Tentang Senja, dia sudah terlewat pukul 17.47 kemarin. Kini tiada lagi senja di langit khatulistiwa, mungkin nanti akan datang lagi di sore-sore berikutnya. Meski senja dalam hidup kami tetap ada, tetap tersimpan dalam hati kami, tapi kemelut tentangnya sudah berlalu, Kanya menjadi seperti semula. Tak lagi menangis di tengah malam pun tak lagi meratap tentang senja. Dia sudah bisa berdamai.
Semalam pun Kanya tak terbangun, pagi ini pun wajahnya tak lagi pilu, tatapannya tak lagi sayu. Justru pagi ini dia tengah sibuk dengan kepanikannya sendiri, saking repotnya ngurus Ara yang bandelnya minta ampun. Tapi aku tidak bisa bilang dia bandel secara langsung. Kupendam saja.
"Kakak, pakai bajunya dulu, Sayang. Aduh lari-larian terus," kata Kanya mengejar Ara yang berlari kecil di kamar kami.
Kalau boleh bertanya, itu anak sebenarnya ngikutin siapa? Aku? Rasanya aku tak sebandel, tak seusil dan tak seaktif ini.
"Eh, ayo habis ini ke rumah Uti. Bangunin Om, udah bangun belum ya Om Shandi ya?" Masih berusaha merayu Ara tapi dia malah berlari menjauh dan bersembunyi di bawah meja rias.
Aku hanya bisa tertawa dari tempatku mematut diri, mengenakan seragam kebanggaan dan memasang beberapa atribut. Harus bersiap lebih dulu daripada Kanya, biar bisa menggantikannya menjaga Ara.
"Itu kepala kalau kejedot bisa benjol loh," gumamku sedikit mentertawakan Ara.
Kanya langsung melempar tatapan padaku. Sangat mematikan tatapannya, dia itu terlalu serius dalam mengurus Ara. Ah, jika tak serius, mungkin aku akan marah dan cari pengganti. Itupun kalau aku berani menduakan dia.
"Sudah tahu kalau kejedot itu bisa benjol, bantuin kek anaknya aktif kaya gini. Bunda telat nih, jam berapa coba?"
Tersenyum. Setelah merasa pas dengan dandananku, aku mendekati Ara yang masih belum mau enyah dari tempatnya bersembunyi. Sampai Kanya ikut-ikutan masuk ke kolong meja rias hanya untuk melindungi kepala Ara.
"Kakak, ikut Ayah kuy," ajakku dengan bahasa kekinian.
Kanya langsung memukul ringan kakiku. "Anak masih kecil juga sudah diajarin bahasa gaul. Bahasa bakunya aja dulu!"
"Ya kan biar jadi balita kekinian Bunda," alibiku, jelas akan membuat Kanya menyanggah dengan cepat.
"Kekinian? Tidak perlu jadi kekinian kalau tidak ada faedahnya!" Tekannya benar-benar melempar tatapan sadis padaku.
Aku hanya mengangguk atas sanggahan Kanya. Memang iya, tidak seharusnya mengajarkan anak dengan bahasa-bahasa yang mungkin tidak baku.
"Ayo, Sayang," merayu Ara dengan menarik tangan kecilnya.
Dia tak menghiraukan aku, dia hanya menatapku, diam. Dan aku juga hanya menatapnya begitu dalam, dia cukup nurut jika aku menatapnya.
Perlahan dia merangkak keluar dari bawah meja rias, dengan tangan Kanya sebagai pelindung kepalanya.
"Ayo, ganti baju dulu sama Ayah ya, Nak?" Meraihnya dan menggendongnya cukup tinggi.
Ara yang tadinya takut dengan tatapan mataku, kini dia tertawa berada di atas angin. Sedikit kuterbangkan tubuhnya yang hanya pakai pakaian dalam. Dan dia sangat bahagia ketika aku melakukan itu padanya. Mungkin merasa bebas seperti burung yang terbang di angkasa.
"Ayah! Itu Kakak belum pakai baju, dingin, nanti masuk angin!"
Ketika kami bahagia selalu saja ada perusak kebahagiaan kami. Kanya, dia selalu mengkhawatirkan Ara jika sudah begini, maka aku dan Ara tidak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali menyudahinya.
"Iya, iya. Bunda siap-siap saja sana. Biar Kakak sama Ayah," pintaku memangku Ara dan mengambil bajunya dari Kanya.
"Beneran bisa?" Tanyanya dengan tatapan tidak percaya.
Kupandang Kanya datar. "Ayah siapanya Kak Ara?"
"Ayah kandungnya lah."
"Ya sudah, berarti Ayah sudah pasti melakukan yang terbaik untuk Kak Ara. Dan tidak membiarkan hal-hal buruk terjadi sama dia. Kok meragukan Ayah." Langsung fokus pada Ara yang sudah menungguku memakaikan bajunya.
Setiap pagi begini, Ara memang selalu rewel, bukan menangis atau apa tapi kelewat aktif saja. Sejak subuh pasti sudah mulai merepotkan. Mau dibangunkan siang biar aku dan Kanya bisa melakukan pekerjaan lain, takutnya Ara terbiasa bangun siang. Jadi lebih baik bagi kami kerepotan daripada membiasakan Ara tidak bangun di subuh hari. Kan pelajaran semacam itu harus diterapkan sejak kecil.
Dan Ara, dia selalu mencari Bundanya tiap siang hari, saat Kanya berada di kantor, tapi dia tidak peduli pada Bundanya di pagi hari semacam ini. Pagi hari dia lebih suka dan lebih nurut padaku. Ah, intinya dia kalau Kanya ada tidak dipedulikan, jika Kanya tak ada dicari. Denganku pun begitu.
"Hati-hati jangan kasar-kasar narik tangannya kaya lagi narik senjata lagi!" tegur Kanya masih berdiri di sampingku.
"Ya ampun," langsung menghentikan aktivitasku dan memandang Kanya. "Ya masa' mau narik tangan anak sendiri keras-keras, Bunda." Coba kusabarkan.
"Ya, siapa tahu. Tangan Ayah kan terbiasa bekerja keras untuk negara."
Menghela napas. "Meskipun tentara garang di medan perang ataupun latihan, dengan anak kami ini penyayang."
Kanya langsung tersenyum. "Sama istri?" Tantangnya pasti minta dirayu pagi-pagi.
"Enggak," jawabku cepat langsung menerima tatapan kecewanya. Bibir merah mudanya itu mengerucut sangat kecewa.
Tanpa kata, Kanya meninggalkan kami hanya berdua, kupandang punggungnya menahan tawa. Aku bahkan lebih menyayangi dia daripada diriku sendiri. Bahkan setiap rasa tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Sejam berlalu, waktu sudah menunjukkan pukul 06.47 WIB. Harus cepat-cepat berangkat mengantar Kanya atau dia terlambat, pun harus segera mengantar Ara ke rumah Uti Shinta. Tapi masalahnya, Kanya belum selesai dengan dandanannya. Maka aku hanya bisa memandang bosan istriku yang masih menggunakan maskara di bulu mata lentiknya.
Ara? Ara ikut memandang bosan Bundanya yang selalu memperhatikan tampilannya dengan sangat detail.
"Kak, gimana kalau kita naik haji dulu baru nganter Bunda kerja?" Ajakku jelas seorang Ara tidak mengerti. Masih terlalu kecil untuk berpikir sejauh itu.
Kanya menoleh. "Udah kok, udah, Yah." Panik sendiri sambil merapikan hijabnya, mahkota kepalanya.
07.04 WIB Kanya baru saja keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil. Bersiap menitipkan Ara ke rumah Uti. Bagiku sudah sangat terlambat sekali Kanya pagi ini. Secara tak langsung dia memintaku kebut-kebutan di jalan. Diskominfo dengan rumah kami kan jaraknya cukup jauh. Sementara jam masuk Kanya jam 07.30 WIB.
Setelah menitipkan Ara, aku langsung memacu kendaraan hitamku dengan kecepatan yang cukup tinggi. Sempat harus terjebak macet di beberapa titik zona sekolah yang kami lewati. Sementara yang di sebelahku hanya bisa merem melek ketika kendaraan kami menyalip beberapa kendaraan besar.
"Ini kalau sampai nyungsep di sawah Bunda enggak mau diliput loh, Yah. Terus berita terpampang di koran harian," kata Kanya meremas rok seragamnya.
Aku tersenyum, begini-begini aku sudah ahli jika mengendarai mobil saja. Memang kami melewati beberapa area persawahan yang cukup panjang. Jalanan yang cukup sempit tapi dilalui banyak kendaraan besar. Maka ketika menyalip kendaraan besar, jarak kami bisa sangat tipis dengan parit-parit sawah.
"Makanya kalau dandan jangan lama-lama, terus percaya saja sama Ayah dalam mengurus Ara. Kan Ayah kandungnya pasti juga akan melakukan yang terbaik buat anaknya," kataku tak menoleh pada Kanya.
Kanya langsung memposisikan dirinya menghadap ke arahku. "Bunda sudah berusaha percaya tapi tetap masih parno. Ya gimana coba, kenyataannya berapa kali jidat Ara kejedot pas Ayah yang jagain? Disuruh jagain malah main ponsel sih. Ada gebetan baru ya?" Tuduhnya.
Aku memang salah ketika itu, mungkin dua kali jidat Ara kejedot meja dan tembok karena aku lalai ketika menjaganya. Tapi bukan tanpa alasan, yang sekali itu karena Danki memanggilku untuk segera berangkat ke Yonif padahal aku tidak ada jam dinas. Harusnya paham betapa paniknya aku waktu itu, jadi kutinggalkan Ara dan tiba-tiba dia berteriak, menangis, saat aku dan Kanya menghampiri, jidatnya sudah benjol dengan bibir terlipat-lipat.
Yang kedua, seingatku karena Ara berlari dan aku yang sedang mengikutinya di belakang tiba-tiba menerima telepon dari Mama Dewi, mengabarkan jika Pakdhe-nya Kanya meninggal dunia jadi kami harus takziah. Akhirnya jidat Ara kembali benjol karena nubruk tembok. Berulang kali aku sudah minta maaf pada Ara tapi kan tidak semua salahku itu pantas disalahkan.
"Kan enggak sengaja juga," seruku.
"Alasan!"
Mobilku telah memasuki kompleks perkantoran wilayah Karanganyar. Masih kurang 4 menit lagi sebelum jam masuk kantor.
"Pamit dulu," kata Kanya mengajukan tangannya untuk menjabat tanganku. "Nanti pulang jam 4, Yah. Bisa jemput kan? Pulang jam berapa?"
"Nanti jam 3 juga sudah pulang. Bisalah," jawabku hanya mengira-ngira dari jadwal kegiatan yang tak banyak di Yonif.
"Baiklah," kaki kirinya hendak melangkah keluar tapi kembali masuk lagi ke dalam mobil. "Jaga negara yang bener, enggak boleh lirik-lirik cewek mulus di pinggir jalan Yonif."
Kedua alisku terangkat. "Cewek mulus? Lah cowok mulus aja Ayah lihatin apalagi cewek," candaku dengan wajah sok serius.
"Yah!" Protesnya dengan wajah imut itu.
Aku tertawa lalu mengusap perutnya yang mulai timbul. "Bundamu, Dik. Sudah tua juga, bukan waktunya takut akan hal-hal semacam itu. Dapetin Bunda aja sudah nikmat yang paling indah kok mau cari yang lain ya?"
Kulirik Kanya hanya tersenyum dan mengusap kepalaku.
Bangkit dari perutnya. "Jaga Adiknya baik-baik, enggak boleh makan siang pakai mie. Harus yang bergizi, buahnya banyakin, air putih saja jangan yang aneh-aneh," pesanku hampir sama setiap harinya sejak Kanya mengandung anak kedua kami.
Kanya mengangkat tangan kanannya. "Siap, Komandan!" Memberiku hormat dengan wajah imutnya.
Otakku kembali ke masa lalu, dimana aku pertama kali jatuh cinta dengan gadis manis dan cantik. Dia tak pernah berubah dari masa itu sampai masa sekarang, hatiku masih sama berdegupnya setiap kali Kanya memandangku dengan wajah imut itu.
Kubelai pipinya dan kucium keningnya. "Selamat bekerja, Sayang."
Kanya mengangguk lalu mencium pipiku malu-malu. "Selamat bertugas, Yah."
Bahkan aku masih sama bekunya dari awal menikah hingga saat ini ketika Kanya mencium pipi atau keningku. Bersamanya adalah jatuh cinta dalam setiap harinya.
Dia sudah turun dari mobil dan melambaikan tangannya dari depan kantor yang kini berubah sangat megah dari tahun-tahun sebelumnya. Anggaran pembangunan di kabupaten Karanganyar memang sedang baik-baiknya.
Senyumnya terus mengembang sampai dia masuk ke dalam kantor. Kemarin, senyum itu tak hadir di bibirnya, kini senyum itu kembali dan menjadi cahaya indah dalam hidupku. Teruslah begitu, agar prajurit negara ini tak pernah lupa ke mana dia harus kembali.
Setelah melihat Kanya benar-benar hilang di balik pintu kaca Diskominfo. Aku langsung menuju Yonif dan menjalankan tugasku hari ini. Mungkin juga hanya mengurus beberapa berkas di Yonif, atau mungkin menghadiri acara simulasi sinergitas dengan Polri terkait Pilkada serentak.
Sampai di Yonif, Mukti dan Syahrian sudah menungguku di kantor. Mungkin mereka menunggu instruksi dariku pagi ini. Aku sendiri belum mendapat jam pasti kapan dan dimana simulasi sinergitas TNI-Polri dimulai. Hanya pemberitahuan singkat mengenai simulasi yang jadwalnya akan menyesuaikan instruksi dari KPU Kabupaten Sragen sebagai pihak penyelenggara.
"Bang, sudah dapat telepon? Katanya kampanye tidak jadi pagi ini tapi nanti sore, pagi ini kampanye damai dulu dari kedua pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Sragen," Syahrian langsung memberikan laporannya.
Langkahku terhenti. "Tidak ada telepon dari Iptu Farid. Tunggu, nanti sore?" Aku langsung panik sendiri. Kubilang bisa menjemput Kanya nanti jam 4.
"Abang ditelepon enggak diangkat, mungkin pas lagi nyetir. Masih nganter Mbak Kanya kan, Bang?" Mukti ikut menyahut.
Dia memang tahu jadwalku mengantar Kanya, dia jelas tahu sebab mobil Kanya rusak dan dia yang bersamaku mengantar ke bengkel.
"Terus gimana? Siapa nanti yang jemput Kanya coba? Astaga, sore jam berapa?"
"Tadi Danki A bilang jam setengah 4 di Alun-alun Kabupaten Sragen, Bang. Surat juga bari diantar pagi ini, masih dibawa Danki," Syahrian menjawab.
"Ngalamat marah bini gua," gumamku mencari-cari ponsel di sakuku.
"Kayanya Mbak Kanya enggak semengerikan itu sih, Bang. Jangan lebay deh. Suruh aja Shandi jemput Mbak Kanya. Toh biasanya juga Mbak Kanya paham tentang tugas Abang. Enggak usah sok dibutuhkan sama Mbak Kanya lah, dia kan mandiri," sahut Mukti mulutnya tak pernah berubah. Dia selalu saja ceplas-ceplos.
Tapi dia ada benarnya, memang Kanya selalu paham dengan tugasku sebagai tentara. Atau dia sudah berdamai dengan tugas-tugas seorang tentara. Biasanya dia juga tak akan marah ketika aku membatalkan banyak hal yang seharusnya aku lakukan dengan dia. Semoga dia mengerti.
"Mulut Bang Mukti lemes amat yak," kata Syahrian.
"Emang gitu dia, lebih ngeri admin akun-akun gosip di i********:," sahutku sembari menempelkan telepon ke telinga kananku.
Sudah hafal aku dengan sikap Mukti, berapa tahun dia denganku, memang candaannya keterlaluan bagi orang awam. Tapi bagiku, sudah biasa, hanya orang-orang yang mainnya sama ayam aja jauhan ayam, yang akan merasa sakit hati terhadap candaan Mukti.
Teleponku baru diangkat Kanya setelah panggilan ke 3. Mungkin baru selesai dengan meetingnya pagi ini.
"Kenapa, Yah? Belum juga satu jam pisah," yang di seberang keheranan.
"Anu, maaf, Ayah enggak bisa jemput nanti. Ada simulasi pengamanan Pilkada serentak. Maaf banget ya? Ayah suruh Om Shandi jemput deh nanti, maaf ya, Bun, maaf," merasa bersalah sekali.
Kudengar suara Kanya tertawa di sana. "Ya ampun, panik amat. Enggak apa-apa kok, Yah. Bisalah nanti nebeng siapa gitu kalau Om Shandi enggak bisa jemput. Gampang itu nanti, selamat bertugas. Sudah dulu ya? Lagi banyak kerjaan," katanya menutup telepon setelah mengucapkan salam.
Mukti langsung mendekatiku. "Aku bilang juga apa, Bang. Mbak Kanya mandiri, enggak butuh Abang kalau cuma antar jemput aja," seolah mengejekku dengan wajahnya itu.
Terlepas dari mulutnya Mukti yang terlalu jujur itu. Aku mensyukuri hadirnya Kanya dalam hidupku. Dia mungkin bukan orang yang manja dalam hal-hal semacam ini, dia lebih suka melakukannya sendiri jika dia bisa sendiri daripada harus mengandalkan suami. Perempuan kuat yang tepat sekali menjadi pilihanku.
Setelah menelpon Kanya, aku menelpon Shandi. Harus kupastikan dia bisa menjemput Kanya.
"Om," panggilku sebab Shandi tak menjawab salam ku padahal sudah menjawab teleponku.
"Hemmm," suara khas orang masih tidur.
"Masih tidur kamu?"
"Opo to, Mas? Rame wae lho!" Katanya benar-benar marah. Dia memang terbiasa kembali tidur setelah subuhan ke masjid denganku, dan aku tahu, semalam dia begadang untuk menonton laga Arsenal vs Liverpool, maklum dia fans-nya Arsene Wenger.
"Bocah kik! Bisa jemput Bunda enggak?"
"Jam berapa?"
"Empat."
"Enggak bisa."
"Kenapa?"
"Udah janjian sama Hanifah, gimana coba?"
"Batalin atau dimundurin aja!" Paksaku.
"Ya nggak bisa lah, Mas!"
"Batalin, dimundurin atau tak nikahin!" Ancamku sudah sangat kejam. Sekalinya dia lebih mentingin pacar daripada keluarga, bisa aku nikahkan sekalian mereka.
"Iya iya, Mas, nanti tak jemput. Ganggu wong turu wae loh!"
Kututup telepon dan langsung menggeleng-gelengkan kepala. Dia memang begitu, tidak bisa diganggu tidurnya, kecuali adzan yang bisa mengganggu dia dan tak kena marah.
Tak apa, asal dia mau menjemput Kanya saja. Nanti bisa dilihat dia mementingkan siapa dalam hal ini. Dan kupikir Hanifah bukan perempuan yang cemburu terhadap keluargaku. Dia harusnya paham posisinya hanya sebagai pacar sementara aku, Kanya, Mama dan Papa adalah keluarga Shandi. Jelas dia tahu mana yang harus diutamakan.