E N A M

2398 Kata
Mengistirahatkan tubuh setelah tadi membantu pekerjaan Kanya beres-beres usai syukuran. Kami sudah sama-sama terlelap saat ini, tepatnya Kanya sudah lelap dan aku masih memaksa mataku terpejam. Ara sudah tidur sejak tiga jam yang lalu. Jam sudah menunjukkan pukul 00.07 WIB saat aku terbangun dan sulit memejamkan mata. Selalu begitu akhir-akhir ini, maksudku, tepatnya sejak Kanya sering menyebut nama Cesa di tengah malam, di tengah tidurnya. Kupikir awalnya, mungkin karena Kanya rindu dengan Cesa, laki-laki yang telah lama tak dikunjunginya. Tapi setelah kubawa ke sana, menjenguk Cesa dalam beberapa jam, kubiarkan dia menangis dan mengingat Cesa, nyatanya hasilnya sama. Kanya masih menyebut nama Cesa di tengah malam, masih menangis saat mengingat. Kembali kupandang Kanya sejenak, kemudian kupaksa mataku terpejam lagi. Besok aku harus dinas pagi, harus menggunakan waktu istirahat sebaik mungkin. "Cesa, Cesa," panggilan itu kembali lagi. Aku tetap terlelap, tak ingin mengganggu Kanya dalam mimpinya. Hanya merasakan setiap gerakan yang dibuat oleh Kanya, aku yakin sekarang dia sudah terbangun dan dalam posisi duduk. Selalu semenyakitkan ini mendengar istri sendiri menyebut nama orang lain. Setidaknya dalam berapa bulan terakhir, tidak setiap hari, tapi beberapa kali sudah pernah begini. Terlebih nanti paginya, wajah Kanya terlihat murung dan tak bersemangat. Itu semakin menyakitkan bagiku. Sejujurnya aku tak khawatir tentang Kanya yang masih mencintai Cesa, lebih mengerikan jika dia mencintai orang lain. Tapi masalahnya, hatiku ini bukan baja ringan atau karang di lautan atau semangat juang prajurit komando. Hatiku juga merasa cemburu ketika yang disebut tiap malam adalah laki-laki lain, iya mungkin Cesa bukan orang lain, tapi dalam hal ini posisi Cesa seolah sangat dalam sampai mengalahkan posisiku. Sulit sekali dijelaskan bagaimana aku bisa cemburu dengan Cesa, manusiawi saja. Dulu aku juga cemburu, hanya saja aku bisa mengerti, dan tidak sesakit ini. Kubuka sedikit mataku dan kulihat Kanya tengah berjalan menjauh, menuju kamar mandi tempatnya meratap dan menangis setelah ini. "Tuhan, beri aku jalan dan kekuatan," batinku yang langsung ikut bangkit ketika Kanya sudah masuk ke dalam kamar mandi di dalam kamar kami. Kutunggu Kanya di depan pintu, kudengar dia menangis dengan suara kecil di sana. Sungguh sangat menyakitkan sekali. Selang satu menit, aku mengambil posisi berjongkok di samping pintu. Masih kudengar tangis di tengah malam ini. Otakku melayang entah ke mana, hatiku tercabik dan aku tidak bisa berpikir jernih harus semacam apa. Intinya semua terlalu menyakitkan, baik bagiku ataupun Kanya. Cukup lama, kupejamkam mataku, meratap semua yang terjadi malam ini dan malam-malam sebelumnya. Terus kulakukan sampai Kanya keluar dari kamar mandi dengan mata yang cukup merah, sayu dan wajah yang basah. Itu tebakanku, sebab biasanya orang habis menangis cukup lama seperti itu. "Mas," panggilnya menyentuh bahuku. Iya, aku masih memejamkan mata dan memikirkan semua yang sulit sekali aku pikirkan. Mengapa tak ada yang bisa aku lakukan? "Iya?" Mengangkat kepalaku. Dan benar apa yang aku tebak, mata merahnya dan sayu, juga wajah basah yang sengaja disiram air. "Maaf," katanya lagi-lagi itu cukup menyakitkan. Aku tak suka dia mengatakan maaf untuk kesalahan yang sama-sama tidak kami mengerti. Aku tersenyum, berdiri dan melangkah pergi menuju tempat tidur kami. Diikuti Kanya yang duduk tidak berdekatan denganku. Kami sama-sama diam dan juga canggung. Menjelang jam 01.00 dan kami belum mengatakan apapun. Kami masih sama-sama diam dan memikirkan, memulai perkataan pun harus bagaimana. Aku terlalu pecundang untuk menangani masalah ini. "Maaf selalu menyebut laki-laki lain dan menangisi laki-laki lain setiap malam," ucap Kanya memulai lebih dulu. Lagi-lagi tangisnya jatuh, aku tahu itu. Butiran bening yang lebih sering jatuh karena Cesa, bukan karenaku. "Tak apa," jawabku tersenyum getir. "Mas boleh marah kok, lakukan apapun yang bisa mengobati rasa sakit dan kecewanya Mas." Aku berbalik menatap Kanya, menghela napas. "Memang apa yang bisa Mas lakukan selain mendengar tangisanmu? Meminta kamu berhenti memimpikan Cesa? Apa mimpi bisa diatur? Atau Mas harus melepas kamu baru kamu berhenti bilang maaf dan menangis?" Kalimat terakhir yang terucap sungguh kalimat dalam penguasaan setan. Harusnya tak boleh mengucapkan itu sebingung apapun aku. Kanya mengangkat dagunya, menatapku dengan mata yang cukup lebar. Mungkin dia juga kaget dengan kalimat terakhirku. Maksudku pilihan dariku. "Lupakan, tidak ada pilihan bagiku harus melepasmu," kataku melangkah keluar dari kamar. "Tidurlah lebih dulu, Barcelona main malam ini." Kuputuskan duduk di depan televisi, menikmati pertandingan bola yang tidak aku mengerti. Maksudnya tidak aku mengerti hanya untuk malam ini. Aku menatap bola tapi yang aku pikirkan bukan bola, melainkan Kanya. Selama 30 menit menonton pun masih tidak aku mengerti alur bola itu maksudnya apa. Bahkan saat Messi mencetak gol aku tak berteriak atau tertawa, padahal biasanya bisa berteriak kencang. Kanya datang dan duduk di sampingku. Aku tak mau menanggapi. Bukan untuk cuek, hanya tak ingin mendengar kata maaf darinya. Kami diam cukup lama sampai menit ke 60 laga antara Barcelona vs Atletico Madrid. Kanya hanya diam memainkan jari-jemarinya gelisah, aku hanya menatap lalu lalang bola dan memikirkan kalimat burukku tadi. Tapi kupikir, aku tak bisa hanya diam dan mendengarkan Kanya setiap hari, entah menangis atau memanggil nama Cesa setiap malam. Sebab diam juga menyakitkan, diam juga tak memberi ketenangan pada Kanya, diam juga tak membuat Kanya berhenti mengatakan maaf. "Rasanya memang sakit mendengar nama Cesa kamu sebut tiap malam, Dik." Akhirnya aku memulai kalimatku, tidak menatap Kanya. Masih menatap laju bola. Kanya menatapku sekilas lalu menunduk. "Rasanya seperti menjaga gawang tapi kebobolan sama rekan sendiri." Sedikit kiasan yang membuatku ingin sekali melipat lidahku. Selalu saja bercanda di saat yang tidak tepat. Sekali lagi Kanya masih menunduk di tempatnya. "Tapi apa yang bisa Mas lakukan selain mendengarkan tangismu dan panggilanmu? Mas selalu ingin menenangkan tapi hati Mas sendiri terlalu sakit. Mas ingin menyalahkan Cesa karena dia terus datang di mimpimu, tapi seperti orang gila menyalahkan seseorang yang tidak ada urusannya lagi di dunia ini. Mau menyalahkan kamu, memang siapa yang bisa mengatur mimpi dan perasaannya? Tidak ada." "Maaf," ucap Kanya. Aku tersenyum getir. "Seandainya Cesa ada, Mas mungkin bisa meminta kamu memilih antara Mas dan Cesa. Tapi dia, sekali lagi dia tidak ada lagi urusan dengan dunia. Saat Mas melamar kamu, Mas tahu akan mengalami masa-masa ini dalam beberapa waktu. Mas pikir bisa mengatasinya, Mas pikir tak akan sesakit ini, tapi nyatanya sakit sih." Messi kembali mencetak gol kala Kanya menitikkan air matanya. "Melepasmu atau tidak melepasmu, menerima permintaan maafmu atau tidak menerimanya. Tidak ada yang bisa disalahkan dan tidak bisa diatur perasaan seseorang. Sekarang, Mas hanya minta, renungkan sendiri kenapa kamu masih terus memanggil nama Cesa, Dik. Kamu yang tahu jawabannya, bukan Mas." Kanya menoleh padaku, aku tahu meski tetap menatap layar datar di depanku. "Kapan libur? Mas antar kamu mengenang Cesa. Ke tempat yang pengen kamu kunjungi." "Mas?" Menghela napas. "Kamu mungkin ingat semua kenangan tentang Cesa, dan kamu butuh untuk berbagi kenangan indah itu, makanya selalu terbawa mimpi sebab tak ada tempatmu berbagi." Kanya menggenggam tanganku. "Mas akan dengar semua cerita kenangan kalian. Baik yang sudah Mas dengar maupun yang belum Mas dengar." "Tapi itu akan menyakiti hati Mas." Aku menoleh pada Kanya, tersenyum manis padanya lalu menatap layar datar lagi. "Itukan cuma masalalu kamu, Dik. Bukan kenangan saat ini, maksudnya hal yang terjadi sebelum aku datang." Kami diam. Aku sedikit lebih tenang. Memang mengatakan lebih menentramkan meski, baru didengarkan. "Kapan liburmu? Mas bisa ambil cuti dulu." Kanya diam. "Mas serius, ajak Mas kemanapun kamu mau menyelami kenangan tentang Cesa. Semoga bisa jadi obat tangismu tiap malam." Masih diam di tempatnya. Dia mungkin tak yakin dengan keputusanku. Memang sedikit aneh mendengarkan masalalu indah seorang istri dengan mantan kekasihnya. Tapi kurasa itu yang lebih baik, mendengarnya bercerita dan segera berdamai dengan kenangan itu. Toh, tidak ada ketakutan bagiku berpisah dengan Kanya, Cesa tak mungkin bangkit dan merebut Kanya macam Pebinor yang lagi booming sekarang ini. "Kapan?" "Lusa, insyaallah libur, Mas," jawab Kanya tidak dengan kekuatan suaranya. Aku mengangguk. "Nanti Mas aturkan jadwal," sambil menggenggam tangannya di pangkuan. Semoga menjadi jalan terbaik. Dari masalah malam ini, Kanya masih banyak terdiam, dia tentu masih merasa tak enak denganku. Tapi sesuai jadwal yang aku atur, hari ini aku antar kemanapun masalalunya bercerita. Ara? Tentu Ara aku titipkan pada Uti Shinta. Dia tak mungkin ikut kami berjalan-jalan jauh dalam waktu yang lama. Kanya pun butuh waktunya sendiri untuk bercerita tanpa rengekan manja dari Ara. "Kalian ini mau jalan-jalan ke mana? Jangan capek-capek lho, Yah. Ini istrimu lagi hamil," pesan Uti Shinta sambil menggendong Ara di pinggangnya. Aku tersenyum. "Ke mana aja yang penting kan berdua." "Ishhh," desah Uti memukul tubuhku ringan. "Salim dulu sama Ayah sama Bunda, Nak." Kanya mengajukan tangannya pada Ara dan Ara langsung menurut. Mungkin karena dia terbiasa ditinggal Kanya makanya dia tak merengek minta ikut. Kemudian aku yang menjabat tangannya dan mencium pipinya yang gembul. "Pamit dulu ya, Sayang. Baik-baik sama Uti," pesanku yang tidak mendapatkan jawaban. Hanya lambaian tangan yang berasa diusir halus oleh anak sendiri. Kanya dan aku berpamitan lantas memulai perjalanan. Kanya tak mengatakan ke mana tujuan pertamanya. Yang aku tahu, aku harus ke pusat kota Kabupaten Karanganyar, sebab di sana semua kenangan itu terjadi. "Ke mana dulu? Alun-alun kota? SMK?" Tanyaku di tengah perjalanan. Berusaha seceria dan setenang mungkin, cemburu, sakit, pasti ada tapi dipikir nanti. "Ke SMK bisa, Mas?" Aku mengangguk dan menambah kecepatan laju kendaraanku. Mobil sejuta umat berwarna hitam. Tak berselang lama, sampai di SMK. Hari ini hari Sabtu dan sekolah libur. Hanya ada puluhan anak-anak yang tengah melakukan beberapa kegiatan. Di lapangan ucapara, ada puluhan anak tengah berlatih menjadi petugas upacara. Di lapangan dengan jaring-jaring di sekitarnya ada puluhan anak tengah menjalankan aba-aba. Di pojok sekolah puluhan anak berbaju pramuka tengah belajar sandi morse dengan satu instruktur. Di lain tempat ada puluhan anak tengah membuat drakbar sederhana. Ada pula yang belajar pertolongan pertama pada kecelakaan. Kanya diam sejenak di barat lapangan penuh dengan jaring-jaring, menyaksikan anak-anak yang beradu dengan setiap aba-aba juga teriknya matahari pagi. Kulihat Kanya tersenyum. "Dulu, di tempat ini aku sama Cesa latihan baris-berbaris, Mas. Tempat yang mengantarkan kami jadi Paskibra Kabupaten." Aku mengusap punggungnya. Dia yang hampir menangis meski dengan senyum bak bulan sabit semalam. "Kita juga pernah berantem hanya karena jadwal latihan yang membosankan." Aku bisa membayangkan dua orang itu tengah bertengkar di tengah lapangan. Membayangkan dua orang itu dalam barisan dan membayangkan mereka saling tersenyum satu sama lain. Seseru itu dan mungkin itu yang membuat kenangan terasa sangat indah untuk dilepaskan. Kanya berpindah menuju tengah lapangan upacara. Mendapat sambutan hangat dari beberapa anak yang memperkenalkan diri sebagai pengurus OSIS. "Mbak Kanya dulu anak OSIS juga ya?" Tanya salah satu siswi dengan mata yang cukup besar dan senyum yang manis. Kanya mengangguk. "Kok tahu?" "Nama Mbak sudah melegenda di sekolah ini, Mbak. Ada satu guru yang selalu menceritakan tentang Mbak di sekolah ini. Kita semua penasaran bagaimana orangnya. Ternyata kita masih ada kesempatan untuk bertemu," katanya sangat manis dan sopan. "Cerita apa?" "Katanya Mbak itu baik saja gitu," jawabnya. Baik, memang Kanya itu baik, tapi apa mungkin hanya karena kebaikan saja jadi melegenda. Pasti ada kisah hebat yang pernah Kanya alami saat masih sekolah di sini. Kanya tersenyum saja. "Suami ganteng, Mbak," bisiknya yang masih bisa aku dengar dengan jelas. Kanya tersenyum menatapku. "Alhamdulillah, mau punya suami seperti ini?" Menyentuh lenganku. "Kalau dikasih ya mau, Mbak," katanya sungguh centil sekali. "Sering-sering nongkrong di depan barak TNI, nanti dapet yang kaya gini." "Mas-nya TNI?" Matanya langsung berbinar, seolah sangat kagum. Tapi akhir-akhir ini tentara memang sedang digandrungi. "Bukan sih, Mas yang jaga warung di depan barak TNI," candaku membuatnya tertawa. Kami kembali melanjutkan jelajah masa lalu Kanya dan Cesa. Kanya sudah bisa tersenyum bebas sekarang. "Semacam itulah anak-anak OSIS, Mas. Tak pernah berubah dari zamanku dan Cesa sampai sekarang. Ceweknya centil, banyak ngomong, suple. Cowoknya yang lebih banyak diam tapi kerjanya bagus," ceritanya. Sampai terhenti di dua kantin menghadap ke selatan. "Di sana," tunjuk Kanya pada kantin yang paling timur. "Tempat Cesa pertama kali mengatakan niatnya jadi anggota TNI saat hari kelulusan." Kemudian Kanya menceritakan kejadian hari itu dengan adanya Anna dan Ibu Kantin dalam cerita. Panjang lebar sampai dia tersenyum pun cukup lebar. "Antar aku ke rumah Ibu Kantin, Mas. Pengen silaturahmi ke sana. Ngenalin, Mas. Dari dulu-dulu kan tidak sempat." Aku mengangguk. Dan memulai perjalanan yang tak panjang, agak panjang hanya karena kami harus membeli buah tangan terlebih dahulu. Sampai di rumah bercat cokelat, kami langsung disambut perempuan dengan usia sekitar 60an tahun. Masih cukup segar dan senyum yang masih sangat bahagia. "Kanya?" Tanya Ibu itu memastikan. Kanya mengangguk lalu memeluk Ibu dengan kerudung cokelat di depannya. "Iya, Bu. Ini Kanya," jawabnya. "Lah, Ya Allah, Anak Ibu. Lama tidak ketemu, Nak. Kangen Ibu," ucap Ibu yang langsung berhenti saat menatapku. "Suami kamu?" Mengangguk lagi setelah melepas pelukannya. "Iya, Bu. Kenalin, Mas Sada." "Ganteng, tidak jauh beda sama gantengnya Cesa. Eh, masuk-masuk, Nak." Menarik tanganku dan membiarkan Kanya berjalan di belakang kami. Aku terus tersenyum dan menuntun Ibu Kantin Kanya. "Terimakasih sudah memilih, Kanya," kata Ibu begitu aku duduk di sampingnya. Kuangkat kedua alisku. Mengapa harus mengucapkan terimakasih atas itu. "Kanya mungkin tak pernah lupa tentang kenangan dengan Cesa, tapi memilihmu adalah alasannya untuk tersenyum semacam ini. Jika tidak dengan kamu, dia hanya akan menangis mengingat Cesa sepanjang waktu. Eh, kamu tahu Cesa? Itu sahabatnya Kanya, mereka saling mencintai tapi tak bisa saling mengatakan sampai Cesa kembali pada Tuhan." Aku bersyukur untuk kalimat awal dan aku tersenyum untuk kalimat akhir. Begitupun Kanya. "Bu, Mas Sada ini sahabatnya Cesa sewaktu kecil di Semarang," kata Kanya memberi pencerahan. "Loh? Kamu gaet juga sahabatnya Cesa, Kan?" Ibu langsung membelalakkan matanya pada Kanya. "Ah tidak apa-apa, namanya jodoh," menepuk-nepuk bahuku. Aku tersenyum dan mulai mendengarkan cerita Ibu tentang Cesa juga Kanya di masa sekolahnya. Cukup bahagia melihat Kanya tersenyum juga tertawa lepas untuk semua kenangannya. Akhir dari perjalanan, kami telah sampai di Alun-alun kota. Memandangi tiang bendera tanpa benderanya, bersama hiruk pikuk warga Karanganyar yang menikmati sore hari menjelang senja. Kanya menyandarkan kepalanya di bahuku, menggenggam tanganku di pangkuannya. "Terimakasih telah mendengar semua kenangan yang mungkin menyakitkan untukmu, Mas. Tapi, aku bisa mengenang dengan damai setiap detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun yang terlewat bersama dengan Cesa." Mengangguk, mengusap lembut punggung telapak tangannya. "Terimakasih sudah mengerti, terimakasih sudah menjadi suami yang baik untukku. Dan sebagai penutup perjalananku, di sini tempat aku ditempa sebagai Paskibra Kabupaten, juga tempat dimana kita dipertemukan sebelum acara karnaval HUT Kabupaten Karanganyar masa itu. Aku mensyukuri pertemuan itu." Sekali lagi kugenggam tangannya semakin erat, membalas genggaman tangannya. "Semoga kamu bisa berdamai dengan semuanya, jangan lagi minta maaf, cukup simpan Cesa, jangan sebut dia." Kanya tertawa, dia pasti tak bisa mengatakan iya dan berjanji tapi aku tahu dia akan berusaha.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN