Kafe TG punya beberapa menu baru. Burger kentang, tulang ayam krispi, kerupuk hambar hingga minuman ringan berkafein. Menu baru ini dipercaya bisa meningkatkan jumlah pelanggan. Mereka bisa ngerjain tugas sambil menikmatinya. Dan baru-baru ini, Dios memutar beberapa lagu korea untuk menarik para penggemarnya. Ide cemerlang ini datang dari diskusi mereka bertiga. Dios, Hendi dan Shara.
Shara makin suka bekerja disana. Hal yang sering ia lakukan adalah menulis karakter orang yang datang ke kafe. Ia ingin mengingat orang-orang itu dengan menuliskannya dalam buku. Kadang-kadang ia juga meminta difoto jika orang tersebut mengijinkan. Shara berniat mengamati orang tersebut dan menuliskannya dalam blog. Blog yang baru saja ia tulis dengan nama Pelanggan Yang Datang Ke Tempat Ini.
Blog itu dibuat sebagai pengingat. Shara tahu kalau ini pasti akan berakhir suatu saat nanti. Gak mungkin ia bisa kabur selamanya. Sandiaga pasti akan menemukannya. Mumpung masih ada waktu, ia bisa mengabadikan momen di tempat itu.
Shara menambahkan beberapa gambar menarik di meja. Tempelan stiker lucu bisa menarik perhatian cewek-cewek buat datang kesana.
“Lagi nulis apa?”tanya Dios sambil duduk di samping Shara. Shara sampai kaget. Ternyata Dios ngeliatin dia dari tadi.
“Nulis kenangan.”
“Kenapa harus ditulis?”
“Hmm, biar gue gak lupa.”
“Kalau lupa tinggal datang lagi.”balas Dios. Dios kira Shara nulis itu karena dia pasti akan resign juga. Dia kerja cuma mau dapat penghasilan tambahan. Sama kayak Hendi. Kalau entar mereka udah pada lulus, mereka pasti cari kerja yang lebih menghasilkan.
“Buat datang itu gak gampang mas. Butuh waktu dan kesempatan.”
“Iya juga sih.”
“Ah, hallo!”seru Dios. Dia langsung bergegas keluar. Ia hendak menerima telepon. Shara kembali mengamati semua yang datang. Tak ada lagi yang bisa ditulis. Konsentrasinya keburu buyar karena diajak ngobrol sama Dios.
Perhatian Shara tertuju pada Igor yang terlihat jelas dari jendela kaca. Ia berjalan ke pintu untuk memberi sambutan sama cowok itu.
Igor tampak kaget melihat Shara membukakan pintu untuknya. “Igor, Mila gak disini.”ucapnya.
“Ah, gue kesini mau ketemu lo.”
“Hah?”
Igor memesan minuman berkafein. Ia duduk sambil menunggu Shara mengantarkan minuman itu. Shara bingung banget, buat apa Igor ketemu dia?. Tapi gak mungkin juga dia mau ketemu Mila. Mereka kan lagi gak akur.
Shara duduk dan menatap cowok itu. “Jadi lo mau ngomong apa?”
“Ah, lo baik-baik aja kan? Tadi siang, abis berantem sama Caca lo kemana? Kenapa gak masuk kelas? Terus cowok yang sama lo itu siapa?”
Shara bingung mau jawab pertanyaan yang mana dulu. Aneh banget Igor kenapa jadi ribet gini?
“Gue gak apa-apa kok. Cowok tadi itu teman gue, untung ada dia ngebantuin. Kalau gak, bisa-bisa ketahuan dosen.”
“Oh gitu…”
“Tenang aja, gue gak masalah kok dihina juga.”ucap Shara menyakinkan. Bagi orang yang mendengar penghinaan itu, pasti mikir kalau Shara sakit hati. Nyatanya enggak.
“Intinya lo gak usah dengerin dia. Dia memang merasa paling hits diantara yang lain. Padahal di kelas kita banyak yang lebih kaya dari dia.”seru Igor.
Shara tersenyum manis. Ia jadi senang karena ternyata Igor perhatian padanya. Mungkin memang masih ada kesempatan. Cinta bisa saja datang tiba-tiba. Atau Igor kasihan sama dia, dan lama kelamaan bisa berubah jadi cinta. Perasaan kan bisa diombang ambingkan. Shara terkesima dengan pemikiran itu. Walau masih sebatas halusinasi, itu sudah bikin dia senang.
“Hmm, by the way, lo ada apa sama Mila?”
“Emang kita kenapa?”
“Kalian jadi jarang duduk bareng waktu di kelas. Apa jangan-jangan lo udah ngasih tahu perasaan lo sama dia?”
Igor gak langsung jawab. Dia menatap ke arah jalanan. Jendela tembus pandang itu jadi pemandangan yang bagus untuk mengenang segala hal. Rupanya Igor lagi sedih. Menurut Shara, kemungkinan besar dia ditolak. Ternyata nasib Igor sama saja dengan nasibnya. Bedanya, Shara harus menyerah sebelum berjuang. Toh, ia sudah tahu bakal kalah. Sesuatu yang sudah pasti gak ada gunanya jika diperjuangkan. Cuma ngabisin energi.
“Sebenarnya gue gak sengaja tahu kalau dia punya pacar.”
“Hah? Kok bisa?”
“Jadi lo udah tahu?”
Mati. Shara ketahuan. Aduh, dia juga bisa dimusuhi kalau begini.
“Ma,,,,af Gor. Gue emang udah tahu, tapi Mila bilang itu rahasia. Mas Dios bisa ikut campur kalau sampai tahu hal itu. Tadinya gue mau bilang sama lo, tapi kata Mila biar dia yang ngasih tahu.”
“Wuah, gue gak nyangka. Ternyata lo sama aja.”
“Beneran, maaf banget!! Gue gak bermaksud apa-apa.”
“Ah sial, buat marah sama lo aja gue gak bisa!”ungkap Igor sambil menahan emosi. Keliatan banget kalau ia marah. Tapi ia juga mikir, Shara tidak bersalah untuk hal ini. Mila adalah satu-satunya orang yang salah. Cewek yang memberi harapan palsu untuk hati yang tulus. Perbuatan itu hanya membuat sakit hati.
Shara menundukkan kepala. Ada perasaan bersalah sekaligus sedih. Entahlah. Mau senang juga udah gak bisa, jelas-jelas Igor gak punya perasaan padanya. Target buat dapat pacar semakin sulit digapai.
“Eh, pada ngapain nih?”tanya Mas Dios yang berjalan ke arah mereka. Shara langsung diam.
“Hey mas, gak ada pelanggan lagi?”tanya Igor berusaha mengubah ekspresinya Ternyata ia juga gak mau kalau Mas Dios tahu tentang Mila.
“Udah gak ada. Hmm, tumben lo gak bareng Mila?”
“Kayaknya dia lagi ada tugas kelompok.”ucap Igor berbohong. Shara masih tetap diam. Dia sampai bingung mau ngomong apa.
“Abis ini pada mau kemana?”tanya Mas Dios dengan pandangan ke mereka berdua. “Kalau gak kemana-mana mending ikut gue.”
“Emang mau kemana?’tanya Shara.
****
Karya-karya fotografi terpampang di dinding gedung. Sama seperti pameran lukisan, bedanya hanya bentuk karya saja. Jeffrey mengenakan jas saat menyambut Dios, Igor dan Shara datang. Kata Dios, ini adalah mimpi Jeffrey yang baru tergapai. Shara memandang foto-foto itu. Ia iri banget. Pasti senang bisa punya mimpi dan berhasil mewujudkannya. Shara menikmati suasana disana.
Selain pameran karya fotografi, ada juga acara makan malam di gedung sebelahnya. Mewah banget.
“Mas, emang ini acaranya Jeffrey doang?”
“Iya. Dia menang kompetisi fotografi, sekalian aja dibuatin pameran untuk karya-karyanya.”
“Oh gitu…”
“Lo bakal lebih kaget nanti.”
“Apaan?”
“Bakal datang orang penting. Pengusaha kaya yang sering lo lihat di televisi. Orang kayak kita gak bakal bisa ngeliat dia langsung kalau bukan karena Jeffrey.”
Shara makin bingung. Tapi tidak masalah, selagi orang itu bukan bokapnya sendiri. Pengusaha di Indonesia juga banyak. Dan tiap orang belum tentu saling kenal. Shara memang agak trauma dengan hal-hal yang berbau pengusaha.
Tak berapa lama terdengar riuh dari arah pintu masuk. Rupanya, orang yang dimaksud Dios sudah datang. Pria itu berjalan dengan kebanggaan. Ia tersenyum pada semua orang yang ada disana.
“Itu kan, Coldman Paris.”ucap Igor. Shara berpikir keras. Ah, dia jadi ingat. Pengusaha kaya yang memiliki sebagian besar gedung di Jakarta Selatan. Selain itu, ia juga punya banyak bisnis retail di Jakarta. Ternyata orang itu sudah setua ini.
“Kok dia bisa datang kesini mas?”tanya Shara penasaran. Aneh aja gitu, orang tua itu datang ke acara yang anak muda banget.
“Tebak dong. Gak seru kalau gue kasih tahu.”
“Sponsor kali.”tebak Igor.
“Atau dia lagi gak ada kerjaan. Jadinya datang buat ngabisin waktu.”seru Shara terkekah. Jiwa recehnya keluar begitu saja.
“Emangnya elu?”balas Dios sambil nabok kepala Shara. Shara sampai kesal. Ia pengen balas tapi gak jadi. Dios ngajak buat pindah tempat. Biar mereka bisa melihat Bapak Coldman Paris yang terhormat dari depan. Kapan lagi lihat orang penting secara langsung.
Pandangan Shara tertuju pada satu orang. Orang yang duduk dengan minuman ditangannya. Josen. Josen ngapain disini? Ia berjalan ke arah Josen. Josen kaget sebagaimana Shara kaget.
“Jos, lo ngapain?”
“Lah, lo ngapain?”
Taman itu terlihat indah karena pengaruh sinar lampu. Ada beberapa orang yang berdiri di sana sembari merokok. Tak hanya itu, ada juga beberapa orang berjas di sekitaran mobil. Mungkin mereka pengawalnya Coldman Paris. Josen ngajak Shara ngobrol agak jauh dari orang-orang itu. Jangan sampai kakeknya tahu kalau ia lagi dekat sama Shara. Bisa-bisa Shara dijadikan korban kayak mantannya dulu.
“Jadi lo kenal sama Jeffrey?”tanya Josen syok. Ia kaget aja, kalau ternyata Shara datang sebagai orang kenalannya Jeffrey. Dunia yang besar ini jadi sempit dimata manusia.
“Ho oh, kok kaget gitu sih? Lo sendiri ngapain? Kenalan-nya Pak Coldman?”seru Shara tertawa. Josen terdiam. Ia gak bisa jawab. “Gue bercanda. Masa sih lo sekaya itu.”
Lega. Setidaknya Shara gak perlu tahu kalau Josen sekaya itu. Terutama mengenai Jeffrey. Jeffrey bisa aja jelek-jelekin Josen di depan Shara. Enak aja tuh cowok, Josen udah keburu senang sama Shara. Jangan sampai Jeffrey tahu hal ini.
“Gue disuruh nyokap datang. Katanya lebih seru daripada ke klub.”ucap Josen ngasal.
“Oh gitu. Tapi benar sih, klub malam itu bikin pusing. Gue heran, kok bisa orang-orang doyan kesana.”
Josen tertawa kecil. Polos banget nih cewek. Josen makin suka sama cewek itu. Josen emang gak berniat melihat pameran ini. Dia dipaksa datang sama Coldman Paris.
Dering telfon mengambil alih perhatian Shara. Dari Mas Dios. Dia pasti nyari-nyari Shara. “Jos, gue masuk dulu ya. Dicariin sama Mas Dios.”
“Oh, ya udah.”
“Lo gak masuk?”
“Engga deh. Entar aja.”
“Okay.”balas Shara sambil bergegas. Ia mencari Mas Dios sama Igor. Ah, akhirnya ketemu. Mereka berdua lagi ngobrol sama Jeffrey. Shara langsung ikut gabung. Dia jadi nyari Midi. Tumben banget, tiga serangkai itu gak komplit. Biasanya kan mereka bertiga mulu. Mila pernah cerita kalau mereka bertiga udah temenan lama.
“Lo dari mana?”tanya Igor.
“Hmm, tadi keluar bentar.”
“Sha, lo datang juga?”ucap Jeffrey.
“Iya kak. Selamat ya. Karya lo keren banget.”
“Ahh, lo mau gue jadiin model gak? Hmm, kayaknya cocok.”seru Jeffrey sambil memperhatikan penampilan Shara. Ia melihat Shara dari atas sampai bawah. Persis kayak yang dilakukan Caca ke teman-temannya. Bedanya, Jeffrey melakukan itu tanpa maksud menghina. Ia hanya memperhatikan dan menganalisis tanpa niat jahat. Emang ya, ekspresi orang itu bisa dibaca mana yang jahat dan engga.
“Model apaan? Bocah kayak gini mana bisa.”ledek Dios sambil merangkul punggung Shara. Shara langsung bete. Bocah? Shara bukan bocah!
“Jangan gitu dong Di, dipermak dikit dia pasti bagus banget di depan kamera.”
“Apa sih mas? Daripada lo,,,,”
“Gue kenapa?”
“Cocok jadi model. Tapi model majalah hewan.”
Jeffrey sama Igor ketawa keras. Bahkan mereka gak kuat saking lucunya ucapan Shara. Bagi Dios, itu penghinaan. Tapi Shara benar-benar menikmati pembalasan itu.
Mereka berada disana cukup lama. Setelah acara selesai, mereka baru pulang. Shara senang banget berada di antara mereka. Ternyata begini rasanya punya banyak teman. Ia baru merasakannya sekarang. Padahal orang-orang sudah merasakan pertemanan itu sejak dulu. Terlambat memang, tapi lebih baik daripada tidak pernah sama sekali. Untung saja dia kabur dari rumah.
Ia sampai di kosan sebelum pukul 11 malam. Ia sangat senang saat melewati kamar-kamar itu. Malam ini pasti ia akan bermimpi indah.
Ia tidak tahu saja kalau Sandiaga merancang sesuatu untuknya. Ada rencana besar dibalik kebahagiaannya hari ini. Keputusan keluarga tetaplah yang terutama. Mau bagaimanapun Shara berjuang hari ini, itu tak akan berguna karena keputusan tetap ditangan Sandiaga Cuatro, ayahnya.