L I M A

1957 Kata
"Kakak," panggilku pada Ara yang tengah berlari kecil di dapur, mengganggu Bundanya yang tengah sibuk memasak. "Eh itu dipanggil Ayah, Kak," kudengar Kanya ikut mengarahkan Ara untuk mendekat padaku. Hari ini sedang sibuk-sibuknya, keluarga kami akan mengadakan pertemuan keluarga di rumah. Sekedar syukuran kecil atas kehamilan Kanya yang kedua. Tidak ada acara 7 bulanan atau apalah itu nantinya, ya hanya syukuran kecil bersama keluarga. Dan Kanya dengan semangatnya ingin memasak semua hidangan itu sendiri. Padahal sudah kubilang kita butuh satu orang lagi untuk membantu, paling tidak bisa dibantu Uti Shinta atau Uti Dewi, tapi Kanya tetap bersikukuh. "Emmmm..." Kudengar Ara menolak. "Sayang, Ayah punya mainan baru lho," masih berusaha merayu sembari melepas sepatu dinasku. "Tuh, Ayah punya mainan baru, Kak. Eh jangan, itu panas, Sayang." Aku langsung bergegas ke dapur meski satu kaos kakiku belum terlepas dari telapak kaki. Kulihat Ara tengah mendekati air panas di dalam baskom. Sementara Kanya dengan perut yang mulai nampak berusaha meraih Ara. "Aduh," aku langsung mengambil alih Ara sebelum Kanya sempat membawanya ke atas pinggang. "Kakak mau bantu Bunda masak ya? Boleh, tapi sambil digendong Ayah ya?" Kataku meraih peralatan penggorengan di atas kompor. Kanya menghela napas, "Ayah istirahat dulu, mandi, sholat Ashar kalau belum sholat Ashar, habis itu main sama Kak Ara." Perintahnya tegas padaku. Dia memang yang paling pengertian di sini, tapi buruknya dia adalah tidak mau dimengerti oleh orang lain. Katanya tetap harus mengutamakan suami, bukan semacam itu sebenarnya. Dia lebih banyak peduli padaku dan Ara daripada pada tubuhnya sendiri. Baginya, setiap kali merasa pusing di kepala bagian belakang, minum obat saja cukup. Sementara kami, harus ke dokter, harus minum obat herbal ini itu, harus istirahat cukup. Jika dipikir ulang, sangat tidak adil hidup dalam kondisi semacam itu. "Jangan ngatur Ayah hari ini kalau Bunda sendiri enggak mau diatur!" Kali ini aku tak ingin melunak, sudah cukup selalu mengatakan iya setiap kali dia meminta. Aku tidak bisa melihat wajah lelahnya ketika mengandung. Dua nyawa yang aku khawatirkan. "Selesaikan ini dan istirahat, sisanya Ayah sudah pesan. Kalau harus mendengar pendapat Bunda, pasti selalu saja bilang biar Bunda yang masak. Katanya selalu ingat sekarang ada satu nyawa lagi yang harus dijaga, tahunya tetap susah mengatur fisiknya sendiri!" Kanya terdiam seribu bahasa, ini mungkin pertama kalinya aku berkata keras dengannya. Sebelumnya aku tidak pernah bisa, selalu saja lunak. "Ayo, Kak Ara nunggu Ayah mandi dulu ya? Sambil nonton Spongebob," mengajak Ara meninggalkan Bundanya. "Bun, Yah, Bun," menunjuk Kanya yang semakin jauh. "Iya Bunda lagi masak, nanti kalau sudah selesai baru Kak Ara boleh main sama Bunda," kataku tetap membawa Ara pergi meski dia terkesan ingin bersama Bundanya. Nanti kalau sudah ketemu Spongebob juga lupa. Setelah menyelesaikan mandiku, aku sempatkan melihat Kanya yang masih sibuk dengan banyaknya cucian piring. Kudekati dia bersama dengan Ara. "Cuci tanganmu! Ini perintah!" Kataku sangat tegas. Kanya menatapku tak biasa, macam ada rasa takut di sana. Maaf, bukan bermaksud keras atau membuatmu takut, aku hanya ingin menjagamu. Dia mencuci tangannya di bawah guyuran air menyegarkan. Lantas dia terdiam menatapku, menungguku memberi perintah lanjutan. "Nitip Kak Ara," memberikan Ara ke dalam gendongannya. Kemudian kulanjutkan pekerjaannya, mencuci piring, sudah hal biasa. Bahkan ketika masih tinggal di barak khusus bujangan aku selalu melakukan semuanya sendiri. "Emm, Yah, biar..." "Duduk saja!" Perintahku sampai membuat Ara yang tadinya mengoceh langsung terdiam seribu bahasa. Kanya hanya bisa diam menyakiskanku mencuci piring. Kali ini dia harus benar-benar nurut padaku. Apapun yang aku perintahkan. Toh tidak melanggar aturan agama. Keluarga Mama Dewi dan Mama Shinta sudah berkumpul di rumahku, seadanya saja. Kami hanya melakukan beberapa prosesi seperti mengaji bersama dan Papa Andi memberikan tausiyahnya. Berbagi ilmu agama meski hanya satu ayat saja. "Da, Kanya kelihatan tidak begitu baik. Ada masalah kalian?" Tanya Mama Dewi yang jelas saja hafal bagaimana Kanya. Ini masih tentang Cesa, semalam kudengar dia memanggil nama Cesa lagi, tapi aku pura-pura tak dengar daripada Kanya terus merasa bersalah padaku. Aku juga dengar dia menangis setelahnya, tapi pecundang macam aku tak bisa berbuat apa-apa. Dan sekarang, mau jawab apa aku? Kuceritakan semuanya atau bagaimana? Atau aku bilang tidak ada apa-apa, haruskah berbohong? Tapi selama aku masih bisa mengatasi masalah ini, tak akan kuceritakan dulu sama Mama. Ini kan urusan rumah tangga kami. "Kecapekan dia, Ma. Agak susah kalau disuruh istirahat. Di kantor juga semakin sibuk dia," jawabku. Baiklah yang ini tidak semuanya kebohongan. Kanya memang sulit disuruh istirahat dan di kantor memang banyak pekerjaan sampai harus lembur hingga isya kemarin. "Yakin hanya itu? Maksud Mama ada garis wajah yang menunjukkan Kanya terlalu banyak mikir." Bagaimanapun caranya aku menyembunyikan, seorang Mama selalu lebih jeli terhadap anaknya. Aku terdiam saja. Tidak ingin menjawab apalagi dengan karangan cerita yang ngawur. Mama menatapku, beliau menghela napas. "Segera selesaikan baik-baik, Mama tak akan ikut campur," katanya yang langsung tahu tanpa aku jelaskan, memang kami tengah ada masalah. Bukan bertengkar atau semacamnya, hanya masalah yang kurang kami mengerti. Aku mengangguk. "Insyaallah nanti segera Sada selesaikan, Ma." "Aduh, menantu terbaik, Mama." Merangkul tubuhku dan mengusap kepalaku. Mama mertua memang begitu, setua apapun aku dan Kanya, beliau tetap menganggap kami ini masih sangat muda, masih sangat kecil. Sampai memperlakukan kami pun terkadang seperti gemas pada anak kecil. "Aduh, aduh, kenapa ini anak Mama sampai digituin sama mertua?" Tanya Mamaku yang baru saja membawa beberapa toples camilan dari dapur bersama Kanya. Kanya hanya tersenyum melihatku, senyumnya tak begitu sempurna. "Ara mana?" Tanyaku pada Kanya sembari memperhatikan setiap garis wajah yang pilu beberapa Minggu terakhir. Terkadang aku merasa tak begitu sempurna sebab membiarkan istri dalam keadaan buruk untuk beberapa Minggu dan terlalu sibuk dengan kesatuan. Tapi aku bersyukur atas istri yang kuat dan penyabar macam Kanya. Sekarang ini, mumpung tengah banyak waktu luang, waktuku akan selalu untuk dia juga Ara. "Ada, main sama Bang Arta di kamar," jawab Kanya sekenanya tapi memang iya. Ara memang dekat sekali dengan Arta, ponakanku yang sudah sekolah sekarang ini. Sudah SD kelas 1. Nampaknya mereka dekat sebab terlalu sering ditinggal berdua bersama Uti ataupun Kakung di rumah. Risiko mereka punya Mama dan Bunda yang terlalu sibuk dengan kerjaan masing-masing. "Dik, wajahmu itu lho kusam banget. Banyak mikir, banyak kerja, enggak banyak nyalon ya gitu jadinya," tegur Mbak Anna yang duduk di sebelah Kanya.  "Parah banget ya?" Tanya Kanya balik. "Iya tahu, nyalon lah, perawatan. Nanti Sada kabur baru tahu rasa, lagi musim pelakor loh." "Aku enggak sehina itu juga kali, Mbak," protesku sambil melihat dimana Ara sekarang, aku memanggil Anna dengan Mbak, bisa ikut-ikutan dia. "Mama itu sebenarnya pengen ngajak Kanya nyalon kan? Pakai alibi yang aneh-aneh segala. To the point dong!" Giliran Bang Raka yang bersuara. "Hehe, tahu saja. Ini hitung-hitung persiapan nikahannya Shandi, Pa," menggoda Shandi yang tengah memakan kue dan sibuk dengan remote TV di tangan kanannya. Shandi langsung menoleh bingung. Menunjuk dirinya sendiri dengan wajah super bingung. "Aku kenapa?" Kanya tersenyum, mengacak-acak rambut Shandi di depannya. "Kemarin tetangga-tetangga pada ngomongin kamu, katanya mau nikah ya? Dinyinyirin tau sama tetangga, Shan. Katanya jajan es teh juga masih minta orang tua mau nikah, nyusahin!" Aku yakin Mbak Anna mengikuti gaya bibir Ibu-ibu yang biasa bergosip di kompleks ini. Mbak Anna memang sudah setengah tahun tinggal di dekat kami, beda kompleks tapi gabungnya sama Ibu-ibu yang satu kompleks dengan kami. "Ih, biarin aja sih, Mbak. Mulut tetangga itu lebih kejam dari mulutnya admin Lambe Turah," balas Shandi fokus dengan televisinya lagi. "Lagian mikir tugas kuliah juga masih ngeluh, mau nikah. Kurang kerjaan amat aku." "Ya gimana, tugas kuliah aja jarang dikerjain apalagi nanti tugas jadi kepala keluarga. Bisa enggak keurus anak istrinya," sahut Mama mengundang gelak tawa di seisi ruang keluargaku. "Huaaa," terdengar suara tangis Ara dari dalam kamar. "Abang, Adik diapain itu?" Teriak Mbak Anna yang langsung berlari dengan Kanya menuju kamar. "Ah, Ibu-ibu, anak kecil nangis dikit disamperin. Anak gede nangis dikit, dibiarin. Adil dong, biar anak kecil pas gedenya juga enggak cengeng," celetuk Shandi yang langsung menerima pukulan bantal dariku. Kupikir otak Shandi sudah terlalu parah kemiringannya. Jelas tidak sehat itu isi kepalanya. "Tadi kan Adik main sendiri terus jatuh, Ma. Abang enggak apa-apain," jelas Arta yang menahan sakit karena jeweran Mbak Anna di telinganya. "Eh, Mbak," aku langsung meraih Arta dan membawanya duduk denganku. "Kan sudah Mama bilang kalau main sama Adik harus dijagain, enggak boleh nakal! Kalian itu saudara!" "Mbak, jangan terlalu keras sama anak. Dengarkan dulu penjelasannya, tidak baik semacam itu," kataku menyela. Mbak Anna hanya diam langsung duduk. Entah mengapa, di keluarga ini cucu perempuan lebih banyak dimanja daripada yang laki-laki. Contoh kecilnya Arta, dia selalu dituntut untuk bisa menjaga Ara tapi bagiku, mereka bisa saja punya dunia masing-masing. "Apa Om bisa percaya dengan penjelasan Abang tadi?" Tanyaku lembut padanya. Arta mengangguk. "Baiklah, Om percaya." Merangkulnya. "Adik gimana?" "Benjol kepalanya," jawab Arta dengan polosnya. "Enggak apa-apa, kepalanya sudah keras itu." "Sada!" Uti Dewi langsung memukul kepalaku keras. "Kepalamu sudah keras, kira-kira dipukul sakit enggak?" Jujur kukatakan dalam hati, pukulan Mama itu cukup sakit untuk kepalaku. Lebih menyakitkan lagi karena yang mukul Mama mertua bukan Mama sendiri. "Lihat kan? Sudah keras juga tetap sakit!" "Iya tuh, Abang makanya jagain Dik Ara yang bener!" Mbak Anna masih berbicara pada Arta. Shandi memandangku dan Arta. "Aku bingung, sebenarnya anaknya Mas Sada itu Arta apa Ara? Anaknya Mbak Anna itu Arta apa Ara?" Semua orang langsung memandang Shandi dengan tatapan krik-krik. Sungguh tak masuk perut pertanyaannya itu. Sampai akhirnya Ara datang bersama Kanya dan membuat tatapan kami pada Shandi berubah.  Ara masih melipat mulutnya, masih menangis tanpa suara. Sementara dahinya benjol segede buah pala, baiklah, tak separah itu. "Uluh, kasian anak Ayah." Mengambil alih dari Kanya. Hanya menurut dan diam di pangkuanku. "Calon Guru di perbatasan enggak boleh cengeng dan harus tahan banting. Iya kan, Nak?" Mengusap air matanya yang masih mengalir. "Dik Ara mau jadi guru, Om?" Tanya Arta dengan polosnya di sampingku. "Iya, Abang mau jadi apa?" Arta diam sejenak, memandang Papa dan Mamanya, memandang Tantenya, memandang Uti dan Kakungnya sampai berhenti padaku. "Aku mau jadi tentara seperti Om, tapi yang bisa terbangin pesawat tempur," katanya dengan sangat lantang dan mantap. Semua orang lantas menatap Arta bingung, termasuk Papa dan Mamanya yang tidak pernah menyangka Arta akan menjawab itu sebelumnya. Hanya aku yang tersenyum lebar dan bangga, ada juga anak kecil yang bercita-cita menjadi tentara, maksudku memang banyak yang ingin jadi tentara tapi tidak sespesifik Arta. Dia bahkan menyebutkan tentara yang juga bisa menerbangkan pesawat tempur. "Apa kubilang, Arta itu lebih cocok jadi anaknya Ayah, bukan anaknya Mas Raka," sahut Shandi saat semuanya masih diam. Mama Shinta langsung menatap Shandi dengan picingan mata yang mematikan. "Ini si Abang kemakan omongan siapa ya?" Gumam Mbak Anna yang masih terheran-heran. "Iya, padahal kamu kan tidak pernah merasukinya dengan hal-hal yang berbau seragammu itu, Da," giliran Bang Raka yang bingung. "Aku suka aja lihat Om pakai seragam, dan aku suka lihat pesawat tempur di museum Dirgantara," kata Arta lagi-lagi dengan gaya santainya. Kakung Andi langsung mendekat, memeluk cucu laki-laki satu-satunya dengan bangga. "Kakung akan dukung Abang sampai bisa jadi tentara yang menerbangkan pesawat tempur. Menjaga negara dari udara." "Beneran, Kung?" Arta dengan binar matanya. "Iya, masa' Kakung bohong sama cucu sendiri." Arta langsung melompat kegirangan, diikuti Ara yang sudah turun dari pangkuanku. Dia tidak mengerti kegirangan apa yang Arta peroleh, dia hanya tahu melompat itu menyenangkan.  Dasar Ara, anakku yang lucu. "Ah, darah guru dan darah bankir tidak mengalir di tubuhmu, Nak," gumam Mbak Anna yang terdengar kecewa. Bukan sebab tak suka anaknya jadi tentara, mungkin sebab merasa perbedaan antara mereka terlalu jauh. Bang Raka mengangguk. "Benar, tapi yang penting kamu berguna bagi Nusa, Bangsa dan Agamamu, Nak. Asal enggak jadi penghianat bangsa dan agama saja sudah cukup." Semua orang lantas tersenyum bangga pada Arta. Perkumpulan sederhana ini, syukuran sederhana ini untuk mendekatkan kami satu sama lain, juga mensyukuri hadirnya calon anak keduaku. Yang aku harapkan dia laki-laki, tapi apapun itu yang penting sehat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN