Kupandangi jam dinding, kali ini jarum pendek berada di angka dua dan aku terbangun karena resah. Resah memikirka pria tampan bernama Ethan yang kusembunyikan di dalam gudang.
Masih dalam balutan gaun tidurku, aku segera meraih jaket, aku hanya ingin memastikan pria itu baik-baik saja.
Tubuhnya terluka parah dan ada kemungkinan dia akan demam, aku ingat salah satu anak panti asuhan yang terjatuh dan lebam parah maka pada malam hari akan demam.
Menghilangkan rasa penasaran yang juga tidak bisa membawaku tidur nyenyak menembus alam mimpi indah, akhirnya aku kembali berada di depan pintu gudang.
Lampu gudang sudah dipadamkan, aku segera menyalakan senter yang kubawa.
Menyorot kearah Ethan yang juga tampak gelisah dalam tidurnya.
Setelah menenangkan diriku dan mengumpulkan keberanian, aku kembali menyentuh tubuhnya tepatnya keningnya.
Demam, dia benar-benar demam seperti dugaanku dan air minum untuknya sudah kosong. Betapa bodohnya diriku hanya memberikan segelas air minum untuknya, aku menepuk keningku sendiri kemudian segera bangkit keluar dari gudang, melintasi halaman yang cukup luas, tujuanku adalah dapur.
Semua orang masih tertidur, suara binatang malam terdengar merdu ditelingaku dan sesekali aku memasang tajam telingaku memastikan tidak ada suara geraman serigala atau hewan buas lainnya.
Sebotol air minum sudah berada ditanganku yang membuatku dengan hati-hati berjalan kembali menuju gudang.
Rrrr...
Rrrr...
Harus kuakui saat ini tubuhku merasa dingin dan terasa akan membeku saat mendengar suara binatang buas yang aku duga serigala, tidak mungkin singa tetapi mungkin saja macan tutul atau macan kumbang, atau mungkin saja beruang tetapi beruang bukan hewan nocturnal.
Langkah kakiku semakin cepat, aku tidak berlari hanya berjalan cepat ketika suara hewan buas yang tidak ingin kulihat wujudnya semakin mendekat. Apa mereka melihatku seperti rusa yang tersesat.
Brakkk!
Aku segera menutup rapat pintu gudang dan menguncinya, jantungku berdebar-debar setelah berhasil lolos dari hewan buas tersebut, kuteguk air dari botol minum yang kubawa, sedikit tegukan untuk mengembalikan kesadaranku dari rasa takut dan panik.
“Ethan..”
Keberanianku kembali terkumpul, kusentuh kembali keningnya yang basah karena keringat.
“Ethan.. sakit!” ucapku lirih saat tangannya menggenggam erat pergelangan tanganku dan meremasnya “lepaskan..” berontakku.
Mata kami kembali beradu pandang, entah karena cahaya temaram dari senter yang kunyalakan, atau akal sehatku sedikit berkurang karena lolos dari kejaran hewan buas, atau aku terperangkap dalam wajah tampannya.
Sejak kapan aku tidak tahu tetapi yang pasti aku menikmatinya, ciuman pertamaku.
Ciuman pertamaku penuh dengan perasaan yang meledak-ledak.
Ada rasa marah karena aku menjadi begitu lancang membiarkan diriku terperangkap bersama pria yang hanya kuketahui namanya, pria yang penuh luka tetapi menolak untuk dibawa ke rumah sakit.
Ada rasa manis dari jantungku yang berdegup begitu kencang, bahkan aku membiarkan pria itu menyusupkan lidahnya kedalam mulutku, aku bisa merasakan lidahnya yang mengabsen setiap inchi dari bagian mulutku.
Ini gila!
Aku merasa dibuat gila oleh pria tersebut.
“Daisy..”
Suaranya yang menyebut namaku membuatku kembali sadar, jika yang kulakukan padanya adalah kesalahan.
“Terima kasih, Daisy. Tunggulah aku, ingat itu!”
Pria itu mendekapku erat, aku bisa mendengar dia menghirup nafas seakan-akan meraup udara di sekitar kami sebanyak-banyaknya.