Bawa calon mantu

1505 Kata
"Yura, semalam siapa nganterin kamu pulang?" tanya ibu saat aku baru saja keluar dari kamar. Ya,saat aku pulang ibu sudah tidur mungkin beliau sudah lelah terlalu lama menunggu ku pulang hingga ibu memilih untuk tidur. "Citra, Bu! Semalam sepeda ku kempes," Astaga.... Aku lupa jika sepeda ku semalam di bawa kemana, sebaiknya aku mandi dulu dan setelah itu baru aku akan menghubungi Citra untuk menanyakan di mana sepeda ku itu. Aku kembali balik ke kamar untuk mengambil handuk dan langsung mandi, aku harus cepat-cepat untuk mengambil sepeda aku sebelum di jual karena tidak mungkin orang kaya mau menampung sepeda jelek di dalam rumahnya. Tak perlu waktu lama untuk mandi karena aku tidak sanggup menahan dinginnya air di pagi hari, selesai berdandan mengambil ponsel untuk menghubungi Citra. Tut.... Tut.... Tut..... Panggilan belum juga tersambung padahal aku sudah menghubunginya beberapa kali, apa dia masih tidur sehingga tidak mengangkat ponsel ku. Aku berdecak kesal karena Citra belum juga angkat ponsel aku. "Hallo, Cit. Dimana sepeda ku, aku ingin mengambilnya," aku langsung bertanya tanpa membiarkan dia bernafas dulu karena aku takut jika sepeda ku hilang. "Astaga Yura! Aku pikir kenapa kamu menghubungi aku se pagi ini ternyata hanya untuk menanyakan sepeda," ujar Citra khas orang bangun tidur. "Bukan gitu, soalnya aku takut sepeda ku hilang!" Ujar Ku lagi. Memang benar kan, sepeda sekarang mahal bukan seperti dia terlahir dari keluarga berada. "Baiklah, nanti aku kirim alamat dimana sepeda kamu berada. Sudah, aku matikan dulu. Aku ngantuk mau tidur lagi," kata Citra mematikan ponsel lalu mengirimkan alamat rumah dimana sepeda Yura berada. Aku berjalan keluar lalu duduk di meja makan, ku lihat makanan pagi ini sangat enak. Ada ayam goreng dan tempe bacem kesukaan aku, aku langsung mengambil piring lalu menyendok nasi. "Bu, tumben pagi ini ada ayam goreng. Biasanya tumis kangkung melulu," tanya ku di sela-sela aku makan. "Alhamdulillah, Ra. Kemarin ada rezeki lebih jadi ibu beli ayam karena sudah lama kita tidak makan enak, sekali-kali kan boleh," kata ibu tersenyum mengambil nasi dan ayam goreng yang masih ada tiga potong lagi. "Setiap hari juga boleh, Bu?" Makan ku sudah selesai, kini aku kembali ke kamar mengambil tas dan membuka ponsel, mana tahu ada Citra sudah mengirimkan alamatnya. Ternyata ia sudah mengirim 15 menit yang lalu, aku melihat alamat yang harus aku tuju. Jauh bener, satu jam aku baru sampai ke sana. Sebaiknya aku naik taxi saja biar lebih cepat lagian jam mata kuliah masih lama. "Bu, Yura berangkat dulu ya!" Pamit ku pada orang tua yang telah melahirkan aku ke dunia ini, terlihat kang ojek lewat di depan ku dan aku langsung memanggilnya. "Bang, tahu alamat ini tidak! Tolong anterin aku kesana," Aku bertanya pada kang ojek tersebut dengan memberikan alamat padanya. "Tahu, Neng. Ayo naik, saya antarkan," Kang ojek menyuruh aku duduk di belakangnya, aku pun mengikuti apa yang dia katakan. Jika menunggu taxi pasti lama lagi ongkosnya mahal mana aku belum gajian lagi. Aku turun setelah kang ojek memberitahu aku kalau di depan ku lah alamatnya, ini mah bukan rumah tapi