5. Makan Di Kantin

1029 Kata
Mike menunjukan seringainya saat melihat hal wajah terkejut Liona. Dia menaik turunkan alisnya untuk menggoda perempuan itu. Dengan segera Liona berdiri dan melihat sekeliling. Tiba-tiba Jenny bergelayut manja memandang Liona remeh. "Ngapain, sih kamu tolongin anak miskin itu?" rajuk Jenny. Mike tertawa mendengar suara manja yang keluar dari mulut Jenny. "Gue cuma kasian aja liat dia kalo nyium lantai keramik. Mending nyium gue aja, iya enggak?" tanya Mike sambil memandang Liona. Melihat itu, membuat Liona merasa mual seketika. Bisa-bisanya ada orang yang terang-terangan bicara hal seperti itu, apalagi masih di kawasan sekolah. Membayangkan ucapan yang barusan saja sudah membuat bulu kuduk Liona merinding. "Ihh, kamu mau ciuman sama anak miskin itu?" "Siapa yang enggak mau, sih ciuman sama cewek? Apalagi ceweknya cantik." Jenny menghentakkan gandengannya dari lengan Mike. "Anak miskin emang pinter ngerayu cowok. Dasar cewek barbar!" Tidak tahan dengan cacian dari Jenny, Liona segera meninggalkan tempat itu. Untuk apa juga dia masih di sana, hanya membuang waktu saja. Saat berjalan, T tidak sengaja dia berpapasan dengan David saat akan memasuki kelasnya. Dengan cepat dia memalingkan wajahnya. "Ck, dasar cewek enggak guna," decak David yang masih bisa didengarkan oleh Liona. "Katanya jangan deketin gue, jangan ini jangan itu. Gimana, sih, Kak?! Dasar aneh," gerutu Liona. Dia kembali membuka buku untuk melanjutkan kegiatannya di perpustakaan yang sempat tertunda. Semenjak bekerja paruh waktu, dia mulai kekurangan waktu untuk belajar. Apa lagi sekarang Liona juga sudah bekerja di toko bunga . Tiba-tiba bayangan akan kejadian tadi hadir di benak Liona. Mike, nama yang bagus, tetapi tidak sebagus sikapnya. Sungguh perkataannya tadi sangat tidak etis untuk orang yang tidak saling mengenal. Bagaimana bisa dia bicara seperti itu pada gadis yang baru saja dia temui dengan tidak sengaja. Ups, ralat maksudnya pada seorang wanita. Yah, wanita. Dirinya sekarang bukan seorang gadis lagi melainkan seorang wanita. Ingatkan Liona tentang hal itu semenjak malam kelam yang terjadi padanya. Liona pernah mendengar bahwa Mike adalah laki-laki dengan sejuta gombalannya . Mungkin sudah tidak asing lagi dengan sebutan itu. Apa semua pria di dunia ini yang memiliki wajah tampan hanya dimanfaatkan untuk memacari perempuan dan setelahnya mereka akan mencampakkannya begitu saja? Memikirkannya saja sudah membuat Liona merinding. Lamunannya berhenti saat mendengar guru sudah masuk dan mulai memberi salam. *** Liona berjalan sendiri ke arah kantin. Sudah bukan hal aneh saat dia berjalan sendirian. Setelah sampai dan sudah memesan makanan, dia mencari tempat duduk yang masih kosong. Pandangannya berhenti saat melihat tempat kosong yang berada di sudut kantin. Dia berjalan sambil membawa makanannya lalu mendudukkan diri di sana. Alis Liona berkerut saat melihat ada yang sedang meletakkan makanan di sampingnya. Belum sempat dia melihat siapa yang tengah ikut duduk dengannya, orang itu malah sudah mengeluarkan suara. "Kalo gue perhatiin lo sering sendiri. Kemana temen lo?" Liona menghembuskan napas kasar mendengar suara yang tidak asing bagi telinganya. "Ngapain Kak Mike duduk di sini?" "Meja yang lain udah penuh." Mike mulai memakan makanannya dan tidak menghiraukan tatapan bingung Liona padanya. Liona melihat sekeliling, teman-temannya sebagian besar sudah mulai membubarkan diri. Tidak seramai tadi saat dia baru sampai di kantin. Lalu kenapa Mike bicara kalau sudah tidak ada meja. "Dasar cowok aneh," batin Liona. Hatinya mengisyaratkan untuk berhati-hati dan menjaga jarak dengan Mike. Dia menggeser tubuhnya menjauhi Mike. Merasa aneh dengan sikap Liona, Mike menaikan satu alisnya. "Eh, anu, Kak aku udah selesai kok. Aku ke kelas dulu ya." Liona bangkit dan berjalan dengan cepat menuju kelasnya. Persetan dengan makanan yang hanya dimakan sedikit. "Makanannya aja masih banyak. Apa tadi katanya? Aku udah selesai kok, ck." "Tumben lo udah pesenin gue makan. Biasanya aja lo enggak mau." David datang dan langsung memakan makanan Liona. Karena di mulutnya penuh dengan makanan, Mike tidak sempat memberi tahu kalau itu bukan dia yang memesan. Dia malah membiarkan David memakannya hingga habis dan baru Mike memberi tahunya. "Itu bukan makanan gue, Coge!" Alis David berkerut. Dia menaikan satu alisnya ke atas meminta penjelasan dari Mike. "Tadi ada cewek yang makan di sini. Baru aja makan dikit banget tuh cewek, eh main nyelonong pergi gitu aja. Mungkin kaget setelah tahu yang duduk di sampingnya itu cowok tampan se--" "Siapa ceweknya?" David memotong perkataan Mike. "Ck," decak Mike tak suka. "Kalo enggak salah cewek yang tadi pagi gue tolong dari aksi Jenny." David kembali menaikan satu alisnya. "Ais, lupa gue namanya. Huruf depannya L. Lia, Linda, Li--" "Liona?" "Ah, iya itu lo tahu pake nanya segala!" David menoleh pada Mike dengan tatapan tidak percaya. "Ngapain lo? Biasa ae dong mukanya." "s**t! Kenapa lo enggak bilang dari tadi, g****k!" David menggebrak meja membuat seluruh pasang mata yang ada di kantin menoleh padanya. David menatap mereka dengan tatapan tajam. Penilaian tentang Liona bertambah buruk. David berpikir kalau Liona memang perempuan tidak baik. Padahal itu sama sekali bukan salah Liona. "Menjijikkan." *** Jenny mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Untung hari ini jalanan tidak macet, jadi hanya butuh beberapa menit saja untuk sampai ke rumah miliknya. Jenny termasuk anak orang berada. Dirinya sangat menyayangi mamanya. Hanya dia yang saat ini dia miliki. Papanya meninggal saat dia umur satu tahun karena serangan jantung. Gerbang kokoh menyambut kedatangan Jenny. Perlahan gerbang itu terbuka. Jenny menjalankan mobilnya dengan pelan dan berhenti di pintu masuk rumah. Dia melangkah memasuki rumah yang sudah dari kecil dia tinggali bersama dengan mamanya. Kada Lydia--tantenya--datang dan akan menginap jika dia tidak sibuk. "Ma, Mama, Jenny pulang!" Tidak ada sahutan dari mamanya. Jenny menghembuskan napas kasar. Dia mulai menaiki tangga dan berjalan ke arah pintu kamar mamanya. Perlahan dibukanya pintu itu, dan terlihatlah mamanya yang sedang memandang foto seorang bayi yang tengah tersenyum manis. Jenny melangkahkan kakinya dan menyentuh pundak mamanya. "Lucu." "Yah, dia memang lucu. Kamu udah pulang, Sayang?" Rose menghapus air matanya yang sudah mulai mengering. Jenny benci dengan itu semua. "Udah makan belum?" tanya Rose. "Belum, Ma." "Ya udah, yuk makan bareng Mama." Jenny mengangguk patuh dan menyambut gandengan tangan Rose dengan senang hati. Mereka menuruni anak tangga dengan bergandengan tangan seakan saling menguatkan satu sama lain. Rumahnya terlihat megah dari luar. Rumahnya memang megah dan nampak mewah, tetapi di dalamnya sangat sepi dan tidak ada tawa keceriaan. Hanya jika ada tantenya, rumah itu bisa menjadi sedikit berwarna. Jenny berharap tantenya bisa segera datang dan mengubah keadaan darurat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN