Berpamitan
MISTERI JASAD BAPAK.
#BERPAMITAN.
"Bu, Bapak hari ini akan pergi keluar kota untuk menemui klien dan kemungkinan akan menginap beberapa hari di sana!" ujar Seno.
"Oh, ya, sudah! Ibu persiapkan keperluan untuk Bapak di sana ya!" sahut Clarista.
"Anin ikut ya, Pak? Boleh?" sahut Anin yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar orang tuanya.
"Bapak di sana kerja sayang!" Seno membelai rambut putri bungsunya sembari memberi pengertian. Lain kali pasti Bapak ajak ya!" timpal Seno.
Anin hanya mengangguk tanpa menatap bapaknya.
"Hm, Bapak berangkat jam berapa?" tanya Clarista. Sambil memasukkan baju-baju Bapak ke dalam koper.
"Jam empat sore Bu, takutnya nanti nyampe sana kemalaman. Tadinya ada jadwal penerbangan jam lain, tapi Bapak lebih memilih penerbangan jam Empat sore!" jelas Seno.
"Ya sudah! Bapak mandi dan siap-siap sebentar lagi jam Empat loh! nanti ketinggalan pesawat," ujar Clarista.
"Iya, Bapak mandi dulu. Ibu tolong siapkan baju gantinya ya, Bu!"
"Iya, Pak!" balas Clarista sambil tersenyum.
"Bu, Anin turun dulu ya!" ujar Anin. Sembari berlari kecil.
Clarista hanya menganguk dan melihat Anin yang menghilang dari balik pintu.
Selesai mandi Bapak segera memakai baju yang ibu siapkan dan segera turun ke lantai bawah.
"Anin, Bapak pergi dulu ya, jaga Ibu baik-baik. Kamu bagas kamu anak laki-laki Bapak satu-satunya, tolong jaga keluarga kita baik-baik, dan juga kamu urus kantor Bapak selama Bapak gak ada. Maharani kamu kakak tertua jangan bertengkar terus dengan Anin kalian sudah besar bukan anak kecil lagi jadi bersikaplah dewasa!" ujar Seno.
"Iya Pak!" sahut Maharani.
"Ish Bapak. Udah kaya perginya lama banget!" celetuk Anin.
Seno hanya tersenyum dan menyalimi anak serta istrinya.
"Bapak, hanya empat hari atau paling lama satu minggu!" ujar Seno.
Sebelum menaiki mobil Seno berpaling menatap anak serta istrinya sambil melambaikan tangannya.
"Ih, Bapak aneh," ujar Anin. Kesal.
Sepuluh hari sudah berlalu kepergian Bapak ke luar kota, akan tetapi Bapak belum pernah ngasih kabar sekali pun.
Di Rumah Clarista merasa cemas. Pasal nya suaminya belum juga memberi kabar, ia takut jika terjadi sesuatu dengan sang Suami.
"Bu, Ibu kenapa? Kepikiran Bapak ya?" tanya Anin.
"Bagaimana Ibu tidak kepikiran, Bapak mu pergi sudah sepuluh hari, tapi belum ada juga kabarnya!" jawab Clarista.
"Nanti juga pulang kok Bu! Mungkin Bapak terlalu sibuk hingga tak bisa memberi kabar," Anin mencoba untuk berbicara agar Clarista tak begitu khawatir.
"Tapi perasaan Ibu gak enak Nin!" sahut Ibu.
"Itu cuma perasaan Ibu, udah Ah, Ibu jangan terlalu berlebihan deh,"
Setelah berbicara dengan Clarista Anin pergi menyalakan televisi di ruang depan.
"Kita lihat ada berita apa hari ini?" gumam Anin.
Selamat malam, Pemirsa, anda sedang menyaksikan 'Sekilas info' bersama saya Putri Ajeng ...
Telah terjadi kecelakaan lalu lintas di Jalan Soeratman jalan tol menuju Jakarta selatan. Sekitar pukul enam sore tadi.
Anin terus menyaksikan siaran televisi sambil mengerinyit.
Kita bergabung dengan reporter Iwan Permana yang melaporkan langsung dari tempat kejadian ," lanjut Putri. "Iwan?"
Layar terbagi menjadi dua di sebelah kanan tempat Iwan sang reporter, dengan mobil yang ringsek jatuh ke tebing di belakangnya,namun masih tersangkut di bebatuan.
"Pemirsa, seperti yang anda lihat di belakang saya, petugas sedang berusaha mengevakuasi jasad korban, dari info yang saya dapat, ada seorang laki-laki serta dua wanita, kemungkinan wanita tersebut adalah istri dan putri dari korban. Laki-laki berusia sekitar 47 tahun, sang Istri sekitar umur 32 tahun, serta seorang gadis muda berusia sekitar tujuh belas tahun,"
Kamera terus menyorot petugas yang sedang meng evakuasi dua korban wanitanya namun korban laki-laki sepertinya sulit dijangkau karena mobil tersebut miring ke kanan, dan pengemudi terhimpit oleh bebatuan yang telah menimpanya, begitu terlihat di televisi.
Anin terus memelototi siaran berita itu. Maharani dan Carlista menghampiri Anin dan ikut serta melihat siaran di televisi.
"Syukurlah, sepertinya bukan Bapak," gumam Anin.
Namum kamera kembali menyorot mobil korban serta menampilkan plat mobil tersebut. Anin terkejut hingga berteriak histeris.
"Bapakk ...!" teriak Anin.
Maharani bersama Carlista yang dari tadi memainkan ponsel dan hanya menatap televisi itu sekedarnya saja, kini sontak terkejut mendengar Anin yang berteriak.
"Anin, kenapa sayang?" tanya Carlista yang belum menyadari berita tersebut.
"Itu, hiks" Seraya menunjuk le televisi "Bapak ..." ucapnya kembali.
"Bu-bukan Nin! Bapak masih diluar kota," teriak Carlista.
"Itu Bapak Bu, mobilnya!" ujar Anin yang masih menangis.
Mereka bertiga menangis sejadi-jadinya, pasalnya mereka meyakini bahwa itu Seno Wijaya Bapak mereka. Mereka mengenali dari mobil Fortuner hitam yang dipakai korban serta plat nomor nya.
"Anin, cepat telpon kaka mu Bagaskara," teriak Carlista.
Suasana di rumah kacau bahkan Anin pun terus menelpon sang kakak, namun tidak tersambung.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, atau berada di luar jangkauan."
"Bu, gak bisa, no kak bagas tidak terhubung!" ujar Anin sembari terus menangis.
"Rani! cepat ambil kunci mobilmu segera kita le tempat kejadian, Ibu akan memastikan Bapak atau bukan!" pinta Carlista.
Maharani segera berlari menuju lantai atas untuk mengambil kunci mobil yang ia letakkan di atas meja riasnya.
Tak menunggu lama Rani datang dengan kunci mobil dalam gengaman nya.
"Ayo, jalan," ucap Rani.
Perjalanan menuju tempat kejadian membutuhkan waktu yang cukup lama karena memang jarak yang begitu cukup jauh.
Rani terus menginjak Gas dengan laju namun tetap berhati-hati. Setelah satu jam di perjalanan mereka tiba di tempat kejadian.
Anin lebih dahulu turun dari mobil dan berlari menuju kerumunan warga yang tengah melihat kejadian kecelakaan itu.
"Bapak! Bapak!" teriak Anin.
tangis Anin semakim meledak ketika menyaksikan Seno Wijaya yang telah terkulai tak sadarkan diri di dalam mobil fortuner hitam yang ia kendarai.
"Bapak ..." Anin yang akan melangkah mendatangi Seno terhenti karena dihentikan pihak polisi.
"Jangan dek, ini terlalu berbahaya untukmu, tetaplah di sini dan biarkan petugas meng evakuasi jasad Bapak Seno Wijaya," ujar Pak Polisi.
"Diam! Itu yang di dalam mobil Bapak saya pak! Tolong selamatkan Bapak!" ucap Anin memohon kepada polisi tersebut.
"Baik Dek, kami mengerti! Tapi tetaplah disini kami akan meng evakuasi jasad bapak, tolong jangan persulit proses ini," sahut seorang polisi.
"Tidak ... Jangan panggil dengan ucapan jasad, Bapak saya masih hidup Pak! Bapak belum mati!" teriak Anin kepada polisi.
DHUAAAR!
Sebuah ledakan terjadi dibawah sana, dan suara ledakan itu berasal dari mobil Seno wijaya seketika mobil itu terbakar oleh Si Jago Merah.
Semua orang menunduk ketika ledakan terjadi, namun, tidak dengan Carlista dan juga Maharani dua wanita ini tiba-tiba pingsan usai menyaksikan mobil Seno Wijaya meledak.
"Bapak ...!" pertahanan Anin seolah ambruk ia terkulai di tanah, namun tetap dalam kesadaran.
"Bapak! maaf Anin tak bisa membantu menyelamatkan Bapak," batin Anin.
Anin melangkah sedikit menjauh dari tempat ledakan, ia menatap jasad dua wanita yang tengah terbaring kaku.
"Dia siapa pak? Tanya Anin pada penjaga dua jasad tersebut.
"Mereka berdua Istri dan anak korban kecelakaan ini Dek!" ucap polisi.
"Apa! Tidak mungkin! Aku anak bapak, dia siapa?" ujar Anin yang berteriak tidak terima, jika Seno Wijaya telah mempunyai anak dari wanita lain.
"Tenang kan dirimu Dek, bersabarlah! ikhlaskan!" ujar polisi yang mencoba menenagkan Anin.
Ketika Anin berdiri sedikit menjauh ia melihat sekelebat bayangan seseorang memakai baju serba hitam, menggunakan topi berwarna hitam, serta masker juga berwarna hitam.
Namun, Anin seperti mengenal nya walau memakai pakaian serba hitam.
"Mungkin salah orang" batin Anin.