"Bapak, kenapa Bapak pergi seperti ini," ucap Anin lirih.
Sementara di tempat lain Carlista dan Maharani belum sadarkan diri. Anin berusaha menstabilkan diri, ia harus tetap berdiri dan terus mengawasi proses ini.
"Pak, apa kemungkinan besar, jasad Bapak bisa di Evakuasi?" tanya Anin.
"Kami tidak bisa memastikan Dek, mengingat mobil Bapak Seno Wijaya baru saja meledak dan terbakar!" jawab Polisi.
"Baiklah, aku akan menunggu hingga proses evakuasi ini selesai," ucap Anin.
Anin melihat dua wanita tengah berjalan ke arah nya, Anin segera mengusap air matanya yang sedari tadi luruh tanpa di minta.
"Bapak ... Bapak Nin," ucap Rani.
"Iya kak, itu Bapak! Bapak pergi kak, pergi jauh meninggalkan kita semua," Sahut Anin.
Sambil memeluk Maharani.
Sementara disisi Maharani terlihat Carlista yang terus menanggis, menangisi kepergian suaminya, ia bahkan belum mengetahui prihal jasad dua wanita yang telah bersama suaminya. Anin tetap diam dan tak mengatakan apa-apa tentang jasad wanita yang telah bersama Bapak.
"Bu, sudah! Kita harus ikhlas, Bapak sudah tenang di sana sebaiknya kita mendoakan agar Allah memberi kemudahan menuju jalan-Nya," jelas Anin.
Mencoba memberi kesabaran dan pengertian kepada Ibu. Biarpun Anin anak paling bungsu disini Anin harus tetap terlihat lebih tenang, jika tidak bagaimana dengan Carlista serta Maharani.
Anin mengambil ponsel di dalam tas selempang yang ia bawa, ia segera menghubungi Bagaskara, namun panggilan itu tetap tidak terhubung, Anin semakin gusar, pasalnya hanya Bagaskara yang kini tak ada di tempat, bahkan mungkin belum mengetahui kabar duka ini.
Malam berlalu namun jasad Bapak belum di temukan, petugas telah mengangkat Rangka mobil fortuner yang dipakai Seno. Anin kembali menangis ia tak bisa menahan air tanpa warna itu luruh seketika, Anin berharap petugas bisa menemukan jasad Seno Wijaya. Walau dalam keadaan sudah tak utuh lagi akibat terbakar bahkan meledak.
Pagi menjelang matahari sudah menampakkan cahaya nya namun hingga kini jasad Seno Wijaya belum juga ditemukan. 'Ya Allah, tolong bantu hamba menemukan jasad Bapak, sungguh hamba ingin melihatnya untuk yang terakhir kalinya, apapun keadaan nya' batin Anin.
Diam namun tetap ber do'a.
Anin teringat dengan jasad dua wanita itu, apakah sudah di makam kan atau kah belum.
"Pak, bagaimana dengan dua wanita itu? apakah sudah di jemput oleh pihak keluarga?" tanya Anin
"Belum Dek, namun keluarganya kemungkinan akan segera tiba menjemputnya, dan pihak keluarga bersangkutan tidak mengizinkan melakukan otopsi pada korban!" jawab petugas kepolisian.
"Bisakah saya, melihat jasad itu pak?"
"Baik, mari saya antar," ucap Polisi.
Sesungguhnya Anindira sangat penasaran dengan dua jasad wanita itu. 'Entah siapa mereka? Dan mengapa berada di dalam mobik Bapak? Mungkinkah wanita itu selingkuhan Bapak? Lalu siapa wanita muda itu? Tapi bukan kah selama ini Bapak dan Ibu tak pernah bertengkar? Bahkan selalu bersikap sangat romantis di depan kami?' batin Anin.
Anin terus mengekori petugas dan sampailah Anin di sebuah gedung yang berdominasi berwarna putih. Ia dipersilahkan masuk oleh petugas penjaga tersebut. Sebelum Anin membuka kain penutup dari arah pintu terlihat seorang laki-laki paruh baya namun tidak terlalu tua, dan juga seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik serta sehat, mereka berlari menuju jenazah yang hendak di buka Anin. Mereka Berteriak serta menangis sejadi-jadinya ketika kain penutup telah di buka.
"Kumala anak ku! Viona cucu ku...
Bangun lah kalian, oma mohon! Oma sudah datang tolong buka mata kalian, oma akan menjemput kalian, ayoo Nak bangun," wanita itu terus berkata tanpa menyadari kehadiran Anindira di ruangan itu. Laki-laki yang tengah bersamanya tidak berkata apa-apa ia hanya selalu menenang kan Sang istri.
Anin melangkah mundur bermaksud ingin pergi dari ruangan tersebut, ia cukup gerah melihat sandiwara palsu yang saat ini terjadi. 'Dasar pelakor' batin Anin.
"Akhh," pekik Anin yang terbentur tembok ketika berjalan mundur.
"Ka-kamu siapa nak."
"Aku Aa-Anin."
Wanita paruh baya itu serta laki-laki yang ada di samping nya mereka hanya saling menoleh, kemudian.
"Oh, Anin, anak seno?"
Anin melongo mendengar jawaban dari wanita itu. 'Tentu saja mereka mengenal Seno Wijaya' batin Anin.
"Dimana ke dua saudaramu serta Carlista? Apa kamu hanya datang sendiri kesini?" tanya wanita paruh baya itu, Sebab ia belum melihat Carlista serta yang lain.
'Dia bahkan mengenal Ibu? Apa Ibu sudah mengetahui tentang hal ini, jika bapak sudah memiliki keluarga lain selain keluarga nya.'
"Kenapa diam saja nak?"
"Sudahlah, mungkin dia masih bersedih.Sebaiknya kita bawa jasad Kumala juga Viona, untuk segera di makam kan," sahut laki-laki paruh baya.
"Anin boleh ikut?" celetuk Anin. Kepada ke dua orang tersebut.
"Tentu saja boleh, biar bagaimanapun mereka juga Mamah serta adikmu," jawab wanita paruh baya.
Sungguh saat mendengar ucapan itu, Anin serasa ingin berteriak dan menyangkal nya, karna ia hanya punya satu Ibu serta dua saudaranya yaitu Maharani serta Bagaskara. Namun Anin tak menunjukan eksperesi wajah tidak sukanya, ia hanya tersenyum dengan mereka. Namun sebelum Anin ikut dengan Wanita paruh baya itu Anin mengirim pesan kepada Maharani, takutnya ia akan mencarinya jika tidak berpamitan terlebih dahulu.
[Kak, Anin ada urusan sebentar, kemungkinan besok siang baru bisa pulang, tolong jaga Ibu ya kak]
[Kamu itu ya, sudah tau kita ada musibah serta masih dalam suasana berduka, tapi kamu malah pergi]
[Maaf Kak, Anin janji besok Anin akan pulang, tolong kabari Anin jika jasad bapak di temukan]
Anin pergi dari tempat kejadian, Anin ikut serta di dalam mobil Ambulance yang membawa dua jenazah wanita itu. Hati Anin terasa perih ketika melihat dan memandangi wajah dua wanita tersebut.
Sekitar setengah jam perjalanan tibalah di sebuah rumah yang terlihat mewah berbeda dari rumah-rumah yang ia lalui. Terlihat banyak orang yang menunggu kedatangan jenazah, saat turun dari mobil banyak warga yang melempar tatapan tidak suka kepada Anin. Sebagian juga ada yang berbisik.
"Siapa dia? Jangan-jangan istri ke tiga Seno!" ucap salah satu ibu-ibu.
"Mungkin anak Seno dari wanita lain!" sahut Ibu Yang lain.
"Ah, itu anak Seno dari istri pertema, kalau tidak salah," ucap seseorang berbaju gamis berwarna navy.
Ingin rasanya Anin menjawab omongan para ibu-ibu rempong, namun Anin sadar jika dia berada di tempat asing dan tak mengenal siapa-siapa disini. Jadi Anindira memutuskan untuk tetap bersikap baik.
"Anin, masuk Nak!" ucap Oma.
Anin hanya mengangguk kemudian melangkah masuk ke dalam rumah mewah tersebut.
Anin mengedarkan pandangan disekelilingnya, mata Anin terhenti pada sosok anak laki-laki yang tengah duduk di kursi roda. Sepertinya anak tersebut mengalami cacat. Anin memperhatikan Anak itu, ia menangis tersedu-sedu tanpa suara.
Orang-orang yang ada di dalam rumah, terus menatap Anin namun Anin tak memperdulikan tatapan itu.
Anin duduk bersimpuh, kini di hadapannya sudah ada dua jenazah terbaring kaku yang sudah di kain kafani dan siap di kebumikan.
'Siapa kalian? Benarkah Bapak adalah Suami wanita juga ayah anak ini? mengapa sebelum Anin tau, kalian pergi tanpa memberi sedikit penjelasan?' batin Anin.
Anin tidak ikut ke pemakaman, Anin sibuk menerka-nerka dan mencari sesuatu yang bisa membuktikan jika wanita itu adalah istri dari Bapak.
"Bagaimana keadaan mu?" tanya Oma.
"Beginilah! Oma bisa melihatnya sendiri kan!" jawab Anin.
"Nin, oma mau cerita prihal pernikahan Seno dan Kumala. Nin, yang baru saja di makam kan itu anak oma, namanya kumala." ucap Oma. "Kamu dan Viona itu saudara beda ibu namun satu Bapak, tidak ada yang tau pernikahan Kumala serta Seno kecuali ..." oma menghentikan pembicaraan.
Sambil menyerahkan dua buku berwarna hijau dan merah. Anin segera mengambil buku-buku kecil tersebut.
Disana terlihat foto Bapak serta wanita yang baru saja di kebumikan.
Seno Wijaya dan Kumala Hermawan tertulis tanggal pernikahan enam belas september tahun dua ribu.
Anin kemudian mengingat tanggal pernikahan Clarista serta Seno Wijaya.
Dua puluh tujuh februari tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh tiga.
"Oke fix lu pelakor,." gumam Anin.
Banjarmasin 24, Agustus,2021
Bidadarisurgamu