mansion. Lihatlah, di dalam rumah ini ada beberapa penjaga memakai baju hitam dan ada seorang yang semalam membawa sepeda ku. Tapi bagaimana aku masuknya, cara membuka gerbang gimana. Aku mencoba memanggil bapak yang berdiri tidak jauh dari pintu pagar. "Pak....!" Teriak ku melambaikan tangan padanya, ia pun melihat ke arah ku lalu menghampiri aku yang berada di depan pintu gerbang. "Ada apa, Neng?" "Mmm... Saya mau ngambil sepeda Pak, semalam di bawa kesini kata teman saya pak," ujar ku masih berdiri di depan pintu gerbang yang tak kunjung di buka padahal kaki sudah pegal lhoe!. "Tunggu sebentar Neng, saya tanya sama teman saya dulu apa benar sepeda neng ada disini atau tidak," Bapak tadi kembali lagi berjelan entah kemana, aku pun tak tahu mungkin menemui temannya. Aku melihat di sekitarnya, mansion yang sangat mewah. Kalau tinggal disini, pasti aku akan di perlakukan seperti putri. Aduh, Yura! Jangan mimpi terlalu tinggi nanti sakit. Kata ku mewaraskan pikiran aku. "Ayo, Neng. Silahkan ikuti saya!" Seru bapak itu yang sudah berada di depan ku. Lah, sejak kapan pintu gerbang ini terbuka kok gak ada suaranya. Apa gerbang ini otomatis bisa buka dan tutup sendiri, orang kaya mah apa aja bisa. "Ah, baik pak!" Aku mengikuti langkah kaki bapak tadi, ia membawa ku ke samping mansion mungkin sepeda aku ada disana. Benar, ternyata sepeda aku sedang di perbaiki sama tukang tambal ban keliling. Ku lirik jam sudah pukul 09 pagi saja, kok jamnya cepat kali berputar. Apalagi jam 10 ada mata kuliah yang tidak boleh di tinggal karena bulan depan harus buat skripsi. "Udah selesai, Neng!" Ujar bapak-bapak semalam. "Udah, terimakasih ya pak? Ini biayanya berapa?" tanya ku basa-basi takut tambal ban sama orang kaya kemahalan karena uang di dompet hanya ada lima puluh ribu lagi. "Tidak usah di bayar, Neng! Semua ini biar urusan tuan," kata bapak tadi tersebut. Tuan, siapa tuan? Apa pemilik rumah ini tapi kok rumah ini sepi sekali seperti tidak ada penghuninya. Dari jauh Vincent memperhatikan Yura, kebetulan dia berada di dapur mengambil air minum yang mengarah pintu samping mansion. "Kamu lihatin siapa, Vin!" Tegur Bu Anjani yang berada di samping putranya. "Gak ada siapa-siapa, Ma! Aku ke atas dulu," Vincent berlalu meninggalkan mamanya, ia berjalan ke atas menaiki tangga. Dari atas ia bisa lebih leluasa melihat Yura karena ia begitu penasaran dengan gadis cantik tapi sangat sederhana. "Pak, terima kasih ya! Kalau begitu saya pergi dulu," kata ku pergi meninggalkan mansion bak istana itu bagaikan di film. Aku pergi meninggal rumah yang tidak ku ketahui itu, entah rumah milik siapa nanti akan aku tanya langsung pada Citra saat sampai di kampus. Aku mendorong sepeda sampai ke depan gerbang, sekali lagi aku menoleh ke belakang dan mengangguk tanda mengucapkan terima kasih pada bapak-bapak tadi setelah itu aku mulai mengayuh sepeda untuk menuju kampus. ? ? ? Di sebuah kamar, Citra baru saja selesai mempoles wajahnya dengan make up. Dia turun ke bawah menemui Mamanya yang sedang duduk di sofa sambil membaca majalah. "Sayang, mau kemana?" tanya Mama Citra. "Mau ke kampus, Ma! Memangnya kenapa?" tanya Citra lagi sampai di anak tangga yang terakhir. "Gak sih, semalam kamu pulang sama siapa?" tanya Mamanya. "Sama Mas Vincent, memangnya kenapa sih Ma," ujar Citra malas pasti Mamanya akan kembali berkata untuk menjodohkannya dengan Vincent padahal mereka sepupuan. Ia pun sudah menganggap Vincent seperti kakaknya sendiri karena hanya dia anak tunggal di keluarganya. "Mama ingin kamu sama Vincent meni--," "Stop, Mama! Sudah berapa kali aku bilang kalau aku dan kak Vincent tidak akan seperti yang Mama harapkan karena kenapa? Aku sudah menganggap kak Vincent seperti kakak ku sendiri lagian kami sepupuan, Ma!" Potong Citra dengan cepat. Dengan malas, Citra mengoles selai di roti lalu melapisi dengan roti selanjutnya lagi lalu pergi meninggalkan Mamanya. Ia berangkat ke kampus, mengendarai mobil sendiri tanpa di temani sang sopir. Sampai di kampus, ia langsung mencari Yura dan menanyakan pada anak-anak yang sedang berdiri. "Kalian lihat Yura, Gak?" tanya Citra. "Tuh, lagi duduk di bawah pohon samping kampus," kata seseorang dari mereka. "Terimakasih ya!!" Kata Citra berjalan ke samping kampus memang banyak pohon untuk berteduh atau pun melepaskan penat, ia duduk sambil membaca buku. "Yura....! Gimana sepeda loe?" tanya Citra duduk di sampingnya. "Sepeda gue sudah di perbaiki, gila! Loe kenapa bawa sepeda gue ke rumah orang kaya tahu gitu mending gue pulang kaki semalam," kata ku nyerocos pada Citra saat ia baru sampai dan duduk di samping ku. Aku sangat kesal sama Citra karena aku tidak enak pada orang yang telah menolong ku bukannya sepedanya di bawa pulang ke rumahnya tapi ke rumah orang lain bikin kesel saja. ? ? "Vincent, mama mau kamu secepatnya cari istri atau pacar gitu, bawa kenalin sama Mama," kata Bu Anjani pada Vincent yang kini sedang menonton Tv. "Kok pagi-pagi udah bahas itu aja, Ma! Aku masih pengen--," "No...No...No... Sayang, kamu itu sudah masuk kepala tiga dan Mama mau menimbang-nimbang cucu atau kamu mau Mama yang cariin iya!" Ujar Bu Anjani pada putranya yang sedang fokus menonton tv menoleh ke arahnya. "Ma, cari istri itu tak semudah nemu sandal di selokan butuh proses Mi. Apalagi aku yang benar-benar harus memilih istri yang sama cocok dengan aku," ungkap Vincent tentang hatinya yang belum bisa membuka hati untuk perempuan mana pun. Apalagi setelah di hianati oleh perempuan yang sangat ia cintai, ia lebih memilih mengandi dirinya pada negara dan jauh dari kata perempuan sehingga ia merasa kaku jika saat ini ia harus memilih istri. "Pokoknya Mama gak mau tahu, jika kamu tidak mau menikah dulu setidaknya pacarkan punya," kata Bu Anjani. Vincent menghembuskan nafas dengan kasar, lalu menggantikan Chanel TV yang sedang ia tonton. "Mau kemana?" tanya Bu Anjani melihat putranya bangkit dari sofa. "Mau ke rumah Chiko, Ma?" Kata Vincent meninggalkan Mamanya yang asik dengan menonton TV. "Hati-hati, ingat kamu harus bawa calon mantu untuk Mama!" Seru Bu Anjani lagi. Ia tidak ingin putranya merasa kesepian dan terus bekerja mengabdikan dirinya pada negara karena ia bisa bekerja di perusahaan papanya jika dia memang mau tapi ia tidak ingin bergantung pada keluarganya meski orang tahu ia seorang kolongmerat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN