan transport gratis kan?" Tomi terkekeh.
"Mending makan sendiri, Mas. Bener deh."
Tomi kembali tertawa. Sejak kemarin dia selalu mendengar keluh kesah Nindy. Bukan saat menjadi asisten Raka di kantor, melainkan saat menjadi asisten Raka di rumah. Tomi tidak mengalaminya karena dulu dia hanya sebatas asisten Raka di kantor. Nasib Nindy benar-benar menyedihkan.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah depalan tepat yang artinya jam kerja sudah dimulai. Baru saja akan menyalakan komputernya, Nindy dikejutkan dengan telepon di mejanya yang berdering.
"Ya, Pak?" sapa Nindy langsung.
"Ke ruangan saya." Hanya kalimat itu yang Raka ucapkan sebelum panggilan tertutup.
Dengan sabar Nindy mulai bergegas ke ruangan Raka, "Ada apa, Pak?" tanyanya.
Raka menggulung kertas desain yang baru saja ia lihat dan memberikannya pada Nindy, "Ini, kamu kasih ke Ilham. Jangan lupa kamu kasih tahu yang lain kalau ada rapat jam 10 nanti."
Nindy mengangguk dan beranjak keluar ruangan. Dia tidak banyak berbicara karena Raka tidak mengusiknya kali ini.
"Nindy?" panggil Raka.
Nindy memejamkan matanya erat. Baru saja dia bernapas lega tapi sepertinya Raka tidak akan melepasnya begitu saja. Nindy kembali berbalik dan menatap Raka bingung.
"Rok kamu kependekan."
Nindy menunduk dan melihat roknya yang berada tepat di bawah lutut, "Ini masih panjang kok, Pak."
"Pendek," balas Raka.
"Terus panjangnya harus seberapa, Pak?" tanya Nindy sabar.
"Ya pokoknya yang panjang."
Nindy mencibir dalam hati. Sepertinya Raka memang sengaja memulai perdebatan dan mencari-cari kesalahannya.
"Bu Sisca roknya di atas lutut nggak papa, Pak." Mata Nindy menyipit, "Jangan-jangan Pak Raka seneng ya liat kakinya Bu Sisca makanya nggak disuruh ganti?"
"Jangan ngawur. Pokonya besok kamu pake yang lebih panjang."
Nindy mendengkus, "Lagian Pak Raka aneh, saya kan mau kerja bukan mau ngaji."
Raka mendesis dengan mata yang membulat. Jika sudah seperti ini berarti pria itu akan mengomel lagi. Akhirnya Nindy memilih mengalah dan berlari keluar.
"Iya deh, Pak. Besok saya pake gamis!" ucap Nindy saat sudah berada di ambang pintu.
"Dasar badung!" Raka menggelengkan kepalanya.
***
Rapat belum dimulai tapi keadaan sudah mulai tegang. Nindy menatap Tomi meminta penjelasan, tapi pria itu hanya mengangguk dan tersenyum tipis, seolah tahu jika suasana seperti ini akan selalu terjadi saat rapat berlangsung.
"Sudah siap?" tanya Raka pada beberapa karyawannya. Nindy yakin jika mereka semua adalah arsitek senior, bahkan ada yang lebih tua dari Raka.
"Siap, Pak."
"Oke, kita mulai. Kamu dulu, Dit." Raka duduk di kursinya dan menunjuk seorang pemuda yang Nindy tahu bernama Dodit.
Ini pertama kalinya Nindy mengikuti rapat. Sebagai asisten, dia melakukan semua tugasnya dengan baik. Seperti arahan Tomi sebelumnya, pria itu dengan baik hati mau menjadi mentornya dan selalu membantunya jika mengalami kesulitan.
"Itu kenapa kamu pilih pakai kaca?" tanya Raka mulai berdiri dan bersandar pada mejanya. Tampak angkuh dengan tangan yang ia masukkan di dalam saku celana.
"Gimana menurut kamu, Nind?"
Nindy yang merasa namanya dipanggil langsung duduk tegap. Jantungnya mulai berdebar dengan kencang.
Raka sialan!
"Iya, Pak?" tanya Nindy sekali lagi.
"Gimana menurut kamu tentang desain Dodit?"
Nindy menelan ludahnya gugup dan melihat semua orang yang ada di ruangan itu. Dia takut salah bicara yang akan membuatnya mendapat masalah.
"Bagus kok, Pak," jawab Nindy pelan.
Raka menatap Nindy jengah, "Jawaban kamu khas fresh graduate banget."
Nindy menunduk malu, "Sengaja nih k*****t malu-maluin gue," batinnya.
"Ya memang bagus, Pak. Seperti permintaan klien yang mau lebih hemat jadi dinding akan dibuat dari kaca."
"Itu saja?" tanya Raka menaikkan sebelah alisnya.
Nindy menatap Raka kesal. Dia sadar jika seluruh karyawan mulai menatap mereka bingung saat ini. Aura permusuhan itu benar-benar terlihat nyata.
"Padahal saya mau dengar yang lebih dari jawaban kamu. Sepertinya ekspektasi saya terlalu tinggi." Raka tampak kecewa, tapi Nindy mendengar ada nada ejekan di sana.
Nindy berdehem dan kembali berbicara, "Mengingat deadline pembangunan yang diberikan cukup singkat, pemilihan dinding kaca dianggap paling pas. Luas bangunan yang tidak seberapa akan membuat ruangan terlihat lebih luas. Bisa hemat daya juga."
Raka mengangguk mendengar itu, "Tapi kita di daerah tropis, bukannya kaca bisa bikin makin panas?"
Nindy tersenyum dan menunjuk dinding kaca di ruangan rapat ini, "Kita bisa atasi dengan cara yang sama seperti desain Pak Raka," ucapnya menyeringai.
Raka menatap Nindy terkejut dan tersenyum miring. Dia mengangguk dan kembali duduk di kursinya. "Oke, kamu bisa duduk, Dit. Sekarang ganti yang lain."
Nindy menatap Dodit dan mengacungkan kedua jempolnya. Dodit yang merasa dibantu untuk mengatasi intimidasi Raka mulai tersenyum lega. Dia bergumam terima kasih pada Nindy.
Nindy berdehem dan menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Raka, "Bapak ngetes saya kan tadi?" bisik Nindy.
Raka melirik sebentar dan kembali fokus pada presentasi karyawannya, "Iya, ternyata ilmu kamu masih standar."
"Ampun, Suhu. Apalah daya fresh graduate," cibir Nindy dan kembali menggeser kursinya kembali ke tempat semula.
***
Rapat berakhir bertepatan dengan jam istirahat. Ekspresi para karyawan tampak lega karena akhirnya Raka sudah mengambil keputusan untuk desain yang dipilih. Akhirnya masa revisi mereka berakhir.
"Nindy?" panggil seseorang saat Nindy menutup laptopnya.
"Mas Dodit," sapa Nindy tersenyum.
"Mau istirahat?"
Nindy mengangguk, "Iya, Mas. Kenapa?"
"Mau bareng? Aku traktir."
"Mas Dodit ulang tahun?" tanya Nindy polos.
Dodit terkekeh, "Emang harus ulang tahun dulu baru bisa traktir kamu?"
Nindy menggaruk keningnya pelan, "Nggak juga sih."
"Gimana? Anggap aja ucapan terima kasih karena kamu udah bantu aku tadi."
"Tapi aku udah pesen makanan, Mas." Nindy memang selalu memesan makanan dari Arinda.
"Kalau kopi gimana?" tanya Dodit lagi.
Nindy tampak berpikir dan akhirnya mengangguk, "Oke, boleh, Mas."
"Aku tunggu di lobi ya?"
Nindy mengangguk dan segera membersihakan barang-barangnya. Saat keluar dari ruang rapat, sebuah panggilan dari seseorang menghentikan langkahnya.
"Beliin saya makan siang."
Nindy berbalik dan menatap Raka bingung, "Udah saya beliin kok, Pak. Sama kayak yang kemarin, saya pesen di temen saya. Habis ini diantar."
Raka menggeleng cepat, "Saya mau yang lain."
"Beda menu kok, Pak." Nindy mulai kesal.
"Beliin saya gado-gado," ucap Raka lagi.
"Terus siapa yang makan nasinya nanti?"
Raka mengangkat bahunya tidak peduli.
"Ya udah, saya kasih ke Mas Dodit aja," gumam Nindy menemukan jalan keluar.
"Ngapain kamu kasih Dodit?" Raka menyipitkan kedua matanya.
"Tadi Mas Dodit mau beliin saya kopi. Jadi saya duluan ya, Pak." Nindy tersenyum senang dan berlalu pergi.
Raka mendengkus mendengar itu, "Baru tiga hari udah berani pacaran. Dasar anak badung!"
***
TBC