4. Tampan

932 Kata
"Ibu?!" Liona berteriak dan masuk ke toko bunga. "Aduh, kenapa teriak-teriak? Bikin kaget Ibu aja." "Hehe, maaf. Aku semangat banget soalnya." Cengir Liona. Liona dan Lydia duduk di sofa yang sama. Senyum Liona tidak pernah luntur, hingga pertanyaan Lydia yang menurutnya sangat sensitif untuk dibahas keluar dari mulut wanita itu. “Ah, lupakan pertanyaan Ibu tadi,” ucap Lydia dengan senyum merasa tidak enak hati. "Baik, siap untuk bekerja?" Lydia menaik turunkan alisnya. Liona yang mendengar ucapan Lydia hanya terkekeh pelan. Dia mulai bekerja dengan bantuan dan bimbingan dari Lydia. Sejak dulu Liona memang ingin sekali memiliki taman bunga. Menanam dan merawatnya sendiri, menyaksikan tumbuhan itu tumbuh. Jadi, ketika dia diterima bekerja di sini, dia sangat senang dan semangat menekuni pekerjaannya. Dia selalu ingat dengan kejadian beberapa hari lalu yang menimpanya. Ingin melupakannya, tetapi entah kenapa bayangan ketika David menciumnya selalu terngiang di kepalanya. Oleh karena itu Liona mencoba mencari kesibukan agar dapat menghapuskan kenangan itu. Walaupun, saat dia sendiri kenangan itu kembali hadir dalam benak dan pikirannya. Lamunannya pecah saat dia mendengar Lydia memanggilnya untuk menata buket bunga. Dengan semangat yang membara Liona melangkah mendekati Lydia. Dia memang tidak bisa merangkai buket tapi dia akan belajar caranya dari Lydia. Ah, bukan tidak bisa, tetapi dia belum bisa. Liona menekankan kata 'belum bisa' di dalam hatinya. Dia yakin kalau dirinya bisa dan membuat Lydia berdecak kagum. Hingga sore datang menjemput, menandakan waktunya berhenti bekerja dan pulang. Liona bersenandung ria saat dia berjalan pulang. Tiba-tiba saat berada di jalan raya, ada mobil yang melesat dengan kecepatan sedang. Liona yang tidak memperhatikan itu, langsung saja berjalan hingga suara klakson memekakkan telinga terdengar. Tubuh Liona bergetar hebat mendengar ban mobil bergesekan dengan aspal jalan. Setelah tidak merasakan apa-apa, dirinya bertanya dalam hati. Kenapa aku nggak ngerasa apa-apa. Apa aku udah mati? Apa aku udah ada di alam lain? "Kamu enggak apa-apa?" suara itu sukses membuat Liona tersadar kembali ke dunia nyata. "Eh?" "Apa kamu dengar saya?" "S-saya enggak apa-apa," jawab Liona terbata. "Syukurlah. Maafin supir saya, tadi dia memang nggak memperhatikan jalan," sesalnya. "Enggak apa-apa kok, Tan. Saya baik-baik aja enggak usah khawatir," jawab Liona dengan senyum kecil seakan menjelaskan keadaannya pada wanita di itu. Wanita itu tersenyum mendengar perkataan Liona. "Saya permisi dulu, Tan." Liona memperbaiki bajunya yang sedikit lecek. Dia berusaha berdiri dan berjalan. Meski tubuhnya masih bergetar ketakutan. Kejadian itu begitu cepat. Liona merutuki kebodohannya yang selalu ceroboh dan tidak hati-hati. Dia berjalan begitu cepat karena hari sudah mulai gelap. Dia tidak mau kejadian itu terulang kembali. Sampai di rumah, Liona langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur. Hidup memang penuh kejutan. Tidak ada yang dapat melihat apa yang akan terjadi pada ke esokan harinya. Orang-orang datang dan pergi silih berganti. Dia bersyukur masih ada orang yang menyayanginya. Akhirnya pemilik mata indah itu dapat tidur. Merangkai mimpi indah yang tidak dapat dirasakan di dunia nyata. Hanya semu. Bayangan semu, namun tersenyum dalam lelap. *** Kicauan burung bersahutan menyambut pagi yang tampak cerah sedikit berawan. Liona menggeliat pelan mengedarkan pandangannya dan tersenyum tipis. Masih sama dan bodohnya dia. Dia berharap mimpinya bisa menjadi kenyataan, mimpi tinggal di rumah megah. "Mengagumkan." Seperti biasa, Liona Bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Rasanya dia ingin segera sampai ke sekolah tercintanya. Selesai siap semuanya, dia langsung berjalan sendiri menuju sekolah. Belum begitu ramai, karena masih terlalu pagi. Akan tetapi, tidak bagi Liona. Saat melewati perpustakaan, tiba-tiba dia menghentikan langkanya. Liona berpikir sejenak dan memutuskan untuk meneruskan jalan untuk masuk. Di ambilnya buku-buku pelajaran yang ada di sana. Dia mendudukkan bokongnya di samping laki-laki yang sedang tertidur. Tangannya mulai membuka buku dan mencatat hal-hal yang menurutnya penting. Akan tetapi, konsentrasinya terganggu dengan adanya laki-laki tersebut. Liona penasaran siapa laki-laki yang sedang tidur itu. Wajahnya mendekat untuk memastikan siapa orang itu. Hingga dia membekap mulutnya sendiri tidak percaya. "Da-David ?!" Perlahan dia mendekat ke David lagi. Di lihat dari dekat, wajahnya begitu tampan, malah lebih tampan. Guratan kecil muncul di dahi laki-laki itu. Liona menghapus guratan itu dengan usapan kecil. Dia tidak habis pikir kenapa David bisa tidur disini. Tiba-tiba mata itu bergerak dan terbuka. Segera Liona menjauhkan diri dari David. Laki-laki itu menaikan satu alisnya menatap Liona dengan datar. Ditatap seperti itu membuat Liona memilih untuk bangkit dari duduk dan segera pergi dari tempat itu. Baru dua langkah, tetapi tangannya dicekal oleh David. "Ngapain lo nyentuh gue?" "Eh, itu tadi ... anu ...." Liona tidak bisa menjawab pertanyaan David. "Ck." David berlalu dari hadapan hadapan Liona. Hembusan napas lega terdengar keluar dari mulut Liona. Niat awal datang ke perpustakaan untuk belajar malah menjadi hangus dan dia memutuskan untuk masuk ke kelas yang mungkin sudah ramai. Setidaknya dia sudah mencatat beberapa materi. Keluar dari perpustakaan, dia melangkahkan kakinya dengan riang di sepanjang koridor yang ramai. Saat melewati kumpulan siswa-siswi yang sedang duduk-duduk dan becanda ria, Liona sempat merasa ragu. Bukan karena dia takut sebab ada Jenny and the gang, tapi dia sedang tidak ingin membuat keributan dengan mereka. Dengan berat hati dan mau tak mau dia harus melewatinya. Kalau tidak ingin melewati koridor itu, dia harus putar arah dan itu cukup jauh untuk mencapai kelasnya. Tubuhnya terasa melayang saat melindungi Jenny. Liona sudah memperkirakan bahwa dia akan mengalami ini. Dapat dia tebak pasti saat ini banyak orang yang sedang menatapnya. Cukup lama Liona menunggu dirinya mencium lantai keramik yang dingin. Akan tetapi, entah hanya halusinasinya atau memang benar-benar nyata, tubuhnya mengambang di udara. Seolah ada yang sedang menahannya agar tidak jatuh. Karena rasa penasarannya, perlahan dia membuka mata untuk melihat apa yang terjadi. Betapa terkejutnya dia dengan posisinya saat ini. Liona tambah terkejut lagi melihat siapa yang sedang menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN