Bertemu lagi 2

1545 Kata
"Cit, kok Lo diam? Rumah tadi yang gue datangi rumah pacar loe ya?" Ia yang sedang asik dengan ponsel menatap ke arah ku, ia mengerutkan kening ke arah ku seakan aku salah dalam bicara. "Gila, loe! Kak Vincent itu kakak Gue yang bener saja loe bilang dia pacar gue," Aku membulatkan mata mendengar ucapan nya, berarti yang semalam bersamanya bukan pacarnya tapi kakak sepupunya. Ajib bener, Tuh! Gantengnya minta ampun kalau tahu lelaki semalam sepupunya kayaknya bisa tuh jadiin suami tapi tidak deh, mana mau orang kaya sama perempuan kayak aku. "Loe, kenapa bengong? Yok, kita ke kelas sebentar lagi dosen masuk," Tangan ku di tarik Citra, kita berdua berjalan menuju ke kelas karena hari ini dosen akan masuk. "Ra, loe udah bikin skripsi belum?" tanya Citra saat kami berjalan masuk ke kelas. "Belum, Cit. Laptop gue sering lowbat batrenya, bentar-bentar mati, sepertinya gue nulis di komputer saja nanti," kata ku. Beginilah kalau menjadi orang miskin, apa-apa harus beli sendiri. Dulu aku beli laptop tersebut memang sudah seken karena kendala biaya tidak cukup. Jadi setiap ada tugas kampus aku siang langsung ke tempat komputer. "Nanti sehabis ketemu sama dosen, kamu ikut aku ya!" Kata Citra. "Kemana?" tanya ku penasaran. "Ke rumah aku, jangan nolak karena aku gak mau dengar alasan apapun itu," ujar Citra membuat aku harus mengalah, selama berteman dengan Citra hanya satu kali aku ke rumahnya karena ada tugas. Tante Yuki, Mamanya Citra sangat baik dan supel ramah membuat tidak merasa sungkan jika datang ke rumahnya. 15 menit sudah berlalu tapi sang dosen juga belum masuk padahal hari ini pengajuan tentang judul skripsi takut di tolak jika tidak menarik di hatinya. Doser Miller adalah dosen senior di antara dosen lainnya, beliau begitu di segani di kampus ini dan beliau yang menjadi dosen kami yang akan memeriksa skripsi. "Ra, sepertinya dosen Miller gak datang deh!" Citra kembali bersuara setelah anak-anak mulai bosan menunggu begitu juga dengan aku dan Citra, mata ku terus melihat ke arah pintu sehingga aku melihat seseorang sepertinya masuk ke ruang ini. "Ssstt.... Dosen datang!" Kata ku duduk dengan rapi, begitu juga dengan mahasiswa yang lain tapi yang masuk bukan dosen Miller tapi lelaki tampan dengan badan tinggi, bersih dan jambang tipis yang sudah di cukur membuat ia semakin tampan. "Hari ini dosen Miller tidak masuk karena ada sesuatu halangan yang tidak bisa di tinggalkan sehingga saya yang akan menggantikan beliau untuk hari ini," Seseorang lelaki muda berdiri di depan kami,semua mata perempuan menatap ke arah dosen tersebut tapi tidak dengan ku dan Citra, kami menanggapi biasa saja tapi yang lain begitu antusias seakan lagi menang lotre. "Kenalkan, nama saya Chiko Septia! Kalian boleh memanggil nama saya Chiko," kata lelaki yang baru memperkenal dirinya di depan kami. "Baiklah, apa ada pertanyaan?" Dosen Chiko bertanya. "Pak, apa bapak sudah punya pacar! Jika tidak ada,saya mau dong jadi pacar bapak," kata Selin perempuan centil yang mempunyai kecantikan di atas rata-rata itu sering kali menggoda lelaki yang tampan. Huhuhuhuhu..... Semua mahasiswa tertawa dan menyoraki Selin yang sangat kepedean sedangkan aku hanya ikut geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka. "Mana mau dosen Chiko modelan kayak lu, jangan mimpi Sel," ujar Deki lelaki kulit yang ada di dalam kami. "Sudah, kalau tidak ada pertanyaan lagi kita bisa memulai materinya," ujar dosen Chiko. Semua mahasiswa mengeluarkan buku catatannya, mendengarkan setiap penjelasan yang di sampaikan oleh dosen muda tersebut. ? ? Sepulang dari kampus, aku di ajak citra ke rumahnya. Aku mengendarai sepeda karena tidak mungkin aku meninggalkannya di kampus. Rasa lelah memganyuh sepeda tak tertahankan, apalagi matahari sangat panas. Rasanya punggung ku terasa panas dan mendidih, ku lihat Citra duduk di belakang sepeda ku karena katanya ia ingin pulang dengan sepeda meskipun aku sudah berapa kali menyuruh dia menaiki mobilnya. "Yura, berhenti dulu! Kita beli minum dulu!" Aku berhenti mengayuh sepeda tepat di depan supermarket, Citra masuk ke dalam untuk membeli minuman sedangkan aku duduk di luar menantinya keluar. Keringat berjatuhan di kening, hari ini benar-benar panas seandainya aku punya sepeda motor pasti aku akan sangat senang. "Mau minum....!" Seseorang memberikan minuman coffe dengan tepat di wajahku, aku yang sedang melamun menoleh ke asal suara. Bukankah dia yang ke cafe kemarin,kenapa dia ada disini? Apa dia mengikuti ku. Aku menatap bingung ke arahnya. "Sudah, kamu gak usah bingung! Boleh kita bicara sebentar," ujar lelaki yang tidak aku ketahui namanya, kata Citra namanya Vincent. Entah itu benar namanya atau tidak aku pun tidak tahu. "Mau ngomong apa?" tanya ku. Sepertinya dia mau ngomong serius. "Mmm, cara ngomongnya gimna ya! Begini, kamu mau gak jadi pacar saya di depan orang tua saya," ujar lelaki tersebut. Apa, jadi pacarnya! Mimpi apa aku semalam atau ini aku memang sedang bermimpi. Aku mencubit diriku sendiri. Aw... Meringis aku kesakitan! Ternyata bukan mimpi memang dia berada di depan ku sekarang. "Maksud Mas apa? Anda pikir saya perempuan apa bisa ngajak saya buat jadi pacar bohongan anda," ucap ku pura-pura marah secara halus menolak biar tidak di anggap cewek gampangan. Dia pikir dia siapa? Mengajak aku jadi pacar pura-puranya dia dan setelah aku jatuh cinta padanya dia akan meninggalkan aku begitu, ah tidak! Aku tidak ingin sakit hati dalam mencintai seseorang. "Maksud saya bukan begitu?" ujar Vincent merasa kesal berbicara dengan Yura membuat dia naik darah. "Lalu...!" "Mas Vincent, kok ada disini?" Tiba-tiba Citra sudah berada di depan kami, kapan dia datang kok langkah kakinya tidak terdengar. "Enggak, tadi mas gak sengaja lihat teman kamu berdiri disini! Kalian mau kemana?" tanya Vincent menatap Citra seakan kami tidak berbicara apa-apa. "Aku mau pulang, Mas. Kebetulan boncengan sepeda sama Yura, sesekali pengen rasain gimana pulang naik sepeda. Oh ya, kok kalian berdua tegang gitu, ada apa?" Citra menoleh ke arah ku dan Vincent, aku mencoba untuk bersikap biasa saja begitu juga dengan Vincent. "Ngak kok, Sudah Mas mau pergi dulu! Kalian hati-hati," ujar Vincent meninggalkan Aku dan Citra. "Yok, kita pulang!" Ujar ku berjalan ke arah sepeda. "Tunggu, kok loe udah ada minuman! Kan gue belum kasih. Ayo, katakan dari mana dapat minuman itu?" tanya Citra penasaran. Aku menghela nafas panjang, lalu menatap ke arahnya. "Yakin loe mau tahu? Gue takut nanti loe syok lagi," ujar ku semakin membuat Citra penasaran. "Tenang, gue gak akan penasaran! Katakan siapa?" Ia tersenyum melihat ke arah ku. "Minuman ini dari kakak sepupu loe tadi dan loe tahu, dia minta gue jadi pacar pura-puranya dia?" Aku masih memegang sepeda sedangkan citra masih berdiri di depan ku. "Apa, masak sih? Tapi bagus lah, gue setuju!" ujar Citra tanpa merasa bersalah. "Setuju apaan? Gue gak mau, ayo naik katanya mau pulang kok masih disini. Rumah loe masih jauh Cit," kata ku mengalihkan pembicaraan agar dia tidak terus membahas masalah tadi. Sepanjang perjalanan, ia terus mengoceh tanpa berhenti tapi aku teringat dengan perkataan Vincent tadi. Kenapa ia meminta aku untuk menjadi pacarnya! bukan kah masih ada perempuan lain untuk di bawa pada orang tuanya jika dia mau. Tak lama kemudian, kami sampai di rumah citra. Cuaca yang sangat terik membuat keringat sangat lengket pada baju, citra mengajak aku ke kamarnya. "Sayang, kata pak Mamat kamu pulang sama Yura naik sepeda ya?" tanya Mama Citra. "Iya, Ma! Ternyata pulang naik sepeda itu seru. Oh ya, Ma. Tolong bilang sama bibi untuk mengantarkan makanan ke kamar ku ya! Ra, ayo kita ke kamar," kata Citra mengajak ku ke kamar. "Gak usah, Cit. Aku tunggu kamu disini saja?" Kata ku tidak enak dengan Tante Veni meskipun beliau sangat baik tapi aku merasa sungkan jika berada di antara keluarga ini. "Sudah, ikut aja apa kata Citra! Tante udah anggap kamu seperti anak Tante sendiri," kata Tante Veni tersenyum mengelus tangan ku. "Baiklah Tante, kalau begitu aku ke atas dulu sama Citra," Akhirnya aku ikut ke kamar Citra yang ada di lantai atas, kamar yang bernuansa pink dan sangat cantik dan luas membuat aku terpesona. Kamarnya tertata rapi begitu juga dengan boneka yang terpajang di atas tempat tidur. "Sudah, loe rebahan aja dulu dan setelah itu loe mandi juga," Citra meletakkan tas miliknya begitu saja sedangkan aku masih mengedarkan pandangan melihat kamar seluas ruang tamu rumah gue. "Tapi gue gak bawa baju ganti, Cit!" "Udah, loe pakai baju gue aja lagian ukuran kita itu paling loe semok dikit di banding gue," ujar Citra masuk ke kamar mandi lalu menutup pintu dengan keras sedangkan aku merebahkan tubuh di atas tempat tidur yang empuk. "Ra, bangun! Loe gak jadi mandi?" Samar-samar ku dengar seseorang menggoyang tubuhku, ternyata aku tertidur dari tadi dan melihat ke arah Citra, sepertinya dia baru saja selesai mandi. "Ayo, mandi dulu! Nih, baju ganti buat kamu," ujar Citra memberikan bajunya untukku, aku langsung mengambilnya lalu masuk ke dalam kamar tapi gimana hidupin airnya. Tunggu! disini ada kran berwarna merah dan berwarna biru tanda ada dua air yang berbeda. Sebaiknya aku coba putar kran berwarna biru dulu, takutnya nanti air panas. Sreeekk.... Ternyata air dingin berarti berwarna merah itu air panas, sebaiknya aku mandi dengan cepat karena aku harus ke cafe untuk bekerja. Aku langsung mandi setelah memutuskan kran air dan kini aku mandi seperti di film-film pakek shower. Ternyata enak jadi anak orang kaya! Apa-apa tinggal minta bukan seperti diriku harus bekerja banting tulang untuk memenuhi kebutuhan. Selesai mandi, aku mengambil handuk lalu menggantikan pakaian di kamar mandi. Mataku melongo saat memindai baju selutut itu, yang benar saja citra memberikan baju baju yang tidak pernah aku pakai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN