Bertemu lagi

781 Kata
Cafe sudah sepi, tidak ada lagi yang datang. Aku bersiap -siap untuk pulang dan menenteng satu bungkus bakso yang sengaja di bagikan oleh bos. Beliau sangat baik pada karyawannya, jika ada yang lebih pasti menyuruh kami untuk bawa pulang. Aku menaiki sepeda ku, Dewi di jemput sama pacarnya sedangkan aku pulang sendiri. Nasib aku mungkin di umur 24 tahun masih sendiri. Aku mengendarai sepeda, menerjang dinginnya malam yang menusuk di setiap kulit tubuh ini. Aku harus segera sampai ke rumah pasti ibu gelisah karena aku belum pulang. Tiba-tiba saja sepeda yang ku naikinoleh dan hampir saja terjatuh, aku berhenti lalu melihat sepeda dan kalian tahu, sialnya ban sepeda ku kempes. Bagaimana cara aku pulangnya, mau ke bengkel jam segini mana ada lagi yang buka. Lagian siapa sih naruh paku di jalanan, kan jadi kempes. Dengan terpaksa aku mendorong sepeda kesayangan ku ini, jika ku naiki takut bannya akan pecah lebih luas lagi. Tiba-tiba mobil berhenti tepat di depanku, aku terpaksa berhenti. "Siapa, sih! Berhenti di jalan kok sembarangan," gerutu ku dengan kesal. Aku melihat seseorang perempuan keluar dari mobil ternyata adalah Citra, ngapain dia jam segini masih di luar tapi dia jalan sama siapa?. "Yura, sepeda kamu kenapa?" tanya Citra setelah tahu jika yang ada di depannya adalah aku. "Sepeda aku kempes, Cit! Tadi ke injek paku jadi begini lah, harus dorong ngenes kan," ujar ku mengulum senyum pura-pura baik-baik saja padahal aku pengen nangis kalau bisa aku pengen di antar sama Yura tapi malu kan minta di anterin sama dia. "Ya sudah, kamu naik mobil aku saja biar sepeda kamu di perbaiki besok," kata Citra. Aku sih mau di anterin tapi bagaimana dengan sepeda ku ini, aku tidak mungkin meninggalkan sepeda ku disini jika hilang nanti siapa yang akan membelinya lagi. "Tidak usah, Cit. Aku bisa pulang sendiri kok! Kamu duluan saja," kata ku. Bukannya pergi dia malah balik ke mobil dan berbicara denga seseorang yang aku pun tidak tahu siapa. "Sudah, kamu naik saja! Aku akan mengantarmu ke rumah dan sepeda kamu bisa kamu ambil besok di rumah ku," kata Citra. "Memangnya tidak apa-apa, Cit. Aku merepotkan kamu?" Kata ku lagi. "Tidak, ayo masuk. Lagian kita ini sahabat," ujar Citra menarik tangan ku untuk masuk ke mobil. Tak lama kemudian seseorang memakai baju hitam berhenti di samping mobil yang di naik Citra. "Tolong kamu bawa sepeda itu ke rumah dan tolong perbaikinya," aku mendengar suara bariton lelaki tersebut, sepertinya aku pernah mendengar suara itu. "Sudah, ayo? Besok kamu bisa mengambilnya," kata Cit membuka pintu mobil belakang lalu aku langsung masuk dan kaget melihat lelaki tadi ada di depan ku. Apa dia pacarnya Citra, mungkin saja! Mereka kan terlahir dari keluarga kaya bukan seperti itu. "Ayo, Mas! Kita antarkan teman aku dulu ya?" Pinta Citra. Nah, benarkan jika lelaki itu pacarnya Citra. Untung saja aku tidak jadi pelakor ternyata di pacar sahabat aku. Sepanjang perjalanan, aku hanya diam tidak ada pembahasan begitu juga dengan citra. Tak butuh waktu lama untuk sampai di rumah ku. "Terimakasih ya, Cit! Kamu udah mau mengantar aku pulang padahal sudah kemalaman," kata ku berucap terima kasih padanya. "Sudah gak apa-apa! Kita ini sahabat dan sudah seharusnya kita harus saling membantu," kata Citra, aku hanya tersenyum. "Ya sudah, kalau begitu aku masuk dulu! Kamu hati-hati di jalan ya," ujar ku berjalan menuju teras lalu menunggu sampai mobil citra hilang pandangan ku. ? ? ? "Tadi siapa?" tanya Vincent dalam perjalanan saat mengantar adik sepupunya Citra. "Kenapa, apa Mas menyukai dia?" Citra balik bertanya membuat Vincent kembali menatap Adik sepupunya. "Apa menanyakan itu adalah tanda suka, tidak kan!" Ujar Vincent ia begitu tertarik dengan sosok Yura yang tangguh, hidup dalam kesederhanaan membuat ia paham akan perjuangan perempuan yang baru saja ia temui. "Ya enggak sih, dia Yura sahabat aku! Kami satu jurusan manajemen. Rencananya, aku akan mengajak dia bekerja di kantor Om jika kami lulus kuliah tahun ini," kata Citra. "Oh, namanya Yura! Sepertinya dia perempuan yang tangguh, dia juga periang dan pekerja keras," ujar Vincent. Meskipun ia belum kenal terlalu lama dengan Yura tapi ia bisa menilai jika Yura wanita yang baik dan pekerja keras bukan wanita yang sering di temui selama ini. "Mas benar, aku salut sama dia Mas! Meskipun hidup sederhana tapi dia tak pernah mengeluh pada dunia," kata Citra memuji Yura di depan kakak sepupunya. Vincent hanya mengangguk lalu kembali fokus menyetir. Tak lama kemudian, mereka sampai di rumah adik Mamanya. Citra turun dari mobil lalu mengajak kakak sepupunya untuk mampir dulu. "Gak mampir dulu, Mas! Ketemu sama papa gitu," kata Citra. "Gak Cit! Mas langsung pulang saja. Besok mas kesini ketemu sama Papa kamu," kata Vincent lagi, ia tidak turun dari mobil. Citra hanya mengangguk masuk ke rumahnya karena malam sudah larut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN