Sebuah mobil baru saja memasuki mansion milik tuan Hutabarat yang memiliki bisnis di bidang property, perhotelan, tambang emas dan beberapa bisnisnya yang sudah terkenal di mancanegara.
Banyak pembisnis lainnya yang bekerja dengan perusahaan the company milik tuan Hutabarat untuk meraih keuntungan dalam berbisnis. Meski kaya raya, Tuan Hutabarat tidak pernah sombong.
Mereka juga mendirikan panti asuhan untuk anak-anak gelandangan ataupun anak yang sengaja di buang oleh ibunya.
Mobil terparkir di depan halaman mansion, semua pegawai berdiri dengan baju berwarna hitam menyambut kedatangan Vincent membuat ia sedikit kesal.
Terlihat wanita sangat cantik yang berumur 50 tahun tapi masih awet muda mungkin karena selalu melakukan perawatan.
"Sayang, akhirnya kamu kembali juga? Bagaimana bertugas menjadi Abdi negara?" tanya Bu Anjani membawa putranya masuk ke mansion.
"Semua berjalan lancar, Ma. Aku ke kamar dulu ya soalnya capek banget pengen istirahat," kata Vincent, ia benar-benar lelah setelah menempuh perjalanan beberapa jam karena berbeda negara membuat ia kelelahan.
"Iya, kamu istirahat saja nanti mama bangunin jika makan siangnya sudah siap," kata Bu Anjani.
Keluarga Hutabarat memiliki dua putra, kakak dari Vincent sudah menikah dan kini tinggal di Malaysia meneruskan bisnis papanya yang ada disana sedangkan ia masih betah sendiri meski mamanya sudah beberapa kali memintanya untuk menikah tapi dia tidak menggubrisnya.
?
?
?
"Akhirnya, kita selesai juga membagikan bantuan pada mereka," kata Citra dan aku hanya mengangguk senang bisa berbagi dengan mereka.
Setelah membagikan bantuan pada masyarakat yang terkena banjir, mereka kembali ke kampus. Uang yang di dapatkan dari mengutip setiap mahasiswa itu mereka belikan sembako lalu memberikan pada warga yang sangat membutuhkan.
"Kita ada mata kuliah lagi gak setelah ini soalnya aku mau ke tempat kerja," ujar ku melihat jam sudah siang-siang, bisa-bisa aku di omelin sama pak bos karena telat lagi.
Ya, untuk memenuhi kebutuhan aku bekerja setengah hari di cafe karena aku tidak ingin terus membebani ibu, setidaknya untuk keperluan diriku sendiri bisa aku dapatkan sendiri tanpa meminta pada ibu.
"Sepertinya gak ada, Ra! Memangnya kamu kerja dimana?" tanya citra padaku, dia anak orang kaya tapi ia tidak pernah sombong. Ia selalu baik pada semua orang dan berteman pada siapa saja.
"Gimana kalau hari ini kamu gak usah ke cafe, kamu ikut aku saja," kata Citra lagi.
"Ikut kamu, kemana?" tanya ku menatap sahabat ku ini, aku memang sering di ajak ke rumah dan orang tuanya sangat baik padaku meski aku bukan terlahir dari keluarga kaya raya.
"Sudah, ikut saja nanti kamu tahu juga," kata Citra menarik tanganku.
"Aku gak bisa, Cit! Aku harus kerja kalau enggak bisa-bisa aku di pecat," kata ku pada Citra menolak untuk ikut bersamanya.
Jika dia mengajak aku hari Minggu pasti aku akan ikut tapi aku dari Senin sampai Sabtu aku harus bekerja meskipun hanya setengah hari itupun sudah di izinkan bekerja dari siang hari sampai jam 10 malam.
"Umm... Baiklah! Kapan-kapan saja aku ngajak kamu. Ya sudah, aku duluan ya!" Pamit Citra padaku, aku hanya mengangguk lalu menaiki sepeda.
Matahari sangat terik, seakan dia suka sekali menebarkan cahaya yang sangat menyengat di kepala ku. Aku terus mengendarai sepeda sehingga aku bisa sampai di cafe tepat waktu.
Aku langsung turun dan meletakkan sepeda ku begitu saja dan langsung ke belakang, cafe di buka jam 02:00 siang sehingga Aku masih ada waktu untuk istirahat.
"Wi, bos sudah datang belum?" tanya ku melihat Dewi sedang menyapu.
"Belum kayaknya, aku juga baru sampai," kata Dewi, aku mengerjakan tugas ku membersih meja agar tidak ada debu yang melekat di meja makan ataupun meja yang basah karena pelanggan adalah raja.
Selesai membersihkan semua, kami duduk di dapur karena tidak yang harus kami kerjakan.
Cafe ini sengaja di buka jam 02:00 siang sampai jam 10 malam karena lebih banyak pelanggan yang datang. Sudah sebulan aku bekerja disini, ada 4 pelayan disini dan satu orang masak.
Saat pengunjung sedang ramai-ramainya, kami sedikit kewalahan apalagi jika pesanan beruntun datang. Kadang kami membagi tugas membuatkan minuman dan yang mengantarkannya.
?
?
?
Sang Surya mulai kembali ke asalnya, pelanggan Cafe Jamarista mulai berdatangan. Memang bakso di cafe ini sangat enak bahkan aku sudah dua kali memakan bakso disini dan membuat siapa yang memakannya akan ketagihan.
Bukan hanya bakso saja, kami juga menyediakan nasi goreng, ayam goreng, cumi dan menu lainnya. Kadang banyak di antara pelanggan hanya makan bakso dan nasi goreng.
Aku yang baru saja mengantarkan pesan seseorang menoleh ke asal suara yang memanggilku, aku berjalan ke arahnya.
Apa kalian tahu, lelaki yang berada di depan ku sangat tampan bahkan baru kali ini aku melihat lelaki tampan dan gagah, eh tapi siapa lelaki ini.
"Mbak, hei kok bengong?"
Lelaki tersebut menggerakkan jarinya ke arahku.
"Eh, Maaf Mas. Saya melamun, soalnya mas ganteng," kata ku tersadar dari lamunan membayang Bambang tampan ada di depan mata.
"Mau pesan apa, Mas?" tanya ku menatap lelaki dengan jambang tipis bak tentara itu, tubuhnya yang tegas seperti benar dia seorang tentara tapi mana ada tentara ke sasar di cafe.
"Boleh saya lihat menunya dulu?" pinta Lelaki tersebut.
Ia melihat aku memegang buku menu, eh ke apa aku sampai lupa memberikan buku menu padanya. Aduh, Yura! Kayak gak pernah lihat Bambang tampan saja kamu.
"Maaf Mas, saya lupa memberikan buku menunya jika sudah selesai memesan nanti boleh panggil saya lagi," kata ku memberikan buku menu tersebut padanya lalu kembali berjalan ke dapur mengantarkan pesanan pelanggan yang lain.
Tak la kemudian, lelaki itu kembali memanggil aku dan memberikan pesanannya, aku kembali ke dapur karena tak mungkin dong! duduk sama Bambang tampan apalagi belum kenal.
Bisa-bisa aku di teriakin pelakor jika Istrinya tahu, bisa berabe kan.
Aku memberikan pesanan pada tukang masak, lalu berjalan ke arah Dewi yang sedang membuat minuman.
"Wi, buatkan jus alpukat satu tapi ingat jagan terlalu manis karena dia sudah terlalu manis jika dilihat," ujar ku pada Dewi.
Dewi yang tidak pernah melihat aku begini tertawa sendiri mungkin lucu ya! Orang yang tidak pernah jatuh cinta tiba-tiba suka pada orang yang tidak di kenal.
Aneh kan! Jelas aneh wong suka sama lelaki tak di kenal.
"Kamu kenapa, Ra! Senyum gitu, aku lihat kamu lebih semangat di depan dari pada di belakang," tanya Dewi membelah buah alpukat lalu baru mencucinya.
"Ah, kamu mau tahu saja! Aku lihat pesanan tadi udah siap apa belum," ujar ku kembali ke arah mbak Mira, ia yang menjadi tukang masak di sana.
"Yura, kamu bantuin mbak rapikan ini! Mbak kerepotan begini kalau harus sendiri," ujar mbak Mira menyuruh ku menghiasi pesanan pelanggan. Aku melihat ada seafood, ayam panggang dan nasi putih, sepertinya pesanan ini punya mas tadi.
"Oke, Mbak!"
Selesai membantu mbak Mira menata makanan di dalam piring, aku kembali ke depan mengantar makana pada Bambang tampan tadi. Ia asik dengan ponselnya, apa ia sudah punya istri. Jika memang dia sudah menikah maka aku akan mundur karena tidak mungkin dong! Aku menjadi pelakor.
Bisa-bisa netizen akan nyamperin aku ke rumah, Eh masak netizenkan gak tahu dimana rumahku maksud ku istrinya.
"Pesanannya, Mas! Maaf sedikit terlambat," kata ku tersenyum, eh dia balik senyuman aku membuat aku melayang ke langit ke tujuh. Senyumannya sangat manis, semanis madu yang tidak ada racunnya.